Pemanfaatan Situs YouTube Menjadi Repository Budaya Berbasis Digital di Perpustakaan ISI Surakarta, Oleh: Sartini, S.I.Pust

Abstrak :

Peranan teknologi informasi dan komunikasi dalam wujud alat digital dan internet telah dimanfaatkan dalam segala bidang kehidupan manusia. Komunikasi manusia saat ini banyak yang menggunakan gadget yang terhubung dengan aplikasi berbasis internet.

YouTube merupakan situs yang menyediakan konten berbasis video. Orang banyak mengakses YouTube untuk hiburan misalnya mendengarkan dan melihat berupa video music. Selain itu YouTube dapat digunakan pula untuk pendidikan.

ISI Surakarta telah memiliki situs repository yang menjadi pusat dokumentasi karya ilmiah. Karya ilmiah yang dihasilkan dari kegiatan akademik di Institut Seni Indonesia Surakarta banyak yang berupa film/video. Hal ini dapat menjadi permasalahan bagi server repository apabila konten tersebut diupload disana. Institusi tidak akan sanggup melakukan perawatan dan peremajaan server repository.

Oleh karena itu, situs YouTube dapat dimanfaatkan sebagai repository budaya berbasis digital oleh ISI Surakarta. Karena keberlangsungannya akan lebih terjamin agar dapat diakses dimanapun dan kapanpun.

Hal yang menjadi permasalahan adalah masalah hak cipta. Ini yang perlu dipikirkan solusi dan sosialisasinya.

 

  1. Pendahuluan

APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) telah mengumumkan hasil survei Data Statistik Pengguna Internet Indonesia tahun 2016. Dari data statistik yang disebarkan dapat dilihat beberapa hal yaitu :

  1. Jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2016 adalah 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta. Pengguna internet terbanyak ada di pulau Jawa dengan total pengguna 86.339.350 user atau sekitar 65% dari total pengguna i Jika dibandingkan pengguna internet Indonesia pada tahun 2014 sebesar 88,1 juta user, maka terjadi kenaikan sebesar 44,6 juta dalam waktu 2 tahun (2014 – 2016).
  2. Berdasarkan konten yang paling sering dikunjungi, pengguna internet paling sering mengunjungi web onlineshop sebesar 82,2 juta atau 62%. Dan konten social media yang paling banyak dikujungi adalah Facebook sebesar 71,6 juta pengguna atau 54% dan urutan kedua adalah Instagram sebesar 19,9 juta pengguna atau 15% dan situs YouTube menempati urutan ketiga dengan 14,5 juta.

Data diatas merupakan data statistik akses internet di Indonesia. Sedangkan untuk dunia terdapat 3,6 miliar orang atau 46% dari penduduk dunia merupakan pengguna internet. Dimana YouTube sendiri memiliki lebih dari satu miliar pengguna — hampir sepertiga dari semua pengguna internet — dan setiap hari orang menonton ratusan juta jam video di YouTube dan menghasilkan miliaran kali penayangan.

YouTube secara keseluruhan, dan bahkan YouTube di perangkat seluler saja, telah menjangkau lebih banyak pemirsa yang berusia 18-34 dan 18-49 tahun daripada jaringan televisi kabel mana pun di Amerika Serikat. Lebih dari setengah penayangan YouTube berasal dari perangkat seluler. YouTube telah meluncurkan versi lokalnya di lebih dari 88 negara. Anda dapat menelusuri YouTube dalam total 76 bahasa (yang mencakup 95% dari populasi internet).

Repositori merupakan tempat penyimpanan bahan-bahan digital yang dihasilkan oleh suatu institusi perguruan tinggi berkaitan erat dengan perubahan yang terjadi dalam pengelolaan sumberdaya informasi di perpustakaan. Berbagai sumberdaya informasi berbasis kertas (paperbased), yang selama ini merupakan primadona perpustakaan tradisional, sekarang telah banyak tersedia dalam format digital.

Perkembangan Institutional Repository di perguruan tinggi dan lembaga ilmiah di Indonesia menunjukkan peningkatan tren pemanfaatan bagi dunia akademis. Akan tetapi banyak pula yang mengalami kendala dalam hal pengelolaan server dan jaringan. Oleh karena itu, YouTube dapat dimanfaatkan sebagai solusi alternatif bagi penyimpanan repository digital berbasis audio dan video yang berukuran besar karena di YouTube kita dapat mengunggah file video berukuran sampai 128 GB bahkan menyiarkan langsung secara online.

 

  1. ISI Institutional Repository

Secara sederhana arti dari repositori adalah tempat penyimpanan. Dalam konteks kepustakawanan repositori adalah suatu tempat dimana dokumen, informasi atau data disimpan, dipelihara dan didigunakan. Ada 4 (empat) macam repository: (1) the subject-based repository, (2) research repository, (3) national repository system, & (4) institutional repository”

Institusional Repositori merupakan koleksi unik yang dihasilkan oleh masyarakat universitas berupa laporan teknis, skripsi, thesis, disertasi, bahan ajar atau karya intelektual lainnya.

Repositori institusi: A computer server that stores an institution’s digital products of knowledge and offers them online for free (Parker, 2007 dalam Ida Fajar Prianto, 2015).

Rektor ISI Surakarta, Prof. Dr. Sri Rochana W, S. Kar., M. Hum. dalam sebuah Talkshow tentang Institutional Repository mengatakan, “IR-ISI Surakarta diharapkan dapat memberi layanan informasi akademik dan artistik kepada publik baik domestik, nasional, maupun internasional.

Institusional Repositori (IR-ISI) Surakarta adalah sebuah keniscayaan dalam era teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini. Suatu fenomena dimana teknologi telah menisbikan ruang dan waktu dalam praktik komunikasi dari satu individu ke individu lain, dari satu komunitas ke komunitas lain, dari satu lembaga ke lembaga lain, dari satu bangsa ke bangsa lain, dan satu negara ke negara lain.

IR-ISI Surakarta yang dikelola oleh UPT. Perpustakaan ISI Surakarta dilandasi oleh Visi sebagai “Jendela Dunia Kreativitas dan Keilmuan Seni”. Secara khusus substansi IR-ISI Surakarta meliputi dua hal pokok yakni; Academic Institutional Repository dan Artistic Institutional Repository.

Academic Institutional Repository terdiri dari Hasil Penelitian Dosen, Mahasiswa, dan Staf, Buku Teks Monografi, Referensi, Skripsi/TA, Tesis, Disertasi, Artikel Ilmiah, Artikel Populer. Sedangkan Artistic Institutional Repository terdiri dari Karya Seni Pertunjukan Dosen, Mahasiswa, dan Staf, Karya Seni Rupa, Desain, Media Rekam.

 

YouTube

YouTube adalah sebuah situs web berbagi video yang dibuat oleh tiga mantan karyawan PayPal pada Februari 2005. Situs ini memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan berbagi video. Perusahaan ini berkantor pusat di San Bruno, California, dan memakai teknologi Adobe Flash Video dan HTML5 untuk menampilkan berbagai macam konten video buatan pengguna, termasuk klip film, klip TV, dan video musik. Selain itu ada pula konten amatir seperti blog video, video orisinal pendek, dan video pendidikan.

Kebanyakan konten di YouTube diunggah oleh individu, meskipun perusahaan-perusahaan media seperti CBS, BBC, Vevo, Hulu, dan organisasi lain sudah mengunggah material mereka ke situs ini sebagai bagian dari program kemitraan YouTube. Pengguna tak terdaftar dapat menonton video, sementara pengguna terdaftar dapat mengunggah video dalam jumlah tak terbatas. Video-video yang dianggap berisi konten ofensif hanya bisa ditonton oleh pengguna terdaftar berusia 18 tahun atau lebih. Pada November 2006, YouTube, LLC dibeli oleh Google dengan nilai US$1,65 miliar dan resmi beroperasi sebagai anak perusahaan Google.

Menurut sebuah survey, sekitar 100.000 video ditonton setiap harinya di YouTube. Setiap 24 jam ada 65.000 video baru diunggah ke YouTube. Setiap bulannya YouTube dikunjungi oleh 20 juta penonton dengan mayoritas kisaran usia antara 12 sampai 17 tahun (Burke, Snyder, & Rager, 2009).

YouTube memang bukan situs berbagi video pendidikan, namun pada perkembangannya YouTube meluncurkan layanan khusus untuk pendidikan (www.youtube.com/edu) pada tahun 2009. Layanan ini langsung mendapat sambutan positif dari pengguna. Pada tahun pertama sesudah diluncurkan lebih dari 300 kolese dan universitas bergabung dan ada lebih dari 65.000 video kuliah, kegiatan kampus, dan berita kampus.

 

III. Pemanfaatan Situs Youtube Menjadi Repository Budaya

Sejak di Launching oleh Rektor ISI Surakarta Prof. Dr. Sri Rochana Widyastutiningrum, S.Kar., M.Hum. pada hari Kamis 7 April 2016, Institutional Repository ISI Surakarta kini sudah bisa diakses melalaui http://repository.isi-ska.ac.id. Tujuan dan manfaat dibangunnya Institutional Repository, antara lain sebagai salah satu media penyimpanan, pelestarian, dan promosi informasi ilmiah, hasil karya dan penelitian civitas akademika ISI Surakarta. Selain itu juga untuk mereduksi plagiarisme dan menghindari duplikasi penelitian, serta meningkatkan peringkat webometric atau agency lain, baik secara nasional maupun skala internasional.

Dalam upaya menuju WCU (World Class University) dan juga peningkatan peran Institut Seni Indonesia Surakarta secara nasional dan internasional, maka kehadiran Institutional Repository adalah salah satu persyaratan mutlak. Institutional Repository merupakan wadah publikasi ilmiah secara on-line hasil-hasil karya seluruh civitas akademika ISI Surakarta, baik dosen, karyawan, maupun mahasiswa. Program ini sekaligus juga menjawab tantangan atas kemajuan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini, dimana era digital telah merambah di berbagai lini kehidupan, termasuk dunia pendidikan khususnya di perguruan tinggi.

Karya ilmiah atau local content yang dimiliki oleh ISI Surakarta merupakan karya yang lebih banyak muatan audio visual dibandingkan text. Sehingga apabila diwujudkan dalam bentuk digital akan menuntut pengelolaan yang lebih berat dibandingkan wujud text digital. Hal tersebut akan memerlukan sumber daya IT yang sangat besar dalam hal hardware, software dan brainware serta biaya yang dianggarkan.

Permasalahan dalam pengelolaan server misalnya :

  1. Hardware akan membutuhkan spesifikasi yang sangat tinggi agar terjaga aksesibilitas dan kelangsungan hidupnya misalnya memerlukan prosesor, RAM, hardisk, dan bandwith yang sangat besar
  2. Biaya pengadaan dan pemeliharaan menjadi sangat mahal
  3. Tenaga IT juga harus yang sangat berkualitas
  4. Software eprints yang digunakan kurang mendukung untuk pengelolaan audio dan video

 

YouTube biasa digunakan user, baik mahasiswa atau dosen yang ingin mencari referensi tentang audio visual. Mereka memanfaatkan YouTube karena tidak adanya referensi di perpustakaan, sebagai second opinion, atau pembanding diantara referensi yang ada. Referensi di YouTube memang tidak dapat digunakan sebagai acuan tunggal karena masalah kevalidannya.

Mahasiswa atau dosen sering dan suka mengunggah karya mereka ke YouTube. Tujuannya agar mereka terkenal dan memudahkan mereka membagikan karya mereka ke adik kelas atau siapa saja yang membutuhkan karya mereka. Ketika sebuah TA selesai digelar, secara spontan mereka akan mengunggahnya ke YouTube. Setelah itu mereka akan menontonnya bersama-sama, mereka merasa bangga apabila karyanya telah terupload di internet.

Di sisi lain mahasiswa yang mencari referensi tentang audio visual, yang mereka tuju pertama adalah perpustakaan sebagai referensi yang dianggap memiliki nilai akademik dan validitas yang tinggi. Apabila di perpustakaan tidak ada, maka mereka akan beralih ke YouTube atau referensi di internet lainnya. Jadi mahasiswa dan dosen sebagai user seimbang antara yang mengunggah karya mereka dan yang ingin melihat atau download karya yang bisa digunakan untuk referensi dalam membuat karya berikutnya.

Oleh karena itu,  berdasarkan pengamatan pengggunaan YouTube di atas maka bisa digunakan menjadi sumber belajar dan media penyimpanan yang bisa memenuhi tuntutan kebutuhan pemustakaan saat ini yaitu generasi digital.

Seperti yang kita ketahui bahwa Youtube merupakan bagian dari Google, perusahaan raksasa yang menguasai IT di dunia. Maka kekurangan dalam hal pengelolaan server oleh institusi dapat diselesaikan. Penggunaan YouTube bagi penyimpanan repository digital memberikan manfaat antara lain :

  1. Menjadi solusi bagi permasalahan penyimpanan file digital berukuran besar
  2. Keberlangsungan aksesibilitas file lebih terjamin
  3. Institusi tidak perlu memikirkan sumber daya manusia, biaya hardware, dan software
  4. Untuk konten karya seni maka melihat secara visual akan lebih baik daripada membaca teks.
  5. Apabila Channel Youtube kita terkenal maka dapat mendatangkan uang melalui iklan yang ditampilkan.

 

  1. Kesimpulan

Teknologi informasi dan komunikasi yang berbasis internet dan website telah berkembang pesat ke seluruh bidang. Pemustaka pada jaman ini yang berasal dari generasi digital merupakan pengguna yang sudah terbiasa memanfaatkan IT untuk kegiatan pendidikannya.  Pada saat ini ISI Institusional Repository yang mengelola karya ilmiah hasil sivitas akademika ISI Surakarta masih banyak mengelola koleksi berbasis teks. Padahal local content dari ISI Surakarta sendiri banyak yang berupa karya berbasis pertunjukan yang lebih cenderung berisi audio visual. Untuk mengelola server ISI Repository dibutuhkan sumber daya dan dana yang sangat besar dalam hal hardware, software dan brainware.

Yotube sendiri merupakan situs di internet yang memberikan fasilitas penyimpanan dan penyiaran koleksi audio visual secara gratis dengan sumber daya yang tidak terbatas. Hal ini bisa dimanfaatkan dengan cara memadukan koleksi ISI Repository dengan penyimpanan di YouTube. Koleksi ISI Surakarta yang berupa pertunjukan dapat disimpan di kedua situs, untuk berbasis teks di simpan di repository dan pementasan berupa koleksi AV diunggah di YouTube.

Daftar Pustaka

 

https://id.wikipedia.org/wiki/YouTube

http://isparmo.web.id/2016/11/21/data-statistik-pengguna-internet-indonesia-2016/

http://www.internetlivestats.com/internet-users/

https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker

https://www.youtube.com/yt/press/id/statistics.html

https://repository.usd.ac.id/3664/1/2165_youtube+sebagai+sumber+belajar+sosiolinguistik.pdf

Fuandara, R. Lalan. 2015. Pengelolaan Repositori Institusi Di Perpustakaan Isi Surakarta (Layanan Akses Terbuka). https://digilib.isi-ska.ac.id/?p=413#more-413

Junaedi, Agus. 2017. Memperkaya Khazanah Koleksi Institutional Repository ISI Surakarta dengan Dokumen Audio. Surakarta: Artikel Pustakawan Berprestasi ISI Surakarta

http://isi-ska.ac.id/launching-institutional-repository-isi-surakarta/

http://isi-ska.ac.id/talkshow-instutional-repository-isi-surakarta/

 

download artikel:Pemanfaatan Situs YouTube Menjadi Repository Budaya Berbasis Digital di Perpustakaan ISI Surakarta

Seminar Nasional: “EKSISTENSI PERPUSTAKAAN: Masa Silam, Era Kekinian & Masa Depan”

Perpustakaan merupakan fundamen peradaban manusia. Dalam  ceramah Halal Bihalal 1438 H Keluarga Besar Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada Rabu 4 Juli 2017 di Auditorium Perpusnas Jakarta, Syeikh Fikri Thoriq Alkatiri mengungkapkan: perpustakaan adalah benteng terbesar suatu negara. Kehancuran Al-Andalus atau Andalus diawali dari kehancuran Kordoba. Pada awalnya yang dihancurkan adalah perpustakaan terbesar Andalus di Kordoba, kemudian hancur leburlah Andalus.

Terkait pengembangan perpustakaan, ditekankan pentingnya cermat memandang peluang dan penempatan yang tepat tentang posisi perpustakaan. Menurut periodisasi perkembangan perpustakaan dapat disebutkan ke dalam tiga kelompok yaitu: 1) Perpustakaan pada masa silam (Perpustakaan dulu). 2) Perpustakaan sekarang (Perpustakaan Kini). 3) Perpustakaan pada masa yang akan datang (Perpustakaan Hari Esok).

Pada setiap jaman perpustakaan telah banyak memberi jasa kepada para pemakainya sampai sekarang. Salah satunya sebagai sumber informasi dan panduan, rujukan dalam penelitian untuk sampai pada masa sekarang. Proses perkembangan informasi akan semakin cepat, sejalan dengan makin berkembangnya teknologi informasi (TI). Jika masa lalu koleksi perpustakaan diwarnai dengan koleksi dari daun lontar dan tablet tanah liat, sekarang yang paling dominan berupa koleksi tercetak, dan sebagian perpustakaan sudah dalam bentuk mikro, digital, elektronik dan terpasang.

Namun jika kita perhatikan, meskipun teknologi informasi mempunyai beberapa kelebihan, seperti makin cepat, akurat, namun pada sisi yang lain juga mempunyai kelemahan misalnya kita akan sangat tergantung pada teknologi tersebut, biaya yang diperlukan dan perawatan mahal dan lain sebagainya. Dan bagi yang belum terbiasa dengan media tersebut akan mengalami kesulitan. Meskipun teknologi sudah maju, namun media informasi dalam bentuk teks masih akan tetap banyak dimanfaatkan. Sebab, harganya relatif murah, tidak selalu tergantung pada teknologi informasi, dan mudah dipergunakan (dibaca dimana saja).

Manakah eksistensi perpustakaan masa silam yang harus kita pertahankan? Bagaimana seharusnya perpustakaan era kekinian? Adakah tampilan yang dapat menggoda pemustaka untuk selalu memanfaatkan perpustakaan? Persiapan apa bagi penyelenggara perpustakaan dalam menghadapi era masa depan? Inilah yang menjadi tantangan perpustakaan.

DOWNLOAD:

Sistematika Makalah Pendamping Seminar Nasional 2017 ISI Ska

DESAIN TATA RUANG PERPUSTAKAAN GUNA MENARIK MINAT BACA Oleh: Sundari Juni Astutik

ABSTRAK

Ruang di perpustakaan merupakan hal utama, di sinilah pemustaka beraktivitas, berlama-lama membaca atau mencari informasi yang mereka butuhkan. Ruangan yang nyaman akan menarik mahasiswa untuk datang ke perpustakaan. Tata ruang baca Perpustakaan dapat memmpengaruhi atau meningkatkan minat baca Perpustakaan Untuk itu diperlukan penataan atau desain tata ruang yakni tata ruang yang reprresentatif, lay out, perabot, pengkondisian ruang, penghawaan, pencahayaan serta penggunaan warna cat dinding yang mempunyai karakter. Desain tata ruang baca demikian, diharapan dapat meningkatkan baca dalam budaya digital di perpustakaan.Yang selanjutnya dapat menarik minat baca upaya terseut menupakan hal yang Urgen untuk dilakukan. Karena kini tawaran kemudahan akses informasi sudah semakin nyata teleih dengan hadirna budaya digital yang memungkinkan orang membaca di \sebarang tempat. Maka menjadikan Perpustakaan sebagai tempat yang nyaman untuk membaca memiliki tantangan yang menarik untuk dilakukan.

baca selanjutnya klik: pustakawan asertif

upload by: R. Lalan F

KEUNGGULAN LAYANAN PERPUSTAKAAN JURUSAN PEDALANGAN FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA TAHUN 2014 Oleh: Ika Laksmiwati

ABSTRAK

 Laksmiwati, Ika. Keunggulan  Layanan Perpustakaan di Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia Surakarta Tahun 2014. Karya Ilmiah Tugas Akhir S-1.  Program Studi S-1 Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Terbuka,  Jakarta.

Karya Ilmiah ini dilatarbelakangi oleh kepentingan terpenuhinya sarana pembelajaran  khususnya pengguna layanan bahan pustaka di Perpustakaan Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan  ISI Surakarta. Melalui tulisan ini, penulis bermaksud menggambarkan beberapa jenis keunggulan layanan bagi pengguna perpustakaan di Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta. Masalah yang diangkat dalam penelitian adalah keunggulan layanan Perpustakaan Jurusan Pedalangan di Fakultas Seni Pertunjukan  ISI Surakarta. Dengan submasalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

  • Jenis layanan dan keunggulan apa saja yang terdapat pada layanan di Perpustakaan Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta tahun 2014.
  • Bagaimanakah peran dan manfaat koleksi di perpustakaan ISI Surakarta bagi pengguna sampai tahun 2014.
  • Siapa saja sasaran pengguna layanan perpustakaan di Fakultas Pedalangan ISI Surakarta tahun 2014.

 Karya ilmiah ini ditulis berdasarkan hasil pengamatan  terhadap layanan perpustakaan di Perpustakaan Pedalangan  ISI Surakarta selama tahun 2014.  Metode yang digunakan adalah deskriftif kualitatif. Hasil pengamatan menemukan beberapa hal  berkenaan dengan layanan perpustakaan seni  ini. Diantaranya adalah perpustakaan ini menyediakan layanan audiovisual. Layanan ini memerlukan sarana pendukung untuk menyajian informasi yang dikandungnya. Layanan Audio Visual terdiri dari VHS, VCD,  DVD, VCD, kaset audio. Informasi utama yang dimiliki tentang bidang seni pedalangan atau teater.  Selain itu perpustakaan juga memberikan layanan buku-buku koleksi dan referensi,  referensi naskah pertunjukan kuno,  layanan penelusuran literatur, layanan rujukan cepat,  layanan koleksi  digital, dan sebagainya.

Perpustakaan Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan  ISI Surakarta secara tidak langsung banyak memberi manfaat bagi  masyarakat, khusus  akademisi dan  para pencinta seni pertunjukan khususnya seni wayang dan teater.

Kata Kunci:

Layanan Perpustakaan Seni,  Layanan Audio Visual, Naskah Pertunjukan

baca lebih lanjut silahkan klik Keunggulan Layanan Perpustakaan Jur Pedalangan

upload by: R. Lalan F

Katalog dan Minat Baca Oleh Ika Laksmiwati

Sejarah peradaban manusia di mulai dengan kehidupan yang sangat sederhana. Pada awalnya manusia hanya membutuhkan makanan dan tempat untuk bertahan hidup. Dengan berjalannya waktu kehidupan manusia berkembang semakin maju dan membentuk peradaban yang dapat dikategorikan menjadi  beberapa gelombang.

Gelombang pertama, masyarakat menyampaikan pengetahuannya dari mulut ke mulut dan dicatat di buku dan jurnal ilmiah. Pada gelombang kedua dan ketiga masyarakat menyampaikan pengetahuan melalui media cetak, majalah, koran, dan buku dengan harga murah. Adapun pada gelombang keempat, masyarakat teknologi menyimpan informasi dan pengetahuan dalam suatu pangkalan data (database) yang merupakan gabungan dari berbagai ilmu pengetuhan dan informasi. Dengan jaringan yang dibentuk, informasi dan pengetahuan dapat disebarkan dengan cepat melalui internet (Amir Sambodo, 2004:7). Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat  pesat ini, menjadi penanda kita telah memasuki gelombang keempat.

baca lebih lanjut silahkan klik Katalog dan Minat Baca

upload by: R. Lalan F

Optimalisasi Layanan Koleksi Audio Visual di Perpustakaan ISI Surakarta oleh Sartini

Abstrak

 Perpustakaan ISI Surakarta merupakan perpustakaan seni yang memiliki koleksi Audio Visual sebagai koleksi unggulannya. Pengelolaan koleksi Audio Visual yang baik akan memberikan daya tarik bagi pemakai untuk memanfaatkannya. Selain itu pelayanan yang optimal bagi mahasiswa misalnya dalam hal membantu menemukan koleksi yang dibutuhkan juga akan memberikan nilai tambah bagi perpustakaan itu. Pustakawan yang mengetahui isi dari suatu gendhing akan mempercepat penelusuran koleksi Audio Visual. Teknologi informasi memberikan peluang bagi pustakawan dan Perpustakaan ISI Surakarta untuk lebih meningkatkan  layanannya dalam pengelolaan koleksi audio visual yang ada.

baca lebih lanjut silahkan klik optimalisasi-layanan-AV-revisi

upload by: R. Lalan F

Penerapan One Person Librarian (OPL) di Perpustakaan Jurusan Karawitan ISI Surakarta Oleh: Sartini

Abstrak

One Person Librarian merupakan pustakawan yang mengelola perpustakaan di sebuah lembaga/institusi dengan sendirian. Dan ini sudah semakin jamak terjadi di perpustakaan yang ada di dunia ini. Berdasarkan pengamatan penulis banyak sekali perpustakaan sekolah dan perpustakaan jurusan/fakultas di perguruan tinggi menerapkan model ini. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya tenaga profesional pustakawan dan efisiensi biaya. Perpustakaan Jurusan Karawitan ISI Surakarta merupakan perpustakaan perguruan tinggi yang mengelola koleksi audio visual sebagai koleksi unggulan. Penulis merupakan pustakawan yang mengelola perpustakaan jurusan secara sendirian. Kegiatan yang dikerjakan yaitu pengembangan koleksi, pengolahan bahan pustaka, pelayanan dan kegiatan ketatausahaan perpustakaan lainnya. Terdapat beberapa keuntungan penerapan OPL yaitu lebih mudah memanage diri sendiri, lebih semangat dalam bekerja, lebih bertanggung jawab. Sedangkan hambatannya yaitu kurangnya evaluasi/penilaian, perasaan jenuh atau bosan, tidak ada tenaga pengganti. Saran yang dapat diterapkan adalah selalu berpikir positif, menjalin komunikasi yang baik dengan semua stake holder dan memanfaatkan perangkat teknologi informasi dan social media.

Kata Kunci : One Person Librarian (OPL), Solo Librarian, Pustakawan Tunggal

baca lebih lanjut klik OPL

upload by R. Lalan F

PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA SISTEM OTOMASI PERPUSTAKAAN DAERAH JAWA TENGAH (Oleh: Emi Tri Mulyani, S.Sos)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai dengan kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi saat ini telah maju begitu pesat, sehingga menempatkan suatu bangsa pada kedudukan sejauh mana bangsa tersebut maju didasarkan atas seberapa jauh bangsa itu menguasai kedua bidang tersebut di atas. Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang hidup dalam lingkungan global, maka mau tidak mau juga harus terlibat dalam maju mundurnya penguasaan Iptek, khususnya untuk kepentingan bangsa sendiri.

SELENGKAPNYA KLIK DIBAWAH INI:

PENERAPAN-TEKNOLOGI-INFORMASI-DALAM-AUTOMASI-SISITEM

upload by R.Lalan Fuandara

ALIH MEDIA DARI KASET ANALOG KE DALAM BENTUK AUDIO DIGITAL SEBAGAI STRATEGI PRESERVASI (Studi Kasus di UPT Perpustakaan ISI Surakarta) Oleh: Mustofa, SIP.

  1. Latar Belakang

Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi yang berkembang pada era globalisasi seperti saat ini. Pada UU no. 43 tahun 2007, dijelaskan bahwa setiap instansi diwajibkan harus memiliki perpustakaan, melihat fenomena tersebut dapat diartikan bahwa perpustakaan sangat penting sebagai pusat menyedia informasi yang cepat, tepat dan akurat. Dalam memenuhi kebutuhan akan informasi yang menunjang, perpustakaan membutuhkan dukungan dari beberapa faktor diantaranya adalah sarana dan prasarana, koleksi dan sumber daya manusia. Supaya sumber informasi yang disediakan oleh perpustakaan dapat dimanfaatkan selalu setiap saat, perpustakaan harus memiliki cara untuk menyimpan dan melestarikan koleksi tersebut. Perpustakaan tidak hanya menyediakan koleksi terbaru namun juga harus melestarikan koleksi lama yang masih mengandung nilai informasi yang berguna sebagai sumber referensi/rujukan.

SELENGKAPNYA KLIK DIBAWAH INI:

Alih media sebagai strategi preservasi

upload by R.Lalan Fuandara

MODEL LITERASI INFORMASI (Oleh: Emi Tri Mulyani, S.Sos)

 

Abstrak

Perkembangan teknologi terus melaju untuk berevolusi, produk teknologi yang ada pada suatu masa akan dianggap biasa bahkan tertinggal. Perubahan zaman yang sedemikian dinamis dan sangat cepat hanya bisa diikuti perkembangannya dengan penguasaan literasi informasi yang didukung oleh teknologi literasi informasi. Dengan demikian urgensi pembekalan kemampuan literasi informasi dilingkungan  pendidikan utamanya perguruan tinggi menjadi tidak bisa ditunda lagi sebagai bekal kecakapan hidup bagi mahasiswa.

Teknologi informasi dapat berupa software pendukung dalam proses berliterasi mahasiswa, salah satunya yaitu sofware yang penerapan model Mc Kenzie. software ini dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengguna khususnya pelajar atau mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Dengan adanya software ini, mahasiswa dalam penyelesaian tugas mereka dapat dibantu dengan memungkinkan membuat pertanyaan, membantu membuat strategi penyelesaian, membuat pertimbangan menentukan sumber terpercaya, mensistematiskan proses pekerjaan, mengevaluasi tugas yang telah dibuat dan melakukan pelaporan tugas dengan baik.

Selain itu dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie tidak lepas dari peran seorang pustakawan. Adapun peran pustakawan dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie adalah sebagai pendamping dalam pelaksanaan,  pengawas dan koordinator pelaksanaan progam ini.

Dewasa ini berbagai lembaga pendidikan mulai  dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan  pendidikan tinggi ada yang mulai, sedang, dan  telah membangun program literasi informasi. Penguasaan  literasi informasi dipandang sangat penting  dalam proses pembelajaran sehingga menjadi  bagian dari program pendidikan. Dalam lingkup yang lebih luas, bahwa program literasi  informasi sebenarnya adalah program  pemberdayaan masyarakat khususnya dalam bidang informasi.

Literasi informasi berhubungan erat dengan  tugas pokok pelayanan perpustakaan. Dalam perkembangannya, para pustakawan terutama pustakawan pada perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi, umumnya memandang keterampilan yang hendak dikembangkan dalam program literasi informasi adalah berupa keterampilan yang tidak mengundang permasalahan (non-problematis). Artinya, bahwa kemampuan seseorang untuk mencari dan menemukan informasi adalah berupa serangkaian keterampilan yang dipindahkan dari pustakawan kepada pengguna untuk tujuan memudahkan pelayanan dan agar tidak merepotkan pustakawan.

Keberadaan model memungkinkan untuk mengidentifikasi berbagai komponen serta menunjukkan hubungan antar komponen. Juga model dapat digunakan untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan literasi informasi. Dari situ kita dapat memusatkan pada bagian tertentu ataupun keseluruhan model. Model literasi informasi ada berbagai jenis, seperti The Big 6, Empowering 8, Seven Pillars dan lain-lain. Yang akan kami bahas adalah Research Cycle Model dari Mc Kenzie.

  • Literasi Informasi

Literasi informasi sering disebut juga dengan keberaksaraan infromasi atau kemelekan informasi. Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, literasi infromasi sering dikaitkan dengan kemampuan mengakses dan memanfaatkan secara benar informasi yang tersedia.

Pengertian literasi informasi yang sering dikutip adalah pengertian literasi informasi dari American Library Association (ALA) : “Serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk mengenali kapan informasi dibutuhkan dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif”.

Beberapa ahli juga mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian literasi informasi. Doyle (1992) mengemukakan literasi informasi adalah “Kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dari berbagai sumber”. Selanjutnya Boe Khorst juga mengemukakan pengertian literasi informasi yaitu “Kompetensi mengenali kebutuhan informasi, menemukan, mengevaluasi, menggunakan dan menyebarluaskan informasi untuk memperolah dan menambah pengetahuan baru”.

Adapun pengertian literasi informasi menurut Endang Fatmawati(2010:23) yaitu:

“Sebuah pemahaman dari seperangakat atau serangkaian kemampuan/keterampilan yang dimiliki dan memungkinkan untuk mendapatkan jalan keluar/solusi untuk memecah suatu masalah”.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa literasi informasi adalah sebuah usaha untuk mendapatkan “kompetensi” guna memecahkan sebuah masalah. Kompetensi merupakan perpaduan antara pengetahuan, kemampuan, dan tingkahlaku. Kompetensi tersebut diperlukan proses latihan yang terintegrasi dan berkesinambungan. Dengan kemampuannya menjadi konsultan dan pengajar dan didukung oleh pemangku kebujakan, pustakawan mendapatkan pesan aktif sebagai agent literasi informasi.

Keterampilan dalam  literasi ini mencakup kemampuan dalam mengidentivikasikan masalah; mencari dan menemukan informasi; mensintesiskan informasi; menyusun, mengorganisir, dan menciptakan temuan; mengetahui kapan informasi itu dibutuhkan; mengatur; menyortir dan mengkomunikasikan temuan informasi kepada orang lain; mengevaluasi hasil jawaban; menggunakan/memanfaatkan informasi; serta menarik pelajaran dari proses pencarian informasi yang dibutuhkan itu untuk menyeleksi, mengambil keputusan, dan mencari jalan keluar dari suatu masalah.

Perpustakaan dan literasi informasi merupakan dua hal yang saling berhubungan, perpustakaan tanpa bahan pustaka dan pustakawan yang memadai tidak akan membantu proses literasi informasi, perpustakaan harus memfasilitasi pengguna dengan teknologi dan informasi yang mendukung, sehingga membawa dampak positif dan meningkatkan kualitas melek informasi yang dimiliki masyarakat.

Kenapa literasi informasi itu penting?

Kemampuan literasi informasi sangat penting dikarenakan kemajuan teknologi yang semakin berkembang. Ledakan informasi yang menyebabkan masyarakat harus memerlukan keahlian ini. Karena miliaran informasi yang tersedia yang membuat para pencari informasi kebingungan untuk mendapatkan informasi yang relevan oleh karena itu harus memiliki kemampuan mengelola informasi.

            Melalui pengajaran literasi informasi, masyarakat akan di ajarkan pada sebuah metode untuk menelusuri informasi dari berbagai sumber informasi yang terus berkembang. Maka, literasi dapat membantu masyarakat luas untuk menemukan informasi yang dibutuhkan secara cepat, mudah dan relevan tentunya. Masyarakat dapat memilih dan membedakan informasi mana saja yang sekiranya baik digunakan dan tidak. Selain itu, literasi informasi dapat menambah pengetahuan masyarakat akan informasi yang sedang berkembang saat ini.

            Bagaimana urgensi pustakawan dalam literasi informasi?

            Urgensi pustakawan dalam literasi yang pertama adalah menjadi pustakawan yang melek informasi. Karena pada dasarnya implementasi dari melek informasi adalah karakteristik seorang pustakawan, jadi seorang pustakawan harus melek informasi. Paham literasi informasi dan identifikasi kemampuan dari literasi informasi yang belum terasah. Selagi mengasah kemampuan, dapat dicoba untuk memulai program literasi informasi bagi pemustaka. Seperti misalnya :

  1. Melayani layanan rujukan
  2. Menolong pemustaka yang kelihatan bingung
  3. Menjelaskan tentang perpustakaan kepada pemustaka tamu
  4. Diskusi internal atau pribadi dengan rekan
  5. Bincang santai dengan mahasiswa magang yang ada di perpustakaan (bila ada)

Hal-hal seperti tersebut diatas dapat digunakan untuk membagikan tentang literasi informasi. Apabila pustakawan akan memulai suatu program literasi yang serius dalam perpustakaan, berikut beberapa langkah sederhana untuk memulai program tersebut :

  1. Evaluasi profil kebutuhan informasi pemustaka

      Apa masalah yang sedang mereka hadapi? Apa kebutuhan informasi yang sedang mereka cari? Lakukan observasi, kumpulkan data, analisis dan buatlah profil kebutuhan informasi dari pemustaka.

  1. Observasi kesempatan, fasilitas, dan wewenang

      Perhatikan apa saja yang dimiliki perpustakaan, entah dari sarana dan prasarananya, SDM, sumber informasi, alat, kesempatan, relasi, serta wewenang untuk membuat program literasi informasi. Analisis segala kemungkinan yang ada bersumber dari evaluasi profil pemustaka tadi.

  1. Tentukan target : kelompok, kebutuhan informasi dan bentuk program

      Dari sekian banyak jenis kebutuhan informasi pemustaka, tentukan mana yang paling mungkin untuk dilaksanakan. Pilihan model informasi yang paling dipahami sangat berpengaruh terhadap berlangsungnya kegiatan perpustakaan. Dalam menentukan model literasi informasi harus memperhatikan : materi yang diberikan, kemampuan yang dituju dan bentuk penyampaian serta bentuk program.

  1. Merancang : studi banding dan draft proposal program

      Lakukan studi banding melalui website perpustakaan-perpustakaan yang ada di dunia. Konsultasikan dengan orang yang pernah melakukan program tersebut. Buatlah proposal program yang berisi latar belakang, tujuan, target, materi, bentuk program, kebutuhan yang diperlukan, SDM dan hal lainnya yang menjelaskan tentang program.

  1. Laksanakan dan lakukan evaluasi

      Sangat menjadi kebangga tersendiri memiliki kesempatan menjalankan program literasi informasi sehingga dapat merasakan bagaimana mengajar dan memberdayakan orang lain. Berbagilah tentang pengetahuan literasi informasi dengan pemustaka melalui media internet juga. Gunakan situs perpustakaan, gubakan blog pribadi, facebook, twitter dan lain-lain yang dapat dijangkau oleh pemustaka.

  • Model Literasi Infomasi

Research Cycle Model (Mc Kenzie) Siklus penelitian dikembangkan oleh Jamie McKenzie pada tahun 1995. Penekanan diberikan untuk pengembangan awal pertanyaan untuk memperjelas dan membangun langkah-langkah berikutnya dalam proses penelitian Metode penelitian yang menekankan informasi pemecahan masalah dan posisi mahasiswa sebagai produsen informasi (versus konsumen informasi ). Siswa mengulang kembali tahapan dalam siklus penelitian karena mereka memperbaiki proses pengumpulan data. Siklus penelitian terdiri dari tujuh tahap :

  1. Tanya Jawab

        Siswa menjelaskan informasi yang diperlukan dan mengarah ke pertanyaan mengelaborasi.

  1. Perencanaan

        Siswa mengidentifikasi kemungkinan sumber-sumber informasi.

  1. Mengumpulkan

        Siswa mengumpulkan informasi terkait untuk dipertimbangkan.

  1. Sorting & memilah

        Macam mahasiswa dan menyaring dalam mencari informasi yang memberikan kontribusi untuk pemahaman.

  1. Sintesis

        Siswa mengatur dan menata kembali informasi dalam pencarian pola dan/atau gambaran yang lebih jelas.

  1. Mengevaluasi

        Siswa menentukan informasi apa yang mungkin hilang dan mengulangi tahap-tahap awal dari siklus penelitian untuk mencari yang lebih baik , informasi yang lebih jelas.

  1. Pelaporan

               Temuan laporan siswa atau rekomendasi.

        Sebagai lanskap informasi bergeser untuk menawarkan informasi yang jauh lebih dalam cara yang sering befuddling bahwa beberapa telah disebut “asap data” banyak sekolah belajar bahwa pendekatan tradisional untuk penelitian mahasiswa tidak memadai untuk memenuhi tujuan pembelajaran penting yang ditetapkan oleh sebagian besar negara atau pemerintah provinsi . Dengan ratusan komputer dan puluhan ruang kelas yang terhubung ke sumber daya yang luas elektronik informasi, sekolah yang mengakui pentingnya menciptakan kembali cara mereka melibatkan para siswa di kedua pertanyaan dan penelitian.

        Dalam rangka mendukung adopsi berbasis luas dari strategi pertanyaan dan penelitian yang efektif, tim kabupaten yang terdiri dari guru, pustakawan guru dan administrator harus melakukan pencarian untuk model penelitian yang efektif . Tim ini mungkin membandingkan dan kontras fitur dan sifat-sifat dari setengah lusin model untuk menetap pada satu yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi kabupaten . Dalam beberapa kasus, mereka dapat membangun model mereka sendiri, sintesis fitur terbaik dari masing-masing model ulasan .

        Setelah kabupaten mengidentifikasi model yang tampaknya kompatibel dan menarik, semua guru memberikan dukungan pengembangan profesional substansial untuk mempelajari fitur model yang berkaitan dengan tugas pokok mereka sendiri . Pengembangan profesional tersebut harus mencakup peluang besar bagi mahasiswa untuk menggunakan model penelitian untuk mengeksplorasi pertanyaan dewasa penting yang diambil dari kehidupan mereka sendiri atau mata kuliah mereka. Untuk mengembangkan tingkat yang nyaman kompetensi dengan model seperti (pengalaman sebelumnya terbatas diberikan paling guru dengan jenis penelitian) biasanya membutuhkan 12-30 jam waktu pengembangan profesional.

Pilihan Model

Ada beberapa ulasan yang sangat baik saat ini tersedia bagi mereka yang ingin memulai pencarian tersebut. Salah satunya adalah dengan David Loertscher , Taksonomi dari Program Media Perpustakaan Sekolah , 2nd Edition (Hi Willow Penelitian & Publishing , 2000). Tujuan bab ini adalah untuk menyajikan Siklus Penelitian dengan cara yang ramah ringkas dan pengguna. Karena pekerjaan yang baik seperti telah dilakukan oleh orang-orang membandingkan dan mengkontraskan model lain, saya tidak akan menduplikasi usaha mereka di sini, selain untuk menyebutkan kedekatan khusus dengan dua model: INFOZONE dan The Organized Investigator (Circular Model) karena mereka menawarkan banyak penekanan yang sama pada pertanyaan, eksplorasi, sintesis dan bertanya-tanya yang dimaksudkan oleh Research Cycle.

Seperti yang akan ditampilkan dalam jauh lebih detail dalam bab-bab berikutnya, ketika siswa mengeksplorasi pertanyaan yang benar-benar menuntut, mereka jarang tahu apa yang mereka tidak tahu kapan mereka pertama kali merencanakan penyelidikan mereka. Mereka juga cenderung untuk melompat tepat ke pertemuan tanpa hati-hati memetakan banyak pertanyaan mereka harus memeriksa dalam pencarian mereka untuk pengetahuan dan pemahaman.

        Penelitian Siklus berbeda dari beberapa model dalam fokus yang sangat kuat pada pertanyaan penting dan pertanyaan anak di awal proses. Hal ini juga menolak penelitian topikal sebagai sedikit lebih dari pengumpulan informasi tidak layak waktu siswa. Beberapa model lain yang juga mudah dikonversi menjadi belanja perjalanan sederhana. Siswa berangkat dengan keranjang dan menikmati pesta informasi, meraup segala sesuatu yang mereka dapat menemukan tentang negara, provinsi, negara asing, orang terkenal, pertempuran, masalah ilmiah atau barang sudah nyaman tersedia dalam bentuk kemas dalam beberapa ensiklopedia atau buku yang ditujukan untuk subjek. Jenis penelitian sekolah menempatkan siswa dalam peran konsumen informasi dan menuntut sedikit pemikiran, imajinasi atau keterampilan.

        Berikut adalah bentuk diagram research cycle:

        Analisis potensi implementasi Model Literasi Informasi jika diterapkan di Indonesia terkhususnya bagi para mahasiswa :

  1. Kelebihan Implementasi Model Literasi Informasi ( Mc Kenzie) :
  1. Mempermudah mahasiswa dalam menyelesaikan tugas dengan membuat beberapa pertanyaan yang dapat menggeneralisasikan permasalahan.
  2. Mahaiswa dapat berfikir dengan strategi dan cara yang tepat untuk menemukan informasi terkait dan terpercaya untuk membantu mereka dalam mengkonsepkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sebelumnya.
  3. Membantu mahasiswa  dalam menentukan sumber-sumber informasi yang jelas dan terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.
  4. Membantu mahasiswa dalam menyelesaikan tugas mereka dengan cara penyeleasian yang sistematis/terstruktur.
  5. Pada tahap ini mahasiswa sebelum menyerahkan tugasnya pada dosen, akan melakukan proses evaluasi pada hasil pekerjaannya.
  6. Pelaporan, dalam tahap ini perangkat lunak berperan penting untuk mendukung lancarnya presentasi yang dilakukan. Jadi, lebih mudah untuk siswa apabila presentasi dibantu dengan software.
  1. Kekurangan Implementasi Literasi Informasi jika diterapkan di Indonesia :
  2. Belum lengkapnya fasilitas pendukung yang memadahi dalam proses kegiatannya.
  3. Keterbatasan teknologi berupa software pendukung pelaksanaan model literasi informasi dari Mc Kenzie.
  4. Kurangnya tenaga pustakawan pendamping dalam pelaksanaan proses kegiatan pencarian melalui software yang tersedia di perpustakaan.
  5. Kurangnya antusias mahasiswa dalam proses pelaksanaan penelitian model literasi informasi Mc Kenzie.
  6. Keadaan geografis Indonesia kurang mendukung pelaksanaan kegiatan model literasi Mc Kenzie.
  7. Keterbatasan dana untuk pengadaan software Mc Kenzie.

Perkembangan teknologi terus melaju untuk berevolusi, produk teknologi yang ada pada suatu masa akan dianggap biasa bahkan tertinggal. Perubahan zaman yang sedemikian dinamis dan sangat cepat hanya bisa diikuti perkembangannya dengan penguasaan literasi informasi yang didukung oleh teknologi literasi informasi. Dengan demikian urgensi pembekalan kemampuan literasi informasi dilingkungan  pendidikan utamanya perguruan tinggi menjadi tidak bisa ditunda lagi sebagai bekal kecakapan hidup bagi mahasiswa.

Teknologi informasi dapat berupa software pendukung dalam proses berliterasi mahasiswa, salah satunya yaitu sofware yang penerapan model Mc Kenzie. software ini dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengguna khususnya pelajar atau mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Dengan adanya software ini, mahasiswa dalam penyelesaian tugas mereka dapat dibantu dengan memungkinkan membuat pertanyaan, membantu membuat strategi penyelesaian, membuat pertimbangan menentukan sumber terpercaya, mensistematiskan proses pekerjaan, mengevaluasi tugas yang telah dibuat dan melakukan pelaporan tugas dengan baik.

Selain itu dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie tidak lepas dari peran seorang pustakawan. Adapun peran pustakawan dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie adalah sebagai pendamping dalam pelaksanaan,  pengawas dan koordinator pelaksanaan progam ini.

DAFTAR PUSTAKA

Amsyah, Zulkifli, 1997. Manajemen Sistem Informasi, Jakarta : Gramedia Pustaka

                  Utama

Latuputty, Hanna & Proboyekti, Umi. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Peran Pustakawan dalam Mengembangkan Literasi Informasi pada Era Globalisasi. Yogyakarta: UAJY, 12 Pebruari 2008.

Pendit, Putu Laxman 2008, Perpustakaan Digital Perguruan Tinggi : Tantangan Peningkatan Kualitas Jasa, Dalam http//eprints.undip.ac.id/5367/2/makalah pak putu.pdf.diakses tanggal 02 November 2011 pukul 08.29 WIB

———-, 2008 Perpustakaan Digital dari A sampai Z, Jakarta : Citra Karya Karsa

                   Mandiri

Sudarsono, Blasius et al. (2007; 2009), Literasi informasi (information literacy): pengantar untuk  perpustakaan sekolah. Jakarta: Perpustakaan Nasional.

(upload by R.Lalan Fuandara)