Naskah Resensi “Jejak Abadi Cinta dalam Sejarah Manusia”

Jejak Abadi Cinta dalam Sejarah Manusia

Judul: Sejarah Cinta
Penulis: Diane Ackerman
Penerbit: BasaBasi, Yogyakarta (2019)

Halaman: 488 hlm., 24 cm

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-5783-79-1

Resentator: Joko Setiyono, S.Sos

          

Cinta adalah misteri tertua yang tidak pernah selesai ditafsirkan manusia. Ia hadir dalam bait-bait puisi kuno, diabadikan dalam patung marmer yang membeku dalam keabadian, dan hidup dalam syair-syair yang ditulis dengan darah sekaligus air mata. Sejak manusia pertama kali menuliskan kisahnya di atas tanah liat dan papirus, cinta selalu menjadi salah satu tema utama. Ia begitu personal, tetapi sekaligus universal. Ia dapat menggetarkan seorang penyair di Athena, seorang mistikus di Persia, atau seorang remaja di Solo abad ke-21.Namun, adakah satu cara pasti untuk memahami cinta? Ataukah ia hanya bisa kita dekati lewat metafora, lewat fragmen-fragmen kisah yang tidak pernah benar-benar lengkap? Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh Diane Ackerman, seorang naturalis sekaligus penulis puitis yang dikenal lewat karya monumentalnya, A Natural History of Love, diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Sejarah Cinta. Dengan pena yang luwes sekaligus tajam, Ackerman merangkai sebuah mosaik besar tentang cinta: dari sisi biologis, psikologis, historis, hingga kultural. Buku ini bukan sekadar bacaan tentang romansa, melainkan perjalanan intelektual dan emosional menelusuri jejak cinta dalam kehidupan manusia.

Cinta dalam aneka warna

Cinta sebagai Fenomena Biologis Ackerman membuka buku ini dengan menyadarkan kita bahwa cinta, seindah apapun ia dipuisikan, memiliki dasar biologis yang tak terbantahkan. Tubuh kita, katanya, adalah panggung tempat cinta dipentaskan. Hormon, feromon, neurotransmitter—semua menjadi pemain utama dalam drama jatuh cinta.Di sini, Ackerman tidak jatuh pada reduksionisme yang kaku. Ia menulis dengan penuh keindahan: bagaimana detak jantung berdebar ketika seseorang jatuh cinta bisa dilihat bukan sekadar sebagai reaksi adrenalin, melainkan sebagai “musik rahasia tubuh”. Ia mengutip penelitian neurologi, tetapi lalu menghubungkannya dengan kisah sastra klasik, seakan-akan ingin menunjukkan bahwa sains dan seni hanyalah dua bahasa berbeda untuk mengungkap satu realitas yang sama: cinta adalah pengalaman manusia yang total, melibatkan tubuh sekaligus jiwa. Jejak Cinta dalam Sejarah Peradaban. Dari ranah biologi, Ackerman membawa kita melintasi zaman. Ia menelusuri jejak cinta dalam sejarah peradaban: bagaimana orang Yunani kuno mengidealkan eros dan agape, bagaimana cinta dalam tradisi Tiongkok kuno kerap disimbolkan lewat legenda kupu-kupu, atau bagaimana cinta di dunia Islam dipahatkan dalam syair Jalaluddin Rumi yang memandang cinta sebagai jalan menuju Yang Ilahi. Cinta tidak pernah statis; ia berubah mengikuti struktur sosial, politik, dan budaya suatu zaman. Pada Abad Pertengahan, misalnya, lahirlah tradisi cinta kesatria (courtly love), di mana seorang pria mulia menaruh hormat setinggi-tingginya kepada seorang wanita yang bahkan mungkin tidak bisa dimilikinya. Tradisi ini menjadi pondasi bagi banyak karya sastra Eropa. Ackerman menulis semua ini dengan gaya naratif yang memikat. Ia seolah membawa kita menelusuri museum cinta: dari patung Cupid di Roma, surat cinta Napoleon kepada Josephine, hingga kisah cinta modern yang ditulis di novel atau film.

            Psikologi dan Mitologi Cinta. Selain sejarah, Ackerman juga mengajak pembaca memahami cinta dari perspektif psikologi dan mitologi. Ia menyoroti bagaimana cinta kerap dipandang sebagai kegilaan—“penyakit sementara” kata Plato—tetapi juga sebagai kekuatan suci yang mampu menyelamatkan manusia dari kehampaan. Mitologi Yunani tentang Eros dan Psyche, misalnya, dibaca Ackerman bukan sekadar dongeng, melainkan simbol bahwa cinta selalu melibatkan pertarungan antara hasrat dan jiwa, tubuh dan kesadaran. Begitu pula kisah-kisah cinta dalam tradisi Timur, yang sarat dengan pengorbanan dan perjalanan batin. Dalam bagian ini, Ackerman dengan piawai memadukan psikologi modern—dari teori Freud hingga Jung—dengan mitologi klasik. Ia ingin menunjukkan bahwa cinta bukan sekadar pengalaman individual, melainkan bagian dari arketipe yang diwariskan lintas generasi. Cinta dalam Karya Seni dan Sastra. Tak lengkap membicarakan cinta tanpa menyinggung seni. Ackerman memberi perhatian khusus pada bagaimana cinta diekspresikan dalam seni rupa, musik, dan sastra. Dari soneta Shakespeare yang abadi, lukisan Renoir yang hangat, hingga musik Chopin yang melankolis, cinta selalu menjadi sumber inspirasi. Melalui buku ini pembaca akan merasakan betapa Ackerman adalah seorang penulis yang puitis. Ia tidak sekadar mengutip karya seni, tetapi menafsirkannya dengan penuh perasaan. Ia melihat lukisan bukan hanya sebagai gambar, tetapi sebagai jendela menuju pengalaman cinta yang universal.

Keistimewaan Gaya Penulisan Ackerman

Salah satu daya tarik utama buku Sejarah Cinta adalah gaya penulisan Diane Ackerman yang unik. Ia seorang ilmuwan, tetapi sekaligus penyair. Kalimat-kalimatnya kaya metafora, penuh lirisisme, tetapi juga tidak kehilangan ketajaman analisis. Membaca buku ini, kita seperti menikmati jamuan di mana fakta ilmiah disajikan bersama puisi, sejarah berpadu dengan anekdot personal, dan filsafat berjalan beriringan dengan cerita cinta sehari-hari. Ia menulis seperti seseorang yang benar-benar jatuh cinta pada cinta itu sendiri. Jika dibandingkan dengan karya-karya lain yang membahas cinta, misalnya The Art of Loving karya Erich Fromm atau Love in the Western World karya Denis de Rougemont, karya Ackerman jelas menempati ruang yang berbeda. Fromm melihat cinta sebagai keterampilan sosial yang harus dipelajari, sementara Rougemont menelusuri mitos cinta dalam tradisi Barat. Ackerman, sebaliknya, menawarkan pendekatan holistik: biologis, historis, kultural, dan estetis sekaligus. Keunggulannya ada pada narasi yang cair dan indah, membuat ilmu pengetahuan terasa seperti cerita yang bisa dinikmati siapa saja. Namun, tentu saja tidak ada karya yang sempurna. Beberapa pembaca mungkin merasa buku ini terlalu meluas, sehingga tidak mendalami satu aspek tertentu dengan tuntas. Mereka yang mengharapkan uraian ilmiah murni mungkin akan merasa kecewa dengan gaya puitis Ackerman yang kerap berbelok ke metafora. Akan tetapi, di sinilah justru letak kekuatan buku ini: ia bukan ditulis untuk para akademisi semata, melainkan untuk semua orang yang ingin memahami cinta dengan cara yang lebih manusiawi.

Cinta sebagai Warisan Abadi

Pada akhirnya, Sejarah Cinta adalah sebuah karya besar yang menyadarkan kita bahwa cinta bukan sekadar urusan pribadi, melainkan bagian dari sejarah panjang umat manusia. Membacanya ibarat melihat cermin: kita menemukan wajah kita sendiri dalam kisah-kisah cinta ribuan tahun lalu, sekaligus merasakan bahwa pengalaman kita hari ini hanyalah lanjutan dari sebuah narasi abadi. Diane Ackerman berhasil menulis sebuah kitab tentang cinta yang tidak membosankan, justru menghidupkan imajinasi dan mengasah sensitivitas kita. Ia mengajarkan bahwa memahami cinta sama pentingnya dengan memahami sejarah, seni, atau sains. Karena pada akhirnya, cinta adalah bahasa yang menyatukan kita semua. Buku ini layak menjadi teman renungan siapa saja: penyair yang sedang jatuh cinta, peneliti yang ingin tahu asal-usul emosi manusia, atau pembaca biasa yang ingin menemukan makna dalam debaran hati mereka. Mungkin pembaca, setelah menutup halaman terakhir buku ini, akan semakin percaya bahwa cinta, meski tak pernah bisa sepenuhnya didefinisikan, tetaplah menjadi kekuatan paling agung yang menggerakkan sejarah manusia. Buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan dengan nomor panggil: 128.46 ACK s.[]