Sosialisasi Layanan Perpustakaan ISI Surakarta 2018

Kegiatan Sosialiasi Layanan Perpustakaan ISI Surakarta 2018 dilaksanakan pada tgl 28 Agustus 2018 dibagi menjadi 2 sesion, yang pertama di Gd Prabangkara Kampus II Mojosongo dengan peserta mahasiswa baru FSRD 2018 dengan jumlah 509 mahasiswa, sedang sesion ke 2 di Pendopo Kampus I Kentingan dengan peserta mahasiswa FSP berjumlah 398 mahasiswa. Kegiatan berjalan lancara dan antusias dari peserta. Kegiatan layanan sosial ini merupakan agenda rutin tahunan dalam setiap kegiatan orientasi mahasiswa baru.

Suasana kegiatan layanan sosial 2018 di Gd Prabangkara, dengan presentator Lalan Fuandara

Suasana kegiatan layanan sosial 2018 di Pendhopo Ageng, dengan presentator Lalan Fuandara

Download:

Panduan 2018 revisi

by: R. Lalan Fuandara

Pemanfaatan Situs YouTube Menjadi Repository Budaya Berbasis Digital di Perpustakaan ISI Surakarta, Oleh: Sartini, S.I.Pust

Abstrak :

Peranan teknologi informasi dan komunikasi dalam wujud alat digital dan internet telah dimanfaatkan dalam segala bidang kehidupan manusia. Komunikasi manusia saat ini banyak yang menggunakan gadget yang terhubung dengan aplikasi berbasis internet.

YouTube merupakan situs yang menyediakan konten berbasis video. Orang banyak mengakses YouTube untuk hiburan misalnya mendengarkan dan melihat berupa video music. Selain itu YouTube dapat digunakan pula untuk pendidikan.

ISI Surakarta telah memiliki situs repository yang menjadi pusat dokumentasi karya ilmiah. Karya ilmiah yang dihasilkan dari kegiatan akademik di Institut Seni Indonesia Surakarta banyak yang berupa film/video. Hal ini dapat menjadi permasalahan bagi server repository apabila konten tersebut diupload disana. Institusi tidak akan sanggup melakukan perawatan dan peremajaan server repository.

Oleh karena itu, situs YouTube dapat dimanfaatkan sebagai repository budaya berbasis digital oleh ISI Surakarta. Karena keberlangsungannya akan lebih terjamin agar dapat diakses dimanapun dan kapanpun.

Hal yang menjadi permasalahan adalah masalah hak cipta. Ini yang perlu dipikirkan solusi dan sosialisasinya.

 

  1. Pendahuluan

APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) telah mengumumkan hasil survei Data Statistik Pengguna Internet Indonesia tahun 2016. Dari data statistik yang disebarkan dapat dilihat beberapa hal yaitu :

  1. Jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2016 adalah 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta. Pengguna internet terbanyak ada di pulau Jawa dengan total pengguna 86.339.350 user atau sekitar 65% dari total pengguna i Jika dibandingkan pengguna internet Indonesia pada tahun 2014 sebesar 88,1 juta user, maka terjadi kenaikan sebesar 44,6 juta dalam waktu 2 tahun (2014 – 2016).
  2. Berdasarkan konten yang paling sering dikunjungi, pengguna internet paling sering mengunjungi web onlineshop sebesar 82,2 juta atau 62%. Dan konten social media yang paling banyak dikujungi adalah Facebook sebesar 71,6 juta pengguna atau 54% dan urutan kedua adalah Instagram sebesar 19,9 juta pengguna atau 15% dan situs YouTube menempati urutan ketiga dengan 14,5 juta.

Data diatas merupakan data statistik akses internet di Indonesia. Sedangkan untuk dunia terdapat 3,6 miliar orang atau 46% dari penduduk dunia merupakan pengguna internet. Dimana YouTube sendiri memiliki lebih dari satu miliar pengguna — hampir sepertiga dari semua pengguna internet — dan setiap hari orang menonton ratusan juta jam video di YouTube dan menghasilkan miliaran kali penayangan.

YouTube secara keseluruhan, dan bahkan YouTube di perangkat seluler saja, telah menjangkau lebih banyak pemirsa yang berusia 18-34 dan 18-49 tahun daripada jaringan televisi kabel mana pun di Amerika Serikat. Lebih dari setengah penayangan YouTube berasal dari perangkat seluler. YouTube telah meluncurkan versi lokalnya di lebih dari 88 negara. Anda dapat menelusuri YouTube dalam total 76 bahasa (yang mencakup 95% dari populasi internet).

Repositori merupakan tempat penyimpanan bahan-bahan digital yang dihasilkan oleh suatu institusi perguruan tinggi berkaitan erat dengan perubahan yang terjadi dalam pengelolaan sumberdaya informasi di perpustakaan. Berbagai sumberdaya informasi berbasis kertas (paperbased), yang selama ini merupakan primadona perpustakaan tradisional, sekarang telah banyak tersedia dalam format digital.

Perkembangan Institutional Repository di perguruan tinggi dan lembaga ilmiah di Indonesia menunjukkan peningkatan tren pemanfaatan bagi dunia akademis. Akan tetapi banyak pula yang mengalami kendala dalam hal pengelolaan server dan jaringan. Oleh karena itu, YouTube dapat dimanfaatkan sebagai solusi alternatif bagi penyimpanan repository digital berbasis audio dan video yang berukuran besar karena di YouTube kita dapat mengunggah file video berukuran sampai 128 GB bahkan menyiarkan langsung secara online.

 

  1. ISI Institutional Repository

Secara sederhana arti dari repositori adalah tempat penyimpanan. Dalam konteks kepustakawanan repositori adalah suatu tempat dimana dokumen, informasi atau data disimpan, dipelihara dan didigunakan. Ada 4 (empat) macam repository: (1) the subject-based repository, (2) research repository, (3) national repository system, & (4) institutional repository”

Institusional Repositori merupakan koleksi unik yang dihasilkan oleh masyarakat universitas berupa laporan teknis, skripsi, thesis, disertasi, bahan ajar atau karya intelektual lainnya.

Repositori institusi: A computer server that stores an institution’s digital products of knowledge and offers them online for free (Parker, 2007 dalam Ida Fajar Prianto, 2015).

Rektor ISI Surakarta, Prof. Dr. Sri Rochana W, S. Kar., M. Hum. dalam sebuah Talkshow tentang Institutional Repository mengatakan, “IR-ISI Surakarta diharapkan dapat memberi layanan informasi akademik dan artistik kepada publik baik domestik, nasional, maupun internasional.

Institusional Repositori (IR-ISI) Surakarta adalah sebuah keniscayaan dalam era teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini. Suatu fenomena dimana teknologi telah menisbikan ruang dan waktu dalam praktik komunikasi dari satu individu ke individu lain, dari satu komunitas ke komunitas lain, dari satu lembaga ke lembaga lain, dari satu bangsa ke bangsa lain, dan satu negara ke negara lain.

IR-ISI Surakarta yang dikelola oleh UPT. Perpustakaan ISI Surakarta dilandasi oleh Visi sebagai “Jendela Dunia Kreativitas dan Keilmuan Seni”. Secara khusus substansi IR-ISI Surakarta meliputi dua hal pokok yakni; Academic Institutional Repository dan Artistic Institutional Repository.

Academic Institutional Repository terdiri dari Hasil Penelitian Dosen, Mahasiswa, dan Staf, Buku Teks Monografi, Referensi, Skripsi/TA, Tesis, Disertasi, Artikel Ilmiah, Artikel Populer. Sedangkan Artistic Institutional Repository terdiri dari Karya Seni Pertunjukan Dosen, Mahasiswa, dan Staf, Karya Seni Rupa, Desain, Media Rekam.

 

YouTube

YouTube adalah sebuah situs web berbagi video yang dibuat oleh tiga mantan karyawan PayPal pada Februari 2005. Situs ini memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan berbagi video. Perusahaan ini berkantor pusat di San Bruno, California, dan memakai teknologi Adobe Flash Video dan HTML5 untuk menampilkan berbagai macam konten video buatan pengguna, termasuk klip film, klip TV, dan video musik. Selain itu ada pula konten amatir seperti blog video, video orisinal pendek, dan video pendidikan.

Kebanyakan konten di YouTube diunggah oleh individu, meskipun perusahaan-perusahaan media seperti CBS, BBC, Vevo, Hulu, dan organisasi lain sudah mengunggah material mereka ke situs ini sebagai bagian dari program kemitraan YouTube. Pengguna tak terdaftar dapat menonton video, sementara pengguna terdaftar dapat mengunggah video dalam jumlah tak terbatas. Video-video yang dianggap berisi konten ofensif hanya bisa ditonton oleh pengguna terdaftar berusia 18 tahun atau lebih. Pada November 2006, YouTube, LLC dibeli oleh Google dengan nilai US$1,65 miliar dan resmi beroperasi sebagai anak perusahaan Google.

Menurut sebuah survey, sekitar 100.000 video ditonton setiap harinya di YouTube. Setiap 24 jam ada 65.000 video baru diunggah ke YouTube. Setiap bulannya YouTube dikunjungi oleh 20 juta penonton dengan mayoritas kisaran usia antara 12 sampai 17 tahun (Burke, Snyder, & Rager, 2009).

YouTube memang bukan situs berbagi video pendidikan, namun pada perkembangannya YouTube meluncurkan layanan khusus untuk pendidikan (www.youtube.com/edu) pada tahun 2009. Layanan ini langsung mendapat sambutan positif dari pengguna. Pada tahun pertama sesudah diluncurkan lebih dari 300 kolese dan universitas bergabung dan ada lebih dari 65.000 video kuliah, kegiatan kampus, dan berita kampus.

 

III. Pemanfaatan Situs Youtube Menjadi Repository Budaya

Sejak di Launching oleh Rektor ISI Surakarta Prof. Dr. Sri Rochana Widyastutiningrum, S.Kar., M.Hum. pada hari Kamis 7 April 2016, Institutional Repository ISI Surakarta kini sudah bisa diakses melalaui http://repository.isi-ska.ac.id. Tujuan dan manfaat dibangunnya Institutional Repository, antara lain sebagai salah satu media penyimpanan, pelestarian, dan promosi informasi ilmiah, hasil karya dan penelitian civitas akademika ISI Surakarta. Selain itu juga untuk mereduksi plagiarisme dan menghindari duplikasi penelitian, serta meningkatkan peringkat webometric atau agency lain, baik secara nasional maupun skala internasional.

Dalam upaya menuju WCU (World Class University) dan juga peningkatan peran Institut Seni Indonesia Surakarta secara nasional dan internasional, maka kehadiran Institutional Repository adalah salah satu persyaratan mutlak. Institutional Repository merupakan wadah publikasi ilmiah secara on-line hasil-hasil karya seluruh civitas akademika ISI Surakarta, baik dosen, karyawan, maupun mahasiswa. Program ini sekaligus juga menjawab tantangan atas kemajuan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini, dimana era digital telah merambah di berbagai lini kehidupan, termasuk dunia pendidikan khususnya di perguruan tinggi.

Karya ilmiah atau local content yang dimiliki oleh ISI Surakarta merupakan karya yang lebih banyak muatan audio visual dibandingkan text. Sehingga apabila diwujudkan dalam bentuk digital akan menuntut pengelolaan yang lebih berat dibandingkan wujud text digital. Hal tersebut akan memerlukan sumber daya IT yang sangat besar dalam hal hardware, software dan brainware serta biaya yang dianggarkan.

Permasalahan dalam pengelolaan server misalnya :

  1. Hardware akan membutuhkan spesifikasi yang sangat tinggi agar terjaga aksesibilitas dan kelangsungan hidupnya misalnya memerlukan prosesor, RAM, hardisk, dan bandwith yang sangat besar
  2. Biaya pengadaan dan pemeliharaan menjadi sangat mahal
  3. Tenaga IT juga harus yang sangat berkualitas
  4. Software eprints yang digunakan kurang mendukung untuk pengelolaan audio dan video

 

YouTube biasa digunakan user, baik mahasiswa atau dosen yang ingin mencari referensi tentang audio visual. Mereka memanfaatkan YouTube karena tidak adanya referensi di perpustakaan, sebagai second opinion, atau pembanding diantara referensi yang ada. Referensi di YouTube memang tidak dapat digunakan sebagai acuan tunggal karena masalah kevalidannya.

Mahasiswa atau dosen sering dan suka mengunggah karya mereka ke YouTube. Tujuannya agar mereka terkenal dan memudahkan mereka membagikan karya mereka ke adik kelas atau siapa saja yang membutuhkan karya mereka. Ketika sebuah TA selesai digelar, secara spontan mereka akan mengunggahnya ke YouTube. Setelah itu mereka akan menontonnya bersama-sama, mereka merasa bangga apabila karyanya telah terupload di internet.

Di sisi lain mahasiswa yang mencari referensi tentang audio visual, yang mereka tuju pertama adalah perpustakaan sebagai referensi yang dianggap memiliki nilai akademik dan validitas yang tinggi. Apabila di perpustakaan tidak ada, maka mereka akan beralih ke YouTube atau referensi di internet lainnya. Jadi mahasiswa dan dosen sebagai user seimbang antara yang mengunggah karya mereka dan yang ingin melihat atau download karya yang bisa digunakan untuk referensi dalam membuat karya berikutnya.

Oleh karena itu,  berdasarkan pengamatan pengggunaan YouTube di atas maka bisa digunakan menjadi sumber belajar dan media penyimpanan yang bisa memenuhi tuntutan kebutuhan pemustakaan saat ini yaitu generasi digital.

Seperti yang kita ketahui bahwa Youtube merupakan bagian dari Google, perusahaan raksasa yang menguasai IT di dunia. Maka kekurangan dalam hal pengelolaan server oleh institusi dapat diselesaikan. Penggunaan YouTube bagi penyimpanan repository digital memberikan manfaat antara lain :

  1. Menjadi solusi bagi permasalahan penyimpanan file digital berukuran besar
  2. Keberlangsungan aksesibilitas file lebih terjamin
  3. Institusi tidak perlu memikirkan sumber daya manusia, biaya hardware, dan software
  4. Untuk konten karya seni maka melihat secara visual akan lebih baik daripada membaca teks.
  5. Apabila Channel Youtube kita terkenal maka dapat mendatangkan uang melalui iklan yang ditampilkan.

 

  1. Kesimpulan

Teknologi informasi dan komunikasi yang berbasis internet dan website telah berkembang pesat ke seluruh bidang. Pemustaka pada jaman ini yang berasal dari generasi digital merupakan pengguna yang sudah terbiasa memanfaatkan IT untuk kegiatan pendidikannya.  Pada saat ini ISI Institusional Repository yang mengelola karya ilmiah hasil sivitas akademika ISI Surakarta masih banyak mengelola koleksi berbasis teks. Padahal local content dari ISI Surakarta sendiri banyak yang berupa karya berbasis pertunjukan yang lebih cenderung berisi audio visual. Untuk mengelola server ISI Repository dibutuhkan sumber daya dan dana yang sangat besar dalam hal hardware, software dan brainware.

Yotube sendiri merupakan situs di internet yang memberikan fasilitas penyimpanan dan penyiaran koleksi audio visual secara gratis dengan sumber daya yang tidak terbatas. Hal ini bisa dimanfaatkan dengan cara memadukan koleksi ISI Repository dengan penyimpanan di YouTube. Koleksi ISI Surakarta yang berupa pertunjukan dapat disimpan di kedua situs, untuk berbasis teks di simpan di repository dan pementasan berupa koleksi AV diunggah di YouTube.

Daftar Pustaka

 

https://id.wikipedia.org/wiki/YouTube

http://isparmo.web.id/2016/11/21/data-statistik-pengguna-internet-indonesia-2016/

http://www.internetlivestats.com/internet-users/

https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker

https://www.youtube.com/yt/press/id/statistics.html

https://repository.usd.ac.id/3664/1/2165_youtube+sebagai+sumber+belajar+sosiolinguistik.pdf

Fuandara, R. Lalan. 2015. Pengelolaan Repositori Institusi Di Perpustakaan Isi Surakarta (Layanan Akses Terbuka). https://digilib.isi-ska.ac.id/?p=413#more-413

Junaedi, Agus. 2017. Memperkaya Khazanah Koleksi Institutional Repository ISI Surakarta dengan Dokumen Audio. Surakarta: Artikel Pustakawan Berprestasi ISI Surakarta

http://isi-ska.ac.id/launching-institutional-repository-isi-surakarta/

http://isi-ska.ac.id/talkshow-instutional-repository-isi-surakarta/

 

download artikel:Pemanfaatan Situs YouTube Menjadi Repository Budaya Berbasis Digital di Perpustakaan ISI Surakarta

Seminar Nasional: “EKSISTENSI PERPUSTAKAAN: Masa Silam, Era Kekinian & Masa Depan”

Perpustakaan merupakan fundamen peradaban manusia. Dalam  ceramah Halal Bihalal 1438 H Keluarga Besar Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada Rabu 4 Juli 2017 di Auditorium Perpusnas Jakarta, Syeikh Fikri Thoriq Alkatiri mengungkapkan: perpustakaan adalah benteng terbesar suatu negara. Kehancuran Al-Andalus atau Andalus diawali dari kehancuran Kordoba. Pada awalnya yang dihancurkan adalah perpustakaan terbesar Andalus di Kordoba, kemudian hancur leburlah Andalus.

Terkait pengembangan perpustakaan, ditekankan pentingnya cermat memandang peluang dan penempatan yang tepat tentang posisi perpustakaan. Menurut periodisasi perkembangan perpustakaan dapat disebutkan ke dalam tiga kelompok yaitu: 1) Perpustakaan pada masa silam (Perpustakaan dulu). 2) Perpustakaan sekarang (Perpustakaan Kini). 3) Perpustakaan pada masa yang akan datang (Perpustakaan Hari Esok).

Pada setiap jaman perpustakaan telah banyak memberi jasa kepada para pemakainya sampai sekarang. Salah satunya sebagai sumber informasi dan panduan, rujukan dalam penelitian untuk sampai pada masa sekarang. Proses perkembangan informasi akan semakin cepat, sejalan dengan makin berkembangnya teknologi informasi (TI). Jika masa lalu koleksi perpustakaan diwarnai dengan koleksi dari daun lontar dan tablet tanah liat, sekarang yang paling dominan berupa koleksi tercetak, dan sebagian perpustakaan sudah dalam bentuk mikro, digital, elektronik dan terpasang.

Namun jika kita perhatikan, meskipun teknologi informasi mempunyai beberapa kelebihan, seperti makin cepat, akurat, namun pada sisi yang lain juga mempunyai kelemahan misalnya kita akan sangat tergantung pada teknologi tersebut, biaya yang diperlukan dan perawatan mahal dan lain sebagainya. Dan bagi yang belum terbiasa dengan media tersebut akan mengalami kesulitan. Meskipun teknologi sudah maju, namun media informasi dalam bentuk teks masih akan tetap banyak dimanfaatkan. Sebab, harganya relatif murah, tidak selalu tergantung pada teknologi informasi, dan mudah dipergunakan (dibaca dimana saja).

Manakah eksistensi perpustakaan masa silam yang harus kita pertahankan? Bagaimana seharusnya perpustakaan era kekinian? Adakah tampilan yang dapat menggoda pemustaka untuk selalu memanfaatkan perpustakaan? Persiapan apa bagi penyelenggara perpustakaan dalam menghadapi era masa depan? Inilah yang menjadi tantangan perpustakaan.

DOWNLOAD:

Sistematika Makalah Pendamping Seminar Nasional 2017 ISI Ska

DESAIN TATA RUANG PERPUSTAKAAN GUNA MENARIK MINAT BACA Oleh: Sundari Juni Astutik

ABSTRAK

Ruang di perpustakaan merupakan hal utama, di sinilah pemustaka beraktivitas, berlama-lama membaca atau mencari informasi yang mereka butuhkan. Ruangan yang nyaman akan menarik mahasiswa untuk datang ke perpustakaan. Tata ruang baca Perpustakaan dapat memmpengaruhi atau meningkatkan minat baca Perpustakaan Untuk itu diperlukan penataan atau desain tata ruang yakni tata ruang yang reprresentatif, lay out, perabot, pengkondisian ruang, penghawaan, pencahayaan serta penggunaan warna cat dinding yang mempunyai karakter. Desain tata ruang baca demikian, diharapan dapat meningkatkan baca dalam budaya digital di perpustakaan.Yang selanjutnya dapat menarik minat baca upaya terseut menupakan hal yang Urgen untuk dilakukan. Karena kini tawaran kemudahan akses informasi sudah semakin nyata teleih dengan hadirna budaya digital yang memungkinkan orang membaca di \sebarang tempat. Maka menjadikan Perpustakaan sebagai tempat yang nyaman untuk membaca memiliki tantangan yang menarik untuk dilakukan.

baca selanjutnya klik: pustakawan asertif

upload by: R. Lalan F

KEUNGGULAN LAYANAN PERPUSTAKAAN JURUSAN PEDALANGAN FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA TAHUN 2014 Oleh: Ika Laksmiwati

ABSTRAK

 Laksmiwati, Ika. Keunggulan  Layanan Perpustakaan di Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia Surakarta Tahun 2014. Karya Ilmiah Tugas Akhir S-1.  Program Studi S-1 Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Terbuka,  Jakarta.

Karya Ilmiah ini dilatarbelakangi oleh kepentingan terpenuhinya sarana pembelajaran  khususnya pengguna layanan bahan pustaka di Perpustakaan Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan  ISI Surakarta. Melalui tulisan ini, penulis bermaksud menggambarkan beberapa jenis keunggulan layanan bagi pengguna perpustakaan di Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta. Masalah yang diangkat dalam penelitian adalah keunggulan layanan Perpustakaan Jurusan Pedalangan di Fakultas Seni Pertunjukan  ISI Surakarta. Dengan submasalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

  • Jenis layanan dan keunggulan apa saja yang terdapat pada layanan di Perpustakaan Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta tahun 2014.
  • Bagaimanakah peran dan manfaat koleksi di perpustakaan ISI Surakarta bagi pengguna sampai tahun 2014.
  • Siapa saja sasaran pengguna layanan perpustakaan di Fakultas Pedalangan ISI Surakarta tahun 2014.

 Karya ilmiah ini ditulis berdasarkan hasil pengamatan  terhadap layanan perpustakaan di Perpustakaan Pedalangan  ISI Surakarta selama tahun 2014.  Metode yang digunakan adalah deskriftif kualitatif. Hasil pengamatan menemukan beberapa hal  berkenaan dengan layanan perpustakaan seni  ini. Diantaranya adalah perpustakaan ini menyediakan layanan audiovisual. Layanan ini memerlukan sarana pendukung untuk menyajian informasi yang dikandungnya. Layanan Audio Visual terdiri dari VHS, VCD,  DVD, VCD, kaset audio. Informasi utama yang dimiliki tentang bidang seni pedalangan atau teater.  Selain itu perpustakaan juga memberikan layanan buku-buku koleksi dan referensi,  referensi naskah pertunjukan kuno,  layanan penelusuran literatur, layanan rujukan cepat,  layanan koleksi  digital, dan sebagainya.

Perpustakaan Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan  ISI Surakarta secara tidak langsung banyak memberi manfaat bagi  masyarakat, khusus  akademisi dan  para pencinta seni pertunjukan khususnya seni wayang dan teater.

Kata Kunci:

Layanan Perpustakaan Seni,  Layanan Audio Visual, Naskah Pertunjukan

baca lebih lanjut silahkan klik Keunggulan Layanan Perpustakaan Jur Pedalangan

upload by: R. Lalan F

Katalog dan Minat Baca Oleh Ika Laksmiwati

Sejarah peradaban manusia di mulai dengan kehidupan yang sangat sederhana. Pada awalnya manusia hanya membutuhkan makanan dan tempat untuk bertahan hidup. Dengan berjalannya waktu kehidupan manusia berkembang semakin maju dan membentuk peradaban yang dapat dikategorikan menjadi  beberapa gelombang.

Gelombang pertama, masyarakat menyampaikan pengetahuannya dari mulut ke mulut dan dicatat di buku dan jurnal ilmiah. Pada gelombang kedua dan ketiga masyarakat menyampaikan pengetahuan melalui media cetak, majalah, koran, dan buku dengan harga murah. Adapun pada gelombang keempat, masyarakat teknologi menyimpan informasi dan pengetahuan dalam suatu pangkalan data (database) yang merupakan gabungan dari berbagai ilmu pengetuhan dan informasi. Dengan jaringan yang dibentuk, informasi dan pengetahuan dapat disebarkan dengan cepat melalui internet (Amir Sambodo, 2004:7). Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat  pesat ini, menjadi penanda kita telah memasuki gelombang keempat.

baca lebih lanjut silahkan klik Katalog dan Minat Baca

upload by: R. Lalan F

Optimalisasi Layanan Koleksi Audio Visual di Perpustakaan ISI Surakarta oleh Sartini

Abstrak

 Perpustakaan ISI Surakarta merupakan perpustakaan seni yang memiliki koleksi Audio Visual sebagai koleksi unggulannya. Pengelolaan koleksi Audio Visual yang baik akan memberikan daya tarik bagi pemakai untuk memanfaatkannya. Selain itu pelayanan yang optimal bagi mahasiswa misalnya dalam hal membantu menemukan koleksi yang dibutuhkan juga akan memberikan nilai tambah bagi perpustakaan itu. Pustakawan yang mengetahui isi dari suatu gendhing akan mempercepat penelusuran koleksi Audio Visual. Teknologi informasi memberikan peluang bagi pustakawan dan Perpustakaan ISI Surakarta untuk lebih meningkatkan  layanannya dalam pengelolaan koleksi audio visual yang ada.

baca lebih lanjut silahkan klik optimalisasi-layanan-AV-revisi

upload by: R. Lalan F

Penerapan One Person Librarian (OPL) di Perpustakaan Jurusan Karawitan ISI Surakarta Oleh: Sartini

Abstrak

One Person Librarian merupakan pustakawan yang mengelola perpustakaan di sebuah lembaga/institusi dengan sendirian. Dan ini sudah semakin jamak terjadi di perpustakaan yang ada di dunia ini. Berdasarkan pengamatan penulis banyak sekali perpustakaan sekolah dan perpustakaan jurusan/fakultas di perguruan tinggi menerapkan model ini. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya tenaga profesional pustakawan dan efisiensi biaya. Perpustakaan Jurusan Karawitan ISI Surakarta merupakan perpustakaan perguruan tinggi yang mengelola koleksi audio visual sebagai koleksi unggulan. Penulis merupakan pustakawan yang mengelola perpustakaan jurusan secara sendirian. Kegiatan yang dikerjakan yaitu pengembangan koleksi, pengolahan bahan pustaka, pelayanan dan kegiatan ketatausahaan perpustakaan lainnya. Terdapat beberapa keuntungan penerapan OPL yaitu lebih mudah memanage diri sendiri, lebih semangat dalam bekerja, lebih bertanggung jawab. Sedangkan hambatannya yaitu kurangnya evaluasi/penilaian, perasaan jenuh atau bosan, tidak ada tenaga pengganti. Saran yang dapat diterapkan adalah selalu berpikir positif, menjalin komunikasi yang baik dengan semua stake holder dan memanfaatkan perangkat teknologi informasi dan social media.

Kata Kunci : One Person Librarian (OPL), Solo Librarian, Pustakawan Tunggal

baca lebih lanjut klik OPL

upload by R. Lalan F

PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA SISTEM OTOMASI PERPUSTAKAAN DAERAH JAWA TENGAH (Oleh: Emi Tri Mulyani, S.Sos)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai dengan kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi saat ini telah maju begitu pesat, sehingga menempatkan suatu bangsa pada kedudukan sejauh mana bangsa tersebut maju didasarkan atas seberapa jauh bangsa itu menguasai kedua bidang tersebut di atas. Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang hidup dalam lingkungan global, maka mau tidak mau juga harus terlibat dalam maju mundurnya penguasaan Iptek, khususnya untuk kepentingan bangsa sendiri.

SELENGKAPNYA KLIK DIBAWAH INI:

PENERAPAN-TEKNOLOGI-INFORMASI-DALAM-AUTOMASI-SISITEM

upload by R.Lalan Fuandara

ALIH MEDIA DARI KASET ANALOG KE DALAM BENTUK AUDIO DIGITAL SEBAGAI STRATEGI PRESERVASI (Studi Kasus di UPT Perpustakaan ISI Surakarta) Oleh: Mustofa, SIP.

  1. Latar Belakang

Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi yang berkembang pada era globalisasi seperti saat ini. Pada UU no. 43 tahun 2007, dijelaskan bahwa setiap instansi diwajibkan harus memiliki perpustakaan, melihat fenomena tersebut dapat diartikan bahwa perpustakaan sangat penting sebagai pusat menyedia informasi yang cepat, tepat dan akurat. Dalam memenuhi kebutuhan akan informasi yang menunjang, perpustakaan membutuhkan dukungan dari beberapa faktor diantaranya adalah sarana dan prasarana, koleksi dan sumber daya manusia. Supaya sumber informasi yang disediakan oleh perpustakaan dapat dimanfaatkan selalu setiap saat, perpustakaan harus memiliki cara untuk menyimpan dan melestarikan koleksi tersebut. Perpustakaan tidak hanya menyediakan koleksi terbaru namun juga harus melestarikan koleksi lama yang masih mengandung nilai informasi yang berguna sebagai sumber referensi/rujukan.

SELENGKAPNYA KLIK DIBAWAH INI:

Alih media sebagai strategi preservasi

upload by R.Lalan Fuandara