Judul: Pergolakan di tanah Jawa: Perang Kekuasaan Para Raja
Penulis: Ardian Kresna
Penerbit: Lontar Mediatama, Yogyakarta (2021)
Halaman: xiv, 388 hlm. : ilus.; 21 cm
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978‑602‑5986‑64‑2
Resensator: Joko Setiyono, S.Sos
Ardian Kresna, melalui buku Pergolakan di Tanah Jawa: Perang Kekuasaan Para Raja (Lontar Mediatama, 2021), menghadirkan panorama sejarah Jawa yang kompleks—penuh persekutuan dan pengkhianatan, strategi kekuasaan dan resistensi lokal, serta hegemoni asing yang bertaut dengan kepentingan elite bangsawan. Disusun dalam enam bab utama, buku ini menjelajahi dinamika kekuasaan dari era Islamisasi hingga meletusnya Perang Jawa (1825–1830), dengan pendekatan naratif yang memadukan telaah sejarah dan gaya tutur populer. Sejarah Jawa bukanlah rentetan tanggal mati dan nama-nama raja yang tak bernyawa. Ia adalah kisah tentang kuasa, perebutannya, pengkhianatannya, diplomasi yang rumit, hingga pergulatan identitas antara yang lama dan yang baru. Dalam konteks ini, buku Pergolakan di Tanah Jawa: Perang Kekuasaan Para Raja karya Ardian Kresna tampil bukan sebagai catatan sejarah linear, melainkan sebagai narasi yang membentangkan drama besar para elite politik Jawa dari era Islamisasi hingga pecahnya Perang Jawa. Diterbitkan oleh Lontar Mediatama tahun 2021, buku ini membawa pembaca menyusuri sejarah kekuasaan dari perspektif Jawa yang kritis namun komunikatif—jauh dari gaya akademis yang kaku.
Memulai Bab I, Ardian mengupas hadirnya pemerintahan Islam di Jawa sebagai penanda era baru. Perpaduan antara doktrin keislaman dan sistem kerajaan yang telah berurat-akar menimbulkan sintesis budaya-politik yang khas. Pengisahan tentang Demak, Mataram, dan konflik internal keluarga kerajaan memberi gambaran bahwa kekuasaan bukan hanya didorong oleh legitimasi spiritual, tetapi juga oleh kekuatan militer dan strategi diplomatik.
Dalam Bab II menggeser perhatian pada interaksi Jawa dengan bangsa asing. Di sinilah Ardian memperlihatkan bagaimana pelabuhan, saudagar, dan utusan kerajaan menjadi simpul dari hubungan dagang yang berkembang menjadi intervensi politik. Portugis, Inggris, dan akhirnya VOC bukan sekadar aktor luar, tetapi menjadi penentu dinamika internal kerajaan-kerajaan lokal. Selanjutnya, pada Bab III, yang bertajuk “Bercokolnya Kekuatan Eropa di Jawa”, menjadi titik penting. Ardian dengan jeli menyorot bagaimana dominasi VOC (dan kemudian pemerintah kolonial Belanda) bukan terjadi secara mendadak, melainkan melalui pola-pola manipulasi politik, perjanjian timpang, dan dukungan terhadap calon raja tertentu. Dari perspektif ini, pembaca diajak memahami bahwa kolonialisme tak selalu hadir dengan senjata, melainkan lewat rekayasa kekuasaan yang memanfaatkan celah konflik bangsawan Jawa.
Dalam penyusunan argumen, Ardian tidak berpretensi sebagai sejarawan akademis yang terkungkung metode formal. Ia lebih menyerupai seorang penutur sejarah yang ingin menyegarkan kembali ingatan kolektif kita, terutama pada detail-detail pergulatan yang kerap luput dari buku pelajaran sejarah. Gaya penulisan semacam ini menjadikan bukunya hidup dan mudah diakses, bahkan bagi pembaca awam.
Dari Perlawanan hingga Letusan Perang Jawa
Bab IV buku ini menggali akar-akar perlawanan kaum bangsawan Jawa terhadap dominasi asing. Ardian Kresna menunjukkan bahwa tidak semua elite lokal bersikap kolaboratif terhadap kekuatan kolonial. Beberapa tokoh, seperti Sultan Agung, Raden Rangga, dan bahkan tokoh-tokoh dari daerah pesisir utara, tampil sebagai pelopor perlawanan yang didorong oleh nasionalisme dini dan harga diri kultural. Namun, konflik internal di antara bangsawan juga memperlemah posisi tawar Jawa terhadap kekuatan Eropa.
Masuk ke Bab V, Ardian menyoroti situasi pasca Palihan Nagari—peristiwa pembagian Mataram menjadi dua kekuasaan besar: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Ia mencatat bagaimana pecahnya kekuasaan tersebut bukan hanya hasil dari perselisihan keluarga raja, tetapi juga buah dari rekayasa kolonial. Pemerintah Hindia Belanda, dengan piawai, memanfaatkan konflik internal untuk memecah kekuatan politik lokal dan menancapkan pengaruhnya secara sistematis. Dalam bagian ini, pembaca menemukan benih-benih dari ketegangan yang kelak memuncak dalam perang besar.
Puncak dramatik buku ini terdapat dalam Bab VI yang membahas Perang Jawa atau Perang Diponegoro. Ardian tidak semata mengisahkan kronologi perang, tetapi juga menelisik akar ideologisnya. Bagi Diponegoro, perjuangan melawan Belanda adalah jihad melawan kedzaliman, tetapi juga perlawanan terhadap pengingkaran nilai-nilai lokal oleh elite yang telah berkolaborasi dengan kolonial. Ardian menampilkan sosok Pangeran Diponegoro bukan sebagai figur romantis semata, tetapi sebagai simbol dari kompleksitas zaman: spiritualitas, krisis legitimasi, dan pertarungan wacana dalam kekuasaan.
Secara keseluruhan, Pergolakan di Tanah Jawa menawarkan pembacaan alternatif atas sejarah klasik Jawa. Kekuatan utama buku ini adalah keberaniannya menyorot sisi-sisi gelap kekuasaan—intrik bangsawan, manipulasi asing, dan kompromi-kompromi yang mengorbankan rakyat. Gaya penulisan yang mengalir membuat topik sejarah yang kompleks menjadi hidup dan memikat. Namun demikian, buku ini tidak lepas dari kekurangan. Penggunaan sumber primer masih terbatas dan kadang narasi historisnya bercampur dengan interpretasi personal yang tidak selalu didukung data. Beberapa bagian terasa lebih sebagai opini ketimbang kajian historis. Meski begitu, dalam ranah literatur populer sejarah, pendekatan ini justru bisa menjembatani publik luas dengan sejarah yang kerap dianggap beku dan membosankan.
Sebagai penutup, Pergolakan di Tanah Jawa layak dibaca siapa pun yang ingin memahami wajah sejarah Jawa dari kacamata yang lebih kritis dan naratif. Ardian Kresna telah menyusun sebuah karya yang mengingatkan kita bahwa sejarah bukan sekadar urutan peristiwa, tetapi arena kontestasi makna dan kekuasaan. Dalam masa kini yang juga dipenuhi konflik wacana, buku ini terasa relevan untuk merefleksikan ulang siapa yang menentukan arah sejarah—dan siapa yang disingkirkan darinya.Buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan dengan nomor panggil: 959.802 2 ARD p.[]
