NASKAH RESENSI “Kisah Keindahan Tersembunyi dari Solo: Membuka Jendela Budaya dalam House of Solo”

Judul: House of Solo: the distinctive vernacular-european classical homer of Central Java
Penulis: Krisnina Maharani Tandjung
Penerbit: Yayasan Warna Warni Indonesia
Cetakan: 2001
Halaman: 187 halamam. : ilus.; 30 cm

ISBN: 978-979-1383-07-3

Peresensi: Joko Setiyono, S.Sos

 

Di tengah hiruk pikuk modernisasi yang semakin gencar, ada daya tarik memukau ketika kita diingatkan akan kekayaan warisan budaya yang tetap kokoh berdiri. House of Solo karya Krisnina Maharani Tandjung menawarkan pengalaman seperti itu, menyentuh hati pembaca dengan pengenalan mendalam mengenai rumah-rumah megah di Solo, tempat sejarah dan budaya berkelindan dalam simfoni arsitektur dan spiritualitas. Dalam buku yang diterbitkan oleh Yayasan Warna Warni Indonesia pada tahun 2001 ini, Tandjung berhasil menghidupkan esensi Jawa yang jarang terungkap melalui serangkaian foto yang kaya dan narasi yang tajam.

Buku ini bukan sekadar katalog tentang rumah-rumah tua, melainkan sebuah rekaman visual dan naratif yang mendalami keanggunan arsitektur Solo dengan segala makna spiritual yang terkandung di dalamnya. Dengan lebih dari 350 foto berwarna yang dipublikasikan untuk pertama kalinya, House of Solo tidak hanya mengagumi estetika fisik bangunan, tetapi juga mengungkapkan kedalaman filosofi yang mewarnai setiap sudut dan detailnya.

Menyingkap Warisan yang Tersembunyi

Solo, kota dengan sejarah panjang yang berakar kuat pada budaya dan kepercayaan Jawa, dikenal sebagai salah satu pusat batik di Indonesia. Namun, selain batik, Solo juga menyimpan keindahan lain yang tak kalah penting: rumah-rumah megah yang sebagian besar dimiliki oleh para pedagang batik. Melalui buku ini, Tandjung membawa kita menjelajahi rumah-rumah yang penuh dengan elemen arsitektur perpaduan antara Eropa dan vernakular Jawa. Di sini, kita menemukan detail yang memukau: lampu gantung Austria menghiasi atap joglo yang ditopang oleh soko guru, empat pilar simbolis yang mewakili elemen alam—api, air, tanah, dan angin.

Dengan gaya naratif yang halus, Tandjung mendorong pembaca untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan bagaimana arsitektur ini menjadi medium penyampai nilai-nilai spiritualitas dan keterhubungan dengan alam. Tidak berlebihan rasanya menyebut House of Solo sebagai buku yang mengajak kita merenung akan kekayaan budaya yang terpendam, sebuah pengingat akan bagaimana ruang-ruang ini berfungsi sebagai saksi bisu perjalanan sejarah dan spiritualitas masyarakat Jawa.

Perpaduan gaya yang memukau. Dalam setiap rumah yang dipaparkan, House of Solo menyoroti perpaduan yang menarik antara gaya arsitektur Barat dan Jawa. Cermin bergaya Rococo dan panel-panel Art Deco berbaur harmonis dengan motif dekorasi Islami. Di dalamnya, kita juga mendapati bagaimana patung-patung klasik Eropa ditempatkan berdampingan dengan ornamen-ornamen khas Kraton Solo, seolah menyimbolkan keterbukaan budaya Jawa terhadap pengaruh luar tanpa kehilangan jati diri. Inilah salah satu kekuatan utama buku ini—ia tidak hanya menceritakan keindahan fisik, tetapi juga menggali lapisan-lapisan kebudayaan yang menyertai bangunan-bangunan megah tersebut.

Keberadaan soko guru—pilar-pilar utama yang menyangga atap joglo—menjadi simbol yang kuat tentang bagaimana rumah-rumah ini tidak hanya sekadar tempat tinggal. Mereka adalah ruang spiritual yang menghubungkan manusia dengan kekuatan alam dan kosmos. Setiap elemen arsitektur memiliki makna yang dalam, mencerminkan filosofi hidup masyarakat Jawa yang sarat akan keseimbangan dan harmoni.

Narasi yang Kaya Akan Visual

Selain narasinya yang memikat, kekuatan visual dari buku ini tidak bisa diabaikan. Fotografi yang disajikan dalam buku ini memegang peranan kunci dalam menghidupkan kisah-kisah yang disampaikan Tandjung. Lebih dari sekadar ilustrasi, foto-foto ini mengajak pembaca untuk ikut merasakan nuansa keagungan rumah-rumah tersebut, dari megahnya chandelier Austria hingga detail halus pada ukiran pintu kayu. Ini adalah salah satu aspek yang menjadikan House of Solo sebagai karya yang istimewa—sebuah perpaduan sempurna antara seni visual dan naratif.

Keputusan untuk menampilkan lebih dari 350 gambar, banyak di antaranya belum pernah dipublikasikan sebelumnya, membuat buku ini terasa eksklusif dan berharga. Foto-foto tersebut tidak hanya menunjukkan arsitektur bangunan secara keseluruhan, tetapi juga fokus pada detail-detail kecil yang menambah kedalaman cerita yang ingin disampaikan.

Refleksi pada budaya dan identitas Jawa. Melalui House of Solo, Tandjung seolah-olah mengundang kita untuk merenungkan esensi dari budaya Jawa. Rumah-rumah ini, dengan segala kemegahannya, tidak hanya menjadi penanda status sosial para pemiliknya, tetapi juga sebagai cermin dari pandangan dunia mereka. Arsitektur rumah, dengan perpaduan elemen Jawa dan Eropa, merefleksikan keterbukaan masyarakat Solo terhadap perubahan dan adaptasi tanpa kehilangan akar budaya mereka.

Filosofi yang mendasari setiap rumah tersebut berkaitan erat dengan spiritualitas dan kosmologi Jawa, di mana keterhubungan antara manusia dan alam menjadi pusat dari segala sesuatu. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh modernisasi dan globalisasi, House of Solo menghadirkan pesan yang relevan dan mendalam tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi.

Warisan yang terus hidup. Pada akhirnya, House of Solo bukan hanya tentang arsitektur atau sejarah. Lebih dari itu, ia adalah pengakuan akan kekayaan warisan budaya yang masih hidup di dalam rumah-rumah megah ini. Melalui buku ini, Tandjung telah berhasil menangkap esensi dari Solo sebagai kota yang tidak hanya memiliki masa lalu yang kaya, tetapi juga masa depan yang terhubung erat dengan warisan budayanya.

Bagi para pencinta sejarah, arsitektur, maupun mereka yang ingin memahami lebih dalam tentang kebudayaan Jawa, House of Solo menawarkan pandangan yang langka dan berharga. Ini adalah buku yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga patut untuk dikoleksi—sebuah karya yang tidak hanya memperkaya pengetahuan kita tentang Solo, tetapi juga menggugah rasa kagum kita akan keindahan yang tersembunyi di balik dinding-dinding rumah megah tersebut.

Dalam dunia yang semakin cepat berubah, House of Solo mengingatkan kita bahwa keindahan masa lalu tetap relevan untuk masa kini dan mendatang. Sebuah karya yang menghubungkan masa lampau dengan masa depan, dan menegaskan bahwa dalam arsitektur dan spiritualitas, Solo memiliki tempat yang istimewa di hati budaya Indonesia. Buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan buku ini adalah pada koleksi khusus R. Hardjonagoro dengan  nomor panggil: 728.809.398 2 Kri h []