Judul: Leica Rangefinder Practice M6 to M1
Penulis: Andrew Matheson
Penerbit: Hove Foto books
Cetakan: Edisi 1, 1986
Halaman: 170 hlm. : ilus.; 22 cm
Bahasa: Bahasa Ingris
ISBN: 0 9064447-37-2
Resentator: Joko Setiyono, S.Sos
Di tengah zaman fotografi digital yang serba instan—di mana satu klik bisa menghasilkan ratusan gambar—Leica Rangefinder Practice: M6 to M1 karya Andrew Matheson hadir seperti sebuah jeda. Buku ini tidak menawarkan trik cepat, preset estetika, atau jalan pintas menuju “foto bagus”. Sebaliknya, Matheson mengajak pembacanya kembali pada satu hal yang kini nyaris terlupakan: disiplin melihat.
Buku ini secara teknis membahas penggunaan kamera Leica rangefinder seri M, dari M1 hingga M6. Namun, menjadikannya sekadar “buku manual kamera” akan mereduksi maknanya. Yang sesungguhnya ditawarkan Matheson adalah cara berpikir fotografis—sebuah etika bekerja dengan kamera mekanik yang menuntut kesabaran, presisi, dan kesadaran penuh pada setiap bingkai.
Kamera sebagai alat pendidikan visual. Leica, dalam narasi Matheson, bukan sekadar merek legendaris. Ia adalah alat pedagogis. Sistem rangefinder—dengan jendela bidik yang terpisah dari lensa—memaksa fotografer untuk terus membandingkan apa yang dilihat mata dan apa yang akan direkam film. Tidak ada autofocus, tidak ada preview instan. Setiap kesalahan fokus, eksposur, atau framing adalah tanggung jawab penuh fotografer.
Di sinilah Leica bekerja sebagai “guru yang keras”. Kamera ini tidak memaafkan kelalaian, tetapi juga memberi ganjaran besar bagi ketelitian. Matheson menulis dengan nada praktis sekaligus reflektif: teknik memegang kamera, cara membaca cahaya, memilih aperture, hingga memahami keterbatasan mekanis sebagai bagian dari proses kreatif. Buku ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah musuh kreativitas, melainkan justru ruang pembentuk kepekaan visual.
Fotografi sebagai praktik, bukan sekadar hasil. Berbeda dengan banyak buku fotografi yang berorientasi pada hasil akhir, Leica Rangefinder Practice menekankan proses. Fotografi dipahami sebagai rangkaian keputusan sadar: kapan memotret, dari jarak apa, dengan cahaya seperti apa, dan—yang terpenting—mengapa momen itu layak direkam. Matheson tidak memosisikan fotografer sebagai pemburu gambar, melainkan sebagai pengamat yang terlibat. Kamera rangefinder, dengan desainnya yang tidak menutup pandangan mata sepenuhnya, membuat fotografer tetap “hadir” di dalam situasi. Ini berbeda secara filosofis dari kamera SLR atau digital modern yang cenderung memisahkan mata dari realitas melalui layar atau viewfinder elektronik. Dalam konteks ini, fotografi menjadi praktik etis: menghormati subjek, memahami ruang, dan menyadari konsekuensi dari setiap tindakan memotret.
Relevansi di Era Digital
Ironisnya, buku yang sepenuhnya berbicara tentang kamera film mekanik justru terasa sangat relevan hari ini. Di tengah banjir visual media sosial, Leica Rangefinder Practice menawarkan antidot: kelambatan yang bermakna. Bagi fotografer digital, buku ini dapat dibaca sebagai kritik implisit terhadap budaya “asal jepret”. Ia mengingatkan bahwa teknologi canggih tidak otomatis menghasilkan kedalaman makna. Justru ketika proses dipermudah secara ekstrem, risiko kehilangan kesadaran artistik semakin besar.
Buku ini tidak mengajak untuk anti-teknologi, tetapi jelas berpihak pada fotografer yang berpikir sebelum menekan shutter. Nilai ini bersifat lintas zaman dan lintas medium.
Dengan bahasa teknis yang membumi. Salah satu kekuatan buku ini adalah gaya penulisannya. Meski sarat aspek teknis, Matheson menulis dengan bahasa yang jernih dan membumi. Ia tidak terjebak dalam jargon berlebihan, dan selalu mengaitkan teknik dengan pengalaman lapangan. Buku ini dapat diakses oleh: Fotografer pemula yang ingin memahami dasar fotografi secara serius.Fotografer berpengalaman yang ingin memperdalam praktik analog.Akademisi atau pemerhati budaya visual yang tertarik pada hubungan teknologi dan cara melihat. Dalam konteks pendidikan seni dan fotografi, buku ini layak ditempatkan sebagai bacaan pendamping—bukan hanya untuk belajar kamera Leica, tetapi untuk memahami etos kerja fotografi.
Lebih jauh, Leica dalam buku ini berfungsi sebagai simbol budaya: tentang presisi Jerman, tentang modernisme fotografi Eropa, dan tentang tradisi dokumenter humanis. Matheson secara implisit menautkan praktik teknis dengan sejarah panjang fotografi jalanan, jurnalisme visual, dan seni dokumenter. Membaca buku ini berarti juga membaca ulang posisi fotografer sebagai saksi zaman—bukan sekadar produsen konten visual.
Ini adalah sebuah buku tentang kesadaran. Leica Rangefinder Practice: M6 to M1 adalah buku yang tenang, disiplin, dan jujur. Ia tidak menjanjikan sensasi instan, tetapi menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga: kesadaran dalam melihat dan memotret.
Di era ketika kamera semakin pintar dan manusia semakin tergesa, buku ini mengingatkan bahwa fotografi pada dasarnya adalah tindakan manusiawi—yang membutuhkan waktu, perhatian, dan tanggung jawab.
Leica, dalam tangan Andrew Matheson, bukan sekadar kamera. Ia adalah jalan belajar untuk menjadi fotografer yang lebih sadar, lebih sabar, dan lebih bermakna. Bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana dan mengingatkan bahwa fotografi adalah tindakan manusiawi—yang menuntut waktu, perhatian, dan kesadaran. Di tengah teknologi yang kian pintar, pesan ini justru semakin mendesak. Selengkapnya buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan dengan nomor panggil: 771.3 MAT l []

