NASKAH RESENSI “ Lentera Ajaib dan Bayang-Bayang Asal-usul Sinema”

Judul: Kisah Pertunjukan Lentera Ajaib Orang-Orang Savoia

Judul asli: Ces Savoyards montreurs de lanterne magique
Penulis: Roger Gonin
Penerbit: Yayasan Kino Media (2023)

Halaman: xvi, 125 hlm., 21 cm

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-623-1234-56-7

Resentator: Joko Setiyono, S.Sos

          

 

Bagai, cahaya pertama di tengah kegelapan. Pada suatu masa ketika listrik belum menerangi kota-kota Eropa, di antara kabut pegunungan Alpen yang dingin dan desa-desa batu Savoia yang sunyi, sekelompok lelaki muda berkelana dengan kotak misterius di punggung mereka. Mereka disebut les montreurs de lanterne magique — para penayang lentera ajaib. Di tangan mereka, cahaya menjadi cerita, bayangan menjadi makna, dan layar kain putih berubah menjadi jendela imajinasi kolektif manusia.

Roger Gonin, dalam bukunya Kisah Pertunjukan Lentera Ajaib Orang-Orang Savoia (judul asli Ces Savoyards montreurs de lanterne magique, diterbitkan oleh Yayasan Kino Media), menghidupkan kembali ingatan yang hampir pudar itu: kisah tentang para pengelana sederhana yang tanpa mereka sadari menyalakan obor pertama menuju kelahiran sinema modern. Roger Gonin menelusuri jejak mereka — para montreurs de lanterne magique, pengembara miskin yang menjadikan cahaya sebagai nafkah dan seni. Buku ini bukan sekadar arsip sejarah pertunjukan, tetapi juga kisah tentang manusia, mobilitas, dan makna tontonan dalam kehidupan sosial Eropa pra-industri.

Gonin menulis dengan ketelitian seorang sejarawan sekaligus kehangatan seorang pencerita. Ia membawa kita menyusuri abad ke-18 dan 19, masa ketika pertunjukan lentera ajaib menjelma menjadi sarana pendidikan, hiburan, bahkan propaganda. Melalui riset mendalam yang memadukan arsip visual, catatan perjalanan, dan wawancara etnografis, Gonin membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini — antara cahaya lampu minyak dan layar perak bioskop modern.

Dari pegunungan ke kota-kota Eropa. Savoia (Savoy) — wilayah kecil di perbatasan Prancis, Italia, dan Swiss — dikenal sebagai tanah miskin dengan alam keras. Namun justru dari keterbatasan itulah lahir tradisi mobilitas luar biasa. Setiap musim dingin, banyak lelaki muda meninggalkan kampung halaman untuk mencari nafkah ke kota-kota besar Eropa. Sebagian menjadi pedagang kecil, pemain musik jalanan, dan sebagian lagi membawa “mesin ajaib” — lentera dengan lensa kaca, sumber cahaya minyak, dan serangkaian gambar berwarna tangan.

Para penayang lentera ajaib ini menjadi pengelana budaya. Mereka berpindah dari satu pasar ke pasar lain, dari gereja ke balai desa, menampilkan pertunjukan bayangan diiringi cerita yang menggetarkan. Di mata masyarakat kala itu, tontonan mereka adalah perpaduan antara sains dan sihir. Lentera ajaib memperlihatkan dunia yang tak terlihat: hantu, perjalanan ke bulan, kisah Injil, atau perang besar — semua dimunculkan melalui permainan cahaya dan gambar.

Roger Gonin menelusuri jejak para penayang itu melalui dokumen perdagangan, arsip paroki, dan catatan keluarga. Ia menemukan bahwa banyak dari mereka datang dari desa-desa terpencil seperti La Rochette dan Saint-Pierre-d’Albigny. Mereka bukan seniman dalam pengertian modern, melainkan pedagang narasi visual, yang memperdagangkan mimpi, ketakutan, dan pengetahuan. Dalam pandangan Gonin, mereka adalah para “perantara budaya” — individu yang tanpa sadar menghubungkan pengetahuan lokal dengan rasa ingin tahu universal.

Lentera ajaib: cikal bakal sinema. Lentera ajaib (magic lantern) adalah perangkat optik sederhana namun revolusioner. Menggunakan sumber cahaya dari minyak atau lilin, gambar pada kaca proyeksi dipantulkan melalui lensa ke layar. Teknologi ini dikembangkan sejak abad ke-17, tetapi baru pada abad ke-18 dan 19 mencapai puncak popularitasnya berkat para pengelana seperti orang-orang Savoia.

Gonin menunjukkan bahwa fungsi lentera ajaib melampaui sekadar hiburan. Dalam banyak kasus, pertunjukan itu digunakan untuk menyampaikan ajaran moral, pengetahuan ilmiah, bahkan nilai-nilai politik. Ia menulis, “lentera ajaib adalah bentuk komunikasi massa pertama di Eropa, ketika teks dan gambar belum menjadi alat populer bagi rakyat kebanyakan.” Dengan lentera, gambar bergerak menjadi alat demokratisasi pengetahuan.

Menariknya, Gonin mengaitkan lentera ajaib dengan apa yang disebutnya sebagai pra-sinema — fase awal sebelum sinema modern lahir. Ia menempatkan orang-orang Savoia dalam posisi penting sebagai mediator antara eksperimen ilmiah optik dan praktik budaya tontonan rakyat. Mereka bukan ilmuwan seperti Huygens atau Newton, tetapi tanpa peran mereka, cahaya tak akan menjadi bahasa visual yang universal.

Antara Ilmu, agama, dan hiburan. Salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya membaca lentera ajaib bukan sekadar dari aspek teknologinya, melainkan juga dari sisi sosial dan ideologinya. Pertunjukan lentera seringkali digelar di gereja-gereja untuk mengajarkan kisah Alkitab, namun di lain tempat digunakan oleh kelompok independen untuk mengkritik perang atau kemiskinan. Lentera menjadi medan tarik-menarik antara institusi agama, kekuasaan, dan rakyat.

Gonin mencatat bagaimana para pengelana Savoia harus menyesuaikan tema cerita sesuai audiens: di kota besar mereka menampilkan kisah-kisah ilmiah, di desa menayangkan kisah moral dan religius. Dengan begitu, lentera ajaib menjadi medium yang lentur — bisa bersuara untuk siapa saja.

Dalam perspektif budaya visual, hal ini mengingatkan kita pada konsep visual literacy — kemampuan membaca makna gambar — yang menjadi cikal bakal kesadaran sinematik modern. Gonin memperlihatkan bagaimana masyarakat Eropa belajar memahami narasi visual jauh sebelum kamera diciptakan.

Yang membuat buku ini hidup bukan hanya data historisnya, tetapi kehangatan kisah manusianya. Gonin menulis dengan empati terhadap para pengelana Savoia: anak-anak muda yang meninggalkan rumah di usia belasan tahun, berjalan ratusan kilometer dengan bahu memikul lentera dan kaca gambar. Banyak di antara mereka buta huruf, namun menjadi “pendidik rakyat” melalui tontonan mereka.

Ia menyertakan anekdot tentang seorang penayang bernama Jean-Marie Blanc, yang konon mengajarkan alfabet lewat gambar cahaya di pasar Lyon, serta kisah tragis keluarga Bouvier yang kehilangan semua peralatan pertunjukan karena kebakaran di Wina. Detail seperti ini membuat buku terasa hangat — bukan sekadar riset sejarah, tapi juga potret kemanusiaan yang rapuh dan heroik.

Dalam hal ini, Kisah Pertunjukan Lentera Ajaib Orang-Orang Savoia berdiri di antara dua dunia: sejarah teknologi dan etnografi sosial. Gonin berhasil menjaga keseimbangan antara analisis akademik dan kisah manusia yang menggugah.

Refleksi atas Budaya Tontonan. Membaca buku ini di era layar digital menghadirkan refleksi mendalam: betapa budaya tontonan bukanlah fenomena baru, melainkan naluri kuno manusia untuk mencari makna lewat gambar bergerak. Dari lentera ajaib hingga YouTube, manusia selalu ingin “melihat” cerita.

Gonin, dengan lirih, menyiratkan bahwa lentera ajaib adalah metafora tentang pengetahuan dan kebodohan. Cahaya bisa menerangi, tapi juga membutakan. Pertunjukan yang dulu menghibur bisa pula menjadi alat manipulasi. Dalam konteks itu, buku ini terasa sangat relevan bagi pembaca masa kini yang hidup di tengah banjir citra digital.

Melalui kisah orang-orang Savoia, Gonin seolah mengingatkan bahwa di balik setiap teknologi visual, selalu ada manusia yang berjuang — bukan hanya demi uang, tapi demi mempertahankan martabat imajinasi.

Sebagai karya yang lahir dari riset panjang, buku ini memadukan disiplin sejarah, antropologi, dan studi film. Gonin menulis dengan gaya yang lembut dan kaya deskripsi visual. Ia tidak sekadar menginformasikan, tetapi mengajak pembaca “menyaksikan” bagaimana cahaya menembus layar kain.

Dari sisi akademik, buku ini memberi kontribusi penting terhadap sejarah sinema Eropa. Sebelumnya, banyak penelitian menitikberatkan pada penemu teknologi (seperti Lumière, Edison, atau Marey), sementara Gonin menyoroti lapisan sosial yang lebih bawah — para pekerja budaya yang sering terlupakan.

Buku ini juga membuka jalan bagi pembacaan baru terhadap hubungan antara migrasi dan budaya tontonan. Mobilitas orang-orang Savoia menjadi metafora tentang penyebaran ide dan teknologi lintas batas. Dalam konteks globalisasi hari ini, kisah mereka terasa amat kontemporer: teknologi berubah, tetapi mobilitas manusia tetap menjadi penggerak utama perubahan budaya.

Makna bagi pembaca Indonesia. Penerbitan buku ini oleh Yayasan Kino Media juga penting bagi pembaca Indonesia. Ia memperkaya wawasan kita tentang sejarah sinema bukan sebagai produk industri Barat semata, melainkan sebagai hasil perjalanan panjang manusia dalam memahami cahaya dan bayangan.

Bagi dunia pertunjukan tradisional Nusantara — seperti wayang kulit, sandiwara keliling, atau tontonan rakyat di alun-alun — kisah lentera ajaib memberi cermin: bahwa setiap budaya memiliki bentuk “sinema” sebelum sinema. Dalang Jawa dengan kelir dan blencong, misalnya, memiliki logika visual yang mirip dengan penayang Savoia. Kedua-duanya memproyeksikan cerita melalui cahaya untuk menyentuh batin penonton. Dengan demikian, membaca buku ini juga berarti membaca diri sendiri: bagaimana masyarakat memandang tontonan, bagaimana teknologi mengubah cara kita bercerita, dan bagaimana manusia tetap menjadi pusat dari setiap layar, dari lentera hingga gawai

Cahaya yang tak pernah padam. Pada halaman-halaman terakhir, Roger Gonin menulis bahwa “setiap lentera adalah mata, dan setiap bayangan adalah ingatan.” Kalimat itu seperti menutup lingkaran waktu: dari desa kecil di Savoia hingga ruang bioskop masa kini, cahaya tetap menjadi jembatan antara realitas dan mimpi.

Kisah Pertunjukan Lentera Ajaib Orang-Orang Savoia adalah buku yang bukan hanya layak dibaca, tetapi juga direnungkan. Ia mengingatkan kita bahwa sejarah sinema bukan hanya sejarah teknologi, melainkan sejarah manusia yang ingin memahami dunia melalui cahaya.

Dengan bahasa yang lembut, riset yang kuat, dan pandangan yang mendalam, Roger Gonin menghadirkan kembali masa ketika tontonan masih merupakan keajaiban — bukan sekadar hiburan massal. Dalam dunia modern yang dipenuhi layar, buku ini mengajarkan satu hal sederhana: bahwa setiap cahaya, betapapun kecilnya, menyimpan kisah tentang asal-usul kita sebagai makhluk yang melihat.  Buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan dengan nomor panggil: 791. 4309 GON k.[]