NASKAH RESENSI “Menonton Masyarakat Lewat Panggung: Menelisik Sosiologi Teater dalam Karya Nur Sahid”

Judul: Sosiologi Teater: Teori dan Penerapannya
Penulis: Nur Sahid
Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri
Halaman: viii, 194  hlm. : ilus.; 23 cm
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-602-1220-1-6

Resensator: Joko Setiyono, S.Sos

          

 

Di tengah dominasi wacana seni pertunjukan yang kerap terjebak pada estetika, teknik panggung, dan bentuk-bentuk dramatik, hadirnya buku Sosiologi Teater: Teori dan Penerapannya karya Dr. Nur Sahid menjadi angin segar. Buku ini tidak hanya mengajak pembaca untuk memahami teater sebagai seni pertunjukan semata, tetapi menuntunnya lebih dalam: untuk melihat teater sebagai representasi masyarakat itu sendiri. Pertunjukan bukan hanya soal “siapa bermain apa”, melainkan “mengapa” dan “untuk siapa” ia dimainkan, serta “bagaimana” nilai, kuasa, dan identitas sosial dikonstruksikan dan dinegosiasikan di atas panggung.

Buku ini, yang diterbitkan oleh Gigih Pustaka Mandiri (2017), merupakan salah satu karya langka di Indonesia yang secara khusus membedah dunia teater dari sudut pandang ilmu sosiologi. Jika selama ini sosiologi lebih sering membidik ruang-ruang sosial seperti keluarga, pendidikan, atau media massa, maka buku ini membawa pembaca menyusuri panggung sebagai laboratorium sosial yang tidak kalah pentingnya. Teater, dalam pandangan Nur Sahid, bukanlah entitas lepas dari realitas masyarakat. Ia adalah denyut sosial yang dipentaskan.

Nur Sahid secara cermat menyusun fondasi pemahaman pembaca mengenai hubungan antara individu dan masyarakat, struktur sosial, agen dan institusi, serta dinamika nilai dan norma. Di sini, ia menunjukkan bahwa semua elemen yang biasanya dikaji dalam konteks sosial masyarakat—dari kelas, gender, etnisitas, hingga kekuasaan—juga muncul dalam praktik seni pertunjukan, meskipun sering kali terselubung dalam estetika.

Teater, dalam hal ini, menjadi ruang sosial yang tidak netral. Ia menampilkan relasi sosial yang berlangsung dalam masyarakat, baik secara reflektif maupun subversif. Pemilihan cerita, gaya penuturan, siapa yang tampil di panggung, siapa yang menonton, bahkan di mana dan kapan pementasan dilakukan—semuanya memiliki makna sosial yang dapat dianalisis secara sosiologis. Inilah yang disebut Sahid sebagai pendekatan praksis sosiologis dalam seni teater.

Salah satu kontribusi penting buku ini adalah keberaniannya menyatakan bahwa seni pertunjukan—khususnya teater di Indonesia—belum banyak disentuh oleh pendekatan interdisipliner secara serius. Padahal, ketika ilmu sosial dan ilmu seni dipertemukan, lahirlah pemahaman yang lebih utuh, yang tidak hanya menilai dari indah atau tidaknya sebuah pertunjukan, tetapi juga dari dampaknya terhadap wacana sosial yang lebih luas.

Nur Sahid juga menyusun kerangka teoritis yang berakar pada perkembangan pemikiran estetika dan sosiologi seni, namun dengan fokus yang lebih mengerucut pada kajian sosiologi drama. Pada Bab II, ia menguraikan secara historis bagaimana teori mimesis berkembang dalam khazanah estetika Barat—bermula dari pemikiran Plato dan Aristoteles, lalu bergerak melalui era renaisans hingga pemikiran modern. Namun alih-alih berhenti pada estetika, ia membawa pembaca pada pergeseran dari teori mimetik ke pendekatan sosial dalam drama, sebagai pijakan awal ke arah sosiologi teater.

Bab III menjadi inti dari konstruksi kerangka teoritis buku ini. Di sini, Sahid secara khusus mengulas teori sosiologi drama Lucien Goldmann, seorang pemikir Marxis Prancis yang memperkenalkan pendekatan strukturasi transindividu. Goldmann melihat karya sastra—dan dalam konteks buku ini, karya drama—sebagai cerminan struktur kesadaran kolektif kelas sosial tertentu. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan pertunjukan sebagai teks sosial yang mencerminkan konflik, nilai, dan ideologi masyarakat. Ini menjadi dasar bagi Sahid dalam menafsirkan bagaimana bentuk dan isi drama mengandung struktur sosial masyarakatnya.

Meskipun tidak secara eksplisit merujuk pada tokoh-tokoh besar sosiologi klasik seperti Durkheim, Weber, atau Bourdieu, pendekatan Sahid tetap berada dalam spektrum sosiologi kritis yang memosisikan seni sebagai ekspresi sosial. Keputusan untuk lebih fokus pada Goldmann dan teori sosiologi drama memberikan kejelasan arah dan konsistensi metodologis. Buku ini tidak berpretensi menjadi telaah komprehensif seluruh aliran teori sosiologi seni, tetapi justru menekankan pada satu pendekatan yang aplikatif untuk membaca pertunjukan sebagai gejala sosial.

Dengan begitu, kekuatan buku ini bukan pada keluasan referensi lintas teori, melainkan pada kedalaman elaborasi teori tertentu dan keberhasilannya menerapkannya pada praktik pertunjukan di Indonesia. Pendekatan Lucien Goldmann yang diterjemahkan dalam konteks teater tradisional dan kontemporer Nusantara memberi warna khas pada buku ini, sekaligus memperkaya perbendaharaan metodologi kajian seni di tanah air.

Buku ini menjembatani teori dan praktik. Dengan gayanya, Nur Sahid menyajikan bagaimana konsep-konsep sosiologis yang telah ia bahas bisa diterapkan dalam membaca sebuah pertunjukan. Ia memberikan contoh pementasan tertentu, lalu menganalisisnya menggunakan perspektif sosiologi teater. Pendekatan ini sangat berguna, terutama bagi mahasiswa seni atau sosiologi yang selama ini kesulitan menghubungkan antara teori abstrak dan kenyataan lapangan.

Salah satu contoh menarik adalah ketika ia membahas kajian fungsi sosial teater dalam jenis masyarakat yang berbeda (hlm: 146-163). Nur Sahid mengaplikasikannya dengan analisis pasang surut kehidupan kesenian Jawa Tradisional dalam menghadapi millenium ketiga. Ia menyajikan gambaran tentang ludruk, wayang orang, ketoprak sampai wayang kulit di tengah kehidupan masyarakat dulu dan sekarang ini.

Keunggulan lain dari buku ini adalah keberpihakan penulisnya pada konteks lokal. Alih-alih hanya mengandalkan teori Barat dan contoh dari dunia teater Eropa, Nur Sahid menyajikan studi kasus dari tradisi pertunjukan di Nusantara. Ia membahas secara rinci bentuk-bentuk seperti wayang orang, ketoprak, ludruk, dsb sebagai bagian dari ekosistem sosial budaya masyarakat.

Dengan pendekatan seperti ini, teater tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang eksklusif milik kalangan seniman atau akademisi seni, tetapi milik masyarakat secara luas—dan sekaligus menjadi cerminan masyarakat itu sendiri. Inilah letak keberanian intelektual buku ini: mengangkat bentuk-bentuk yang selama ini dianggap “biasa” menjadi objek kajian ilmiah yang sah dan penting.

Selain itu, gaya penyampaian yang komunikatif menjadikan buku ini mudah diakses oleh pembaca lintas disiplin. Tidak hanya mahasiswa seni atau sosiologi, tapi juga para praktisi teater, peneliti kebudayaan, bahkan pembuat kebijakan kebudayaan, dapat mengambil manfaat dari buku ini. Struktur bab yang sistematis, mulai dari teori, penerapan, hingga studi kasus, juga membuat buku ini cocok dijadikan referensi pengajaran di perguruan tinggi.

Buku ini juga melengkapi kekosongan yang ditinggalkan oleh karya-karya sejarah dan estetika teater seperti yang ditulis oleh Rendra, Afrizal Malna, atau B. Soenarto, yang lebih bernuansa kritik seni atau refleksi kreatif. Sementara buku seperti Teater dan Masyarakat karya Edi Sedyawati atau catatan-catatan Hasan Aspahani tentang seni pertunjukan belum memberi fokus metodologis sosiologis yang eksplisit.

Maka, Sosiologi Teater: Teori dan Penerapannya dapat dikatakan sebagai salah satu dari sedikit karya akademik Indonesia yang menawarkan kerangka kerja analitis dalam mengkaji teater sebagai representasi masyarakat. Ia menjadi pijakan penting untuk diskusi dan riset lebih lanjut dalam studi interdisipliner antara ilmu sosial dan seni.

Dalam konteks budaya hari ini—di mana pertunjukan tidak hanya berlangsung di gedung atau lapangan, tetapi juga di media sosial, dalam ruang-ruang digital, bahkan dalam bentuk partisipasi masyarakat di ranah politik—pendekatan sosiologi teater menjadi semakin penting. Teater bukan lagi hanya milik institusi seni, melainkan menjadi bagian dari gerakan sosial, ekspresi identitas, hingga medium kritik terhadap kekuasaan.

Membaca buku Nur Sahid di tengah maraknya eksperimen pertunjukan berbasis komunitas, pementasan digital di masa pascapandemi, dan meningkatnya kesadaran terhadap isu-isu sosial seperti ketimpangan, gender, dan krisis lingkungan, menunjukkan bahwa pendekatan sosiologis terhadap seni sangat relevan. Buku ini menyediakan alat berpikir untuk memahami mengapa dan bagaimana pertunjukan hari ini bisa menjadi katalis perubahan sosial.

Bayangkan misalnya, bagaimana kita bisa menganalisis pertunjukan jalanan di kota-kota besar sebagai bentuk taktik resistensi, atau pertunjukan teatrikal dalam demonstrasi mahasiswa sebagai ritual protes. Semua itu bisa dibaca secara mendalam melalui lensa sosiologi teater seperti yang ditawarkan dalam buku ini.

Dengan segala kelebihannya dalam mengontekstualisasi teori, mendekatkan sosiologi kepada praktik budaya, serta menawarkan cara pandang yang aplikatif dan inklusif terhadap bentuk-bentuk pertunjukan di Indonesia, buku Sosiologi Teater: Teori dan Penerapannya layak menjadi rujukan utama dalam studi seni pertunjukan yang interdisipliner. Ia tidak hanya penting bagi mahasiswa teater, tapi juga bagi peneliti ilmu sosial, pengamat budaya, bahkan para pelaku seni yang ingin memahami posisi mereka dalam masyarakat lebih reflektif.

Meski masih menyisakan ruang untuk pengayaan—terutama dalam hal cakupan wilayah, isu kontemporer, dan pembacaan kritis terhadap ketegangan sosial—keberadaan buku ini menjadi fondasi yang sangat kuat. Di tengah belum banyaknya buku berbahasa Indonesia yang serius membahas teater dalam konteks sosiologis, karya ini menjawab kebutuhan mendesak akan literatur yang membumi, terstruktur, dan dapat dijangkau.

Akhir kata, buku ini mengingatkan kita bahwa pertunjukan bukanlah sekadar soal panggung dan dialog. Ia adalah kehidupan yang dipentaskan. Dan dengan membaca teater secara sosiologis, kita sedang menonton masyarakat dalam bentuknya yang paling jujur—kadang indah, kadang getir, tapi selalu penuh makna.Buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan dengan  nomor panggil: 792.01 NUR s.[]