BEDAH BUKU TRANSISI: WAYANG, RELIEF DAN ANIMASI

UPT Perpustakaan pada Tgl 18 Juli 2018 mengadakan kegiatan bedah buku Transisi: Wayang, Relief dan Animasi, karya: Ranang S dan Handriyotopo. Kegiatan bedah buku tersebut di ikuti 30 mahasiswa ISI Surakarta.

Kegiatan bedah buku ini dibedah oleh Handriyotopo dosen DKV ISI Surakarta, yang merupakan salah satu pengarang dari buku itu sendiri.

post by Lalan Fuandara

Pameran Buku Pada Festival Kesenian Indonesia (FKI) Ke-X Di STKW Surabaya

Perpustakaan ISI Surakarta mengadakan pameran buku pada Festival Kesenian Indonesia (FKI) Ke-X di STKW Surabaya.

FKI ke-X merupakan agenda dua tahunan Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS–PTSENI) dengan acara berupa pameran seni rupa, seni pertunjukan, seminar, workshop dan pemutaran film.

Perguruan tinggi seni yang terlibat dalam festival kali ini di antaranya, STKW Surabaya, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ISI Surakarta, ISI Padang Panjang, ISBI Bandung, ISI Denpasar Bali, dan ISBI Tanah Papua.

FKI Ke-X di laksanakan pada tanggal 7-9 Juli 2018 bertempat di Taman Candra Wilwatikta Surabaya

 

@/Lalan

Roadshow Institutional Repository

Roadshow Institutional Repository adalah kegiatan talkshow yang diadakan UPT Perpustakaan dalam rangka kelanjutan kegiatan institutional repository pada tahun sebelumnya. Talkshow kali ini memfokuskan pada unggah mandiri untuk dosen dan para mahasiswa. Roadshow ini dilaksanan pada Hari Senin, 18 Desember 2017 di Ruang Seminar ISI Surakarta, dengan mengundang Wakil dekan I Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain, perwakilan pejabat Pascasarjana, perwakilan pejabat LPPM, serta Kaprodi-kaprodi dan perwakilan dosen.

Roadshow ini dibuka oleh Wakil Rektor I, DR. I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum

Sedang untuk narasumber oleh Joko Setiyono, S.Sos

 

Pemanfaatan Situs YouTube Menjadi Repository Budaya Berbasis Digital di Perpustakaan ISI Surakarta, Oleh: Sartini, S.I.Pust

Abstrak :

Peranan teknologi informasi dan komunikasi dalam wujud alat digital dan internet telah dimanfaatkan dalam segala bidang kehidupan manusia. Komunikasi manusia saat ini banyak yang menggunakan gadget yang terhubung dengan aplikasi berbasis internet.

YouTube merupakan situs yang menyediakan konten berbasis video. Orang banyak mengakses YouTube untuk hiburan misalnya mendengarkan dan melihat berupa video music. Selain itu YouTube dapat digunakan pula untuk pendidikan.

ISI Surakarta telah memiliki situs repository yang menjadi pusat dokumentasi karya ilmiah. Karya ilmiah yang dihasilkan dari kegiatan akademik di Institut Seni Indonesia Surakarta banyak yang berupa film/video. Hal ini dapat menjadi permasalahan bagi server repository apabila konten tersebut diupload disana. Institusi tidak akan sanggup melakukan perawatan dan peremajaan server repository.

Oleh karena itu, situs YouTube dapat dimanfaatkan sebagai repository budaya berbasis digital oleh ISI Surakarta. Karena keberlangsungannya akan lebih terjamin agar dapat diakses dimanapun dan kapanpun.

Hal yang menjadi permasalahan adalah masalah hak cipta. Ini yang perlu dipikirkan solusi dan sosialisasinya.

 

  1. Pendahuluan

APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) telah mengumumkan hasil survei Data Statistik Pengguna Internet Indonesia tahun 2016. Dari data statistik yang disebarkan dapat dilihat beberapa hal yaitu :

  1. Jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2016 adalah 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta. Pengguna internet terbanyak ada di pulau Jawa dengan total pengguna 86.339.350 user atau sekitar 65% dari total pengguna i Jika dibandingkan pengguna internet Indonesia pada tahun 2014 sebesar 88,1 juta user, maka terjadi kenaikan sebesar 44,6 juta dalam waktu 2 tahun (2014 – 2016).
  2. Berdasarkan konten yang paling sering dikunjungi, pengguna internet paling sering mengunjungi web onlineshop sebesar 82,2 juta atau 62%. Dan konten social media yang paling banyak dikujungi adalah Facebook sebesar 71,6 juta pengguna atau 54% dan urutan kedua adalah Instagram sebesar 19,9 juta pengguna atau 15% dan situs YouTube menempati urutan ketiga dengan 14,5 juta.

Data diatas merupakan data statistik akses internet di Indonesia. Sedangkan untuk dunia terdapat 3,6 miliar orang atau 46% dari penduduk dunia merupakan pengguna internet. Dimana YouTube sendiri memiliki lebih dari satu miliar pengguna — hampir sepertiga dari semua pengguna internet — dan setiap hari orang menonton ratusan juta jam video di YouTube dan menghasilkan miliaran kali penayangan.

YouTube secara keseluruhan, dan bahkan YouTube di perangkat seluler saja, telah menjangkau lebih banyak pemirsa yang berusia 18-34 dan 18-49 tahun daripada jaringan televisi kabel mana pun di Amerika Serikat. Lebih dari setengah penayangan YouTube berasal dari perangkat seluler. YouTube telah meluncurkan versi lokalnya di lebih dari 88 negara. Anda dapat menelusuri YouTube dalam total 76 bahasa (yang mencakup 95% dari populasi internet).

Repositori merupakan tempat penyimpanan bahan-bahan digital yang dihasilkan oleh suatu institusi perguruan tinggi berkaitan erat dengan perubahan yang terjadi dalam pengelolaan sumberdaya informasi di perpustakaan. Berbagai sumberdaya informasi berbasis kertas (paperbased), yang selama ini merupakan primadona perpustakaan tradisional, sekarang telah banyak tersedia dalam format digital.

Perkembangan Institutional Repository di perguruan tinggi dan lembaga ilmiah di Indonesia menunjukkan peningkatan tren pemanfaatan bagi dunia akademis. Akan tetapi banyak pula yang mengalami kendala dalam hal pengelolaan server dan jaringan. Oleh karena itu, YouTube dapat dimanfaatkan sebagai solusi alternatif bagi penyimpanan repository digital berbasis audio dan video yang berukuran besar karena di YouTube kita dapat mengunggah file video berukuran sampai 128 GB bahkan menyiarkan langsung secara online.

 

  1. ISI Institutional Repository

Secara sederhana arti dari repositori adalah tempat penyimpanan. Dalam konteks kepustakawanan repositori adalah suatu tempat dimana dokumen, informasi atau data disimpan, dipelihara dan didigunakan. Ada 4 (empat) macam repository: (1) the subject-based repository, (2) research repository, (3) national repository system, & (4) institutional repository”

Institusional Repositori merupakan koleksi unik yang dihasilkan oleh masyarakat universitas berupa laporan teknis, skripsi, thesis, disertasi, bahan ajar atau karya intelektual lainnya.

Repositori institusi: A computer server that stores an institution’s digital products of knowledge and offers them online for free (Parker, 2007 dalam Ida Fajar Prianto, 2015).

Rektor ISI Surakarta, Prof. Dr. Sri Rochana W, S. Kar., M. Hum. dalam sebuah Talkshow tentang Institutional Repository mengatakan, “IR-ISI Surakarta diharapkan dapat memberi layanan informasi akademik dan artistik kepada publik baik domestik, nasional, maupun internasional.

Institusional Repositori (IR-ISI) Surakarta adalah sebuah keniscayaan dalam era teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini. Suatu fenomena dimana teknologi telah menisbikan ruang dan waktu dalam praktik komunikasi dari satu individu ke individu lain, dari satu komunitas ke komunitas lain, dari satu lembaga ke lembaga lain, dari satu bangsa ke bangsa lain, dan satu negara ke negara lain.

IR-ISI Surakarta yang dikelola oleh UPT. Perpustakaan ISI Surakarta dilandasi oleh Visi sebagai “Jendela Dunia Kreativitas dan Keilmuan Seni”. Secara khusus substansi IR-ISI Surakarta meliputi dua hal pokok yakni; Academic Institutional Repository dan Artistic Institutional Repository.

Academic Institutional Repository terdiri dari Hasil Penelitian Dosen, Mahasiswa, dan Staf, Buku Teks Monografi, Referensi, Skripsi/TA, Tesis, Disertasi, Artikel Ilmiah, Artikel Populer. Sedangkan Artistic Institutional Repository terdiri dari Karya Seni Pertunjukan Dosen, Mahasiswa, dan Staf, Karya Seni Rupa, Desain, Media Rekam.

 

YouTube

YouTube adalah sebuah situs web berbagi video yang dibuat oleh tiga mantan karyawan PayPal pada Februari 2005. Situs ini memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan berbagi video. Perusahaan ini berkantor pusat di San Bruno, California, dan memakai teknologi Adobe Flash Video dan HTML5 untuk menampilkan berbagai macam konten video buatan pengguna, termasuk klip film, klip TV, dan video musik. Selain itu ada pula konten amatir seperti blog video, video orisinal pendek, dan video pendidikan.

Kebanyakan konten di YouTube diunggah oleh individu, meskipun perusahaan-perusahaan media seperti CBS, BBC, Vevo, Hulu, dan organisasi lain sudah mengunggah material mereka ke situs ini sebagai bagian dari program kemitraan YouTube. Pengguna tak terdaftar dapat menonton video, sementara pengguna terdaftar dapat mengunggah video dalam jumlah tak terbatas. Video-video yang dianggap berisi konten ofensif hanya bisa ditonton oleh pengguna terdaftar berusia 18 tahun atau lebih. Pada November 2006, YouTube, LLC dibeli oleh Google dengan nilai US$1,65 miliar dan resmi beroperasi sebagai anak perusahaan Google.

Menurut sebuah survey, sekitar 100.000 video ditonton setiap harinya di YouTube. Setiap 24 jam ada 65.000 video baru diunggah ke YouTube. Setiap bulannya YouTube dikunjungi oleh 20 juta penonton dengan mayoritas kisaran usia antara 12 sampai 17 tahun (Burke, Snyder, & Rager, 2009).

YouTube memang bukan situs berbagi video pendidikan, namun pada perkembangannya YouTube meluncurkan layanan khusus untuk pendidikan (www.youtube.com/edu) pada tahun 2009. Layanan ini langsung mendapat sambutan positif dari pengguna. Pada tahun pertama sesudah diluncurkan lebih dari 300 kolese dan universitas bergabung dan ada lebih dari 65.000 video kuliah, kegiatan kampus, dan berita kampus.

 

III. Pemanfaatan Situs Youtube Menjadi Repository Budaya

Sejak di Launching oleh Rektor ISI Surakarta Prof. Dr. Sri Rochana Widyastutiningrum, S.Kar., M.Hum. pada hari Kamis 7 April 2016, Institutional Repository ISI Surakarta kini sudah bisa diakses melalaui http://repository.isi-ska.ac.id. Tujuan dan manfaat dibangunnya Institutional Repository, antara lain sebagai salah satu media penyimpanan, pelestarian, dan promosi informasi ilmiah, hasil karya dan penelitian civitas akademika ISI Surakarta. Selain itu juga untuk mereduksi plagiarisme dan menghindari duplikasi penelitian, serta meningkatkan peringkat webometric atau agency lain, baik secara nasional maupun skala internasional.

Dalam upaya menuju WCU (World Class University) dan juga peningkatan peran Institut Seni Indonesia Surakarta secara nasional dan internasional, maka kehadiran Institutional Repository adalah salah satu persyaratan mutlak. Institutional Repository merupakan wadah publikasi ilmiah secara on-line hasil-hasil karya seluruh civitas akademika ISI Surakarta, baik dosen, karyawan, maupun mahasiswa. Program ini sekaligus juga menjawab tantangan atas kemajuan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini, dimana era digital telah merambah di berbagai lini kehidupan, termasuk dunia pendidikan khususnya di perguruan tinggi.

Karya ilmiah atau local content yang dimiliki oleh ISI Surakarta merupakan karya yang lebih banyak muatan audio visual dibandingkan text. Sehingga apabila diwujudkan dalam bentuk digital akan menuntut pengelolaan yang lebih berat dibandingkan wujud text digital. Hal tersebut akan memerlukan sumber daya IT yang sangat besar dalam hal hardware, software dan brainware serta biaya yang dianggarkan.

Permasalahan dalam pengelolaan server misalnya :

  1. Hardware akan membutuhkan spesifikasi yang sangat tinggi agar terjaga aksesibilitas dan kelangsungan hidupnya misalnya memerlukan prosesor, RAM, hardisk, dan bandwith yang sangat besar
  2. Biaya pengadaan dan pemeliharaan menjadi sangat mahal
  3. Tenaga IT juga harus yang sangat berkualitas
  4. Software eprints yang digunakan kurang mendukung untuk pengelolaan audio dan video

 

YouTube biasa digunakan user, baik mahasiswa atau dosen yang ingin mencari referensi tentang audio visual. Mereka memanfaatkan YouTube karena tidak adanya referensi di perpustakaan, sebagai second opinion, atau pembanding diantara referensi yang ada. Referensi di YouTube memang tidak dapat digunakan sebagai acuan tunggal karena masalah kevalidannya.

Mahasiswa atau dosen sering dan suka mengunggah karya mereka ke YouTube. Tujuannya agar mereka terkenal dan memudahkan mereka membagikan karya mereka ke adik kelas atau siapa saja yang membutuhkan karya mereka. Ketika sebuah TA selesai digelar, secara spontan mereka akan mengunggahnya ke YouTube. Setelah itu mereka akan menontonnya bersama-sama, mereka merasa bangga apabila karyanya telah terupload di internet.

Di sisi lain mahasiswa yang mencari referensi tentang audio visual, yang mereka tuju pertama adalah perpustakaan sebagai referensi yang dianggap memiliki nilai akademik dan validitas yang tinggi. Apabila di perpustakaan tidak ada, maka mereka akan beralih ke YouTube atau referensi di internet lainnya. Jadi mahasiswa dan dosen sebagai user seimbang antara yang mengunggah karya mereka dan yang ingin melihat atau download karya yang bisa digunakan untuk referensi dalam membuat karya berikutnya.

Oleh karena itu,  berdasarkan pengamatan pengggunaan YouTube di atas maka bisa digunakan menjadi sumber belajar dan media penyimpanan yang bisa memenuhi tuntutan kebutuhan pemustakaan saat ini yaitu generasi digital.

Seperti yang kita ketahui bahwa Youtube merupakan bagian dari Google, perusahaan raksasa yang menguasai IT di dunia. Maka kekurangan dalam hal pengelolaan server oleh institusi dapat diselesaikan. Penggunaan YouTube bagi penyimpanan repository digital memberikan manfaat antara lain :

  1. Menjadi solusi bagi permasalahan penyimpanan file digital berukuran besar
  2. Keberlangsungan aksesibilitas file lebih terjamin
  3. Institusi tidak perlu memikirkan sumber daya manusia, biaya hardware, dan software
  4. Untuk konten karya seni maka melihat secara visual akan lebih baik daripada membaca teks.
  5. Apabila Channel Youtube kita terkenal maka dapat mendatangkan uang melalui iklan yang ditampilkan.

 

  1. Kesimpulan

Teknologi informasi dan komunikasi yang berbasis internet dan website telah berkembang pesat ke seluruh bidang. Pemustaka pada jaman ini yang berasal dari generasi digital merupakan pengguna yang sudah terbiasa memanfaatkan IT untuk kegiatan pendidikannya.  Pada saat ini ISI Institusional Repository yang mengelola karya ilmiah hasil sivitas akademika ISI Surakarta masih banyak mengelola koleksi berbasis teks. Padahal local content dari ISI Surakarta sendiri banyak yang berupa karya berbasis pertunjukan yang lebih cenderung berisi audio visual. Untuk mengelola server ISI Repository dibutuhkan sumber daya dan dana yang sangat besar dalam hal hardware, software dan brainware.

Yotube sendiri merupakan situs di internet yang memberikan fasilitas penyimpanan dan penyiaran koleksi audio visual secara gratis dengan sumber daya yang tidak terbatas. Hal ini bisa dimanfaatkan dengan cara memadukan koleksi ISI Repository dengan penyimpanan di YouTube. Koleksi ISI Surakarta yang berupa pertunjukan dapat disimpan di kedua situs, untuk berbasis teks di simpan di repository dan pementasan berupa koleksi AV diunggah di YouTube.

Daftar Pustaka

 

https://id.wikipedia.org/wiki/YouTube

http://isparmo.web.id/2016/11/21/data-statistik-pengguna-internet-indonesia-2016/

http://www.internetlivestats.com/internet-users/

https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker

https://www.youtube.com/yt/press/id/statistics.html

https://repository.usd.ac.id/3664/1/2165_youtube+sebagai+sumber+belajar+sosiolinguistik.pdf

Fuandara, R. Lalan. 2015. Pengelolaan Repositori Institusi Di Perpustakaan Isi Surakarta (Layanan Akses Terbuka). https://digilib.isi-ska.ac.id/?p=413#more-413

Junaedi, Agus. 2017. Memperkaya Khazanah Koleksi Institutional Repository ISI Surakarta dengan Dokumen Audio. Surakarta: Artikel Pustakawan Berprestasi ISI Surakarta

http://isi-ska.ac.id/launching-institutional-repository-isi-surakarta/

http://isi-ska.ac.id/talkshow-instutional-repository-isi-surakarta/

 

download artikel:Pemanfaatan Situs YouTube Menjadi Repository Budaya Berbasis Digital di Perpustakaan ISI Surakarta

Seminar Nasional “Eksistensi Perpustakaan: Masa Silam, Era Kekinian & Masa Depan”

Menghadapi tantangan peran perpustakaan perguruan tinggi di masa depan, perpustakaan ISI Surakarta mengadakan seminar nasional dengan tajuk “Eksistensi Perpustakaan: Masa Silam, Era Kekinian & Masa Depan”, di Ruang Seminar ISI Surakarta.

Di lingkungan akademik, kehadiran perpustakaan sebagai sumber informasi, panduan, dan rujukan dalam penelitian atau penulisan ilmiah lainnya menjadi satu hal yang vital. Tata kelola perpustakaan dari waktu ke waktu terus berkembang beserta tantangannya di setiap era sampai sekarang. Untuk menghadapi tantangan tersebut maka perlu kegiatan pembekalan dan pengembangan perpustakaan untuk pustakawan, pengelola perpustakaan, dan pemerhati perpustakaan.

Seminar nasional perpustakaan ini menghadirkan tiga narasumber, Safirotu Khoir, Ph. D  (UGM Jogjakarta), Chandra Pratama S.IIP. , M.Sc (Univ. Kristen Petra Surabaya), dan Aris  Setiawan, S.Sn., M.Sn (ISI Surakarta). Safirotu Khoir dalam makalahnya yang berjudul “Past, Present, and Future: Menuju Perpustakaan yang Terhubung” menjelaskan tentang proses perkembangan tata kelola perpustakaan dan tantangan ke depan di tengah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini.

“Pustakawan perlu mempersiapkan kemampuan untuk selalu berinisiatif, beradaptasi, dan berkolaborasi secara internal maupun eksternal. Memiliki kemampuan untuk terbuka dan bergandengan dengan bidang ilmu lain yang terkait dan saling mendukung. Untuk menghadapi era masa depan, penyelenggara perpustakaan dapat mempersiapkan, kepemimpinan dan pengelola perpustakaan yang visioner, fleksibilitas kebijakan pengelolaan perpustakaan, responsifitas terhadap perubahan socio-culture, dan adaptifitas terhadap perkembangan teknologi,” papar Safirotu Khoir kepada peserta seminar.

Pembicaranya lainnya, Aris  Setiawan lebih banyak menyoroti tentang perpustakaan ISI Surakarta yang harus segera menyiapkan perpustakaan digital.  Sedangkan Chandra Pratama memaparkan gagasannya tentang eksistensi perpustakaan di masa silam sebagai library as place yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menghadapi tantangan yang ada di depan.

materi seminar bisa diunduh:

Warisan perpustakaan masa lampau untuk perpustakaan masa depan

Talkshow Instutional Repository ISI Surakarta

Pada hari Rabu, 28 Desember 2016 ISI Surakarta menyelenggarakan Talkshow Instutional Repository di Ruang Seminar ISI Surakarta dan dibuka oleh Rektor ISI Surakarta, Prof. Dr. Sri Rochana W, S. Kar., M. Hum.

Institusional Repository (IR-ISI) Surakarta adalah sebuah keniscayaan dalam era teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini. Suatu fenomena dimana teknologi telah menisbikan ruang dan aktu dalam praktik komunikasi dari satu individu ke individu lain, dari satu komunitas ke komunitas lain, dari satu lembaga ke lembaga lain, dari satu bangsa ke bangsa lain, dan satu Negara ke Negara lain.

IR-ISI Surakarta yang dikelola oleh UPT. Perpustakaan ISI Surakarta ini dilandasi oleh Visi sebagai “Jendela Dunia Kreativitas dan Keilmuan Seni”. Secara khusus sustansi IR-ISI Surakarta meliputi dua hal pokok yakni; Academic Instutional Repository dan Artistic Instutional Repository terdiri dari Hasil Penelitian Dosen, Mahasiswa, dan Staf, Buku Teks Monografi, Referensi, Skripsi/TA, Tesis, Disertasi, Artikel Ilmiah, Artikel Populer. Sedangkan Artistic Institusional Repository terdiri dari Karya Seni Pertunjukan Dosen,, Mahasiswa, dan Staf, Karya Seni Rupa, Desain, Media Rekam.

Menurut Prof. Dr. Sri Rochana, W. S. Kar., M. Hum selaku Rektor ISI Surakarta mengatakan, “IR-ISI Surakarta diharapkan dapat memberi layanan informasi akademik dan artistic kepada public baik omestik, nasional, maupun internasional.

Pameran dan Bursa Buku UPT. Perpustakaan ISI Surakarta Tahun 2017

Dalam rangka menyambut Hari Buku Dunia tanggal 23 April dan Pengadaan Buku Tahun 2017, Perpustakaan ISI Surakarta menyelenggarakan kegiatan Pameran dan Bursa Buku yang dilaksanakan pada tanggal 17 – 21 April 2017 pukul 09.00 s/d 15.00 WIB di Gedung Perpustakaan Pusat ISI Surakarta Lt.1 . Acara ini dibuka secara resmi oleh Rektor ISI Surakarta, Prof. Dr. Sri Rochana. W, S. Kar.,M. Hum pada tanggal 17 April 2017 pukul 09.30 WIB di UPT. Perpustakaan Pusat ISI Surakarta.

Sejumlah penerbit, distributor, dan toko buku yang dipastikan mengikuti pameran antara lain Penerbit Bima Sakti, Penerbit Horizon, TB. Tiga Kota, Penerbit Andi, Penerbit Airlangga, TB. Rabani, Istana Agency, Penerbit Salemba, ISI Press Surakarta dan Pascasarjana ISI Surakarta.

Tujuan diadakannya Pameran dan Bursa Buku ini adalah sebagai upaya perpustakaan dalam melaksanakan program pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. UPT. Perpustakaan ISI Surakarta diharapkan dapat memberikan kontribusi dengan cara pemenuhan kebutuhan informasi bagi pemustaka serta meningkatkan minat baca di lingkungan ISI Surakarta dan sekitarnya.

Pemukulan Gong sebagai simbolis telah dibukanya Pameran dan Bursa Buku UPT. Perpustakaan oleh Rektor ISI Surakarta, Prof. Dr. Sri Rochana. W, S. Kar.,M. Hum.
Pengunjung Pameran dan Bursa Buku di Gedung Perpustakaan Pusat ISI Surakarta

 

Layanan Sosialisasi Perpustakaan dalam Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru 2017 ISI Surakarta

Kegiatan Layanan Sosialisasi Perpustakaan adalah kegiatan pendidikan pemakai kepada mahasiswa baru ISI Surakarta, kegiatan ini adalah kegiatan rutin setiap tahunnya yang diadakan oleh UPT Perpustakaan ISI Surakarta, sasarannya adalah mahasiswa baru ISI Surakarta.

Acara kegiatan Layanan Sosialisasi Perpustakaan berlangsung dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru ISI Surakarta. Untuk tahun 2017 diadakan pada hari Jum’at, 18 Agustus 2017 dengan peserta semua mahasiswa baru ISI Surakarta 2017. Dengan narasumber Mustofa, SIP dan dimoderatori oleh B. Heni Budiwati

Gambar 1: Narasumber Mustofa, SIP sedang memberikan paparan sosialisasi layanan perpustakaan

Gambar 2: Peserta layanan sosialisasi perpustakaan Mahasiswa baru ISI Surakarta 2017 sangat antusias menyimak paparan dari narasumber

 

@Lalan September 2017

Inovasi Layanan UPT Perpustakaan ISI Surakarta

Telah hadir inovasi layanan di UPT. Perpustakaan Institut Seni Indonesia Surakarta Tahun 2017, yakni penambahan fasilitas layanan bagi para pemustaka berupa wifi corner dan instrumental accompaniment. Ketersediaan fasilitas ini berkat kerjasama antara UPT. Perpustakaan, UPT. Teknologi Informasi dan Komunikasi, serta Sub. Bagian Rumah Tangga dan BMN Institut Seni Indonesia Surakarta. Tujuan inovasi layanan ini untuk memberikan kenyaman bagi para pemustaka.

Wifi corner berada di luar gedung perpustakaan. Tepatnya di sisi timur gedung perpustakaan, dekat area parkir kendaraan roda dua. Pada fasilitas ini tersedia beberapa payung dan kursi yang dilengkapi dengan stop kontak sebagai supply power. Ada 3 (tiga) buah payung dengan jumlah tempat duduk sebanyak 12 (dua belas) kursi. Setiap satu payung dilengkapi dengan empat kursi.

Melalui fasilitas ini, pemustaka dapat berselancar menjelajah informasi melalui ketersediaan jaringan internet/wifi secara gratis. Fasilitas ini disediakan bagi pemustaka yang ingin mengakses informasi melalui jaringan internet dengan nuansa alami.

Sedangkan inovasi layanan lain yang disediakan bagi pemustaka, yakni instrumental accompaniment berupa pemutaran musik-musik instrumental secara lirih yang bisa dinikmati sambil membaca buku di dalam gedung perpustakaan lantai 2 (dua). Alunan musik-musik instrumental tersebut sebagai pengiring, sekaligus pengusir rasa jenuh agar kembali fresh.

Di setiap ruangan yang ada di lantai dua gedung UPT. Perpustakaan telah terpasang speaker yang dapat memperdengarkan alunan musik-musik instrumental secara lembut.

Selamat menikmati.

(@Lalan F September 17)

Seminar Nasional: “EKSISTENSI PERPUSTAKAAN: Masa Silam, Era Kekinian & Masa Depan”

Perpustakaan merupakan fundamen peradaban manusia. Dalam  ceramah Halal Bihalal 1438 H Keluarga Besar Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada Rabu 4 Juli 2017 di Auditorium Perpusnas Jakarta, Syeikh Fikri Thoriq Alkatiri mengungkapkan: perpustakaan adalah benteng terbesar suatu negara. Kehancuran Al-Andalus atau Andalus diawali dari kehancuran Kordoba. Pada awalnya yang dihancurkan adalah perpustakaan terbesar Andalus di Kordoba, kemudian hancur leburlah Andalus.

Terkait pengembangan perpustakaan, ditekankan pentingnya cermat memandang peluang dan penempatan yang tepat tentang posisi perpustakaan. Menurut periodisasi perkembangan perpustakaan dapat disebutkan ke dalam tiga kelompok yaitu: 1) Perpustakaan pada masa silam (Perpustakaan dulu). 2) Perpustakaan sekarang (Perpustakaan Kini). 3) Perpustakaan pada masa yang akan datang (Perpustakaan Hari Esok).

Pada setiap jaman perpustakaan telah banyak memberi jasa kepada para pemakainya sampai sekarang. Salah satunya sebagai sumber informasi dan panduan, rujukan dalam penelitian untuk sampai pada masa sekarang. Proses perkembangan informasi akan semakin cepat, sejalan dengan makin berkembangnya teknologi informasi (TI). Jika masa lalu koleksi perpustakaan diwarnai dengan koleksi dari daun lontar dan tablet tanah liat, sekarang yang paling dominan berupa koleksi tercetak, dan sebagian perpustakaan sudah dalam bentuk mikro, digital, elektronik dan terpasang.

Namun jika kita perhatikan, meskipun teknologi informasi mempunyai beberapa kelebihan, seperti makin cepat, akurat, namun pada sisi yang lain juga mempunyai kelemahan misalnya kita akan sangat tergantung pada teknologi tersebut, biaya yang diperlukan dan perawatan mahal dan lain sebagainya. Dan bagi yang belum terbiasa dengan media tersebut akan mengalami kesulitan. Meskipun teknologi sudah maju, namun media informasi dalam bentuk teks masih akan tetap banyak dimanfaatkan. Sebab, harganya relatif murah, tidak selalu tergantung pada teknologi informasi, dan mudah dipergunakan (dibaca dimana saja).

Manakah eksistensi perpustakaan masa silam yang harus kita pertahankan? Bagaimana seharusnya perpustakaan era kekinian? Adakah tampilan yang dapat menggoda pemustaka untuk selalu memanfaatkan perpustakaan? Persiapan apa bagi penyelenggara perpustakaan dalam menghadapi era masa depan? Inilah yang menjadi tantangan perpustakaan.

DOWNLOAD:

Sistematika Makalah Pendamping Seminar Nasional 2017 ISI Ska