Judul buku: Teori -Teori Etika
Judul Asli: Eight Theories of Ethics
Penulis: Gordon Graham
Penerbit: Nusa Media
Cetakan: Edisi 1, 2015
Halaman: xii, 308 hlm.; 21 cm
Bahasa: Bahasa Indonesia
ISBN: 978-979-1305-90-7
Resentator: Joko Setiyono, S.Sos
Di tengah dunia yang gaduh oleh perdebatan—tentang politik, agama, teknologi, hingga gaya hidup—pertanyaan paling mendasar justru jarang diajukan dengan sungguh-sungguh: apa sebenarnya yang kita maksud ketika mengatakan sesuatu itu baik atau buruk? Kita mudah mengutuk, cepat memuji, dan sigap menghakimi. Namun, di balik kata “baik” dan “benar”, tersimpan sejarah panjang perdebatan filsafat yang tak sederhana.
Buku Teori-Teori Etika—terjemahan dari Eight Theories of Ethics—karya Gordon Graham, yang diterbitkan oleh Nusa Media, hadir sebagai jembatan untuk memasuki perdebatan itu. Ia bukan buku tebal yang memamerkan kerumitan akademik, tetapi pengantar yang jernih dan terstruktur untuk memahami delapan teori moral besar dalam tradisi filsafat Barat.
Namun, jangan keliru: meskipun disebut “pengantar”, buku ini bukan bacaan ringan yang bisa ditelan tanpa berpikir. Ia mengajak pembaca menunda penilaian, menimbang argumen, dan menyadari bahwa moralitas bukan sekadar perasaan, apalagi sekadar kebiasaan.
Ketika Moral Tak Lagi Sederhana
Dalam kehidupan sehari-hari, moralitas sering tampak sederhana. Mencuri itu salah. Menolong itu baik. Berbohong itu tercela. Tetapi segera setelah kita memasuki wilayah kasus konkret—misalnya kebohongan demi menyelamatkan nyawa, atau keputusan kebijakan publik yang menguntungkan banyak orang tetapi merugikan sebagian kecil—kesederhanaan itu runtuh.
Gordon Graham memulai bukunya dengan mengguncang asumsi dasar pembaca: bahwa moral bukan sekadar selera pribadi. Ia membedakan antara fakta dan nilai, antara apa yang ada dan apa yang seharusnya. Ilmu pengetahuan bisa menjelaskan mengapa sesuatu terjadi, tetapi tidak otomatis menjawab apakah sesuatu itu benar untuk dilakukan.
Di sinilah etika bekerja: ia mencoba memberikan alasan rasional bagi penilaian moral. Bukan sekadar “saya merasa”, tetapi “ini alasan mengapa tindakan ini benar atau salah”.
Egoisme: Moralitas sebagai Kepentingan Diri. Teori pertama yang dibahas Graham adalah egoisme. Pada pandangan pertama, teori ini tampak realistis. Bukankah manusia memang cenderung mengejar kepentingannya sendiri? Bukankah banyak keputusan diambil demi keuntungan pribadi?
Graham membedakan antara egoisme psikologis—klaim bahwa manusia secara faktual selalu egois—dan egoisme etis—pandangan bahwa manusia seharusnya bertindak demi kepentingannya sendiri.
Ia menunjukkan kelemahan mendasar teori ini. Jika semua orang hanya mengejar kepentingan diri, bagaimana mungkin masyarakat bertahan? Bagaimana dengan pengorbanan orang tua untuk anak, atau tindakan heroik yang jelas merugikan pelakunya?
Egoisme, dalam analisis Graham, mungkin menjelaskan sebagian perilaku manusia, tetapi sulit dijadikan dasar moral yang konsisten. Dunia akan menjadi arena persaingan tanpa batas, bukan ruang hidup bersama.
Utilitarianisme: Kebahagiaan sebagai Ukuran. Teori berikutnya membawa kita ke wilayah yang lebih sistematis: utilitarianisme. Jeremy Bentham dan John Stuart Mill berargumen bahwa tindakan yang benar adalah yang menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Gagasan ini terasa demokratis. Ia tidak mengutamakan individu tertentu, melainkan kesejahteraan kolektif. Dalam kebijakan publik, pendekatan ini tampak rasional: pilihlah kebijakan yang manfaatnya paling besar.
Namun, Graham dengan cermat menunjukkan problemnya. Bagaimana mengukur kebahagiaan? Apakah kebahagiaan dapat dihitung seperti angka dalam statistik? Dan bagaimana jika kebahagiaan mayoritas dicapai dengan mengorbankan hak minoritas?
Utilitarianisme memberi alat yang kuat untuk berpikir konsekuensial—menimbang akibat tindakan—tetapi ia menghadapi dilema serius ketika berhadapan dengan hak individu dan keadilan.
Etika Kebajikan: Menjadi Manusia yang Baik. Berbeda dari dua teori sebelumnya yang berfokus pada tindakan, etika kebajikan menempatkan karakter sebagai pusat perhatian. Terinspirasi dari Aristoteles, teori ini bertanya: manusia seperti apa yang seharusnya kita jadikan diri kita?
Bukan sekadar “apa yang harus saya lakukan?”, tetapi “siapa yang ingin saya jadi?” Graham menjelaskan bahwa kebajikan seperti keberanian, kejujuran, dan kebijaksanaan tidak muncul seketika. Ia dibentuk melalui kebiasaan dan pendidikan. Etika, dalam pandangan ini, adalah proses pembentukan diri.
Dalam dunia modern yang serba instan, pendekatan ini terasa segar. Ia mengingatkan bahwa moralitas bukan hanya soal kepatuhan pada aturan, melainkan soal pembinaan karakter jangka panjang.
Kontrak Sosial: Moralitas sebagai Kesepakatan. Teori kontrak sosial memandang moralitas sebagai hasil kesepakatan rasional untuk hidup bersama secara damai. Dari Thomas Hobbes hingga John Rawls, gagasan ini berkembang menjadi fondasi bagi banyak teori politik modern. Menurut pendekatan ini, moralitas muncul karena kita menyadari bahwa tanpa aturan bersama, hidup akan kacau. Kita “sepakat” untuk membatasi diri demi keamanan dan keadilan.
Graham menunjukkan daya tarik teori ini, terutama dalam masyarakat plural. Namun ia juga mempertanyakan: apakah moral hanya berlaku sejauh ada kesepakatan? Bagaimana dengan nilai-nilai yang dianggap universal? Kontrak sosial memberi dasar rasional bagi keadilan, tetapi tetap menyisakan pertanyaan tentang sumber legitimasi moral itu sendiri.
Kant dan Martabat Manusia. Salah satu bagian paling kuat dalam buku ini adalah pembahasan tentang Immanuel Kant. Di sini moralitas tidak diukur dari akibat atau kesepakatan, melainkan dari prinsip rasional yang dapat dijadikan hukum universal. Prinsip kategoris Kant berbunyi: bertindaklah hanya menurut asas yang dapat kamu kehendaki menjadi hukum universal.
Dengan kata lain, sebelum bertindak, tanyakan: apakah saya rela jika semua orang melakukan hal yang sama? Lebih jauh lagi, Kant menegaskan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan sebagai alat. Di tengah dunia yang sering memperalat manusia demi keuntungan ekonomi atau politik, prinsip ini terasa sangat relevan. Namun Graham tidak menutup mata terhadap kekakuan pendekatan Kantian. Dalam situasi tertentu, aturan universal bisa tampak tidak manusiawi jika tidak mempertimbangkan konteks.
Eksistensialisme: Kebebasan dan Tanggung Jawab. Eksistensialisme membawa kita ke wilayah yang lebih personal. Jean-Paul Sartre dan pemikir lain menekankan bahwa manusia bebas dan sepenuhnya bertanggung jawab atas pilihannya. Tidak ada aturan moral yang sudah jadi; kita menciptakan makna melalui tindakan. Pendekatan ini memberi ruang bagi kebebasan individu, tetapi juga menimbulkan kegelisahan. Tanpa fondasi objektif, bagaimana kita membedakan antara pilihan yang otentik dan sekadar impulsif? Graham menyajikan eksistensialisme bukan sebagai jawaban final, tetapi sebagai tantangan bagi teori moral lain yang terlalu percaya pada sistem.
Moralitas dan Agama. Bab terakhir membahas hubungan antara etika dan agama. Apakah tanpa Tuhan moral runtuh? Ataukah moralitas dapat berdiri di atas rasionalitas manusia? Graham mengulas dilema klasik: apakah sesuatu baik karena diperintahkan Tuhan, atau Tuhan memerintahkannya karena ia baik? Dengan hati-hati, ia menunjukkan bahwa moralitas dapat dibahas secara rasional tanpa menafikan agama. Buku ini tidak antiagama, tetapi juga tidak menjadikan agama sebagai satu-satunya fondasi moral.
Mengasah Kepekaan Moral
Salah satu keunggulan utama buku ini adalah kejernihan argumennya. Gordon Graham menulis tanpa jargon berlebihan. Setiap teori dijelaskan secara sistematis, diikuti evaluasi kritis yang seimbang. Buku ini cocok bagi mahasiswa filsafat, hukum, politik, bahkan kedokteran dan keperawatan—bidang-bidang yang sering berhadapan dengan dilema moral konkret. Namun, sebagai pengantar, buku ini tentu tidak mendalami setiap teori secara sangat teknis. Ia memberi peta, bukan eksplorasi detail. Pembaca yang ingin pendalaman lebih lanjut perlu membaca sumber primer.
Relevansi di Indonesia hari ini. Dalam konteks Indonesia yang plural dan dinamis, buku ini menawarkan perangkat berpikir yang sangat berguna. Perdebatan tentang hukum, hak minoritas, kebijakan publik, dan relasi agama-negara sering kali memerlukan kerangka etis yang jelas.
Apakah kita menilai kebijakan berdasarkan manfaat terbesar? Berdasarkan hak asasi? Berdasarkan kewajiban moral? Ataukah berdasarkan kesepakatan sosial? Tanpa sadar, kita sering menggunakan teori-teori ini dalam argumen sehari-hari. Buku Graham membantu kita menyadari kerangka itu dan mengujinya secara kritis.
Meski komprehensif sebagai pengantar, buku ini berfokus pada tradisi Barat. Perspektif etika Timur atau tradisi non-Barat tidak banyak dibahas. Bagi pembaca Indonesia, ini menjadi peluang untuk memperkaya diskusi dengan warisan etika lokal.
Selain itu, pembaca yang mengharapkan jawaban final mungkin akan kecewa. Graham tidak memilih satu teori sebagai pemenang. Ia justru menunjukkan bahwa masing-masing memiliki kekuatan dan keterbatasan.Namun justru di situlah nilai buku ini: ia mendidik pembaca untuk berpikir, bukan untuk menerima dogma baru. Namun untuk mengasah kepekaan moral.
Di era media sosial, moralitas sering direduksi menjadi slogan. Kita cepat menyematkan label “benar” atau “salah” tanpa menimbang alasan di baliknya. Buku Teori-Teori Etika mengajak kita memperlambat langkah, mempertanyakan asumsi, dan menyadari kompleksitas keputusan moral. Ia tidak menawarkan jawaban sederhana. Tetapi ia memberi sesuatu yang lebih penting: kemampuan untuk berpikir jernih tentang kebaikan dan keadilan. Di antara hiruk-pikuk opini, kemampuan itu terasa semakin langka—dan semakin dibutuhkan. Selengkapnya buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan dengan nomor panggil: 170 GRA t []
