MODEL LITERASI INFORMASI (Oleh: Emi Tri Mulyani, S.Sos)

 

Abstrak

Perkembangan teknologi terus melaju untuk berevolusi, produk teknologi yang ada pada suatu masa akan dianggap biasa bahkan tertinggal. Perubahan zaman yang sedemikian dinamis dan sangat cepat hanya bisa diikuti perkembangannya dengan penguasaan literasi informasi yang didukung oleh teknologi literasi informasi. Dengan demikian urgensi pembekalan kemampuan literasi informasi dilingkungan  pendidikan utamanya perguruan tinggi menjadi tidak bisa ditunda lagi sebagai bekal kecakapan hidup bagi mahasiswa.

Teknologi informasi dapat berupa software pendukung dalam proses berliterasi mahasiswa, salah satunya yaitu sofware yang penerapan model Mc Kenzie. software ini dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengguna khususnya pelajar atau mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Dengan adanya software ini, mahasiswa dalam penyelesaian tugas mereka dapat dibantu dengan memungkinkan membuat pertanyaan, membantu membuat strategi penyelesaian, membuat pertimbangan menentukan sumber terpercaya, mensistematiskan proses pekerjaan, mengevaluasi tugas yang telah dibuat dan melakukan pelaporan tugas dengan baik.

Selain itu dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie tidak lepas dari peran seorang pustakawan. Adapun peran pustakawan dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie adalah sebagai pendamping dalam pelaksanaan,  pengawas dan koordinator pelaksanaan progam ini.

Dewasa ini berbagai lembaga pendidikan mulai  dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan  pendidikan tinggi ada yang mulai, sedang, dan  telah membangun program literasi informasi. Penguasaan  literasi informasi dipandang sangat penting  dalam proses pembelajaran sehingga menjadi  bagian dari program pendidikan. Dalam lingkup yang lebih luas, bahwa program literasi  informasi sebenarnya adalah program  pemberdayaan masyarakat khususnya dalam bidang informasi.

Literasi informasi berhubungan erat dengan  tugas pokok pelayanan perpustakaan. Dalam perkembangannya, para pustakawan terutama pustakawan pada perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi, umumnya memandang keterampilan yang hendak dikembangkan dalam program literasi informasi adalah berupa keterampilan yang tidak mengundang permasalahan (non-problematis). Artinya, bahwa kemampuan seseorang untuk mencari dan menemukan informasi adalah berupa serangkaian keterampilan yang dipindahkan dari pustakawan kepada pengguna untuk tujuan memudahkan pelayanan dan agar tidak merepotkan pustakawan.

Keberadaan model memungkinkan untuk mengidentifikasi berbagai komponen serta menunjukkan hubungan antar komponen. Juga model dapat digunakan untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan literasi informasi. Dari situ kita dapat memusatkan pada bagian tertentu ataupun keseluruhan model. Model literasi informasi ada berbagai jenis, seperti The Big 6, Empowering 8, Seven Pillars dan lain-lain. Yang akan kami bahas adalah Research Cycle Model dari Mc Kenzie.

  • Literasi Informasi

Literasi informasi sering disebut juga dengan keberaksaraan infromasi atau kemelekan informasi. Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, literasi infromasi sering dikaitkan dengan kemampuan mengakses dan memanfaatkan secara benar informasi yang tersedia.

Pengertian literasi informasi yang sering dikutip adalah pengertian literasi informasi dari American Library Association (ALA) : “Serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk mengenali kapan informasi dibutuhkan dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif”.

Beberapa ahli juga mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian literasi informasi. Doyle (1992) mengemukakan literasi informasi adalah “Kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dari berbagai sumber”. Selanjutnya Boe Khorst juga mengemukakan pengertian literasi informasi yaitu “Kompetensi mengenali kebutuhan informasi, menemukan, mengevaluasi, menggunakan dan menyebarluaskan informasi untuk memperolah dan menambah pengetahuan baru”.

Adapun pengertian literasi informasi menurut Endang Fatmawati(2010:23) yaitu:

“Sebuah pemahaman dari seperangakat atau serangkaian kemampuan/keterampilan yang dimiliki dan memungkinkan untuk mendapatkan jalan keluar/solusi untuk memecah suatu masalah”.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa literasi informasi adalah sebuah usaha untuk mendapatkan “kompetensi” guna memecahkan sebuah masalah. Kompetensi merupakan perpaduan antara pengetahuan, kemampuan, dan tingkahlaku. Kompetensi tersebut diperlukan proses latihan yang terintegrasi dan berkesinambungan. Dengan kemampuannya menjadi konsultan dan pengajar dan didukung oleh pemangku kebujakan, pustakawan mendapatkan pesan aktif sebagai agent literasi informasi.

Keterampilan dalam  literasi ini mencakup kemampuan dalam mengidentivikasikan masalah; mencari dan menemukan informasi; mensintesiskan informasi; menyusun, mengorganisir, dan menciptakan temuan; mengetahui kapan informasi itu dibutuhkan; mengatur; menyortir dan mengkomunikasikan temuan informasi kepada orang lain; mengevaluasi hasil jawaban; menggunakan/memanfaatkan informasi; serta menarik pelajaran dari proses pencarian informasi yang dibutuhkan itu untuk menyeleksi, mengambil keputusan, dan mencari jalan keluar dari suatu masalah.

Perpustakaan dan literasi informasi merupakan dua hal yang saling berhubungan, perpustakaan tanpa bahan pustaka dan pustakawan yang memadai tidak akan membantu proses literasi informasi, perpustakaan harus memfasilitasi pengguna dengan teknologi dan informasi yang mendukung, sehingga membawa dampak positif dan meningkatkan kualitas melek informasi yang dimiliki masyarakat.

Kenapa literasi informasi itu penting?

Kemampuan literasi informasi sangat penting dikarenakan kemajuan teknologi yang semakin berkembang. Ledakan informasi yang menyebabkan masyarakat harus memerlukan keahlian ini. Karena miliaran informasi yang tersedia yang membuat para pencari informasi kebingungan untuk mendapatkan informasi yang relevan oleh karena itu harus memiliki kemampuan mengelola informasi.

            Melalui pengajaran literasi informasi, masyarakat akan di ajarkan pada sebuah metode untuk menelusuri informasi dari berbagai sumber informasi yang terus berkembang. Maka, literasi dapat membantu masyarakat luas untuk menemukan informasi yang dibutuhkan secara cepat, mudah dan relevan tentunya. Masyarakat dapat memilih dan membedakan informasi mana saja yang sekiranya baik digunakan dan tidak. Selain itu, literasi informasi dapat menambah pengetahuan masyarakat akan informasi yang sedang berkembang saat ini.

            Bagaimana urgensi pustakawan dalam literasi informasi?

            Urgensi pustakawan dalam literasi yang pertama adalah menjadi pustakawan yang melek informasi. Karena pada dasarnya implementasi dari melek informasi adalah karakteristik seorang pustakawan, jadi seorang pustakawan harus melek informasi. Paham literasi informasi dan identifikasi kemampuan dari literasi informasi yang belum terasah. Selagi mengasah kemampuan, dapat dicoba untuk memulai program literasi informasi bagi pemustaka. Seperti misalnya :

  1. Melayani layanan rujukan
  2. Menolong pemustaka yang kelihatan bingung
  3. Menjelaskan tentang perpustakaan kepada pemustaka tamu
  4. Diskusi internal atau pribadi dengan rekan
  5. Bincang santai dengan mahasiswa magang yang ada di perpustakaan (bila ada)

Hal-hal seperti tersebut diatas dapat digunakan untuk membagikan tentang literasi informasi. Apabila pustakawan akan memulai suatu program literasi yang serius dalam perpustakaan, berikut beberapa langkah sederhana untuk memulai program tersebut :

  1. Evaluasi profil kebutuhan informasi pemustaka

      Apa masalah yang sedang mereka hadapi? Apa kebutuhan informasi yang sedang mereka cari? Lakukan observasi, kumpulkan data, analisis dan buatlah profil kebutuhan informasi dari pemustaka.

  1. Observasi kesempatan, fasilitas, dan wewenang

      Perhatikan apa saja yang dimiliki perpustakaan, entah dari sarana dan prasarananya, SDM, sumber informasi, alat, kesempatan, relasi, serta wewenang untuk membuat program literasi informasi. Analisis segala kemungkinan yang ada bersumber dari evaluasi profil pemustaka tadi.

  1. Tentukan target : kelompok, kebutuhan informasi dan bentuk program

      Dari sekian banyak jenis kebutuhan informasi pemustaka, tentukan mana yang paling mungkin untuk dilaksanakan. Pilihan model informasi yang paling dipahami sangat berpengaruh terhadap berlangsungnya kegiatan perpustakaan. Dalam menentukan model literasi informasi harus memperhatikan : materi yang diberikan, kemampuan yang dituju dan bentuk penyampaian serta bentuk program.

  1. Merancang : studi banding dan draft proposal program

      Lakukan studi banding melalui website perpustakaan-perpustakaan yang ada di dunia. Konsultasikan dengan orang yang pernah melakukan program tersebut. Buatlah proposal program yang berisi latar belakang, tujuan, target, materi, bentuk program, kebutuhan yang diperlukan, SDM dan hal lainnya yang menjelaskan tentang program.

  1. Laksanakan dan lakukan evaluasi

      Sangat menjadi kebangga tersendiri memiliki kesempatan menjalankan program literasi informasi sehingga dapat merasakan bagaimana mengajar dan memberdayakan orang lain. Berbagilah tentang pengetahuan literasi informasi dengan pemustaka melalui media internet juga. Gunakan situs perpustakaan, gubakan blog pribadi, facebook, twitter dan lain-lain yang dapat dijangkau oleh pemustaka.

  • Model Literasi Infomasi

Research Cycle Model (Mc Kenzie) Siklus penelitian dikembangkan oleh Jamie McKenzie pada tahun 1995. Penekanan diberikan untuk pengembangan awal pertanyaan untuk memperjelas dan membangun langkah-langkah berikutnya dalam proses penelitian Metode penelitian yang menekankan informasi pemecahan masalah dan posisi mahasiswa sebagai produsen informasi (versus konsumen informasi ). Siswa mengulang kembali tahapan dalam siklus penelitian karena mereka memperbaiki proses pengumpulan data. Siklus penelitian terdiri dari tujuh tahap :

  1. Tanya Jawab

        Siswa menjelaskan informasi yang diperlukan dan mengarah ke pertanyaan mengelaborasi.

  1. Perencanaan

        Siswa mengidentifikasi kemungkinan sumber-sumber informasi.

  1. Mengumpulkan

        Siswa mengumpulkan informasi terkait untuk dipertimbangkan.

  1. Sorting & memilah

        Macam mahasiswa dan menyaring dalam mencari informasi yang memberikan kontribusi untuk pemahaman.

  1. Sintesis

        Siswa mengatur dan menata kembali informasi dalam pencarian pola dan/atau gambaran yang lebih jelas.

  1. Mengevaluasi

        Siswa menentukan informasi apa yang mungkin hilang dan mengulangi tahap-tahap awal dari siklus penelitian untuk mencari yang lebih baik , informasi yang lebih jelas.

  1. Pelaporan

               Temuan laporan siswa atau rekomendasi.

        Sebagai lanskap informasi bergeser untuk menawarkan informasi yang jauh lebih dalam cara yang sering befuddling bahwa beberapa telah disebut “asap data” banyak sekolah belajar bahwa pendekatan tradisional untuk penelitian mahasiswa tidak memadai untuk memenuhi tujuan pembelajaran penting yang ditetapkan oleh sebagian besar negara atau pemerintah provinsi . Dengan ratusan komputer dan puluhan ruang kelas yang terhubung ke sumber daya yang luas elektronik informasi, sekolah yang mengakui pentingnya menciptakan kembali cara mereka melibatkan para siswa di kedua pertanyaan dan penelitian.

        Dalam rangka mendukung adopsi berbasis luas dari strategi pertanyaan dan penelitian yang efektif, tim kabupaten yang terdiri dari guru, pustakawan guru dan administrator harus melakukan pencarian untuk model penelitian yang efektif . Tim ini mungkin membandingkan dan kontras fitur dan sifat-sifat dari setengah lusin model untuk menetap pada satu yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi kabupaten . Dalam beberapa kasus, mereka dapat membangun model mereka sendiri, sintesis fitur terbaik dari masing-masing model ulasan .

        Setelah kabupaten mengidentifikasi model yang tampaknya kompatibel dan menarik, semua guru memberikan dukungan pengembangan profesional substansial untuk mempelajari fitur model yang berkaitan dengan tugas pokok mereka sendiri . Pengembangan profesional tersebut harus mencakup peluang besar bagi mahasiswa untuk menggunakan model penelitian untuk mengeksplorasi pertanyaan dewasa penting yang diambil dari kehidupan mereka sendiri atau mata kuliah mereka. Untuk mengembangkan tingkat yang nyaman kompetensi dengan model seperti (pengalaman sebelumnya terbatas diberikan paling guru dengan jenis penelitian) biasanya membutuhkan 12-30 jam waktu pengembangan profesional.

Pilihan Model

Ada beberapa ulasan yang sangat baik saat ini tersedia bagi mereka yang ingin memulai pencarian tersebut. Salah satunya adalah dengan David Loertscher , Taksonomi dari Program Media Perpustakaan Sekolah , 2nd Edition (Hi Willow Penelitian & Publishing , 2000). Tujuan bab ini adalah untuk menyajikan Siklus Penelitian dengan cara yang ramah ringkas dan pengguna. Karena pekerjaan yang baik seperti telah dilakukan oleh orang-orang membandingkan dan mengkontraskan model lain, saya tidak akan menduplikasi usaha mereka di sini, selain untuk menyebutkan kedekatan khusus dengan dua model: INFOZONE dan The Organized Investigator (Circular Model) karena mereka menawarkan banyak penekanan yang sama pada pertanyaan, eksplorasi, sintesis dan bertanya-tanya yang dimaksudkan oleh Research Cycle.

Seperti yang akan ditampilkan dalam jauh lebih detail dalam bab-bab berikutnya, ketika siswa mengeksplorasi pertanyaan yang benar-benar menuntut, mereka jarang tahu apa yang mereka tidak tahu kapan mereka pertama kali merencanakan penyelidikan mereka. Mereka juga cenderung untuk melompat tepat ke pertemuan tanpa hati-hati memetakan banyak pertanyaan mereka harus memeriksa dalam pencarian mereka untuk pengetahuan dan pemahaman.

        Penelitian Siklus berbeda dari beberapa model dalam fokus yang sangat kuat pada pertanyaan penting dan pertanyaan anak di awal proses. Hal ini juga menolak penelitian topikal sebagai sedikit lebih dari pengumpulan informasi tidak layak waktu siswa. Beberapa model lain yang juga mudah dikonversi menjadi belanja perjalanan sederhana. Siswa berangkat dengan keranjang dan menikmati pesta informasi, meraup segala sesuatu yang mereka dapat menemukan tentang negara, provinsi, negara asing, orang terkenal, pertempuran, masalah ilmiah atau barang sudah nyaman tersedia dalam bentuk kemas dalam beberapa ensiklopedia atau buku yang ditujukan untuk subjek. Jenis penelitian sekolah menempatkan siswa dalam peran konsumen informasi dan menuntut sedikit pemikiran, imajinasi atau keterampilan.

        Berikut adalah bentuk diagram research cycle:

        Analisis potensi implementasi Model Literasi Informasi jika diterapkan di Indonesia terkhususnya bagi para mahasiswa :

  1. Kelebihan Implementasi Model Literasi Informasi ( Mc Kenzie) :
  1. Mempermudah mahasiswa dalam menyelesaikan tugas dengan membuat beberapa pertanyaan yang dapat menggeneralisasikan permasalahan.
  2. Mahaiswa dapat berfikir dengan strategi dan cara yang tepat untuk menemukan informasi terkait dan terpercaya untuk membantu mereka dalam mengkonsepkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sebelumnya.
  3. Membantu mahasiswa  dalam menentukan sumber-sumber informasi yang jelas dan terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.
  4. Membantu mahasiswa dalam menyelesaikan tugas mereka dengan cara penyeleasian yang sistematis/terstruktur.
  5. Pada tahap ini mahasiswa sebelum menyerahkan tugasnya pada dosen, akan melakukan proses evaluasi pada hasil pekerjaannya.
  6. Pelaporan, dalam tahap ini perangkat lunak berperan penting untuk mendukung lancarnya presentasi yang dilakukan. Jadi, lebih mudah untuk siswa apabila presentasi dibantu dengan software.
  1. Kekurangan Implementasi Literasi Informasi jika diterapkan di Indonesia :
  2. Belum lengkapnya fasilitas pendukung yang memadahi dalam proses kegiatannya.
  3. Keterbatasan teknologi berupa software pendukung pelaksanaan model literasi informasi dari Mc Kenzie.
  4. Kurangnya tenaga pustakawan pendamping dalam pelaksanaan proses kegiatan pencarian melalui software yang tersedia di perpustakaan.
  5. Kurangnya antusias mahasiswa dalam proses pelaksanaan penelitian model literasi informasi Mc Kenzie.
  6. Keadaan geografis Indonesia kurang mendukung pelaksanaan kegiatan model literasi Mc Kenzie.
  7. Keterbatasan dana untuk pengadaan software Mc Kenzie.

Perkembangan teknologi terus melaju untuk berevolusi, produk teknologi yang ada pada suatu masa akan dianggap biasa bahkan tertinggal. Perubahan zaman yang sedemikian dinamis dan sangat cepat hanya bisa diikuti perkembangannya dengan penguasaan literasi informasi yang didukung oleh teknologi literasi informasi. Dengan demikian urgensi pembekalan kemampuan literasi informasi dilingkungan  pendidikan utamanya perguruan tinggi menjadi tidak bisa ditunda lagi sebagai bekal kecakapan hidup bagi mahasiswa.

Teknologi informasi dapat berupa software pendukung dalam proses berliterasi mahasiswa, salah satunya yaitu sofware yang penerapan model Mc Kenzie. software ini dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengguna khususnya pelajar atau mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Dengan adanya software ini, mahasiswa dalam penyelesaian tugas mereka dapat dibantu dengan memungkinkan membuat pertanyaan, membantu membuat strategi penyelesaian, membuat pertimbangan menentukan sumber terpercaya, mensistematiskan proses pekerjaan, mengevaluasi tugas yang telah dibuat dan melakukan pelaporan tugas dengan baik.

Selain itu dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie tidak lepas dari peran seorang pustakawan. Adapun peran pustakawan dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie adalah sebagai pendamping dalam pelaksanaan,  pengawas dan koordinator pelaksanaan progam ini.

DAFTAR PUSTAKA

Amsyah, Zulkifli, 1997. Manajemen Sistem Informasi, Jakarta : Gramedia Pustaka

                  Utama

Latuputty, Hanna & Proboyekti, Umi. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Peran Pustakawan dalam Mengembangkan Literasi Informasi pada Era Globalisasi. Yogyakarta: UAJY, 12 Pebruari 2008.

Pendit, Putu Laxman 2008, Perpustakaan Digital Perguruan Tinggi : Tantangan Peningkatan Kualitas Jasa, Dalam http//eprints.undip.ac.id/5367/2/makalah pak putu.pdf.diakses tanggal 02 November 2011 pukul 08.29 WIB

———-, 2008 Perpustakaan Digital dari A sampai Z, Jakarta : Citra Karya Karsa

                   Mandiri

Sudarsono, Blasius et al. (2007; 2009), Literasi informasi (information literacy): pengantar untuk  perpustakaan sekolah. Jakarta: Perpustakaan Nasional.

(upload by R.Lalan Fuandara)

KOMUNIKASI YANG TERJADI DI PERPUSTAKAAN JURUSAN TARI ISI SURAKARTA (Oleh Emi Tri Mulyani, S.sos)

Kantor lembaga maupun organisasi pada dasarnya adalah sebagai kumpulan orang-orang yang membutuhkan saling berhubungan, berinteraksi dan bekerja sama melaksanakan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Seperti organisasi lainnya, perpustakaan juga mempekerjakan orang-orang yang berbeda watak, kebiasaan dan budayanya yang dalam satu kondisi tertentu mau tidak mau harus saling berinteraksi, berkomunikasi agar terjalin suatu keharmonisan hubungan baik secara internal maupun eksternal. Jadi, komunikasi sudah menjadi sebagian besar kegiatan kita sehari-hari, mulai komunikasi antar teman/pribadi, kelompok, organisasi atau massa. Secara ideal, komunikasi bertujuan untuk menghasilkan kesepakatan bersama terhadap ideal atau pesan yang disampaikan.

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media tertentu untuk menghasilkan efek atau tujuan dengan mengharapkan feedback atau umpan balik. Peran komunikasi sangat penting di lingkungan masyarakat, begitu pula peran komunikasi di perpustakaan. Jika komunikasi tidak terjalin maka akan dengan mudah terjadinya missunderstanding. Komunikasi sangatlah penting bagi karir seorang pustakawan, karena komunikasi adalah salah satu unsur apakah pustakawan tersebut profesinal atau tidak. Dalam konteks perpustakaan, komunikasi adalah suatu hal yang tak terbantahkan, karena perpustakaan berhubungan dengan informasi yang akan digunakan oleh pemustaka untuk kepentingan-kepentingan yang terkait dengan perannya sebagai makhluk sosial. Informasi yang disampaikan terkait dengan perpustakaan tentu membutuhkan komunikasi yang efektif agar setiap informasi yang ada maupun yang dibutuhkan di perpustakaan dapat tersampaikan dan dapat diterima dengan baik.

Di sinilah letak urgensi komunikasi sebagai penghubung antara pustakawan dengan pemustaka untuk membangun relasi ideal yang nantinya menghapus jurang pemisah (seperti yang masih sering terjadi sampai saat ini) antara pustakawan dengan pemustaka. Bagaimanapun juga, peran pustakawan dalam menyampaikan setiap informasi yang ada dan yang dibutuhkan pemustaka sangatlah signifikan. Relasi yang ideal inilah yang diharapkan nantinya dapat menjembatani pesan, informasi, atau kehendak pemustaka dalam pemanfaatan perpustakaan dan pustakawan.

Macam bentuk komunikasi yang terdapat di perpustakaan:

1). Komunikasi Intrapersonal: merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan.

 2). Komunikasi Interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal.” (Mulyana, 2005:73)

3). Komunikasi Massa: adalah komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang  mass mediated.

 4). Komunikasi Publik adalah komunikasi antara seorang pembicara dengan sejumlah besar orang (khalayak), yang tidak bisa dikenali satu persatu. Komunikasi demikian sering juga disebut pidato, ceramah, atau kuliah (umum).

5). Komunikasi Kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu  kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984).

6). Komunikasi Organisasi adalah pengiriman (sending) dan penerimaan (receiving) berbagai pesan organisasi di dalam kelompok di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi

Perpustakaan Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Surakarta selalu ingin memuaskan pemustaka dengan meningkatkan kualitas kinerja pustakawannya yaitu salah satunya melalui kemampuan pustakawan dalam berkomunikasi dengan pemustaka. Di Perpustakaan Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Surakarta antara pustakawan dengan pemustaka sudah pasti terjadi komunikasi, seperti pada saat pemustaka melakukan transaksi peminjaman dan pengembalian buku, pemustaka meminta password untuk hot-spot, di ruang referensi dan masih banyak lagi kegiatan komunikasi yang terjadi. Dari pengamatan yang saya lakukan di lemabaga tempat saya bekerja, terdapat beberapa bentuk komunikasi. Berikut merupakan bentuk komunikasi informasi yang ada di Perpustakaan Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Surakarta : 1.) Komunikasi Intrapersonal, 2.) Komunikasi Interpersonal, 3.) Komunikasi Massa, 4.) Komunikasi Publik, 5.) Komunikasi Organisasi.

Pada intinya komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan) melalui media tertentu untuk menghasilkan efek atau tujuan dengan mengharapkan feedback atau umpan balik. Pada hakikatnya manusia memang tidak dapat untuk tidak berkomunikasi (komunikasi tak terhindarkan). Macam-macam bentuk komunikasi ada 6, yaitu: komunikaasi intrapersonal, interpersonal, komunikasi massa, komunikasi publik, komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi. Sedangkan contoh komunikasi yang dapat saya temui pada Perpustakaan Jurusan Tari ISI adalah komunikasi Intrapersonal, Interpersonal, Massa, Publik dan komunikasi Organisasi.

Dampak Komunikasi di dalam perpustakaan bagi pemustaka

Keberadaan perpustakaan pada institusi pendidikan sangat penting bagi kemajuan dan perkembangan institusi tersebut, karena perpustakaan merupakan salah satu penyedia informasi yang sering dibutuhkan untuk pendidikan dan penelitian. Perpustakaan merupakan unit informasi yang di dalamnya terdapat berbagai unsur atau aspek yang mendukung kemajuan perpustakaan seperti ruangan atau gedung, koleksi atau bahan pustaka, perlengkapan, peralatan, sumber daya manusia (SDM). Sumber daya manusia mencangkup seluruh manusia yang ada di dalam organisasi yaitu mereka yang secara keseluruhan terlibat dalam kegiatan organisasi. Dari level yang paling tinggi sampai level yang paling bawah. Meskipun berbeda tingkatan, namun sumber daya manusia memiliki peran yang sama bagi tercapainya tujuan organisasi, sama halnya dengan perpustakaan.

Dampak komunikasi yang terjadi dalam perpustakaan dapat mempengaruhi pemustaka untuk menambah minat baca serta meningkatkan motivasi pemustaka untuk membaca serta mencari informasi. Gaya komunikasi pustakawan yang paling banyak dipersepsikan pengguna yang dapat membantu penelusuran informasi di perpustakaan adalah gaya komunikasi pustakawan yang ramah/akrab. Sarannya adalah pustakawan hendaknya lebih memfokuskan penerapan gaya komunikasi yang diinginkan pengguna untuk membantu penelusuran informasi di perpustakaan. Tujuan penting dari perpustakaan yaitu untuk memberi kepuasan kepada pemustaka terhadap pelayanan yang terdapat di perpustakaan. Selengkap mungkin fasilitas dan koleksi di perpustakaan, jika dalam penyampaiannya kepada pemustaka tidak berjalan lancar, maka akan percuma saja. Untuk itu perpustakaan harus selalu memberikan dan meningkatkan pelayanan yang baik dan memberikan kenyamanan bagi pemustaka. Semua itu dapat terwujud jika semua aspek yang ada di perpustakaan saling mendukung dan berjalan selaras, serasi dan seimbang. Peran komunikasi dalam suatu perpustakaan merupakan hal yang sangat penting karena hampir semua bentuk dan hasil kegiatan perpustakaan ditujukan untuk dikomunikasikan ke masyarakat. Dengan komunikasi yang baik di perpustakaan sangat berpengaruh terhadap kepuasan dari pemustaka.

Daftar Pustaka

Anggadwipuspa, Nova. 2010. “Pengaruh Komunikasi Efektif terhadap Kinerja Pustakawan Di Perputakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta”. (Skripsi). Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Handayani, Rini. 2002. “Kepuasan Pemakai Terhadap Pelayanan Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta”. (Skripsi). Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sutardji dan Maulidyah, S.I. 2006. Analisis beberapa faktor yang berpengaruh pada kepuasan pengguna perpustakaan: studi kasus di perpustakaan Balai Penelitian Tanam Kacang- Kacangan dan Umbi-Umbian. Jurnal Perpustakaan Pertanian, Vol. 15, Nomor 2. hal. 32-37.

(upload by R.Lalan Fuandara)

MENGGAIRAHKAN MINAT BACA DI ERA KEMERDEKAAN (Oleh : Wahyu Karminah)

                Bangsa Indonesia telah meraih kemenangan melawan penjajah selama tujuhpuluh tahun. Dalam mengisi kemerdekaan ini, diperlukan generasi cerdas dan tangguh dalam mengemudikan kendali pemerintahan. Untuk menjadi generasi yang sesuai harapan bangsa, diperlukan mental yang terdidik dengan baik. Apalagi di era pemerintahan Jokowi sekarang ini, slogan revolusi mental kerap didengungkan. Dengan revolusi mental diharapkan bisa membawa Indonesia kearah yang lebih baik. Negeri Indonesia semakin makmur dan praktik korupsi dapat dikikis habis.

            Gerakan revolusi mental diupayakan bergulir seperti bola salju. Perubahan mental tidak bisa lepas dari budaya baca. Dengan menciptakan budaya baca di lingkungan generasi bangsa, diharapkan akan lahir masyarakat cerdas yang berkualitas dan mampu mengendalikan bangsa ini dengan baik. Namun sayang sekali, budaya gemar membaca masih  terasa asing di lingkungan kita. Bagi sebagian orang, membaca adalah hal yang sangat menyenangkan. Sementara bagi pihak lain, membaca adalah hal yang sangat membosankan. Membaca dianggap kegiatan yang menjenuhkan. Kegiatan bergosip, menonton televisi atau berkumpul dengan teman sebaya dianggap lebih asyik daripada membaca buku.

            Kita bisa berkaca dari keberhasilan bangsa Jepang dalam membudayakan minat baca bagi masyarakatnya. Orang Jepang terkenal cintanya terhadap buku,sehingga di banyak tempat sering ditemukan masyarakatnya membaca buku. Cintanya mereka terhadap buku sudah tidak bisa dikatakan gemar lagi, tapi membaca buku sudah jadi budaya mayarakat Jepang. Masyarakat Jepang terbiasa membaca buku karena dibiasakan membaca buku. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Itulah salah satu kunci mengapa orang Jepang mudah meraih sukses.  Jika masyarakat Jepang bisa selangkah lebih maju dalam budaya baca, bagaimana bangsa  Indonesia menyikapi dan mengejar ketinggalan ini.

            Upaya menggairahkan budaya baca sudah sering dilakukan oleh berbagai pihak. Pemerintah, pendidik/guru, pustakawan, penulis dan orang tua sering dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab secara aktif dalam menumbuhkan minat baca di tanah air. Salah satu elemen penting dalam meningkatkan minat baca adalah pemerintah. Pemerintah dalam hal ini sebagai penentu kebijakan utama dalam mengokohkan tanggung jawabnya terhadap Undang-undang dasar 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui minat baca masyarakat. Bicara tentang budaya baca tidak bisa terpisahkan dengan perpustakaan. Keberadaan perpustakaan merupakan salah satu kebijakan pemerintah dalam mendorong masyarakat untuk dapat meningkatkan minat baca. Banyak masyarakat yang kurang sadar akan pentingnya perpustakaan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 menunjukan, bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama dalam mendapatkan informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan / atau mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%). (sumber:www.bps.go.id). Rendahnya minat baca dapat berdampak buruk pada kualitas pendidikan. Rendahnya pendidikan berimplikasi pada kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola masa depan. Rendahnya kualitas sumber daya manusia dapat memperpanjang angka kemiskinan. Sumber daya manusia yang berkualitas rendah juga akan memudahkan bangsa lain untuk kembali menjajah bangsa kita. Suatu hal yang patut kita renungkan. 

            Dalam UU no.43 tahun 2007 disebutkan tentang peran dan fungsi perpustakaan. Pemerintah telah menyediakan beragam jenis perpustakaan, akan tetapi minat baca masyarakat ternyata masih rendah. Pergeseran informasi dan budaya, telah menjadikan masyarakat cenderung bersifat konsumtif dan serba glamour. Lihat saja anak muda sekarang. Lebih suka berkunjung ke pusat perbelanjaan / mall daripada mengunjungi perpustakaan.  Melihat fenomena tersebut, perpustakaan perlu mengambil peran aktif agar masyarakat mau melirik dan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang disediakan perpustakaan. Selama ini persepsi masyarakat terhadap citra perpustakaan masih rendah. Sebagian menganggap bahwa perpustakaan hanya sebagai gudang buku yang kuno dan membosankan. Tentu saja anggapan keliru tesebut harus diluruskan.

Era digital telah merambah segi kehidupan, termasuk dalam lingkup perpustakaan. Jika dulu perpustakaan terkesan sebagai tempat yang kurang menarik, tidaklah demikian dengan keberadaan perpustakaan modern saat ini. Banyak perpustakaan yang berbenah dengan memoles tata ruang dan desain mereka secara modern. Bangunan yang megah, koleksi yang lengkap baik manual maupun digital dan desain yang menarik telah disediakan perpustakaan untuk melayani masyarakat. Perpustakaan bukan sekedar tempat monoton untuk meminjam dan mengembalikan buku saja, perpustakaan dapat dijadikan ajang wahana bertukar informasi dan berdiskusi. Bahkan ada perpustakaan yang menyediakan layanan rekreatif dimana pengunjung perpustakaan dimanjakan dengan koleksi hiburan menarik seperti novel, koleksi musik, tari dan koleksi hiburan lainnya. Di sinilah peran  perpustakaan dan pustakawan untuk wajib mempromosikan secara gencar kepada masyarakat agar mereka lebih tahu dan lebih dekat dengan ketersediaan beragam sumber informasi yang dimilikinya. Pustakawan harus dapat berperan menciptakan inovasi dan strategi baru sehingga masyarakat memiliki ketertarikan terhadap perpustakaan.

            Kegemaran membaca tidaklah terwujud secara instan. Selain kedekatan masyarakat dengan ketersediaan sumber informasi, pemerintah juga harus serius mengupayakan promosi gemar membaca dan memanfaatkan perpustakaan. Jika selama ini pemerintah gencar mempromosikan pariwisata maka diharapkan pemerintah juga mengupayakan promosi budaya gemar membaca dengan lebih giat lagi. Sudah sepatutnya pemerintah menggalakkan fungsi perpustakaan. Pemerintah harus mampu mengambil inisiatif yang positif, bagi ketersediaan buku bermutu dengan harga terjangkau. Misalnya saja dengan memanfaatkan iklan di televisi tentang pentingnya budaya baca  di kalangan masyarakat. Pemerintah harus mampu mengambil inisiatif yang positif, bagi ketersediaan buku bermutu dengan harga terjangkau. Hal ini mencakup pula kewajiban pemerintah untuk mengambil inisiatif terhadap kemungkinan terjadinya kevakuman ketersediaan buku, akibat liberalisasi pasar maupun sebab lain diluar kendali pemerintah.

            Lembaga pendidikan dan tenaga pendidik juga harus berperan aktif dalam menumbuhkan minat baca bagi kalangan pendidiknya. Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu mendorong anak didik untuk menumbuhkan minat baca. Proses pembelajaran di sekolah harus dapat mengarahkan kepada peserta didik untuk rajin membaca buku dengan memanfaatkan literature yang ada di perpustakaan atau sumber lainnya. Guru harus dapat memotivasi anak didik untuk lebih meningkatkan pengetahuan dengan membaca. Tidak dapat dipungkiri, banyak sekali manfaat membaca yang siswa peroleh. Dengan membaca siswa dapat merasakan perjuangan bung Karno, Bung Hatta dan pahawan yang lain. Kepahlawanan mereka akan dapat dirasakan oleh  siswa dengan membaca rekam jejak pejuang kemerdekaan yang telah dilakukan  dalam meraih kemerdekaan bangsa. Membaca tidak harus dibatasi pada bidang ilmu yang diajarkan. Penyediaan bacaan yang dapat menunjang ilmu akan sangat bermanfaat bagi keberlanjutan siswa dalam mengembangkan kemampuan dan kecerdasan mereka. Peran perpustakaan sekolah perlu lebih ditingkatkan.

             Tidak diabaikan pula, peran orang tua sangat penting dalam memacu kreativitas anak dalam meningkat minat baca. Cinta buku dapat dimulai dari pangkuan ibu dengan mendidik dan mengajarkan tentang kebiasaan membaca sejak dini. Peran orang tua dalam membimbing anak-anak untuk membangun minat baca sangat dibutuhkan. Peran penerbit buku juga dibutuhkan untuk menyediakan buku yang berkualitas dan juga menarik untuk dikonsumsi masyarakat. Anak-anak lebih menyukai bahan bacaan yang berwarna dan bergambar menarik. Ketrampilan membaca akan tumbuh dengan sendirinya apabila sejak kecil anak dibiasakan untuk membaca. Dengan membaca, anak dapat memiliki pengetahuan yang luas. Dengan menanamkan kegemaran cinta membaca, diharapkan  akan tumbuh generasi bangsa yang santun, berakhlak luhur dan mampu mengatasi persoalan bangsa. Keberhasilan tersebut akan dapat tercapai apabila beragam pihak saling bergandengan tangan untuk lebih  mensukseskannya. Semogaa…

 (upload by R.Lalan Fuandara)

MEMBANGUN CITRA POSITIF PERPUSTAKAAN Oleh : Wahyu Kaminah S.Sos

Di era modern ini, ada beragam pilihan perpustakaan yang dapat dinikmati oleh pemustaka. Baik Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Umum, Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakaan Khusus dan Perpustakaan Sekolah. Sebuah organisasi atau lembaga dikatakan berhasil apabila kualitas layanan yang diberikan telah memperoleh pengakuan dari pemakai yang dilayaninya. Kualitas tersebut dapat dicapai oleh perpustakaan dengan memaksimalkan kinerja dan prestasi yang dimilikinya.

Citra dan identitas perpustakaan

Perpustakaan perlu berupaya keras agar eksistensinya diakui oleh masyarakat. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangun citra agar perpustakaan mendapat perhatian dan apresiasi positif dari pemustaka. Misalnya pembuatan logo yang menarik, baik berupa gambar ataupun tulisan. Pembuatan slogan atau motto perpustakaan dengan kalimat yang menarik sehingga mudah diingat pemustaka juga perlu dirancang agar menumbuhkan citra positif  perpustakaan.

Citra dapat juga dibentuk dengan cara lain misalnya dengan seragam khas petugas perpustakaan, model surat kas perpustakaan, pembuatan souvenir perpustakaan dan juga penataan desain fisik perpustakaan. Jika memiliki dana besar, perpustakaan dapat membangun gedung yang unik, mewah dan elegan sebagai cara untuk menumbuhkan citra positif dan ketertarikan masyarakat pada perpustakaan.

 Membangun citra perpustakaan

Setiap perpustakaan memiliki citra yang disadari atau tidak telah melekat pada perpustakaan tersebut. Citra perpustakaan merupakan keseluruhan kesan yang terbentuk di benak masyarakat. Persepsi pemustaka terhadap perpustakaan dapat dirasakan dari adanya pengalaman, kepercayaan dan pengetahuan pemustaka terhadap layanan yang diberikan perpustakaan. Dengan demikian citra merupakan aset penting pada perpustakaan yang selayaknya terus menerus dibangun dan dipelihara. Citra yang baik merupakan perangkat kuat, bukan hanya untuk menarik pemustaka yang tidak tahu tentang keberadaan perpustakaan, tetapi juga dapat memperbaiki sikap dan kepuasan pada pemustaka.  Citra perpustakaan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibangun dan dibentuk, dari upaya komunikasi dan keterbukaan perpustakaan dalam membangun citra positif yang diharapkan.

Secara umum, citra perpustakaan masih sangat rendah. Masyarakat pengguna perpustakaan atau pemustaka masih memandang sebelah mata tentang eksistensi perpustakaan. Hal ini dikarenakan masyarakat kurang mendekat atau kurang memahami peran dan fungsi perpustakaan.”Tak kenal maka tak sayang”. Perpustakaan harus membenahi diri, meningkatkan layanan, dan memberi  kesan positif. Citra baik perpustakaan akan dapat mempengaruhi peningkatan frekuensi kunjungan pemustaka,

Peran pustakawan

Pustakawan adalah garda depan gerbang informasi. Dalam memberikan pelayanan yang baik, pustakawan harus memiliki wawasan yang luas. Dasar-dasar ilmu informasi, harus dikuasai dengan baik. Ketrampilan menelusur informasi secara cepat dan tepat juga harus dimiliki oleh pustakawan sehingga jika ada pemustaka yang meminta bantuan untuk pencarian informasi, segera dapat ditangani dengan baik. Banyaknya informasi yang ada di perpustakaan, menuntut pustakawan untuk dapat mengelola, mengklasifikasi dan mendistribusikan informasi secara teliti dan akurat. Sistem klasifikasi dan pengaturan informasi yang baik, perlu dilakukan pustakawan agar memudahkan pemustaka dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Teknologi informasi yang berkembang, menuntut pustakawan agar lebih lihai untuk memanfaatkan arus balik informasi. Pustakawan tidak sekedar bisa mengetik komputer dan menelusur informasi saja, tetapi juga harus pandai mengendalikan sistem informasi yang serba digital agar lebih mudah diakses pemustaka.

          Komunikasi adalah akses agar pemustaka mau memanfaatkan layanan perpustakaan sesuai harapan mereka. Kemampuan berkomunikasi bagi pustakawan sangat diperlukan tidak saja meningkatkan mutu layanan perpustakaan tetapi juga untuk melakukan promosi perpustakaan sehingga citra perpustakaan terangkat dengan baik. Komunikasi bukan sekedar kemampuan ucap saja. Ada beberapa aspek nonverbal yang perlu dipertimbangkan misalnya kontak mata, senyuman, ,gerakan tubuh dan cara bersikap pustakawan. Pustakawan harus pandai bersikap, mendengarkan keluhan kebutuhan informasi pemakai, memberikan dan membantu pemustaka dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Sikap santun, cara bertutur yang baik, keramahan, memperlakukan pemustaka dengan baik dan senang hati merupakan bentuk citra yang perlu dilakukan seorang pustakawan.

          Ada beberapa ketrampilan yang harus dimiliki seorang yang berprofesi sebagai pustakawan, antara lain ;

  1. Pustakawan hendaknya berubah menyesuaikan keadaan yang menantang
  2. Pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pemakai. Seorang pustakawan harus ahli dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan.
  3. Seorang pustakawan harus berpikir positip.
  4. Pustakawan tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, akan tetapi harus memiliki nilai tambah, karena informasi terus berkembang
  5. Pustakawan sudah waktunya untuk berpikir kewirausahaan. Bagaimana mengemas informasi agar layak jual.
  6. Ledakan informasi yang pesat membuat pustakawan tidak lagi bekerja hanya antar sesama pustakaan, akan tetapi dituntut untuk bekerjasama dengan bidang profesi lain, dengan tim kerja yang solid dalam mengelola informasi.

Peran teknologi informasi

             Di era modern ini perpustakan harus pandai memoles diri. Jika dulu, penataan, pengelolaan dan penelusuran informasi dilakukan secara manual. Di era digital ini, perpustakaan mulai berbenah diri. Peran teknologi informasi tidak diragukan lagi. Perpustakaan modern menuntut semua system serna ‘computerized’. Sistem pelayanan yang terautomasi, penelusuran melalui OPAC, pengadaan dan pengklasifikasian yang menggunakan komputer dan internet, semakin memudahkan pustakawan dalam mengelola dan melayankan sumber informasi yang dimilikinya. Informasi terasa mudah di genggaman pemustaka.

Lahirnya perpustakaan digital memang disambut baik oleh pustakawan dan pemustaka. Kebanyakan pustakawan terbuka terhadap perubahan teknologi, tetapi juga masih mengingat fungsi tradisional  yaitu membantu mencari informasi, baik secara manual maupun digital. Dengan berbekal handpone atau laptop dari mana saja, pemustaka dapat mengakses sumber-sumber informasi yang dilayankan berbagai perpustakaan. Peran teknologi informasi dalam membangun sebuah citra perpustakaan, tidak disangsikan lagi. Justru di sinilah saatnya perpustakaan membuka diri kepada pemustaka dengan beragam kreasi dan inovasi. Membangun website yang menarik, menyediakan sarana komunikasi terbuka dengan pemustaka baik lewat facebook, twitter atau blog perpustakaan. Pemustaka dapat mengenali lebih jauh informasi apa saja yang ada di dalam sebuah perpustakaan. Kelengkapan koleksi, desain gedung, penataan ruang, kemudahan system pelayanan dan  juga hal yang terpenting adalah keramahan petugas yang berada di dalamnya.           Peran internet begitu ampuh memikat pemustaka. Kemampuan pemustaka dalam memanfaatkan akses online baik melalui website milik perpustakaan atau penyedia akses e-journal menunjukkan tingkat kemampuan mereka yang melek teknologi. Dengan kata lain pemustaka membutuhkan perpustakaan dengan kelengkapan wifinya untuk memenuhi kebutuhan akses informasi. Ada beberapa keunggulan perpustakaan digital antara lain akses yang mudah, murah, pemeliharaan koleksi secara digital, jawaban yang tuntas dan jaringan global.

Perlu strategi promosi perpustakaan

Pemustaka berhak tahu produk apa saja yang dihasilkan pustakawan. Layanan yang bagus dan bermutu, koleksi yang lengkap, keramahan pustakawan dalam memberikan pelayanan dan teknologi informasi yang memadai tidak akan berarti apa-apa jika tidak dikomunikasikan kepada pemustaka. Perpustakaan perlu menjajakan diri melalui promosi dan sosialisasi. Dengan promosi dan komunikasi yang tepat sasaran, citra positif perpustakaan akan semakin terangkat dan dikenal oleh masyarakat luas. Perpustakaan dapat mengadakan beberapa kegiatan terkait promosi. Antara lain dengan mengadakan pameran, user education, menyebarkan pamlet/ brosur dan  promosi melalui internet.

  • Pameran

Pameran tentang produk-produk perpustakaan dapat diadakan agar masyarakat mengetahui dan mengenal lebih detail apa saja yang dimiliki perpustakaan. Perpustakaan dapat menggelar bazar buku di perpustakaan dengan menggandeng penerbit-penerbit lokal yang berkualitas. Dengan pameran tersebut, diharapkan masyarakat lebih mengenal dan memanfaatkan jasa perpustakaan. Citra positif perpustakaan dapat tumbuh dengan kegiatan pameran.

  • User education

 User Education adalah program yang diselenggarakan oleh perpustakaan untuk memberikan bimbingan, petunjuk, maupun pendidikan kepada calon pemustaka atau pemustaka perpustakaan dalam kegiatan mereka untuk memanfaatkan jasa informasi serta sarana perpustakaan. Misalnya katalog, komputer, mikrofis, film mikro, maupun CDROM.

  • Pamlet/brosur

Banyak sekali informasi yang ada di perpustakaan perlu diketahui oleh pemustaka. Brosur bisa lebih banyak memberikan informasi mengenai kegiatan perpustakaan dan fasilitas yang dimilki. Bahkan dengan brosur dapat disebarluaskan informasi yang bersifat teknis, seperti bagaimana menggunakan katalog perpustakaan untuk mendapatkan buku tertentu di dalam koleksi. Agar brosur di perpustakaan efektif, ada beberapa informasi penting dan dapat dimasukkan ke dalam brosur antara lain petunjuk umum tentang perpustakaan, informasi mengenai koleksi perpustakaan, daftar bacaan yang menarik, petunjuk tentang subjek-subjek tertentu dan informasi tentang jenis layanan perpustakaan. Penyebaran brosur yang menarik baik dari desain, pilihan warna dan kalimat yang digunakan akan mengangkat citra positif perpustakaan.

  • Internet

            Perpustakaan dapat memanfaatkan internet untuk menumbuhkan citra di benak pemustaka. Pustakawan dapat menciptakan website tentang perpustakaan sehingga pemustaka dapat mengetahui beragam informasi yang ada di perpustakaan. Dengan demikian pemustaka  merasa diuntungkan karena dengan mengakses informasi darimana saja melalui internet, mereka dapat mengetahui layanan informasi, program kegiatan dan juga dapat menelusur informasi yang mereka butuhkan. Bahkan pustakawan dapat berkreasi dalam mengemas informasi yang ada di perpustakaan dan memasarkannya melalui beragam media sosial misalnya facebook, twitter atau blog yang digunakan staf pustakawan. Bahkan pemustaka dapat dilibatkan secara aktif melalui interaksi media sosial tersebut.

Daftar Pustaka

Kasali Rhenald,2003 Manajemen Public Relations, PT Pustaka Utama Grafiti, Cetakan keempat

Mustofa, Badollahi, 1996. Promosi Jasa Perpustakaan.Jakarta : Universitas Terbuka,Depdikbud

PR Smith,1993. Marketing Communications : an integrated approach.Britain : Kogan Page

Sulistyo-Basuki,1991 : Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

(upload by R.Lalan Fuandara)

PERAN BAURAN PROMOSI DI PERPUSTAKAAN Oleh : Wahyu Karminah S.Sos

Komunikasi dan Bauran Promosi

Komunikasi pada dasarnya dapat terjadi dalam berbagai konteks kehidupan. Komunikasi adalah prasyarat kehidupan manusia. Melalui komunikasi seseorang menyampaikan apa yang ada dalam benak pikirannya dan/atau perasaan hati nuraninya kepada orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung. Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin “communicatus” yang artinya “berbagi” atau “menjadi milik bersama. Dengan demikian, komunikasi berarti suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Pengertian lain, komunikasi adalah “suatu proses pertukaran informasi di antara individu melalui system lambang-lambang,tanda-tanda,atau tingkah laku.” ( Rochajat Harun dan Elvinaro Ardianto,2011:20-21)

Dalam proses pertukaran terjadi proses komunikasi baik langsung dan tidak langsung. Pada tingkat dasar, komunikasi dapat berusaha membujuk konsumen saat ini dan konsumen potensial agar berhasrat masuk ke dalam hubungan pertukaran. Komunikasi pemasaran merupakan usaha untuk menyampaikan pesan kepada public terutama konsumen sasaran mengenai keberadaan produk di pasar (Sutisna,2002:263-267). Sutisna (2002 :267) menyatakan bahwa konsep yang secara umum sering digunakan untuk menyampaikan pesan adalah apa yang disebut sebagai bauran promosi (promotional mix). Disebut bauran promosi karena biasanya pemasar sering menggunakan berbagai jenis promosi secara simultan dan terintegrasi dalam suatu rencana promosi produk. Terdapat 5 jenis promosi yang biasa disebut sebagai bauran promosi yaitu :

  1. iklan (advertising)
  2. penjualan tatap muka (personal selling),
  3. promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat
  4. publisitas (publicity and public relation)
  5. serta pemasaran langsung (direct marketing)

Bauran  Promosi  Perpustakaan

Tujuan promosi perpustakaan adalah memperkenalkan perpustakaan, koleksi, jenis layanan dan manfaat yang dapat diperoleh oleh pengguna perpustakaan. Dengan adanya promosi, diharapkan masyarakat mengetahui pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan sehingga membuat mereka tertarik untuk mengunjungi dan memanfaatkan koleksi serta layanan perpustakaan. Menurut Weinstock tujuan promosi adalah memperkenalkan pusat informasi dan pelayanannya, memperkenalkan kepada masyarakat reputasi pusat informasi dan membujuk calon pemakai yang berpotensi agar menggunakan jasa layanan informasi. Sedangkan menurut Edsall tujuan promosi perpustakaan adalah memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang adanya pelayanan perpustakaan, mendorong minat  masyarakat untuk menggunakan perpustakaan dan mengembangkan pengertian masyarakat agar mendukung kegiatan perpustakaan dan peranannya dalam masyarakat (Badollahi Mustofa,1996:21).

Perpustakaan dapat mengadopsi bauran pemasaran dalam mempromosikan produk dan layanan yang dimilikinya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa bauran promosi mencakup iklan (advertising), penjualan tatap muka (personal selling), promosi penjualan (sales promotion),hubungan masyarakat publisitas (publicity and public relation) serta pemasaran langsung (direct marketing).

Kegiatan perpustakaan dapat dipromosikan dengan mengiklankan di berbagai media.Baik media cetak maupun elektronik. Media cetak misalnya melalui pamlet, poster, majalah dan surat kabar. Adapun media elektronik misalnya radio,televisi dan internet.Perpustakaan dapat memilih dan menentukan media yang dianggap dapat menjangkau khalayak dengan biaya yang relative murah.

Untuk media cetak, salah satu cara yang dianggap paling murah, praktis dan umum dipakai  untuk melakukan promosi di perpustakaan adalah dengan cara membuat atau mencetak dan menyebarkan brosur perpustakaan. Pemanfaatan brosur sebagai sarana promosi di perpustakaan dianggap tidak memerlukan biaya yang besar. Pembuatan cukup mudah dan penerbitan brosur sebagai media promosi biasa dilakukan oleh unit atau lembaga yang kecil maupun yang besar. Media cetak lainnya yang juga cukup efektif untuk melakukan kontak dengan pengguna adalah poster. Media ini paling umum dilakukan. Poster dapat digunakan untuk memperkenalkan layanan baru,untuk mengumumkan adanya kegiatan di perpustakaan dan menonjolkan layanan yang sudah digunakan. Poster yang paling efektif  adalah poster yang dirancang untuk sekilas segera menarik perhatian atau mencuri pandangan orang yang lewat di depan poster tersebut, sekaligus memberi pesan atau informasi secara ringkas.Iklan perpustakaan yang mengunakan media elektronik seperti radio dan televise, relative membutuhkan dana yang lumayan besar. Perpustakaan perlu mempertimbangkan keefektifan dan jangkauan yang dicapai apabila menggunakan media elektronik dalam menyampaikan pesan informasi.

Bauran promosi berikutnya adalah penjualan tatap muka (personal selling). Dalam konteks ini perpustakaan memberikan pelayanan langsung kepada pemakai melalui komunikasi tatap muka (face to face). Di sinilah pentingnya  peran pustakawan sebagai komunikator dalam memasarkan perpustakaan. Pustakawan harus menunjukkan etika berkomunikasi yang baik dengan pengguna. Keramahan dan sikap professional harus dimiliki pustakawan dalam memberikan pelayanan kepada pengguna perpustakaan. Setiap manusia senang diperlakukan special, begitu juga dengan pengguna perpustakaan. Tatapan mata yang ramah,gerak tubuh yang positif, serta kepedulian terhadap kebutuhan pengguna merupakan hal yang perlu diterapkan dalam mewujudkan pelayanan prima (Ane Dwi Septina, 2011:22). Pustakawan harus komunikatif dan menguasai ketrampilan teknik informasi dengan baik,sehingga dapat secara cepat dan tepat menyajikan informasi kepada pengguna perpustakaan.

Pengguna perpustakaan datang ke perpustakaan untuk beragam tujuan. Ada yang mencari literature untuk mendukung kegiatan belajar mereka, meminjam dan mengembalikan buku serta  menelusur informasi. Perpustakaan memberikan pelayanan dalam bentuk konsultasi, memberitahu atau membantu dan melayani konsumen Di sinilah pustakawan bertemu secara langsung dengan pengguna. Mutu pelayanan yang diberikan berpengaruh langsung terhadap kepuasan konsumen dan terhadap pemanfaatan produk atau jasa itu selanjutnya. PR Smith menyatakan bahwa penjualan personal bukan hanya sekedar menjual dan mendapat keuntung dari pelanggan, akan tetapi penjualan personal lebih cenderung membangun sebuah ‘partner’ atau hubungan yang dapat memberi  kepuasan pada pelanggan.Kepuasan pelanggan menjadi tujuan dari aktivitas pemasaran. Perpustakaan harus dapat membangun sebuah ‘partner’ dengan pengguna sehingga pengguna perpustakaan akan merasakan sisi humanis dari pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan dan merasakan kepuasan akan pelayanan yang telah diberikan. Senada hal tersebut, Widodo Muktiyo(2006:11) menyatakan bahwa salesmanship merupakan kegiatan menjual dengan hati dan cinta. Pustakawan,dalam hal ini  sebagai seorang salesmanship harus mampu ‘menjual’ produk-produk dan layanan yang ada di perpustakaan. Kegiatan  pustakawan tidak sekedar bertransaksi dengan pengguna lalu selesai, akan tetapi pustakawan harus dapat melakukan strategi marketing dengan mengedepankan hati dan cinta dalam dalam melayani pengguna perpustakaan. Kegiatan personal selling ini dapat diimplementasikan juga pada kegiatan ceramah mahasiswa baru / user education. Pada saat memberikan ceramah, pustakawan berhadapan ‘face to face’ dengan pemakai. Pada kegiatan ini, Pustakawan dapat bertemu langsung dengan calon pengguna perpustakaan dan memberitahu serta menginformasikan pada mereka produk dan layanan apa saja yang dimiliki oleh perpustakaan. Selain menginformasikan tentang produk dan layanan perpustakaan , pustakawan yang dalam hal ini sebagai “shalesmanship’ harus dapat membujuk mahasiswa baru tersebut agar mau datang dan berkunjung ke perpustakaan dan memanfaatkan koleksi yang ada di perpustakaan.

Pada perusahaan atau usaha bisnis, promosi penjualan terdiri dari alat insentif yang beraneka ragam, kebanyakan untuk jangka pendek,dirancang untuk merangsang pembelian produk tertentu lebih cepat dan/atau lebih kuat oleh konsumen atau pedagang. Alat-alat tadi mencakup promosi konsumen (misalnya sampel, kupon, penawaran uang kembali, pengurangan harga, hadiah barang, premi, kontes, stiker dagang, peragaan), promosi dagang (misalnya jaminan pembelian, hadiah barang, iklan kerjasama, kontes penjualan para penyalur). Pada lembaga nirlaba seperti perpustakaan,promosi penjualan dapat diaplikasikan dalam pemberian insentif kepada pengguna perpustakaan. Contohnya pustakawan dapat memberikan tawaran penelusuran informasi gratis kepada dosen-dosen bidang ilmu tertentu  yang biasanya tidak pernah datang ke perpustakaan. Insentif bisa juga dengan memberikan penghargaan kepada pengguna perpustakaan yang sering berkunjung ke perpustakaan. Bagi pengguna yang terlambat mengembalikan buku, perpustakaan dapat memberi diskon atas denda keterlambatan mereka.

Humas atau PR adalah keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya (Frank Jefkins:1996:8). Perpustakaan harus dapat mengumpulkan, mengolah dan menyampaikan pesan tentang produk dan layanan yang ada di perpustakan kepada pengguna perpustakaan. Pustakawan harus dapat bertindak sebagai humas untuk menawarkan, mengajak atau merangsang masyarakat agar mau berkunjung di perpustakaan dan membaca buku (Nurul Komar,2006 :4).

Dalam rangka menciptakan dan mempertahankan citra perpustakaan, pihak perpustakaan perlu menyajikan berita dan informasi mengenai organisasi perpustakaan sepositif mungkin, mengupayakan pemahaman melalui komunikasi internal dan eksternal serta menjalin relasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan perpustakaan. Fungsi – fungsi PR tersebut dapat diimplementasikan dalam sejumlah program seperti mengadakan seminar perpustakaan, pameran buku, identity media (misalnya logo perpustakaan,gedung dan seragam bagi pustakawan)

Pemasaran langsung adalah pendekatan pemasaran yang bersifat bebas dalam menggunakan saluran distribusi dan/atau komunikasi pemasaran, yang memungkinkan perusahaan memiliki strategi tersendiri dalam berhubungan  dengan konsumen (Agus Hermawan, 2012:183). Perpustakaan dapat melakukan pemasaran langsung kepada pengguna perpustakaan.Ada beberapa media yang digunakan dalam melakukan pemasaran langsung.Dari sekian banyak media yang digunakan, yang paling banyak digunakan untuk media pemasaran langsung adalah melalui surat langsung dan internet. Perpustakaan dapat menggunakan surat langsung ketika pengguna perpustakaan mengalami keterlambatan dalam pengembalian buku.Surat tersebut langsung ditujukan ke alamat rumah pengguna seperti yang telah tercatat pada kartu anggota. Di era digital ini,surat langsung dapat digantikan dengan surat elektronik (e-mail). Perpustakaan dapat menginformasikan produk atau layanan baru melalui email yang diberikan pengguna perpustakaan.Internet juga merupakan media yang paling umum digunakan instansi atau lembaga dalam memasarkan promosinya. Terkait internet, PR Smith menyatakan bahwa bahwa the  internet  is just an international network  computers linked together.Once you’re hooked up and plugged in you can rocket around computers across the world, drop into discussion groups,read bulletin boards,share ideas, photos, videos, articles, news and games .(PR Smith,1993 :535). Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa Internet merupakan jaringan komputer-komputer internasional yang terhubung  secara bersamaan. Sekali kita  terhubung dan terpasang, kita dapat meluncur melalui komputer-komputer melintasi dunia,masuk dalam grup diskusi, membaca papan bulletin, berbagi ide, photo, video-video, artikel, berita dan permainan.

 Perpustakaan semakin tumbuh dan berkembang,apalagi dengan semakin maraknya kemajuan era digital. Dengan adanya internet,komunikasi semakin terhubung dengan mudah. Internet memberi kesempatan kepada perpustakaan dan pustakawan untuk menjawab kebutuhan informasi. Keberadaan internet dapat digunakan sebagai media untuk menginformasikan kepada pengguna tentang produk layanan dan beragam program kegiatan yang diadakan perpustakaan. Perpustakaan dapat memanfaatkan internet untuk lebih akrab dan komunikatif dengan pengguna. Contohnya dengan membuat website tentang profil perpustakaan. Website tersebut dapat di’share’melalui jaringan internet  kepada pengguna perpustakaan melalui media sosial, sehingga pengguna perpustakaan memiliki antusias untuk melihat dan bergabung dengan website yang disediakan perpustakaan.

                                                         DAFTAR PUSTAKA

 

Budiono,Iwan. Internet Membantu Hidu Lebih Mudah . Media Pustaka : edisi 2 April-Juni 2011 p 16-18

Effendy,Onong Uchjana,2003. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : Rosdakarya

  1. Rachmadi , 1992. Public Relations Dalam Teori dan Praktek. Jakarta : Gramedia

Hardiningtyas, Trio,2012.  Peduli Perpustakaan. Surakarta :UNS Press

Harun,Rochajat dan Ardianto,Elvinaro, 2011 Komunikasi Pembangunan Perubahan Sosial:Perspektif Dominan,Kaji Ulang, dan Teori Kritis. Jakarta : Rajawali Pers

Hermawan, Agus. 2012 . Komunikasi Pemasaran. Jakarta : Erlangga

Jefkins,Frank ,1996. Public Relation. Jakarta : Erlangga

Mustofa, Badollahi, 1996.Promosi Jasa Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka,Depdikbud.

Kotler, Philip, 1987, Dasar-dasar Pemasaran, Jilid 2, Edisi Ketiga, Penerbit Intermedia, Jakarta.

Kotler, Philip,1992.Manajemen Pemasaran Jilid II.Surabaya : Erlangga

Kotler, Philip and Amstrong,Gary 1993. Principles of Marketing. New Jersey : Preintice Hall

Lasa Hs, 2003. Manajemen Perpustakaan Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Lupiyoadi,Rambat, 2001. Manajemen pemasaran jasa. Jakarta : Salemba Empat,2001

Muktiyo,Widodo 2006. Membangun Usaha dengan kekuatan image. Yogyakarta : PINUS

PR Smith,1993. Marketing Communications : an integrated approach. Britain : Kogan Page

Purwantono, Fajar.  Membangun Citra Perpustakaan Dengan meningkatkan Kualitas Pelayanan Melalui Pendekatan TQM. Media Pustaka :edisi 1 Januari-Juni 2012.Hal.36-38

Septina,Ane Dwi, Keaktifan Pustakawan Dalam Pemasyarakatan Perpusdokinfo Guna Sulistyo-Basuki, 1991 : Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Meningkatkan Perkembangan dan Citra Positif Perpustakaan. Jurnal Pustakawan Indonesia Volume 11  No.1  Juni2011 hal.20—24

Soeatminah,1987. Pelayanan Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta : Depdikbud

Trimo,Soejono,1992. Pedoman Pelaksanaan Perpustakaan.Bandung : Rosdakarya

 (upload by R.Lalan Fuandara)

MEMPOPULERKAN SIGILIB DI KALANGAN PEMUSTAKA ISI SURAKARTA Oleh : Wahyu Karminah S.Sos

                    Lembaga  pendidikan tinggi seni  tradisional dapat hidup subur jika didirikan di tengah-tengah lingkungan yang mendukungnya, yang secara wajar dapat memberikan umpan balik. Pertumbuhan dan laju pengembangan seni itu sendiri hanya dapat terwujud dengan adanya innovator/tenaga kreatif seperti pendidik, seniman, kritikus dan penghayat seni yang memiliki kemampuan serta sikap terbuka. ISI Surakarta merupakan salah satu lembaga pendidikan tinggi seni di Indonesia. Visi yang diemban adalah dalam waktu 10 tahun ke depan mampu berperan sebagai kiblat kehidupan kreativitas dan keilmuwan seni-budaya bagi kemaslahatan manusia Indonesia (http//:www.isi.surakarta.ac.id).

                   Untuk mewujudkan visi tersebut,  perlu ditunjang adanya perpustakaan. Secara harfiah, unsur penunjang dapat diartikan sebagai sesuatu yang harus ada untuk kesempurnaan yang ditunjang. Sebagai unsur penunjang, perpustakaan tidak dapat diabaikan, khususnya dalam hal pencapaian visi. Selain sebagai jantung kehidupan perguruan tinggi, perpustakaan juga menjadi tempat akumulasi hasil penelitian, maupun pendukung informasi dan pengetahuan untuk melakukan penelitian.

              Perpustakaan perguruan tinggi sebagai unit pelaksana teknis di bidang perpustakaan, mempunyai tugas memberi pelayanan pustaka kepada civitas akademika, terutama dosen dan mahasiswa. Perpustakaan perguruan tinggi direncanakan dan dikembangkan untuk dapat membantu pelaksanaan program Tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan pelaksanaan sistem kredit pada program pendidikan, diharapkan dosen dan mahasiswa banyak memanfaatkan perpustakaan, sehingga perpustakaan perguruan tinggi dapat menjadi bagian dari kehidupan mereka. Hal ini baru dapat terjadi apabila manfaat perpustakaan telah mereka rasakan, yaitu dapat membantu mereka dalam melaksanakan program Tridharma. Untuk dapat merasakan manfaat jasa perpustakaan, mereka harus tahu caranya misalnya dengan mengetahui secara baik sumber-sumber informasi terpenting yang menyangkut bidang studinya masing-masing,  mampu mendayagunakan koleksi perpustakaan, mampu menggunakan metode dan teknik penelusuran informasi dan mengenal jaringan kerjasama informasi (Soeatminah,1987:1).

Peran teknologi informasi

Kemajuan teknologi informasi menjanjikan kemudahan dalam manajemen pengetahuan terutama dalam bidang pengelolaan informasi secara elektronis termasuk perpustakaan. Bila dulu perpustakaan lebih berkonsentrasi pada penyedia informasi dalam bentuk fisik seperti seperti dokumen tercetak dengan dilengkapi system katalog tertentu, dengan berkembangnya teknologi kini perpustakaan dituntut menyediakan sumber-sumber informasi dalam bentuk elektronik. Teknologi digital juga telah merambah era baru dunia perpustakaan. Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh perpustakaan dalam menerapkan  teknologi informasi secara digital. Keuntungan tersebut antara lain adalah  mengefisienkan dan mempermudah pekerjaan dalam perpustakaan, memberikan layanan yang baik pada pemustaka, meningkatkan citra perpustakaan dan pengembangan infrastruktur baik secara regional, nasional dan global.

Perpustakaan ISI Surakarta

Sebagai salah satu Perpustakaan Perguruan Tinggi Seni Indonesia, Perpustakaan ISI Surakarta telah berbenah diri dalam melakukan kemajuan di bidang teknologi informasi. Pepustakaan peguruan tinggi sebagai unit pelaksana teknis di bidang perpustakaan, mempunyai tugas memberi pelayanan pustaka kepada civitas akademika, terutama dosen dan mahasiswa. Perpustakaan perguruan tinggi direncanakan dan dikembangkan untuk dapat membantu pelaksanaan program Tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan pelaksanaan sistem kredit pada program pendidikan, diharapkan dosen dan mahasiswa banyak memanfaatkan perpustakaan, sehingga perpustakaan perguruan tinggi dapat menjadi bagian dari kehidupan mereka. Hal ini baru dapat terjadi apabila manfaat perpustakaan telah mereka rasakan,yaitu dapat membantu mereka dalam melaksanakan program Tridharma. Untuk dapat merasakan manfaat jasa perpustakaan,mereka harus tahu caranya misalnya dengan mengetahui secara baik sumber-sumber informasi terpenting yang menyangkut bidang studinya masing-masing,  mampu mendayagunakan koleksi perpustakaan, mampu menggunakan metode dan teknik penelusuran informasi, dan mengenal jaringan kerjasama informasi (Soeatminah,1987:1).

Sebagai perpustakaan di bawah naungan perguruan tinggi seni, produk yang dihasilkan memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri karena koleksi yang diadakan dan dimiliki, mayoritas bertema tentang kesenian.  Baik kesenian daerah, nasional maupun hasil karya dari mahasiswa dan dosen seni. Koleksi yang ada meliputi  koleksi buku baik tercetak maupun digital. Selain itu juga ada koleksi karya audiovisual. Untuk  koleksi tercetak meliputi buku umum, buku teks, buku referensi, skripsi, thesis, disertasi dan penelitian. Sedangkan koleksi audiovisual terdiri atas kaset audio, kaset video, piringan hitam dan pita reel. Koleksi buku dan audiovisual yang diadakan perpustakaan ISI Surakarta berasal dari pembelian yang didakan setiap tahun, sumbangan buku, dan kadang sumbangan dari instansi lain.

Ada beberapa jenis layanan yang dimiliki Perpustakaan ISI Surakarta. Layanan tersebut adalah layanan sirkulasi, layanan referensi, layanan serial, layanan pustaka rekreatif, layanan pandang dengar,layanan fotokopi/scan,layanan bebas pustaka,Hot Spot Area,OPAC,layanan E-Journal,layanan bimbingan pemustaka dan layanan karya-karya akademik. Selain Perpustakaan ISI Surakarta, ada juga perpustakaan jurusan antara lain Perpustakaan Tari, Perpustakaan Karawitan, Perpustakaan Karawitan, Perpustakaan Pedhalangan, Pepustakaan Seni Rupa dan Perpustakaan Pascasarjana. Sistem layanan menggunakan open acces system atau system terbuka dengan memberi kesempatan kepada pengunjung untuk mengambil pustaka sendiri di rak. Sedangkan layanan referensi hanya bisa dibaca di tempat. Selain itu  Perpustakaan ISI Surakarta juga menyediakan fasilitas berupa ruang yang  nyaman  untuk  pengunjung  perpustakaan.

Koleksi dan beragam jenis layanan yang dimiliki perpustakaan merupakan kekayaan (asset) yang harus sebesar-besarnya dimanfaatkan oleh pengguna secara optimal. Dengan perannya yang strategis, perpustakaan perlu didukung oleh kemampuan teknik-teknik yang efisien dan efektif dalam penggunaan sarana (layanan) perpustakaan untuk memenuhi informasi yang dibutuhkan oleh pemakainya,karena kemampuan mencari informasi tidak kalah pentingnya dengan informasi itu sendiri. Disamping itu perlu pula disadari bahwa library is the growing organism, perpustakaan adalah organisasi yang selalu tumbuh dan berkembang. Sehingga segala perkembangan yang terjadi dalam perpustakaan berkaitan dengan pemanfatan sumber-sumber informasi dan pelayanan harus disebarluaskan kepada pemakai (digital library UPT Perpustakaan ISI Surakarta).

Seiring dengan perkembangan teknologi baru, Perpustakaan ISI Surakarta melakukan beberapa pembenahan pada produk yang sudah ada. Beberapa koleksi tercetak lambat laun mulai dialihkan dan dikemas menjadi koleksi digital. Penggunaan komputer untuk pengelolaan informasi menjadi solusi dan kebutuhan seiring inovasi yang berkembang di perpustakaan. Aplikasi software yang dikembangkan di perpustakaan juga semakin maju. Tahun 2006 perpustakaan memiliki software Dewa Pustaka. Sesuai tuntutan kebutuhan informasi,software tersebut diganti dengan nama yang baru yaitu SIGILIB yang lebih memudahkan pengguna untuk mencari dan melakukan penelusuran informasi. Beragam produk yang ada di perpustakaan seperti koleksi, jenis layanan dan beragam fasilitas di dalamnya tidak akan ada faedahnya jika tidak dikomunikasikan kepada pengguna perpustakan. Sulistyo Basuki mengatakan bahwa  eksistensi perpustakaan muncul karena kebutuhan masyarakat  serta dipelihara dan dikembangkan oleh masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan kultural dan informasi pemakai maka pustakawan harus mampu mengenali kebutuhan pemakai, mengusahakan tersedianya jasa pada waktu diperlukan, serta mendorong pemakai menggunakan perpustakaan  (Sulistyo Basuki,1991:127-128).

Setiap perpustakaan memiliki cara masing-masing agar pengguna mau terbujuk datang dan mau memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Bagi perpustakaan yang memiliki dana besar seperti Perpustakaan Nasional , mereka memanfaatkan iklan sebagai sarana untuk mengingatkan pengunjung agar mau berkunjung ke Perpustakaan. Baik iklan melalui televisi, media cetak, radio maupun media lainnya sehingga pengunjung merasa diingatkan agar datang ke perpustakaan. Sementara bagi perpustakaan yang kurang memiliki dana, menuntut perpustakaan untuk lebih cerdas mempromosikan perpustakaan, agar pengguna mengenal  akan produk atau kegitan yang dilakukan oleh perpustakaan. Anggaran perpustakaan yang relatif   kecil mendorong pustakawan sebagai pengelola perpustakaan dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam mengenalkan dan membujuk pengguna perpustakaan untuk lebih peduli  menengok  produk apa saja yang diadakan perpustakaan.

Software SIGILIB merupakan aplikasi teknologi informasi di perpustakaan ISI Surakarta. Desain dari SIGILIB telah dirancang sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Pemustaka dapat mengakses SIGILIB dari manapun mereka berada baik melalui komputer PC, handphone atau laptop. Pemustaka dapat mengakses SIGILIB melalui alamat: http://sipadu.isi-ska.ac.id/sigilib/cari.php. Pada laman sigilib tersebut pemustaka dapat melakukan beberapa akses yang memudahkan mereka untuk menelusur informasi. Koleksi perpustakaan dapat ditelusur dengan menulis kata kunci pada kolom yang tersedia. Ada beberapa pilihan bentuk koleksi yang ditampilkan SIGILIB antara lain berupa buku, skripsi ,karya ilmiah,audio dan video. Pemustaka cukup mengetik koleksi yang dicari dengan berbekal nama pengarang, judul atau subjek yang ditelusuri. Jika koleksi tersebut dimiliki oleh Perpustakaan ISI Surakarta, otomatis pemustaka dapat melihat tampilan koleksi yang dicari sesuai tulisan yang diketikkan. Keberadaan koleksi tersebut juga muncul di layar komputer. Apakah koleksi ada di Perpustakaan Pusat, Perpustakaan Pascasarjana atau Perpustakaan jurusan lainnya. Adapun koleksi yang berwujud audio dan video, pemustaka dapat menikmati sajian koleksi tersebut dalam durasi yang telah didesain oleh Perpustakaan.

“Tak kenal maka tak sayang”. Pada kenyataannya, software SIGILIB yang telah diadakan oleh Perpustakaan ISI Surakarta belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh pemustaka ISI Surakarta. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya pemustaka yang datang berkunjung ke Perpustakaan ISI Surakarta dan masih bingung dalam melakukan pencarian informasi. Pemustaka datang ke perpustakaan, bertanya pada petugas perpustakaan tentang koleksi yang dicarinya. Peran pustakawan, sangat dibutuhkan dalam menuntun pemustaka untuk memanfaatkan koleksi yang dicarinya. Selain itu, Perpustakaan ISI Surakarta juga telah berupaya sekuat tenaga untuk mensosialisasikan SIGILIB bagi pemustaka. Misalnya saja dengan mengadakan kegiatan ‘user education’ bagi mahasiswa baru agar mereka tahu tentang produk produk perpustakaan. Perpustakaan perlu memberi leaflet  tentang produk SIGILIB, sehingga pemustaka yang belum mengetahui tentang manfaat SIGILIB, dapat membaca dan memanfaatkannya. Sosialisasi tentang SIGILIB mungkin juga perlu diperluas dengan mengaktifkan peran pustakawan dalam menyampaikan informasi secara lisan kepada pemustaka.

 Daftar Pustaka

Digital libarary UPT Perpustakaan ISI Surakarta: http:www.isi.surakarta.ac.id

Lasa, Manajemen Perpustakaan Penerbit. Yogyakarta : Pustaka Pelajar,2003

Soeatminah,1987 Pelayanan Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta : Depdikbud

Sulistyo-Basuki,1991: Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Trimo Soejono,M.L.S, 1992: Pedoman Pelaksanaan Perpustakaan .Bandung : Rosdakarya.

(upload by R.Lalan Fuandara)

MANAJEMEN KEARSIPAN INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA (Oleh: Mustofa, SIP)

A. PENDAHULUAN

Arsip adalah unsur terpenting dalam sebuah siklus organisasi privat maupun publik. Hal ini mengingat arsip mencakup jangkauan informasi, antara lain rekam sejarah berdirinya suatu organisasi, aktifitas atau kegiatan yang telah dilaksanakan oleh organisasi, ataupun kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan. Mengingat arti penting tersebut, arsip seringkali dijadikan sebagai pusat ingatan, rekam jejak informasi sekaligus pusat sejarah organisasi. Fungsi arsip dalam organisasi, adalah dijadikan salah satu penyedia bahan pertimbangan dalam penetapan kebijakan, baik sifatnya evaluasi maupun proyeksi dari organisasi bersangkutan, (Fadli, 2011: 3).

BACA SELENGKAPNYA KLIK DIBAWAH INI:

MANAJEMEN KEARSIPAN

(upload by R.Lalan Fuandara)

SECURITY SISTEM PERPUSTAKAAN DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA (Oleh Mustofa, SIP.)

A. Latar Belakang

Perpustakaan di Indonesia dewasa ini memiliki peranan penting sebagai wadah informasi dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hampir semua lembaga, instansi, perguruan tinggi, dan sekolah, baik pemerintahan maupun swasta di Indonesia pada umumnya telah dibentuk perpustakaan-perpustakaan sebagai unit pelayanaan informasi pada masing-masing lembaga atau instansi. Informasi yang tersimpan itu, baik dalam media cetak berupa buku-buku, media elektronik berupa kaset-kaset/video, maupun dalam database, atau CD-ROM, memerlukan tenaga ahli untuk mengoperasikan dan mengelolanya. Semua itu diperlukan untuk meningkatkan kinerja perpustakaan dan mengembangkannya agar bisa melayani pemakai untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkannya dengan cepat dan akurat, sehingga perpustakaan benar-benar dapat menjadi sumber informasi.

SILAHKAN KLIK DIBAWAH INI:

SECURITY SISTEM PERPUSTAKAAN

(upload by R.Lalan Fuandara)

KARYA DAN KEUNIKAN PEMIKIRAN-PEMIKIRAN BLASIUS SUDARSONO (Oleh: M. Ali Nurhasan Islamy, S.Sos)

A. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Informasi di berbagai bidang dan sektor berkembang sangat pesat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena adanya globalisasi di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi. Setiap hari banyak karya dan publikasi yang dihasilkan oleh lembaga penerbit. Karya seseorang atau terbitan dapat kita temui di toko buku atau telah menjadi milik suatu perpustakaan. Kemajuan di bidang teknologi informasi pada saat ini menyebabkan informasi  yang dihasilkan dalam berbagai disiplin ilmu, bahasa, negara sangat cepat terdesiminasi.

Salah satu penyedia informasi adalah perpustakaan. Setiap perpustakaan diselenggarakan dengan maksud dan tujuan tertentu. Menurut Purwono (2013), secara umum perpustakaan merupakan suatu institusi yang  di dalamnya tercakup unsur koleksi (informasi), pengolahan, penyimpanan dan pemakai.[1]

Publikasi yang ditempatkan di perpustakaan diorganisasikan dengan sistem tertentu sesuai dengan kebijakan perpustakaan setempat. Informasi yang terkandung dalam karya-karya tidak hanya dipublikasikan secara tercetak saja namun telah banyak dipublikasikan secara elektronis dan dapat diakses melalui internet. Untuk itu,  penguasaan terhadap pengetahuan sumber-sumber informasi baik dalam bentuk tercetak maupun elektronis perlu dimiliki oleh seorang pustakawan atau petugas informasi.

Berbicara masalah keberadaan informasi, perpustakaan dan pustakawan Indonesia sepertinya tidak akan terlepas dari seorang tokoh perpustakaan yakni Blasius Sudarsono. Menurut Joko Santoso (2006), Blasius Sudarsono adalah pemikir yang telah berkecimpung di dunia kepustakawanan, pada Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional sejak tahun 1973. Pemikiran-pemikirannya sangat berharga, bahkan telah menjadi bagian sejarah kepustakawanan Indonesia. Beliau adalah pribadi yang luar biasa, memiliki obsesi untuk menemukan rumus dasar yang dapat dipakai untuk menerangkan semua fenomena tentang perpustakaan atau yang terkait dengannya. Beliau terus mencari dan merumuskan hakikat atau teori dasar kepustakawanan Indonesia. Menurutnya harus ada perbedaan antara library science yang bermakna universal dengan Indonesian librarianship yang bercirikan Indonesia.[2]

Blasius Sudarsono, atau Pak Dar (panggilan akrabnya), bukanlah sosok asing dalam dunia kepustakawanan Indonesia. Sebagai seorang Pustakawan Utama LIPI yang telah bekerja hampir 40 tahun, beliau adalah sosok sepuh yang diteladani, digugu dan ditiru. Blasius Sudarsono adalah sang pemerhati kepustakawanan, yang tidak pernah mengenal lelah dalam memikirkan kemajuan bidang perpustakaan. Aktif menulis buku, aktif dalam pertemuan-pertemuan ilmiah dan aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi.

Menurut Blasius Sudarsono sendiri, dia selalu ingin menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kepustakawanan, jawabannya sering kali memakai ancangan logika. Pilihan ini sering dinilai kurang ilmiah karena seakan hanya menggunakan common sense. Ancangan kedua adalah bahwa hidup kita berada dalam ruang empat dimens. Dimensi waktu yang tak terbalikkan (irreversible) itu dimensi yang ke empat yang sering terlupakan. Dengan mempertimbangkan dimensi keempat ini kita akan lebih mudah memahami dinamika.[3] Tentu saja dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau selalu menggunakan informasi yang merupakan masukan yang diperoleh dari berbagai sumber, baik berupa pengalaman ataupun penemuan baru.

  1. Alasan Pemilihan Tokoh

Dalam studi tokoh kepustakawanan ini penulis memilih Blasius Sudarsono yang akan dijadikan kajian penelitian, dengan alasan adalah sebagai berikut:

a. Blasius Sudarsono adalah seseorang yang terkemuka atau kenamaan di bidang kepustakawanan, seseorang yang memegang peranan penting dalam bidang atau aspek kehidupan kepustakawanan di Indonesia.

b. Beliau mempunyai kekayaan yang monumental (unik) di bidang perpustakaan dan karya tersebut masih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah bahwa itu merupakan

c. Beliau mempunyai pengaruh pada masyarakat, artinya buah pemikiran dan perilakunya menjadi rujukan dan panutan oleh masyarakat dalam beraktivitas bagi kehidupan kepustakawanan.

d. Ketokohannya diakui secara mutawatir. Artinya sebagian besar masyarakat memberikan apresiasi positif dan mengidolakannya sebagai orang yang pantas menjadi tokoh atau ditokohkan untuk menyelesaikan persoalan. 

  1. Riwayat Tokoh

Blasius Sudarsono lahir di Solo Jawa Tengah, pada tanggal 2 Pebruari 1948 (66 tahun). Sampai usia remaja Blasius tinggal di kota kelahirannya. Tumbuh di lingkungan pendidik karena orangtuanya adalah guru sekolah dasar. Pak Dar kecil gemar mengutak-atik barang elektronika. Bahkan pelajaran ilmu pengetahuan alam untuk anak SMP sudah ia pelajari sewaktu kelas lima SD.

Tadinya Blasius sebenarnya ingin belajar elektro arus lemah. Tapi karena orangtuanya menginginkan ia menjadi arsitek, ia lalu mendaftar di jurusan elektro dan arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB). Hanya diterima di jurusan elektro, ia tidak memanfaatkannya. Orangtuanya kemudian ingin memasukkannya ke sekolah elektronika milik Angkatan Laut. Tapi lantaran tak ingin menjadi tentara, Blasius menampiknya. Ia akhirnya kuliah di jurusan fisika murni UGM, sampai tingkat sarjana muda. “Karena terlalu lama menunggu dibukanya program sarjana penuh, saya memilih bekerja (di Perpustakaan LIPI),” tuturnya. (Hendriyanto: 2012)[4]

a. Pendidikan

      –  Sarjana Muda Fisika (B.Sc.), FIPA – UGM, Yogyakarta, 1973.

  – Master of Library Studies (MLS), University of Hawaii, Honolulu,         USA, 1979.

b. Pengalaman Kerja :

1970 – 1973 Asisten Laboratorium Fisika Dasar UGM.

1973 – 1976 Staf Urusan Servis Teknis PDIN.

1976 – 1977 Kepala Urusan Servis Pembaca PDIN.

1978 – 1979 Menyelesaikan MLS di Unversity of Hawaii,          Honolulu, USA.

1979 – 1980 Kepala Urusan Servis Teknis PDIN.

1980 – 1987 Kepala Pusat Perpustakaan PDIN.

1987 – 1990 Kepala Bidang Sarana Teknis PDII-LIPI.

1990 – 2001 Kepala PDII-LIPI.

2001 – 2005 Pustakawan Madya PDII-LIPI.

2005 – 2013 (Purna Tugas 28 Februari 2013) Pustakawan Utama      PDII-LIPI.

1980 – sekarang, pengajar tidak tetap pada Fakultas Ilmu Budaya                                 Universitas Indonesia.

2002 – sekarang, pengajar tidak tetap pada Fakultas Ilmu            Komunikasi  Universitas Pajajaran.

c.  Kegiatan
      Kemampuan bahasa : Inggris (aktif)
Jawa (aktif)
       Status kepegawaian : PNS
(1 Maret 1974 – 2 Februari 2014)Golongan : IV/c Pembina Utama Muda (Pustakawan Madya)
        Kontak : » blasius.sudarsono [AT] lipi.go.id
» blasius [AT] linuxmail.org
        Situs pribadi :     http://www.facebook.com/blasius.sudarsono(sumber: http://sivitas.lipi.go.id/blas002)

d. Keluarga

     Istri       : Maria Tatiek Hardiyati Sudarsono (almh.)
Anak     : Bhenadetta Pravita Wahyuningtyas
Alamat : Jalan Tengah RT 001 RW 09, Kalurahan Kampung                                 Tengah,   Kecamatan Kramatjati, Jakarta.

 B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan judul penelitian dan latar belakang yang penulis uraikan di atas dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut; bagaimana pemikiran Blasius Sudarsono mengenai literasi informasi?

 C. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif tentang studi tokoh meliputi data pengamatan (observasi), wawancara, dokumentasi dan catatan perjalanan hidup sang tokoh[5].

  1. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik pengumpulan data atau fakta yang cukup efektif untuk mempelajari suatu sistem. Observasi membantu menegaskan atau menolak sera melihat kembali tentang apa yang telah ditemukan lewat wawancara maupun kuesioner[6].

  1. Wawancara

Wawancara dalam istilah lain dikenal dengan interview. Wawancara merupakan suatu metode pengumpulan berita, data, atau fakta di lapangan. Prosesnya bisa dilakukan secara langsung dengan bertatap muka langsung (face to face) dengan narasumber. Namun, bisa juga dilakukan dengan tidak langsung seperti melalui telepon, internet, atau surat (wawancara tertulis)

  1. Dokumentasi

Data dalam suatu penelitian kebanyakan diperoleh dari sumber manusia atau human resources, melalui observasi dan wawancara. Akan tetapi ada pula sumber bukan manusia, non human resources, diantaranya dokumen dan foto.

  1. Catatan- catatan perjalanan hidup sang tokoh/ riwayat

Riwayat hidup adalah catatan singkat tentang gambaran diri seseorang. Selain berisi data pribadi, gambaran diri itu paling tidak harus diisi keterangan tentang pendidikan atau keahlian dan pengalaman. Dengan data itu riwayat hidup akan memberikan gambaran atau kualifikasi seseorang. Dari segi penampilannya riwayat hidup tidak mempunyai bentuk standar. Riwayat hidup ditulis seperti karangan singkat, diawali oleh judul dan ditutup oleh rangkaian tanggal, tanda tangan dan nama. Sebenarnya riwayat hidup termasuk surat keterangan, dalam hal ini keterangan pribadi.[7]

D. PEMBAHASAN

Blasius Sudarsono adalah pustakawan sejati, selalu memperhatikan kehidupan maupun bagaimana kemajuan pustakawan Indonesia. Terwujud dalam salah satu karya beliau yang berjudul “Berkaca Sebelum Ke Luar Rumah: Refleksi Diri Pustakawan”  yang mengulas tentang bagaimana kiprahnya pustakawan dan berkembangnya kepustakawanan Indonesia kembali dipertanyakan. Di dalam buku ini dikemukakan berbagai pemikiran dan sederet persoalan yang berkaitan dengan kehidupan dan pengembangan perpustakaan dan kepustakawanan berikut jalan keluarnya.

Menurut Blasius Sudarsono dalam (Basuki: 1998), biasanya seseorang selalu mematut diri di depan cermin sebelum ke luar rumah, apalagi bagi seorang wanita. Namun bukan maksud penulis ingin mengatakan bahwa profesi pustakawan adalah profesi yang berciri feminim. Berkaca dalam hal ini lebih dimaksudkan sebagai refleksi diri untuk mengetahui dan memahami diri kita pustakawan sendiri. Apa saja yang ada pada diri kita pustakawan? Apakah benar kita merasa rendah diri? Lalu apa yang kita lakukan untuk membangun kepercayaan diri, sehingga kita sejajar dengan profesi lain?[8])

Blasius Sudarsono adalah seorang penulis yang sangat produktif, karya-karyanya sudah banyak sekali. Bahkan banyak juga pemikiran-pemikiran beliau yang belum sempat ia tulis, salah satu contohnya tentang falsafah pustakawan asing dan falsafah pustakwan Indonesia yang mungkin berbeda. Hampir semua tulisannya menyampaikan gagasan-gagasan demi berkembangnya ilmu di bidang perpustakaan. Yang mengherankan adalah tulisan Blasius Sudarsono ini disampaikan dengan beberapa gaya bahasa, yakni bahasa normal dan bahasa yang unik.

  1. Pemikiran-Pemikiran Unik

Karya-karya beliau menggunakan gaya bahasa yang  dapat digolongkan menjadi 2 kelompok atau gaya. Pertama, bahasa yang normal artinya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti orang awam. Membaca satu kali saja kita sudah dapat memahami maksud apa yang disampaikan. Kedua, bahasa yang unik artinya banyak pemikiran-pemikiran beliau yang unik atau nyeleneh (di luar kebiasaan)  dan bahkan bahasanya sulit dipahami oleh orang lain. Pemikirannya berdasarkan filsafat, maklum, memahami konsep berbasis filsafat memang membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.[9]

Untuk dapat memahami tulisan karya Blasius Sudarsono, sebenarnya orang harus mengenalnya cukup lama karena tulisan karyanya seringkali merupakan sebuah pandangan yang sangat dalam dan bahkan seringkali juga beyond imagination, pemikiran yang jauh berbicara tetang sebuah fenomena yang belum terpikirkan atau terbayangkan orang pada umumnya pada saat pemikirannya ditulis. Sifat inilah yang seringkali membuat orang menyebutnya ”nyeleneh (di luar kebiasaan)”, bicara hal yang oleh kebanyakan pustakawan dianggap tidak lazim, ditambah lagi kesukaan penulis pada filsafat membuat bahasan yang dibuatnya selalu memiliki pandangan yang mendalam. Salah satu tokoh yang hampir selalu dikutipnya adalah filsuf Indonesia yaitu Driyarkara, seorang filsuf dan perintis pendidikan filsafat di Indonesia. Sebaiknya kita sama-sama membaca pemikiran filsuf ini untuk dapat lebih memahami jalan pikiran ’tidak lazim’ dari tulisan Blasius Sudarsono.[10]

Ketidak laziman pandangan beliau terlihat pada tulisan pertama tentang Mengapa Kita Berhimpun yang mempertanyakan: ”mengapa setelah 60 tahun perpustakaan tidak berkembang?”, ”Mengapa ilmu perpustakaan tidak berkembang?” Tentu saja pertanyaan ini akan dianggap tidak lazim oleh banyak orang, terutama para pengelola perpustakaan yang mengukur kemajuan perpustakaan dari koleksi dan teknologi yang dimiliki. Padahal yang dimaksud oleh beliau adalah bahwa perpustakaan harus sudah berperan lebih dari sekedar menyediakan jasa peminjaman koleksi dengan bantuan teknologi. Perpustakaan di Indonesia idealnya sudah harus sampai pada peran sebagai pusat himpunan pengetahuan yang ada di masyarakat dan menjadi pusat berhimpunnya anggota komunitas di mana mereka kemudian berdiskusi, bertukar pikiran, memecahkan masalah dan menemukan gagasan baru. Pada saat itu perpustakaan dengan teknologi dan koleksinya, menyediakan semua kebutuhan referensi untuk diskusi tersebut dan merekam hasil diskusinya untuk menjadi pengetahuan baru. (Ini adalah gagasan mutakhir penulis yang hanya sempat diobrolkan, sehingga tidak ada dalam tulisan).

  1. Pemikiran Blasius Sudarsono Mengenai Literasi Informasi

Blasius Sudarsono, dengan dasar kesukaan beliau, yaitu mencoba membuat ‘istilah paling Indonesia’,  mencoba menerjemahkan asal istilah literasi informasi yaitu information literate menjadi ‘keberinformasian’ yang berarti kesadaran akan kebutuhan, kemampuan mencari dan menemukan, dan menggunakan informasi. Tulisan berjudul “Keberinformasian: sebuah Pemahaman Awal” merupakan sebuah pemikiran ‘nyeleneh’ karena tidak membahas fenomena literasi informasi dari segi teknis seperti pada umumnya, akan tetapi dari sisi filsafat hidup (seperti biasanya, Driyarkara menjadi acuan pandangannya) yang menyadarkan semua pembacanya bahwa keberinformasian bukanlah fenomena teknis. Pemikiran rumit ini juga disampaikannya dalam tulisan berjudul “Konsep Keberinformasian di Sekolah”.

Tidak banyak yang bisa mengerti cara Pak Dar memandang dunia perpustakaan dan pustakawan.  Paling tidak gagasan, pemikiran atau kritik terhadap dunia perpustakaan dan pustakawan seperti tulisan yang telah disampaikan Blasius Sudarsosno dalam tulisan sebanyak 27 (dua puluh tujuh) karya yang ditulis sejak Februari 2007 sampai Juli 2009. Sampai sekarang beliau masih terus berkarya demi kemajuan dunia kepustakawanan.

  1. Keterkaitan Dengan Tokoh Lain

Sulistyo Basuki (lahir pada tahun 1941 di Sumbawa Besar) : Guru Besar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia. Guru Besar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Fenomena literasi informasi yang sangat berkembang di awal 2006 dan berlanjut ke tahun berikutnya juga mendapat perhatian dari para pustakawan, terutama keterkaitannya dengan penerapan teknologi informasi Internet. Menurut Carbo (1997) dalam Kemelekan Informasi tulisan Sulistyo Basuki: information literacy dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahakn menjadi  literasi informasi, kemelekan informasi, keberaksaraan informasi. Menggunakan istilah kemelekan informasi dengan dasar literate dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi melek huruf, illiterate menjadi buta huruf. (Basuki, 2013)[11]

Selanjutnya Sulistyo-Basuki menyatakan bahwa literasi informasi mencakup pengetahuan dan kebutuhan informasi seseorang dan kemampuan untuk mengenali, mengetahui lokasi, mengevaluasi, mengorganisasi dan menciptakan dan mengkomunikasikan informasi secara efektif untuk mengatasi isi atu masalah yang dihadapi seseorang.[12]

Yusron Aminullah (Master Trainer Menebar Energi Positif), gerakan literasi informasi kuncinya pada siapa penggeraknya dan sejauh apa gerakan yang dilakukan. Kualitas personal penggerak sangat menentukan mobilitas gerakannya. Maka penggerak literasi yang ideal adalah seorang pembaca yang tekun, seorang penulis yang rajin dan seseorang yang memiliki network yang kuat. Tanpa itu gerakannya hanya artifisial dan dampak positifnya akan semu.[13]

E. KESIMPULAN

Blasius Sudarsono seorang penulis yang hebat, berdedikasi tinggi demi kemajuan dunia kepustakawanan khususnya di Indonesia. Selalu memperhatikan kehidupan pustakawan yang disampaikan dengan karya-karyanya yang sudah ditulis. Bahkan entah berapa banyak pemikiran-pemikiran beliau yang belum ditulis.

Tulisan beliau ada dua gaya bahasa, normal atau mudah dimengerti orang awam. Yang kedua tulisan dengan gaya bahasa yang unik, untuk dapat memahami tulisan karya Blasius Sudarsono, sebenarnya orang harus mengenalnya cukup lama karena tulisan karyanya seringkali merupakan sebuah pandangan yang sangat dalam dan bahkan seringkali juga beyond imagination, pemikiran yang jauh berbicara tetang sebuah fenomena yang belum terpikirkan atau terbayangkan orang pada umumnya pada saat pemikirannya ditulis. Sifat inilah yang seringkali membuat orang menyebutnya ”nyeleneh (di luar kebiasaan)”, bicara hal yang oleh kebanyakan pustakawan dianggap tidak lazim, ditambah lagi kesukaan penulis pada filsafat membuat bahasan yang dibuatnya selalu memiliki pandangan yang mendalam. Beliau sekarang berusia sekitar 66 tahun dan masih tetap terus berkarya untuk memajukan dunia kepustakawanan.

 

***

Karya-karya Blasius Sudarsono

Beliau benar-benar penulis yang produktif, karya-karya beliau yang sudah ditulis antara lain :

  • Sekitar Rancangan Undang-undang Perpustakaan
  • Pustakawan, Cinta dan Teknologi. Jakarta: Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakan dan Informasi Indonesia, 2009
  • Mengapa setelah 60 tahun perpustakaan tidak berkembang?
  • Mengapa ilmu perpustakaan tidak berkembang?
  • Mengapa Harus Beragam?
  • Mengapa Kita Berhimpun?
  • Pokok Pemikiran Tentang Naskah Kuna
  • Pendekatan Dalam Pencarian Dan Pendokumentasian Inovasi Masyarakat
  • Penerapan Teknologi Informasi dan Dokumentasi di Bidang Dokumentasi Hukum
  • Pemberdayaan Perpustakaan Di Lingkungan Mahkamah Agung RI, Pengadilan Tingkat Banding, dan Pengadilan Tingkat Pertama”
  • Strategi Pengembangan Pustakawan Utama dan Madya
  • Strategi Pengembangan JFP
  • Menuju Penyempurnaan Jabatan Fungsional Pustakawan
  • Keberinformasian: sebuah Pemahaman Awal
  • Konsep Keberinformasian di Sekolah
  • Pengembangan Fasilitas dan Layanan untuk Menunjang Perpustakaan sebagai Sumber Belajar”
  • Perpustakaan Dua Titik Nol : Pengantar Pada Konsep Library 2.0
  • Pemikiran Tentang Pustakawan Bukan Pegawai Negeri Sipil
  • Refleksi dan Transformasi Kepustakawanan
  • Pendidikan Profesional Pustakawan dan Kebutuhan Masa Depan Perpustakaan Di Indonesia
  • Sekitar Rancangan Undang-undang Perpustakaan
  • Bangkit Bersama dengan Budaya Baca
  • Hadiah Valentine Day
  • Catatan atas Buku Pengelolaan Perpustakaan
  • Perpustakaan Untuk Rakyat: Dialog Anak dan Bapak. Jakarta: Sagung Seto, 2012
  • Memaknai Dokumentasi: Pidato Kepustakawanan. Jakarta: PDII-LIPI
  • Berkaca Sebelum Ke Luar Rumah: Refleksi Diri Pustakawan
  • Antologi Kepustakaan Indonesia.

 

 

 DAFTAR PUSTAKA

Kalida, Muhsin dan Moh. Mursyid. (2014). Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri. Yogyakarta: CV. Aswaja Pressindo.
Nugraheni, Ramdha. Membangun Perpustakaan Ideal yang Mencerdaskan dan Berperan dalam Literasi Informasi. Bunga Rampai Membangun Perpustakaan Ideal, (Yogyakarta, Smart WR: 2014)
Purwono.(2013). Profesi Pustakawan Menghadapi Tantangan Perubahan. Yogyakarta: Graha Ilmu
Sudarsono, Blasius.(2006).  Antologi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta: Sagong Seto.
Sudarsono, Blasius dan Rahmawati, Ratih. (2012). Perpustakaan untuk rakyat: dialog anak dan bapak. Jakarta: Sagung Seto.
Sudarsono, Blasius. (2013). Memaknai Dokumentasi: Pidato Kepustakawanan. Jakarta: PDII-LIPI
Sulistyo, Basuki dkk.,  Seri Pengembangan Pustakawan 4, Kepustakawanan Indonesia dan Sumbangannya Kepada Masyarakat, UPT Penerbitan Universitas Katolik Soegijapraaota, Semarang, 1998.
http://duniaperpustakaan.com/peluncuran-dan-diskusi-buku-pustakawan-cinta-dan-teknologi/ diakses 1/10/2014
http: /ilhamkans.files.wordpress.com. 5/11/2014
http://sivitas.lipi.go.id/blas002/ diakses 1/10/2014
http://www.mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/218-sekilas-tentang-studi-tokoh-dalam-penelitian-.html Diakses pada tanggal 5/11/2014
Perpustakaan itu jalan sepi, berliku, dan mendaki”, Wawancara dengan Blasius Sudarsono, MLS (Pustakawan Utama di PDII-LIPI) http://hendriyanto1801.wordpress.com/ diakses 4/10/2014
Sulistyo-Basuki.Literasi informasi dan Literasi Digital. http://sulistyobasuki.wordpress.com/?s=literasi&submit diakses pada tanggal 15/11/2014
Sulistyobasuki.wordpress.com/2013/…/literasi-informasi-dan-literasi-digital. Diakses 4/10/2014
www.perpustakaanfim.wordpress.com /diakses 4/10/2014 02;50
[1] Purwono. Profesi Pustakawan Menghadapi Tantangan Perubahan. (Yogyakarta, Graha Ilmu: 2013). Hlm. 2.
[2] Blasius Sudarsono. Antologi Kepustakawanan Indonesia. (Jakarta, Sagong Seto: 2006) hlm. ii.
[3] Ibid, hlm. ix.
[4]Perpustakaan itu Jalan Sepi, Berliku, dan Mendaki”, Wawancara dengan Blasius Sudarsono, MLS (Pustakawan Utama di PDII-LIPI) http://hendriyanto1801.wordpress.com/ diakses 4/10/2014
[5] http://www.mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/218-sekilas-tentang-studi-tokoh-dalam-penelitian-.html Diakses pada tanggal 5/11/2014
[6] http: //ilhamkans.files.wordpress.com. 5/11/2014
[7] http//zidev.net/2007/04/28/teknis-dan-conto-penulisan-riwayat-hidup/ diakses pada tanggal 5/11/2014
[8] Sulistyo-Basuki dkk.,  Seri Pengembangan Pustakawan 4, Kepustakawanan Indonesia dan Sumbangannya Kepada Masyarakat.( Semarang, UPT Penerbitan Universitas Katolik Soegijapraaota: 1998). Hlm. 34.
[9] Agus Rusmana. Peluncuran dan Bedah Buku dengan judul Pustakawan, Cinta dan Teknologi, karya Blasius Sudarsono.  (Jakarta, Perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional : 2010)
[10] ibid
[11] Sulistyo-Basuki. Literasi informasi dan Literasi Digital. http://sulistyobasuki.wordpress.com/?s=literasi&submit diakses pada tanggal 15/11/2014
[12] Ramdha Nugraheni. Membangun Perpustakaan Ideal yang Mencerdaskan dan Berperan dalam Literasi Informasi. Bunga Rampai Membangun Perpustakaan Ideal, (Yogyakarta, Smart WR: 2014) hlm.156.
[13] Muhsin Kalida dan Moh. Mursyid. Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri. (Yogyakarta, CV. Aswaja Pressindo: 2014)

 

(upload by R.Lalan Fuandara)

PERAN PUSTAKAWAN SEBAGAI PEKERJA PROFESIONAL, SEBAGAI ANGGOTA PROFESI DAN SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL (Oleh: M. Ali Nur Hasan Islamy, S.Sos)

  1. PENDAHULUAN

Kehadiran perpustakaan tidak hanya sebagai penghias kampus, masjid atau lembaga apapun yang memiliki perpustakaan, akan tetapi adalah faktor penentu yang memberi arah kemajuan kegiatan masyarakat atau sumber daya manusia di dalamnya. Tidak ada sekolah atau unit yang berhasil melahirkan  lulusan yang hebat tanpa membaca informasi yang tersedia di perpustakaan baik dari bahan pustaka tercetak, bahan pustaka elektronik maupun yang dapat ditelusuri melalui internet. Perpustakaan dihadirkan dengan harapan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi.

SELENGKAPNYA KLIK DIBAWAH INI:

Pustakawan sebagai Mahluk sosial

(upload by R.Lalan Fuandara)