Judul: Balinese Dance, Drama & Music: A Guide to the Performing Arts of Bali.
Penulis: I Wayan Dibia dan Rucina Ballinger
Penerbit: Tuttle Publishing
Halaman: 112 hlm. : ilus.; 24 cm
Bahasa: Inggris
ISBN: 978-0-8048-4183-2
di resensi oleh: Joko Setiyono, S.Sos
Bali tidak hanya memesona dengan lanskap sawah yang bertingkat, pantai-pantai berpasir putih, dan matahari terbenam yang membara di ufuk barat. Lebih dari itu, pulau kecil di tengah kepulauan Nusantara ini menyimpan lapisan budaya yang begitu dalam, kompleks, dan hidup. Dalam denyut nadi kesehariannya, budaya bukan sekadar pelengkap, melainkan menjadi fondasi utama masyarakat Bali menjalani hidup. Dari upacara keagamaan di pura hingga pesta desa, dari pelinggih di sudut rumah hingga panggung terbuka di balai banjar, seni dan spiritualitas berpadu erat. Salah satu manifestasi paling nyata dari kebudayaan Bali adalah seni pertunjukannya yang menakjubkan: sebuah perpaduan antara musik, tari, drama, dan ritual yang menyatu dalam satu tarikan napas. Seni pertunjukan di Bali bukan sekadar tontonan—ia adalah medium komunikasi antara manusia, leluhur, dan para dewa.
Memahami seni pertunjukan Bali bukanlah hal yang sederhana. Keindahan yang tampak di permukaan menyimpan filosofi, nilai, dan sistem pendidikan yang sangat khas. Inilah yang menjadi latar belakang kelahiran buku Balinese Dance, Drama & Music: A Guide to the Performing Arts of Bali, karya kolaboratif antara I Wayan Dibia, maestro seni pertunjukan asal Bali, dan Rucina Ballinger, seniman dan budayawan asal Amerika yang telah lama berkiprah di Bali. Dengan pendekatan yang komunikatif dan kaya perspektif, buku ini berfungsi sebagai jembatan pemahaman antara dunia luar dan dunia batin masyarakat Bali. Disertai dengan ilustrasi dan foto yang menawan dari Barbara Anello, buku ini tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman visual yang memikat. Bagi pembaca awam maupun peneliti, buku ini menawarkan panduan yang bersahabat namun dalam, tentang bagaimana seni pertunjukan Bali tumbuh dan hidup di tengah masyarakatnya.
Buku ini dimulai dengan pengantar yang sangat penting: bagaimana seni pertunjukan dipelajari dan ditransmisikan dari generasi ke generasi di Bali. Di sana di Bali, seni bukan dipelajari lewat buku atau teori, melainkan lewat praktik langsung, pengamatan, tiruan, dan kedekatan spiritual dengan guru serta lingkungan. Belajar menari bukan sekadar menghafal gerak, tetapi memahami makna simbolisnya. Memainkan gamelan bukan hanya soal ritme, tetapi juga soal keharmonisan batin. Penulis menjelaskan bahwa setiap aspek seni pertunjukan di Bali menyatu dalam satu sistem nilai yang disebut taksu—sebuah daya spiritual yang menghidupkan penampilan seorang seniman. Maka tak heran jika pertunjukan di Bali bisa begitu menyentuh dan menggetarkan, karena tidak hanya berbicara pada indera, tetapi juga pada rasa.
Lebih lanjut, buku ini membawa pembaca menyelami ragam bentuk seni pertunjukan yang tumbuh subur di Bali. Ada Gamelan Gong Kebyar, yang dikenal dengan komposisi musiknya yang dinamis dan penuh ledakan energi; Gambuh, drama tari klasik yang sarat dialog dan kesantunan; Legong Keraton, tari klasik yang dimainkan oleh gadis-gadis muda dengan gerakan halus dan struktur koreografi yang rumit; Baris, tarian keprajuritan yang maskulin dan penuh semangat; hingga Wayang Kulit, pertunjukan bayangan yang tidak hanya menyampaikan kisah-kisah epik, tetapi juga menjadi ruang refleksi sosial. Setiap genre dipaparkan dengan konteks sejarah, fungsi sosial, struktur pertunjukan, serta perkembangan kontemporernya. Penulis tidak hanya memotret keindahan, tetapi juga memberi pembaca pemahaman mendalam bahwa seni pertunjukan di Bali adalah bagian dari ekosistem budaya yang terus beradaptasi tanpa kehilangan akar.
Visualisasi yang Memukau
Dalam buku ini, ilustrasi karya Barbara Anello memberikan dimensi visual yang memperkaya pemahaman pembaca. Dengan lebih dari 200 gambar dan lukisan berwarna, pembaca dapat merasakan keindahan dan kompleksitas seni pertunjukan Bali secara langsung .
Anello, seorang seniman dan fotografer yang telah lama berkarya di Bali, berhasil menangkap esensi dari setiap pertunjukan melalui ilustrasi yang detail dan penuh warna. Karya-karyanya tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan nuansa spiritual dan budaya yang mendalam dari setiap tarian, drama, dan musik tradisional Bali. Melalui ilustrasi ini, pembaca dapat memahami gerakan tari yang rumit, ekspresi wajah para penari, serta suasana sakral dari setiap pertunjukan.
Ilustrasi-ilustrasi ini juga berfungsi sebagai alat edukatif yang efektif, terutama bagi pembaca yang belum pernah menyaksikan langsung pertunjukan seni Bali. Dengan melihat detail kostum, alat musik, dan setting panggung melalui gambar, pembaca dapat membayangkan bagaimana pertunjukan tersebut berlangsung. Selain itu, ilustrasi ini membantu menjelaskan terminologi dan konsep-konsep yang mungkin asing bagi pembaca internasional, sehingga memperkaya pengalaman membaca dan pemahaman terhadap budaya Bali.
Visualisasi yang memukau dari Barbara Anello dalam buku ini tidak hanya mempercantik tampilan, tetapi juga memperdalam pemahaman pembaca terhadap seni pertunjukan Bali. Kombinasi antara teks informatif dan ilustrasi yang memukau menjadikan buku ini sebagai sumber referensi yang berharga bagi siapa saja yang tertarik untuk mempelajari dan menghargai kekayaan budaya Bali.
Duet dua penulis buku Balinese Dance, Drama & Music ini berkontribusi memberikan fondasi kuat bagi kedalaman isi buku ini. I Wayan Dibia bukan hanya seorang praktisi, melainkan juga akademisi dan inovator seni pertunjukan Bali. Sebagai penari, musisi, dan koreografer, Dibia memahami seni dari dalam—bukan semata sebagai objek studi, tetapi sebagai warisan hidup yang terus berkembang. Ia membawa perspektif lokal yang otentik, memahami nuansa sosial, spiritual, dan teknis dalam setiap bentuk seni. Dibia juga dikenal karena kemampuannya menjembatani antara tradisi dan modernitas dalam dunia seni pertunjukan Bali, menjadikannya figur penting dalam konservasi dan inovasi budaya.
Sementara itu, Rucina Ballinger menawarkan sudut pandang berbeda namun saling melengkapi. Sebagai seorang pendidik dan penari yang telah menetap di Bali selama puluhan tahun, ia memahami bagaimana seni Bali dipersepsikan dan diajarkan kepada masyarakat luar. Rucina menghadirkan sensibilitas seorang outsider yang telah lama menjadi insider. Kombinasi keduanya menciptakan keseimbangan antara pemahaman mendalam dari dalam tradisi dan pendekatan komunikatif untuk pembaca internasional. Hasilnya adalah buku yang tidak hanya kaya secara isi, tetapi juga ramah bagi pembaca dari berbagai latar belakang budaya dan pengetahuan.
Salah satu keunggulan utama Balinese Dance, Drama & Music terletak pada pendekatannya yang seimbang antara kedalaman isi dan keterjangkauan pembaca umum. Buku ini berhasil menjelaskan aspek teknis dan filosofis seni pertunjukan Bali tanpa jatuh ke dalam jebakan akademisisme yang kaku. Gaya bahasanya lugas namun kaya, memungkinkan pembaca dari latar belakang non-akademik pun dapat memahami dan menikmati isi buku. Kolaborasi antara penulis lokal dan penulis internasional memberikan perspektif ganda—baik dari pelaku budaya itu sendiri maupun dari sudut pandang orang luar yang memahami cara menjelaskan budaya tersebut kepada dunia. Ini merupakan kelebihan signifikan dibandingkan beberapa buku lain yang ditulis secara sepihak, entah terlalu teknis dan lokal, atau sebaliknya, terlalu permukaan dan turistik. Buku ini juga unggul dalam aspek visual. Ilustrasi dan fotografi karya Barbara Anello bukan hanya mempercantik buku, tetapi juga sangat informatif.
Jika dibandingkan dengan buku lain yang juga populer tentang budaya Bali, seperti Bali: Sekala and Niskala karya Fred B. Eiseman Jr., perbedaan pendekatan sangat terasa. Buku Eiseman menyoroti aspek simbolik dan spiritual kehidupan masyarakat Bali secara menyeluruh, termasuk kepercayaan, upacara, arsitektur, dan budaya sehari-hari. Seni pertunjukan memang termasuk di dalamnya, namun lebih sebagai bagian dari struktur kebudayaan yang lebih luas. Sementara itu, Balinese Dance, Drama & Music lebih fokus dan sistematis dalam memetakan seni pertunjukan secara spesifik—dari sejarah, bentuk, fungsi, hingga aspek performatifnya. Kita bisa mengatakan, kedua buku ini tidak saling menegasi, melainkan saling melengkapi. Dibia dan Ballinger menyajikan panduan mendalam khusus tentang seni pertunjukan, sangat berguna baik untuk pemula maupun peneliti awal. Sementara Eiseman memberikan kerangka pemahaman yang lebih luas tentang dunia simbolik Bali, yang penting untuk melihat seni pertunjukan dalam konteks sosial-religiusnya. Bila dibaca berdampingan, keduanya memberi gambaran yang lebih utuh tentang dinamika budaya Bali—yang tampak dan yang tak tampak.
Membaca Bali melalui irama, gerak, dan cerita, demikian yang bisa disimpulkan dari buku Balinese Dance, Drama & Music bukan sekadar buku panduan; ia adalah jendela yang terbuka lebar ke dalam dunia ekspresi budaya yang hidup dan bernapas di Bali. Melalui bahasa yang komunikatif, pengetahuan lokal yang mendalam, serta visualisasi yang kaya, buku ini membawa pembaca untuk menyelami seni pertunjukan Bali tidak hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai cermin dari nilai-nilai spiritual, sosial, dan estetika masyarakat Bali. Setiap halaman memancarkan semangat pelestarian tradisi, sembari tetap terbuka terhadap apresiasi lintas budaya.
Bagi para pembaca yang ingin memahami Bali lebih dari sekadar destinasi wisata, buku ini adalah pilihan tepat. Ia menyuguhkan pemahaman mendalam tentang bagaimana seni tidak pernah berdiri sendiri, melainkan tumbuh bersama ritme kehidupan masyarakatnya. Melalui perpaduan perspektif seorang seniman lokal dan penulis luar yang mencintai Bali dari dekat, buku ini mengedepankan inklusivitas dan keseimbangan dalam menyampaikan materi budaya yang kompleks.
Tidak berlebihan bila dikatakan, Balinese Dance, Drama & Music patut menjadi bacaan wajib tidak hanya bagi peneliti atau pengamat seni, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin merasakan denyut nadi Bali dari dalam. Buku ini adalah pengingat bahwa di balik setiap tabuh gamelan, gerak tari, dan kisah wayang, terdapat lapisan-lapisan makna yang membentuk identitas kultural yang kaya dan tak ternilai. Membacanya berarti ikut menjaga warisan budaya yang terus hidup dalam harmoni tradisi dan zaman. Buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan dengan nomor panggil: 791.095 986 IWA b.[]

