Naskah Resensi “Wayang Sinema: Inovasi Seni Tradisi di Era Digital”

Judul: Wayang Sinema Lakon Dewa Ruci: Model Pengembangan Wayang Indonesia
Penulis: Sunardi, I Nyoman Murtana, Sudarsono, dan Kuwato
Penerbit: ISI Press, Surakarta (2019

Halaman: vi + 100 hlm., 23 cm

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-5573-57-6

Resensator: Joko Setiyono, S.Sos

Seni tradisi selalu menghadapi dua tantangan besar: menjaga akar autentiknya dan sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman. Wayang kulit purwa, yang selama ratusan tahun menjadi simbol peradaban Jawa, kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah warisan dunia yang diakui UNESCO; di sisi lain, popularitasnya di kalangan generasi muda semakin menurun, tersisih oleh gempuran budaya pop global dan teknologi hiburan modern. Dalam konteks inilah lahir buku Wayang Sinema Lakon Dewa Ruci: Model Pengembangan Wayang Indonesia karya Sunardi, I Nyoman Murtana, Sudarsono, dan Kuwato.

Bayangkan suasana malam di sebuah desa Jawa: lampu teplok menyala remang, kelir putih terbentang, gamelan mengalun, dan seorang dalang mulai membuka lakon. Dunia pun seolah berpindah ke panggung bayangan, membawa penonton larut dalam cerita. Tradisi wayang selama berabad-abad telah menjadi medium yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mendidik, membentuk moral, dan menanamkan filsafat hidup. Namun, di era digital kini, muncul pertanyaan mendasar: masihkah wayang mampu merebut hati generasi muda yang lebih akrab dengan layar ponsel dan bioskop ketimbang kelir kulit?

Jawaban atas keresahan itu salah satunya hadir lewat gagasan Wayang Sinema. Sebuah eksperimen kreatif yang berupaya memadukan seni pertunjukan tradisional dengan medium modern. Dalam proyek penelitian terapan oleh Sunardi, I Nyoman Murtana, Sudarsono, dan Kuwato, lahirlah karya Wayang Sinema Lakon Dewa Ruci: Model Pengembangan Wayang Indonesia. Upaya ini bukan sekadar memindahkan cerita dari panggung ke layar, melainkan membangun jembatan kebudayaan—antara tradisi dan teknologi, antara pesan leluhur dan selera zaman kini.

Diterbitkan oleh ISI Press pada tahun 2019, buku ini bukan sekadar dokumentasi akademik, melainkan sebuah tawaran konkret tentang bagaimana wayang bisa berevolusi tanpa kehilangan ruhnya. Para penulis mengajukan konsep wayang sinema—sebuah perpaduan unik antara wayang kulit tradisional dengan teknologi sinematografi modern. Pertunjukan wayang ini tidak lagi terbatas pada layar kelir dan blencong, melainkan tampil dalam format layar lebar dengan dukungan multimedia, suara surround, hingga running text untuk membantu pemahaman penonton.

 Inovasi dalam Tradisi: Apa Itu Wayang Sinema?

Wayang sinema adalah bentuk pengembangan wayang dengan memanfaatkan medium sinematik. Ia menggabungkan estetika visual wayang (tokoh, sabetan, kelir, gamelan, dan sulukan) dengan teknik film (kamera, editing, efek visual, dan tata suara modern).

Inovasi ini memiliki tiga tujuan utama: pertama, pelestarian tradisi – agar wayang tetap hidup di tengah tantangan modernisasi. Kedua, transformasi medium – mengalihkan kelir tradisional ke layar sinema, tanpa kehilangan jiwa pertunjukan; dan ketiga, aksesibilitas generasi muda – menjadikan wayang lebih mudah dinikmati oleh mereka yang tumbuh dengan Netflix, YouTube, dan TikTok. Dengan format sinema, wayang bisa menembus ruang-ruang baru: festival film, platform digital, bahkan kelas-kelas pendidikan. Wayang tak lagi eksklusif untuk panggung malam hari, melainkan bisa hadir kapan saja, di mana saja.

Dari Ruang Pertunjukan ke Ruang Sinematik. Wayang tradisional bersifat lisan dan performatif. Dalang adalah pengendali narasi, tokoh, dan ritme pertunjukan. Namun, ketika memasuki medium film, ada pergeseran peran. Dalang tetap hadir, tetapi bekerjasama dengan sutradara, penata kamera, dan editor. Kelir yang tadinya statis kini bisa berubah menjadi layar dinamis dengan zoom, close-up, atau transisi. Perubahan ini bukan berarti kehilangan otentisitas. Sebaliknya, ia membuka peluang eksplorasi artistik: Adegan perang wayang yang biasanya terbatas pada sabetan dalang, kini bisa diperkaya dengan teknik editing cepat dan sound effect modern. Dialog filsafati antara Bima dan Dewa Ruci bisa divisualkan dengan pencahayaan dan simbol visual, mempertegas nuansa mistik. Gamelan tetap hadir, tetapi bisa berpadu dengan sound design sinematik untuk memperkuat atmosfer. Dengan demikian, wayang sinema tidak sekadar menduplikasi, melainkan mentransformasi pengalaman menonton wayang.

            Pemilihan lakon Dewa Ruci dalam proyek ini bukanlah kebetulan. Dewa Ruci sebagai Lakon Lebet: Dimensi Spiritualitas. Dewa Ruci tergolong lakon lebet, yakni lakon yang sarat makna filosofis dan spiritual. Ceritanya berpusat pada Bima, tokoh Pandawa yang gagah, keras hati, namun jujur dan setia. Dalam pencarian tirta pawitra (air kehidupan), ia bertemu dengan Dewa Ruci—dewa mungil yang justru menyimpan samudera semesta di dalam dirinya. Kisah ini menyampaikan pesan mistik: pencarian hakikat hidup tidak ada di luar, melainkan di dalam diri. Pertemuan Bima dengan Dewa Ruci adalah simbol perjalanan batin menuju Tuhan, manunggaling kawula-Gusti.

Dalam konteks sinema, pesan ini menemukan wadah baru. Adegan-adegan spiritual, seperti Bima menyelam ke samudera atau masuk ke tubuh Dewa Ruci, dapat divisualisasikan secara lebih konkret melalui efek visual. Penonton tidak hanya mendengar sulukan dalang, tetapi juga dapat “melihat” pengalaman transendental itu secara sinematik. Inilah kekuatan inovasi: membawa pesan mendalam leluhur agar lebih mudah diresapi generasi modern.

Inovasi Budaya: Antara Kontinuitas dan Disrupsi

Setiap inovasi budaya selalu membawa dilema: bagaimana menjaga kontinuitas tradisi tanpa kehilangan daya inovasi? Wayang sinema menjawab dilema ini dengan pendekatan dialektis—tradisi dan modernitas bukanlah kutub yang bertentangan, tetapi dua kutub yang bisa saling memperkaya.

Bagi sebagian kalangan konservatif, ada kekhawatiran bahwa sinematisasi wayang akan mengikis nilai sakralnya. Namun, penelitian para penulis buku ini menunjukkan bahwa sakralitas tidak hilang, melainkan direkontekstualisasi. Justru dengan sinema, nilai-nilai filosofis lakon lebet seperti Dewa Ruci bisa menjangkau audiens lebih luas, tanpa terikat pada ruang pertunjukan tertentu. Inovasi budaya di sini berfungsi ganda: sebagai pelestarian sekaligus transformasi. Wayang tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga menemukan “rumah baru” di medium yang lebih sesuai dengan zaman.

Antara Nostalgia dan Eksperimen. Salah satu indikator keberhasilan inovasi budaya adalah sejauh mana generasi baru dapat meresponsnya. Bagi anak muda, wayang sinema menghadirkan nuansa baru: tradisi yang dibungkus dalam bahasa yang mereka kenal, yakni film.

Alih-alih harus duduk berjam-jam menyaksikan pertunjukan malam suntuk, mereka bisa menikmati lakon Dewa Ruci dalam format sinematik yang lebih ringkas, estetis, dan komunikatif. Di sisi lain, bagi para penikmat wayang tradisi, wayang sinema bisa menjadi pintu nostalgia: menghidupkan kembali suasana kelir, tetapi dengan kemasan yang lebih segar.

            Wayang Sinema sebagai Model Pengembangan Wayang Indonesia. Proyek ini tidak berhenti pada eksperimen artistik. Ia menawarkan model pengembangan yang bisa direplikasi untuk lakon-lakon lain, atau bahkan untuk genre seni tradisi yang berbeda. Prinsipnya adalah hibridisasi kreatif—menggabungkan tradisi dengan teknologi tanpa menghapus identitas asli.

Jika model ini diterapkan secara lebih luas, bayangkan kemungkinan yang bisa lahir: Lakon Mahabharata dan Ramayana divisualkan dengan pendekatan film animasi wayang. Lakon-lakon carangan (gubahan dalang) diproduksi sebagai film pendek untuk festival budaya. Sinema wayang menjadi media edukasi di sekolah, mengenalkan filsafat Jawa kepada generasi muda. Inovasi ini tidak hanya melestarikan, tetapi juga menempatkan wayang sebagai living tradition yang terus berkembang.

            Meski menjanjikan, wayang sinema tentu menghadapi tantangan. Dari sisi teknis, diperlukan biaya produksi yang tidak sedikit, serta kolaborasi lintas bidang (seniman, filmmaker, akademisi). Dari sisi penerimaan, perlu ada strategi distribusi yang tepat agar wayang sinema tidak berhenti hanya sebagai proyek penelitian, melainkan benar-benar sampai ke publik.

Namun, prospeknya sangat cerah. Dunia kini justru mengapresiasi inovasi budaya yang berakar pada tradisi. Festival film internasional kerap memberi ruang bagi karya berbasis kearifan lokal. Jika dikembangkan serius, wayang sinema bisa menjadi duta budaya Indonesia di kancah global. Wayang sinema Lakon Dewa Ruci adalah bukti bahwa tradisi tidak pernah benar-benar tua—ia hanya menunggu cara baru untuk dibangkitkan. Dengan memadukan kelir dan kamera, sulukan dan sound effect, sabetan dan editing, proyek ini menghadirkan wajah baru wayang Indonesia.

Namun, yang paling penting: inovasi ini tidak sekadar menampilkan wayang dalam kemasan modern, melainkan juga menjaga api spiritualitas yang terkandung dalam lakon lebet Dewa Ruci. Bahwa pencarian hidup manusia, sebagaimana Bima dalam samudera, pada akhirnya bermuara pada perjalanan batin menuju Tuhan. Wayang sinema, dengan demikian, adalah cahaya baru bagi tradisi lama—sebuah bukti bahwa budaya mampu hidup, beradaptasi, dan memberi makna lintas generasi. Buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan dengan  nomor panggil: 791.507 SUN w.[]