Seminar Nasional “Soft Skill & Spiritual Skill Pustakawan Dalam Layanan Prima Perpustakaan”

Pustakawan, sebagai salah satu profesi yang bergelut langsung dengan informasi, mau tak mau kini harus berhadapan dengan hal-hal yang merupakan dampak langsung dari “booming” kemajuan teknologi informasi dan komimg_5210unikasi (TIK). Pemustaka dan masyarakat yang harus dilayani pustakawan saat ini adalah suatu generasi baru yang lahir akibat kemajuan TIK yang disebut “Net Generation” atau “the Native Gadget”.

Percepatan ketersediaan informasi dan kemajuan TIK dapat dianalogikan seperti halnya teori Robert Malthus tentang deret ukur dengan deret hitung, bahwa perkembangan informasi cenderung tumbuh pesat seperti deret ukur, tidak sebanding dengan kemampuan kebanyakan manusia (termasuk pustakawan) dalam mengelola dan memanfaatkan informasi.

Dari sekian banyaknya sumber-sumber informasi, sumber dari internetlah yang kini semakin dicari dan digunakan. Mengaksesnya semakin mudah dan murah. Kemudian muncullah isu-miring tentang “kekalahan” perpustakaan dan pustakawan dibandingkan dengan internet dalam memberikan layanan dan menyajikan informasi. Untuk itu diperlukan berbagai cara peningkatan kompetensi pustakawan.

Kompetensi pustakawan dalam melaksanakan sebuah pekerjaan tidak hanya didukung secara teknis atau hard skill saja, namun dibutuhkan keterampilan lain yang bersifat nonteknis, berupa soft skill & spiritual skill yang mendukung dalam bidang apapun. Soft skill & spiritual skill erat kaitannya dengan kepribadian seseorang yang menjadikan karyawan baik, unggul dan dapat diandalkan dalam bekerja. Selain itu, menciptakan hubungan baik dengan menerapkan soft skill & spiritual skill terhadap pemustaka menjadi hal penting. Pustakawan harus mampu mengidentifikasi kebutuhan, keinginan dan cara pemenuhannya, seperti informasi apa, siapa, kapan, di mana dan bagaimana?

Kemampuan soft skill & spiritual skill menjadi bagian dalam pencapaian tujuan keberhasilan penyelenggaraan layanan prima di perpustakaan. Guna menjawab pertanyaan tersebut kiranya perlu suatu bentuk kegiatan pengkajian dan pembahasan lebih mendalam mengenai soft skill & spiritual skill dalam layanan prima perpustakaan. Oleh karena itu, sangatlah tepat diadakannya kegiatan seminar nasional dengan judul “Soft Skill & Spiritual Skill Pustakawan dalam Layanan Prima Perpustakaan”. Kegiatan ini akan menghadirkan narasumber yang telah berpengalaman dalam mengelola suatu perpustakaan. Direncanakan kegiatan ini akan dihadiri oleh para pustakawan, pengelola perpustakaan,  mahasiswa, dan pemerhati perpustakaan yang berasal dari beberapa wilayah di Indonesia.

Dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengelolaan dan pengembangan layanan perpustakaan seiring dengan kemajuan zaman, serta pengembangan keahlian dan wawasan bagi para peserta. (Oleh: R. Lalan F)

Tambahan Koleksi Perpustakaan FSRD ISI Surakarta Bulan Februari 2016

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana pada bulan Februari 2016 Perpustakaan FSRD ISI Surakarta mengadakan tambahan koleksi, berupa buku teks yang berjumlah 58 judul, 89 eksemplar. koleksi tersebut diperoleh dari pengadaan (pembelian) pada tahun 2014-2015. Berikut lampiran tambahan koleksi Perpustakaan FSRD ISI Surakarta:

Februari 2016

Upload by R. Lalan Fuandara
staff perpustakaan FSRD

Menata Ruang Perpustakaan Guna Menarik Minat Baca (Oleh Sundari Juni Astutik)

Ruang bagi perpustakaan merupakan hal penting setelah koleksi bahan pustaka.Dalam ruang-ruang perpustakaan pemustaka beraktivitas. Mereka bisa berlama-lama membaca atau mencari informasi yang mereka butuhkan. Ruangan yang nyaman akan menarik orang untuk datang ke perpustakaan. Tata ruang perpustakaan diyakini dapat mempengaruhi atau meningkatkan minat baca. Untuk itu perpustakaan memerlukan penataan atau desain tata ruang. Guna menyediakan ruang yang representatif untuk memfasilitasi orang membaca.

Ruang perpustakaan yang memiliki lay out, perabot, pengkondisian ruang, penghawaan, pencahayaan serta penggunaan warna cat dinding berkarakter dan nyaman akan mengoda orang untuk singgah. Desain tata ruang baca demikian itu berpotensi memicu meningkatkan minat baca dalam budaya digital. Upaya tersebut merupakan hal sangat berharga untuk dilakukan.  Mengapa? Karena kini tawaran kemudahan akses informasi sudah semakin nyata. Dengan hadirnya budaya digital yang memungkinkan orang membaca disebarang tempat dan waktu. Maka menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang nyaman untuk membaca memiliki tantangan tersendiri. Tantangan yang menarik untuk dilakukan bila tidak ingin perpustakaan semakin sepi pengunjung.

Kehadiran perpustakaan semestinya tidak hanya sebagai penghias kampus, masjid atau lembaga pemerintah apapun yang memiliki perpustakaan, tetapi adalah faktor penting yang memberi arah kemajuan sumber daya manusia di dalamnya. Tidak ada lembaga pendidikan yang berhasil melahirkan  lulusan yang hebat tanpa membaca informasi yang biasa ada di perpustakaan baik dari bahan pustaka tercetak, bahan pustaka elektronik maupun yang dapat ditelusuri melalui internet.

Dalam melayangkan informasi kepada masyarakat atau pemustaka tentunya membutuhkan suatu tempat atau ruang. Baik ruang untuk menempatkan fasilitas seperti komputer, lemari, rak beserta bahan pustaka maupun ruang sebagai tempat aktifitas pustakawan dan pemustaka. Kebutuhan luas ruang dapat diperkirakan dari analisis orang yang dilayani, perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan, sifat aktifitas yang akan berlangsung dimasing-masing ruang.

Gedung atau ruang perpustakaan adalah bangunan sepenuhnya diperuntukkan bagi seluruh pemustaka sebuah perpustakaan. Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan permanen, terpisah pergerakan manusia sebagai pengguna perpustakaan, daerah konsentrasi manusia, daerah konsentrasi buku/barang dan titik-titik layanan yang diberikan oleh perpustakaan. (Soejono Trimo, 1986).

Sementara menurut Pamudji Subtandar dalam bukunya Desain Interior menyatakan: Ruang, dalam bahasa Inggris adalah space dari istilah klasik spatium. Ruang bagi manusia merupakan kebutuhan dasar, maka desain interior bertujuan membentuk suasana ruang agar menjadi lebih baik, lebih indah dan lebih anggun sehingga memuaskan dan menyenangi para pemakai ruang. (Subtandar, 1999: 63).

Manusia dan Ruang

Manusia pada umumnya dimanapun berada selalu ingin menempati ruang yang baik dengan suasana ramah, sehat, mendambakan kenyamanan, bebas dari bahaya atau terpenuhi rasa aman. Ruang dibutuhkan manusia untuk arena melakukan aktivitasnya sehari-hari dengan nyaman. Demikian halnya ketika orang hendak ke perpustakaan faktor ketersediaan ruang yang nyaman merupakan daya tarik.

Pemustaka sebagai pengguna perpustakaan baik sebagai perorangan atau kelompok adalah pengakses ruang perpustakaan. Pemustaka yang hanya sekedar berkunjung ke perpustakaan sekalipun selalu membutuhkan ruang. Mereka memerlukan ruang sebagai fasilitas layanan perpustakaan entah untuk sekedar singgah, membaca koran, menunggu teman, atau mengakses sinyal wifi.

Manusia dan ruang adalah aspek yang penting untuk dalam penyelenggaraan layanan perpustakaan. Manusia baik sebagai pemustaka dan pengelola perpustakaan adalah makhluk yang bertubuh dan berjiwa. Tubuh manusia memerlukan ruang yang bersih dari segala acaman bagi tubuh, tidak panas dan berdebu misalnya. Singkatnya ruang yang ergonomis. Sedang jiwa manusia memerlukan ruang yang menyenangkan, indah dan estetis.

Karena tubuh manusia tidak bisa terlepas terhadap kebutuhan akan ruang untuk beraktifitas di perpustakaan. Dari sejengkal lantai untuk menjejakkan kaki, study carrel untuk konsentrasi membaca, sampai ruang untuk berdiskusi bersama. Sementara nilai estetika ruang merupakan cerminan jiwa. Penempatan ruang yang sesuai fungsinya akan memberikan kenyamanan bagi pengguna perpustakaan, baik nyaman secara fisik maupun jiwa.

Perpustakaan memerlukan  ruang untuk memfasilitasi para pemustaka dan pustakawannya. Seperti ruang baca yang merupakan tempat segala bentuk aktivitas pemustaka dalam rangka mencari informasi yang dibutuhkan. Ruangan ini seharusnya representatif, minimal memiliki prasyarat manusiawi sebagai pengguna ruang tersebut. Untuk itu ruang perpustakaan perlu ditata dengan baik.

Menata Ruang Perpustakaan

Penataan ruangan perpustakaan sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan semua kegiatan di perpustakaan baik aspek layanan maupun untuk kegiatan penyiapan semua sarana dan prasarana pendukung layanan perpustakaan. Perpustakaan menyediakan bahan pustaka dengan lengkap, fasilitas perpustakaan memadai tanpa penyediaan tata ruang baca yang baik akan membuat orang kurang tertarik berkunjung. Tidak terkecuali dalam budaya digital seperti era sekarang ini sekalipun. Ruang perpustakaan yang nyaman dan aman merupakan daya tarik tersendiri baik bagi pengunjung dan petugasnya.

Untuk itu kiranya tata ruang perpustakaan harus  dirancang sedemikian rupa. Seperti memperhatikan pada lay out, perabot, ruang baca serta sirkulasi ruangnya. Selain itu juga perlu dirancang masalah pengkodisian ruang maupun lingkungan ruang perpustakaan.

Tata letak perabot juga merupakan aspek penting dalam merencanakan sebuah ruangan. Dalam mengolah tata letak sebuah ruangan harus memenuhi kriteria fungsional dan estetiknya. Ruang yang bersih, teratur, nyaman, menyenangkan dan menarik merupakan salah satu faktor yang dapat mengundang orang untuk berkunjung ke perpustakaan.

Upaya menciptakan ruang perpustakaan yang nyaman perlu memperhatikan dua hal. Yaitu desain tata ruang dan pengkodisian ruang. Desain tata ruang diarahkan untuk menghasilkan pembagian fungsi ruangan, sirkulasi ruangan, dan pengelolaan unsur pembentuk ruang.

Perpustakaan perlu menyediakan ruangan-ruangan khusus. Ruang tersebut biasanya memberikan indikasi bagaimana ruang tersebut dimanfaatkan. Jalan masuk ke suatu ruang dapat membentuk pola sirkulasi yang membagi ruang menjadi zona-zona tertentu.

Tata letak perabot merupakan aspek penting dalam merencanakan interior. Pertimbangan hubungan antar ruang dan pengelompokan ruang berdasarkan jenis atau sifat ruang agar terjadi sirkulasi yang efisien dan hasil maksimal dari setiap kegiatan agar tidak saling mengganggu. Perencanaan furniture sebuah ruang perlu memperhatikan jumlah dan pengaturan perabot atas pertimbangan; aktivitas dan fungsi, kenyamanan serta bentuk dan warna. Perabot yang harus diatur yakni rak bahan pustaka, meja dan kursi serta perabot fungsional lainnya.

Sirkulasi ruang mengarah dan membimbing perjalanan dalam ruang. Sirkulasi memberi kesinambungan pada pengunjung (pergerakan pemustaka) terhadap fungsi ruang. Suatu sirkulasi yang terorganisir secara baik antara satu dengan yang lain dihubungkan dengan sistem lalu lintas yang berkesinambungan. Semua ruang dianalisa, disesuaikan dengan perkembangan atau perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan, kegemaran penghuni dan masyarakat yaitu jalan pintas kebiasaan dalam sistem sirkulasi. (Subtandar, 1999: 144).

Unsur Pembentuk Ruang. Ruang interior dalam bangunan dibentuk oleh elemen-elemen yang bersifat arsitektur.  Pembentuk ruang seperti kolom-kolom, lantai, dinding dan atap. Elemen-elemen tersebut memberi bentuk pada bangunan, memisahkannya dari luar dan membentuk pola tatanan ruang  interior. Sebagai tempat aktivitas, elemen-elemen ini dapat dikembangkan, dimodifikasi yang akan memperindah ruang interior sehingga cocok dari segi fungsi, menyenangkan dari segi estetika dan memuaskan dari segi psikologis untuk aktivitas. (Francis D.K Ching,1996: 160)

Lantai adalah bidang ruang interior datar dan mempunyai dasar yang rata. Sebagai dasar yang menyangga aktivitas interior dan perabot. Lantai harus terstruktur sehingga mampu memikul beban dengan aman.  Permukaan lantai harus kuat karena penggunaannya bisa menyebabkan aus. Bahan penutup lantai dapat berupa marmer, kayu/parket, keramik, vynil atau karpet. Lantai karpet sangat cocok pada ruang baca bertempat duduk lesehan, akustiknya bagus, kontur lembut dan pemeliharaannya mudah.

Dinding berfungsi sebagai pembatas ruang, baik visual maupun artistik. Ditinjau dari fungsinya, dinding merupakan bagian yang paling berperan dalam menghadirkan kesan ruang. Pada beberapa sisi dinding menggunakan jendela, sisi lainnya untuk penempatan rak maupun hiasan agar fungsi ruang dapat digunakan secara maksimal. Dinding ini dapat bersifat permanen atau semi permanen. Membentuk karakter ruang yaitu dengan pemilihan bahan, pola maupun warna yang tepat sesuai dengan suasana ruang yang akan dicapai.

Warna dapat digunakan untuk melapisi permukaan elemen ruang baca perpustakaan, seperti dinding, lantai dan perabot yang ada di perpustakaan.Warna dinding ruang baca perpustakaan sebaiknya warna hijau. Hijau memiliki sifat damai dan asri dan sering diidentikan dengan warna alam. Warna yang spesifik juga dapat membentuk bermacam-macam ekspresi dan karakter, seperti lunak, keras, juga kesan berat atau ringan.

Pengkodisian ruang meliputi: Penghawaan, pencahayaan dan akustika (pengendalian bunyi). Penghawaan berkaitan dengan kelembaban dan suhu ruang.  Kelembaban 45-60% dengan suhu 20-240C merupakan kondisi ideal. Untuk mengurangi kelembaban udara dapat menggunakan alat dehumifidier.

Penghawaan ruangan ada dua macam yaitu penghawaan alami dan buatan.

  • Penghawaan alami: Penghawaan ini merupakan sistem penghawaan yang menggunakan udara alam sebagai sumber penghawaan.Sifat dari penghawaan adalah permanen karena udara yang dihasilkan oleh alam tidak habis. Biasanya melalui penghawaan alam dengan cara buka-bukaan, seperti  jendela, pintu atau ventilasi udara yang lainnya. Untuk merancang sistem penghawaan alami diperlukan syarat berupa tersedia udara luar yang bebas dari bau, debu dan polusi; suhu udara luar tidak terlalu tinggi; tidak banyak bangunan yang menghalangi aliran udara horizontal sehingga angin menembus lancar.
  • Penghawaan buatan: Penghawaan ini menggunakan udara buatan. Sifat penghawaan buatan ini hanya sementara, tidak dapat digunakan selamanya. Penghawaan dengan sistem ini adalah penggunaan air conditioning (AC). Ruang baca biasa menggunakan AC yang jenis AC Cassette. Ukuran AC ini berkisar antara 100cm x 100cm atau 120cm x 120cm. Dapat digunakan untuk satu atau beberapa ruangan dengan peletakan di ceiling. Penggunaan AC memungkinkan pengkondisian udara yang nyaman bagi pemustaka dan aman untuk pemeliharaan buku.(Subtandar, 1999: 253)

Pencahayaan. Fungsi pencahayaan adalah memberi penerangan sesuai persyaratan dan jenis aktivitas, menciptakan suasana, memberi daya tarik serta memberi rasa aman (aktivitas lancar). Cahaya berdasarkan sumbernya, yang pertama berasal dari cahaya alami (matahari). Kedua, berasal dari alat bantuan atau lampu.(D.K Ching,1996:294)

Jika pencahayaan di ruang baca perpustakaan menggunakan  cahaya alami, hendaknya sinar disembunyikan dari mata. Sehingga cahaya yang dirasakan adalah hasil pantulan, agar tidak melelahkan mata. Namun untuk mengatasi cahaya yang tidak dapat masuk maka digunakan cahaya buatan, yakni menggunakan pencahayaan lampu TL 40 didukung pencahyaan downlight. Tekniknya menggunakan cove, tipe pencahayaan tidak langsung di mana proyeksi pada dinding yang mengandung cahaya lampu dipantulkan ke arah plafound.

Akustik (pengendalian bunyi). Akustik adalah pengendalian bunyi secara arsitektural berfungsi untuk menciptakan kondisi mendengar yang ideal di ruang tertutup maupun terbuka. (Leslie L Doelle, 1986: 226). Dalam perpustakaan diperlukan lingkungan yang tenang untuk belajar atau membaca, dikarenakan kemungkinan adanya suara bising yang menggangu seperti buku jatuh, menutup pintu, batuk atau berbicara yang berlebihan.

Bising Dalam. Bising dalam berasal dari manusia yang berada di ruangan atau gedung.Dinding pemisah, lantai, pintu dan jendela harus mengadakan perlindungan terhadap bising-bising dalam ruangan. Dalam mengatasi gejala akustik di ruang tertutup disederhanakan sama dengan memperlakukan cahaya. Dikenal dengan akustik geometric. Berdasarkan teori akustik geometric ini, pemantulan bunyi, penyerapan bunyi, difusi bunyi, difraksi bunyi dan dengung dapat diatasi dengan memperhatikan lapisan permukaan dinding, lantai, atap, udara dalam ruangan. Perlu diperhatikan juga isi dalam ruangan seperti tirai, tempat duduk dan karpet. (Subtandar, 1999:253)

Bising Luar. Bising luar berasal dari lalu lintas, transportasi dan berbagai kegiatan di luar ruangan yang dapat menimbulkan suara bising. Untuk mengatasi diperlukan pengendalian dengan mengisolasi suara tersebut dari sumbernya. Mengatur denah bangunan sedemikian rupa. Menjauhkan suara dan yang terakhir dengan menghilangkan jalur rambatan suara melalui struktur bangunan yang bergerak dari sumber ke dalam ruang.

Dengan mendesain tata ruang baca perpustakaan seperti pada  lay out, perabot dan tempat membaca dapat meningkatkan jumlah pengunjung perpustakaan. Dengan memperhatikan kondisioning ruang baik di dalam ruang maupun lingkungan ruang perpustakaan, meliputi penghawaan dan pencahayaan serta akustik ruang dapat meningkatkan jumlah pengunjung di perpustakaan. Diperlukan pula penggunaan warna tertentu untuk membentuk karakter sesuai ruangan yang dibutuhkan di perpustakaan.

Bagi pustakawan, pengambil kebijakan ataupun pemangku kepentingan bidang perpustakaan, mendesain tata ruang baca perpustakaan yang representatif dalam membangun ruang baca perpustakaan akan menjadi alternatif untuk semakin menghidupkan perpustakaan. Agar dapat meningkatkan jumlah pengunjung di perpustakaan. Serta meningkatkan minat baca.

                Tersedianya ruang perpustakaan yang nyaman, aman dan bersahabat merupakan daya tarik untuk menumbuhkan minat baca. Ketertarikan orang  dengan daya pikat ruang atau gedung perpustakaan akan mengiring untuk sekedar singgah. Dari sini orang akan mencoba berinteraksi dengan koleksi bahan pustaka yang ada. Semakin larut diharapkan tumbuh minat untuk membacanya, membuka lembar demi lembar halaman buku.

Selain itu ruang perpustakaan yang baik dan menarik juga amat dibutuhkan atas kodrat manusia itu sendiri. Sebagai makluk yang terikat oleh demensi ruang dan waktu. Fisik manusia membutuhkan kursi atau tikar untuk duduk, memerlukan udara yang segar dan sejuk supaya nyaman, membutuhkan cahaya yang optimal untuk menjaga penglihatan menjaga stamina mata.

Secara sangat sederhanan indikator ruang perpustakaan yang representatif, nyaman dan menyenangkan bisa jadi terlihat dari kegemaran para pengunjung perpustakaan untuk berselfie di ruang tersebut dan kemudian menaruhnya di media sosial mereka. Seperti  facebook, twitter, dan instagram.

            Semakin cepatnya penemuan tehnologi informasi telah memunculkan budaya baru. Budaya digital. Beragam temuan media informasi seperti gadget yang semakin berkualitas dan semakin terjangkau, serta tersedianya jaringan internet membawa budaya digital makin meluas. Akses internet membuat arena bagi budaya digital. Arena yang semakin mudah dimasuki oleh masyarakat. Semua hal tersebut tidaklah akan menyirnakan kebutuhan dan penyedian ruang. Tubuh manusia yang senantiasa memerlukan ruang untuk beraktivitas. Seperti hal beraktivitas dalam budaya digital.

            Maka tidak berlebihan kiranya bahwa menumbuhkan minat baca memerlukan fasilitas ruang perpustakaan yang representatif, terlebih dalam budaya digital seperti saat ini. Dalam ruangan mereka dapat membaca beragam informasi digital, majalah digital, koran digital dsb sambil duduk di kursi atau lesehan di ruang yang nyaman.

DAFTAR  PUSTAKA

Ching, Francis D.K  Illustrasi Desain Interior. Jakarta: Erlangga, 1996

Doelle, Lesslie L. Akustik Lingkungan. Jakarta: Erlanga, 1986.

Moleong, Lexy. J Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012

Pile, Jhon F. Interior Design. New York: hary & Abraham Inc., 1994

Poole, Frazer G. Dasar Perencanaan Gedung Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia. Bandung:  Institut Teknologi  Bandung, 1981

Subtandar, Pamudji. Desain Interior. Jakarta: Djambatan, 1999

Sulistyo, Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan.  Jakarta:  Gramedia Pustaka  Utama, 1993.

Trimo, Soejono. Pengetahuan Dasar Dalam Perencanaan Gedung Perpustakaan. Bandung: Angkasa, 1986

Undang Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007.

Setiawan, Benny. “Pentingnya Pelayanan Prima Terhadap kepuasan  pelanggan”’akses dari http://www.pakbendot.com/2012/05/ pentingnya-pelayanan-prima-terhadap-kepuasan-pelanggan.htlm.

http://www.properti.com/artikel/fengshui-2/7-warna-dinding-dan -artinya/10/4/2014

Upload by: R. Lalan Fuandara

SOSIALISASI LAYANAN PERPUSTAKAAN ISI SURAKARTA TAHUN 2015

UPT Perpustakaan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta berpartisipasi dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun 2015 yang dilaksanakan pada tanggal 18-21 Agustus 2015 di ISI Surakarta. Dalam acara PKKMB ini UPT Perpustakaan diberi kesempatan untuk sosialisasi layanan perpustakaan pada hari pertama, Selasa, 18 Agustus 2015.

Sosialisasi perpustakaan sudah menjadi agenda rutin dalam setiap tahun ajaran baru, kali ini diikuti oleh peserta PKKMB yang berjumlah 569 orang mahasiswa baru dari 13 program S1 (sarjana) dan 2 program studi D4 (diploma) dari Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Surakarta.

Sosialisasi layanan perpustakaan disampaikan oleh tim perpustakaan yang terdiri dari Mustofa, SIP.,  Maria Chrisdiana Sri Utami, S.IKom., dan Sundari Juni Astutik, A. Ma.

Informasi yang disampaikan dalam sosialisasi layanan perpustakaan sangatlah penting, antara lain: 1) mengenal seniman besar dan bagaimana mereka memperoleh referensi salah satunya di perpustakaan, berlatih serta konsisten. 2) perpustakaan yang ada di lingkungan ISI Surakarta; UPT Perpustakaan Pusat, Perpustakaaan Prodi Pedalangan, Perpustakaan Prodi Tari, Perpustakaan Prodi Karawitan dan Perpustakaan Pascasarjana (masing-masing berada di kampus 1 Kentingan) dan Perpustakaan Fakultas Seni Rupa dan Desain (berada di kampus 2 Mojosongo). 3) bagaimana mahasiswa memanfaatkan perpustakaan dan menggunakan katalog online (OPAC) sehingga dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan. Selain sosialisasi dilakukan secara lesan, perpustakaan juga membagikan buku panduan perpustakaan yang berisi  visi-misi perpustakaan, sejarah perpustakaan, cara memanfaatkan perpustakaan, tata tertib perpustakaan dan sebagainya. (team perpust @2015)

01

Tim menyampaikan sosialisasi layanan perpustakaan.
Dari kiri ke kanan : Sundari Juni Astutik, A. Ma., Maria Chrisdiana Sri Utami, S.IKom., dan Mustofa, SIP.
Foto: Eko S. (@2015)

02

Peserta PKKMB 2015 dalam sosialisasi layanan perpustakaan
Foto: Eko S. (@2015)

03

Buku Panduan Perpustakaan 2015
Foto: Ali (@2015)

UPT Perpustakaan ISI Surakarta mengadakan Pelatihan Pengemasan Bahan Pustaka Digital

Pada tanggal 19 dan 20 Agustus 2015 Perpustakaan ISI Surakarta mengadakan pelatihan pengemasan bahan pustaka digital dengan tema  “Akses dan Penyebaran Sumber Informasi Digital”. Peserta terdiri dari pustakawan dan tenaga perpustakaan ISI Surakarta.

Dalam acara pelatihan pengemasan bahan pustaka digital dihadiri oleh Pembantu Rektor I Dr.Guntur, M.Hum  sekaligus membuka acara secara resmi.  Dalam sambutannya beliau mengungkapkan bahwa pustakawan harus memiliki ketrampilan dan kompetensi  agar dapat meningkatkan pelayanan yang berkualitas. Pelatihan pengemasan bahan pustaka digital merupakan upaya agar pustakawan dapat memiliki keahlian mengemas bahan pustaka secara digital sehingga lebih meningkatkan mutu pelayanan perpustakaan.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidang pengemasan bahan pustaka digital.  Narasumber pertama  yakni Purwoko, SIP., MA.  memaparkan mengenai sumber-sumber koleksi digital dan pengelolaannya. Berbagai koleksi tersebut haruslah dikelola dengan baik agar dapat diakses, ditemukan dengan mudah, dipahami oleh pemustaka dan digunakan dalam pemenuhan kebutuhan informasi.

Narasumber kedua oleh Fatchul Hijrih, S.Kom. memaparkan tentang pemanfaatan omeka sebagai perangkat lunak desiminasi informasi. Omeka merupakan jenis aplikasi berbasis web. Aplikasi berbasis web memungkinkan omeka berjalan optimal di jaringan komputer. Dengan pelatihan pengemasan bahan pustaka digital yang diselenggarakan oleh UPT Perpustakaan, diharapkan pustakawan lebih memahami akses dan penyebaran sumber-sumber koleksi digital sehingga dapat meningkatkan pelayanan kepada para  pemustaka.

DSC_1

Dr.Guntur ,M.Hum  selaku pembantu Rektor I membuka pelatihan pengemasan bahan pustaka digital

DSC_2

Narasumber pertama  Purwoko, SIP.,MA  menyampaikan materi mengenai koleksi digital dan pengelolaannya dipandu oleh moderator  Wahyu Karminah, S.Sos

DSC_3

Penyerahan cinderamata oleh Kepala Perpustakaan ISI Surakarta Nyono, S.Sos kepada narasumber  Purwoko, SIP.,MA

DSC_4

Narasumber  kedua Fatchul Hijrih,S.Kom sedang menyampaikan materi  tentang pemanfaatan omeka sebagai perangkat lunak desiminasi  informasi

DSC_5

Peserta pelatihan pengemasan bahan pustaka digital  sedang mendengarkan materi  yang  disampaikan oleh narasumber

DSC_6

Penyerahan cinderamata oleh ketua panitia pengemasan bahan pustaka digital Emi Tri Mulyani, S.Sos kepada narasumber kedua Fatchul Hijrih,S.Kom

DSC_7

Foto bersama narasumber

UPT Perpustakaan ISI Surakarta Selenggarakan Pelatihan Menulis Karya Ilmiah

Pada tanggal 28 sampai 31 Juli 2015 UPT Perpustakaan ISI Surakarta menyelenggarakan pelatihan menulis karya ilmiah. Pelatihan bertema: Minat Baca dalam Budaya Digital ini diformat dalam 32 jam latihan. Peserta datang dari pustakawan, pengelola perpustakaan, dan pemerhati perpustakaan.

Prof. Dr. Sri Rochana W., S.Kar., M.Hum selaku Rektor Institut Seni Indonesia Surakarta berkenan menghadiri acara pembukaan. Sekaligus membuka secara resmi pelatihan tersebut pada tanggal 28 tepat pukul 08.00 WIB. Dalam sambutannya Beliau mengungkapkan bahwa para pustakawan diuntungkan dengan sumberdaya yang melipah untuk membuat tulisan. Kekayaan koleksi perpustakaan yang dikelola para pustakawan hendaknya bisa dimanfaatkan secara positif untuk menulis. Maka sudah sewajarnya pustakawan perlu meningkatkan kompetensi menulisnya sesuai dengan tuntutan tugas dan pengembangan diri.

Dua narasumber yang kompenten di bidang penulisan dan perpustakaan memandu para peserta menggarap tulisan sesuai tema pelatihan. Narasumber pertama, Drs. St. Kartono, M.Hum. yang menyebutkan dirinya sebagai pengompor mampu menghidupkan kelas pelatihan dan membangkitkan semangat menulis para peserta. Para peserta diajak praktek langsung tentang teknik-teknik menulis tanpa disadari mereka sedang diarahkan untuk membuat tulisan.

Narasumber kedua, Moh.Mursyid, SIP. membimbing peserta mulai dari menggarap tema ke dalam kerangka tulisan sampai tips mengirimkan tulisan ke media massa. Moh Mursyid juga membuat dinamika kelompok untuk menciptakan suasana pelatihan lebih dinamis.

Hasil akhir dari pelatihan ini adalah terkumpulnya hasil karya tulis peserta menjadi sebuah buku bunga rampai. Yang saat berita ini diturunkan sedang memasuki tahap editing. Out put ini diharapkan menjadi titik pemacu peserta untuk terus aktif berkarya. Berkarya menyemarakan dunia literasi dengan tema perpustakaan dan kepustakawanan, melalui membaca dan menulis.

 

IMG_2040

Prof.Dr.SriRochana W., S.Kar.,M.Hum selaku Rektor Institut Seni Indonesia Surakarta meresmikan pelatihan pada acara pembukaan.

IMG_2083

Suasana sesi pelatihan dipandu oleh Drs. St. Kartono, M.Hum.

IMG_2100

Penyerahan cinderamata oleh Kepala UPT Perpustakaan ISI Surakarta, Nyono,S.Sos kepada narasumber Drs. St. Kartono, M.Hum.

IMG_2233

Suasana dinamika kelompok bersama narasumber Moh. Mursyid, SIP.

IMG_2269

Foto bersama peserta dan narasumber Moh. Mursyid, SIP

IMG_2111

Foto bersama peserta dan narasumber Drs. St. Kartono, M.Hum.

PEMBUKAAN PAMERAN DAN BURSA BUKU TAHUN 2014

UPT Perpustakaan ISI Surakarta pada tanggal 8 sd 12 September 2014 menyelenggarakan Pameran dan Bursa Buku. Senin, 8 September 2014 tepat jam 09.00 WIB seremoni acara pembukaan pameran dan bursa buku dimulai. Rangkaian acara terdiri dari laporan ketua panitia, sambutan Pembantu Rektor I sekaligus dirangkai dengan peresmian pembukaan, pembacaan doa, dan dilanjutkan dengan ramah-tamah dan peninjauan stand pameran.

Secara simbolis Pameran dan Bursa Buku  dibuka dengan pemukulan gong  oleh Dr. Guntur, M.Hum. selaku Pembantu Rektor I, sebagai tanda peresmian kegiatan. Dalam sambutannya Dr. Guntur, M.Hum. memberikan apresiasi atas kegiatan yang diinisiasi oleh UPT Perpustakaan ini. Beliau juga menyatakan bahwa bagi dunia akademis buku sampai saat ini masih menjadi media ilmu pengetahuan yang penting. Mengkonsumsi buku atau berinteraksi dengan buku merupakan aktivitas intelektual penting bagi dunia akademis sama vitalnya dengan menghasilkan karya berupa buku. Dibagian lain sambutnya Dr. Guntur juga melontarkan gagasan untuk membuat akses yang lebih mudah bagi pengunjung datang ke Perpustakaan, mengingat lokasi Perpustakaan saat ini.

Sementara itu, Ketua Panitia Maria Chrisdiana Sri Utami, S.IKom. dalam laporannya menyampaikan bahwa peserta Pameran dan Bursa Buku ini terdiri dari kalangan Penerbit, Distributor Buku dan Toko Buku yang berasal dari Solo dan Yogyakarta sebanyak 9 peserta. Pameran dan Bursa Buku ini diselenggarakan dalam rangka Pengadaan Buku Tahun Anggaran 2014 dengan tujuan :

  1. Memberikan keleluasaan dan kemudahan bagi pemustaka untuk memilih dan membeli buku yang dibutuhkan
  2. Memenuhi kebutuhan informasi pemustaka untuk memperlancar proses belajar mengajar, penelitian dan pengabdian pada masyarakat
  3. Menjalin hubungan yang baik antara perpustakaan, penerbit, distributor, toko buku dan pemustaka
  4. Memberikan kemudahan kepada pemustaka dalam pengajuan judul-judul buku yang dibutuhkan untuk usulan pengadaan buku baru di perpustakaan tahun anggaran 2014

Disampaikan pula bahwa Pameran dan Bursa Buku ini tidak semata-mata ajang promosi bagi pelaku bisnis perbukuan, tapi juga merupakan forum interaksi penulis, penerbit, distributor dan pecinta buku, sehingga dalam pameran dan Bursa Buku ini akan dimeriahkan dengan acara Bedah Buku yang akan diselenggarakan 2 kali, yaitu pertama, Senin 8 September 2014 jam 10.30  WIB dengan buku berjudul Estetika Paradoks karya Jacob Sumarjo dengan pembedah Sdr Bayu Wijayanto, S.Sn, M.Sn dari ISI Yogyakarta. Kedua, hari Kamis 11 September 2014 WIB dengan buku berjudul Pemulihan Jiwa Vol.3 karya Dedy Susanto dengan pembedah Eko Raharjo, S.Sos., MM. dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, pesertanya adalah Mahasiswa ISI Surakarta perwakilan dari masing-masing Prodi.

Pameran dan Bursa Buku ini diharapkan juga bisa menjadi kesempatan bagi pemustaka untuk menambah khasanah pustaka sekaligus sebagai ajang sosialisasi perpustakaan. Bertepatan sekali bahwa pada tanggal 8 September adalah Hari Baca Tulis Sedunia dan tanggal 14 September adalah Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan. Maka dari itu kunjungilah perpustakaan dimana perpustakaan sebagai jantungnya Perguruan Tinggi pusat menimba ilmu. Dengan pameran ini diharapkan dapat mendorong pemustaka untuk lebih mencintai buku dan meningkatkan minat serta kebiasaan membaca sehingga pada akhirnya salah satu kebutuhan pokok dalam upaya peningkatan kecerdasan bangsa akan terwujud. (J/8.09.2014)

1

Tamu undangan memasuki ruangan

 

2

Sambutan dan peresmian dari Pembantu Rektor I (Dr. Guntur M.Hum)

 

3

Pengunjung melihat stand pameran

 

4

Pengunjung melihat stand pameran

 

 

 

 

 

 

 

 

Pameran Buku 2014

spanduk_pameran_buku_2014

 

UPT. Perpustakaan ISI Surakarta dengan bangga mempersembahkan acara : PAMERAN DAN BURSA BUKU Tahun 2014. Dengan kegiatan ini diharapkan manambah partisipasi mahasiswa untuk lebih peduli dan menambah semangat untuk datang ke perpustakaan.

Acara ini di laksanakan pada :

Tanggal : 8 sd 12 September 2014

Waktu : Jam 09.00 sd 15.00 WIB

Tempat : Gedung UPT. Perpustakaan ISI Surakarta

Alamat : Jl. Ki Hadjar Dewantoro No.19 Kentingan Jebres Surakarta