“Raja-Raja Jawa: Jejak Kekuasaan, Seni, dan Budaya Kraton di Pulau Jawa” sebuah Resensi Buku

Judul Buku: Sejarah Raja-Raja Jawa: Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya di Jawa
Penulis: Dr. Purwadi, M. Hum.
Penerbit: Media Abadi
Tahun: 2007
ISBN: 979-99178-3-6
Tebal: xvi + 592 halaman

diresensi oleh: Joko Setiyono

 

Pulau Jawa bukan hanya dikenal dengan kekayaan alamnya, tetapi juga oleh sejarah gemilang para rajanya yang membentuk wajah peradaban Nusantara. Dalam buku “Sejarah Raja-Raja Jawa,” Dr. Purwadi, M.Hum. mengajak pembaca menjelajahi lorong waktu, menelusuri kisah-kisah epik dari para penguasa kerajaan yang tak hanya ahli dalam strategi politik, tetapi juga memajukan seni, budaya, dan pendidikan. Dengan memadukan antara keagungan istana dan kebijaksanaan para raja, buku ini membuka mata kita pada fakta bahwa kejayaan Jawa dibangun di atas landasan pemikiran mendalam, estetika yang halus, dan visi kebangsaan yang jauh ke depan.

Buku Sejarah Raja-Raja Jawa karya Dr. Purwadi, M. Hum. hadir sebagai sumbangan besar bagi pemahaman tentang perjalanan panjang kekuasaan para raja di Jawa, mulai dari Mataram Hindu hingga Kraton Pakualaman. Sejarah Jawa selalu menarik perhatian, terutama dalam konteks kerajaan-kerajaan yang berjaya di tanah ini. Dengan lebih dari 500 halaman, buku ini memaparkan dengan detail dan mendalam tentang kehidupan kraton yang tidak hanya berfokus pada aspek politik dan kekuasaan, tetapi juga pada seni, budaya, pendidikan, dan agama.

Buku ini mengungkapkan fakta bahwa Jawa, sebagai bagian dari Nusantara, memiliki warisan sejarah yang sangat kaya dan menakjubkan. Sejak zaman dahulu, Jawa telah menjadi pusat peradaban dengan berbagai kerajaan yang membentuk tatanan politik, sosial, dan budaya yang kuat. Para raja tidak hanya dikenal sebagai penguasa politik yang berwibawa, tetapi juga sebagai pemimpin yang mendorong kemajuan di berbagai bidang, termasuk seni, budaya, dan pendidikan.

Gambaran umum tentang Kerajaan-Kerajaan di Jawa di bagian awal. Purwadi menjelaskan bahwa para raja Jawa sejak era Mataram Hindu hingga masa Pakualaman telah menunjukkan keahlian luar biasa dalam mengelola negara dan masyarakat. Mereka ahli dalam menjalankan roda pemerintahan, mengatur birokrasi, dan memperhatikan kesejahteraan rakyat. Para raja tidak hanya terampil dalam hal politik kenegaraan, tetapi juga menunjukkan perhatian yang besar terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan. Ini ditunjukkan dalam kemajuan teknologi, seni, sastra, bahasa, filsafat, dan agama yang berkembang pesat selama masa kekuasaan mereka.

Purwadi juga menyoroti bahwa kesadaran akan pentingnya pendidikan di kalangan para raja Jawa Kuno menjadi salah satu faktor kunci dalam keberhasilan peradaban mereka. Pada masa itu, pendidikan humaniora menempati posisi yang sangat penting, terutama di kalangan pejabat kerajaan dan pemuka masyarakat. Pendidikan puisi, misalnya, menjadi bagian dari pendidikan wajib yang harus diikuti oleh kaum bangsawan, terutama di istana dan padepokan.

Buku ini terdiri dari 14 bab, yang secara kronologis membahas perkembangan kerajaan-kerajaan besar di Jawa. Purwadi dengan cermat menguraikan sejarah panjang para penguasa di masing-masing kraton, dari Kraton Mataram Hindu hingga Kraton Pakualaman. Setiap bab menyajikan kisah yang menarik tentang raja-raja yang berkuasa, mulai dari pendirian kerajaan hingga peristiwa-peristiwa penting yang memengaruhi perkembangan politik dan budaya di tanah Jawa.

Bab pertama dan kedua membahas masa Kraton Mataram Hindu dan Mataram Budha, dengan fokus pada raja-raja besar seperti Samaratungga, Pramodha Wardhani, dan Balaputra Dewa. Mereka dikenal sebagai pemimpin yang tidak hanya memperluas kekuasaan kerajaan, tetapi juga mendorong perkembangan seni, budaya, dan agama. Masa ini juga menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Jawa, terutama karena pengaruh besar agama Hindu dan Budha yang membentuk identitas kebudayaan Jawa.

Bab-bab selanjutnya mengulas kerajaan-kerajaan besar lainnya seperti Kraton Medang, Kahuripan, Kediri, Singosari, dan Majapahit. Sejarah Majapahit mendapat perhatian khusus dalam bab 7, di mana Purwadi menjelaskan secara rinci bagaimana kerajaan ini menjadi pusat kekuasaan politik dan ekonomi di Nusantara. Gajah Mada, sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Majapahit, diangkat sebagai figur yang berperan besar dalam menyatukan wilayah Nusantara melalui Sumpah Palapa. Bab ini juga membahas aspek-aspek menarik tentang sistem pendidikan, kebijakan politik luar negeri, dan supremasi hukum di Majapahit.

Bab-bab terakhir membahas sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, seperti Kraton Demak, Mataram Islam, dan Surakarta. Purwadi menggambarkan bagaimana Islam mulai berkembang di Jawa dan bagaimana para raja Islam memainkan peran penting dalam menyebarkan agama dan memperkuat kekuasaan mereka. Raja-raja dari Kraton Demak, seperti Raden Patah dan Sultan Trenggana, dikenal sebagai pionir dalam penyebaran Islam di Jawa.

Keahlian Raja-Raja Jawa dalam berbagai bidang . Selain menyoroti peran politik dan pemerintahan para raja, buku ini juga menggambarkan bagaimana para penguasa Jawa sangat memperhatikan seni, budaya, dan filsafat. Seni dan budaya menjadi bagian integral dari kehidupan kerajaan, dengan para raja yang mendorong perkembangan sastra, tari, musik, dan seni rupa. Selain itu, para raja juga mendukung perkembangan filsafat dan agama, yang kemudian membentuk identitas spiritual dan intelektual masyarakat Jawa.

Pentingnya seni dan budaya dalam kehidupan kerajaan Jawa juga tercermin dalam arsitektur kraton. Kraton bukan hanya pusat kekuasaan politik, tetapi juga pusat kebudayaan di mana berbagai seni dan tradisi berkembang. Dalam buku ini, Purwadi menjelaskan bagaimana kraton menjadi tempat di mana berbagai bentuk seni dan budaya dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi. Arsitektur kraton, dengan balairung yang megah dan ukiran-ukiran yang indah, mencerminkan kemegahan dan kejayaan masa lalu.

Sedikit catatan, meskipun buku ini memberikan wawasan yang sangat komprehensif tentang sejarah raja-raja Jawa, ada beberapa aspek yang bisa diperbaiki. Pertama, gaya penulisan yang digunakan terkadang terasa terlalu deskriptif dan kurang analitis. Purwadi cenderung fokus pada narasi sejarah tanpa banyak memberikan analisis yang mendalam mengenai dampak dari peristiwa-peristiwa yang terjadi. Misalnya, meskipun ada paparan tentang kebijakan-kebijakan politik dan ekonomi para raja, penulis tidak memberikan pandangan kritis tentang bagaimana kebijakan tersebut memengaruhi masyarakat Jawa secara lebih luas.

Kedua, buku ini bisa lebih menarik jika dilengkapi dengan visualisasi yang lebih kaya. Dengan tebal 592 halaman, buku ini sangat padat dengan informasi, dan adanya gambar, peta, atau ilustrasi lain akan membantu pembaca untuk lebih memahami konteks geografis dan budaya dari kerajaan-kerajaan yang dibahas. Meskipun demikian, kekurangan ini tidak terlalu mengurangi nilai dari buku ini, terutama bagi para pembaca yang tertarik dengan sejarah kerajaan Jawa.

Sejarah Raja-Raja Jawa adalah buku yang sangat penting bagi siapa saja yang ingin memahami sejarah panjang kerajaan-kerajaan di Jawa. Melalui paparan yang detail dan komprehensif, Purwadi berhasil menggambarkan perjalanan kekuasaan para raja dari berbagai kraton, mulai dari Mataram Hindu hingga Pakualaman. Buku ini memberikan wawasan yang kaya tentang politik, seni, budaya, dan agama yang berkembang di Jawa selama berabad-abad.

Meskipun ada beberapa kelemahan dalam hal gaya penulisan dan kurangnya analisis kritis, buku ini tetap menjadi sumber referensi yang berharga bagi para sejarawan, budayawan, cendekiawan, dan masyarakat umum yang tertarik dengan sejarah Jawa. Pembaca akan menemukan bahwa buku ini tidak hanya menyajikan fakta-fakta sejarah, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana kekuasaan, seni, dan budaya saling berkaitan dalam kehidupan kerajaan di Jawa. Buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, dengan  nomor panggil: 959.801 PUR s []