MEMBANGUN CITRA POSITIF PERPUSTAKAAN Oleh : Wahyu Kaminah S.Sos

Di era modern ini, ada beragam pilihan perpustakaan yang dapat dinikmati oleh pemustaka. Baik Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Umum, Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakaan Khusus dan Perpustakaan Sekolah. Sebuah organisasi atau lembaga dikatakan berhasil apabila kualitas layanan yang diberikan telah memperoleh pengakuan dari pemakai yang dilayaninya. Kualitas tersebut dapat dicapai oleh perpustakaan dengan memaksimalkan kinerja dan prestasi yang dimilikinya.

Citra dan identitas perpustakaan

Perpustakaan perlu berupaya keras agar eksistensinya diakui oleh masyarakat. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangun citra agar perpustakaan mendapat perhatian dan apresiasi positif dari pemustaka. Misalnya pembuatan logo yang menarik, baik berupa gambar ataupun tulisan. Pembuatan slogan atau motto perpustakaan dengan kalimat yang menarik sehingga mudah diingat pemustaka juga perlu dirancang agar menumbuhkan citra positif  perpustakaan.

Citra dapat juga dibentuk dengan cara lain misalnya dengan seragam khas petugas perpustakaan, model surat kas perpustakaan, pembuatan souvenir perpustakaan dan juga penataan desain fisik perpustakaan. Jika memiliki dana besar, perpustakaan dapat membangun gedung yang unik, mewah dan elegan sebagai cara untuk menumbuhkan citra positif dan ketertarikan masyarakat pada perpustakaan.

 Membangun citra perpustakaan

Setiap perpustakaan memiliki citra yang disadari atau tidak telah melekat pada perpustakaan tersebut. Citra perpustakaan merupakan keseluruhan kesan yang terbentuk di benak masyarakat. Persepsi pemustaka terhadap perpustakaan dapat dirasakan dari adanya pengalaman, kepercayaan dan pengetahuan pemustaka terhadap layanan yang diberikan perpustakaan. Dengan demikian citra merupakan aset penting pada perpustakaan yang selayaknya terus menerus dibangun dan dipelihara. Citra yang baik merupakan perangkat kuat, bukan hanya untuk menarik pemustaka yang tidak tahu tentang keberadaan perpustakaan, tetapi juga dapat memperbaiki sikap dan kepuasan pada pemustaka.  Citra perpustakaan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibangun dan dibentuk, dari upaya komunikasi dan keterbukaan perpustakaan dalam membangun citra positif yang diharapkan.

Secara umum, citra perpustakaan masih sangat rendah. Masyarakat pengguna perpustakaan atau pemustaka masih memandang sebelah mata tentang eksistensi perpustakaan. Hal ini dikarenakan masyarakat kurang mendekat atau kurang memahami peran dan fungsi perpustakaan.”Tak kenal maka tak sayang”. Perpustakaan harus membenahi diri, meningkatkan layanan, dan memberi  kesan positif. Citra baik perpustakaan akan dapat mempengaruhi peningkatan frekuensi kunjungan pemustaka,

Peran pustakawan

Pustakawan adalah garda depan gerbang informasi. Dalam memberikan pelayanan yang baik, pustakawan harus memiliki wawasan yang luas. Dasar-dasar ilmu informasi, harus dikuasai dengan baik. Ketrampilan menelusur informasi secara cepat dan tepat juga harus dimiliki oleh pustakawan sehingga jika ada pemustaka yang meminta bantuan untuk pencarian informasi, segera dapat ditangani dengan baik. Banyaknya informasi yang ada di perpustakaan, menuntut pustakawan untuk dapat mengelola, mengklasifikasi dan mendistribusikan informasi secara teliti dan akurat. Sistem klasifikasi dan pengaturan informasi yang baik, perlu dilakukan pustakawan agar memudahkan pemustaka dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Teknologi informasi yang berkembang, menuntut pustakawan agar lebih lihai untuk memanfaatkan arus balik informasi. Pustakawan tidak sekedar bisa mengetik komputer dan menelusur informasi saja, tetapi juga harus pandai mengendalikan sistem informasi yang serba digital agar lebih mudah diakses pemustaka.

          Komunikasi adalah akses agar pemustaka mau memanfaatkan layanan perpustakaan sesuai harapan mereka. Kemampuan berkomunikasi bagi pustakawan sangat diperlukan tidak saja meningkatkan mutu layanan perpustakaan tetapi juga untuk melakukan promosi perpustakaan sehingga citra perpustakaan terangkat dengan baik. Komunikasi bukan sekedar kemampuan ucap saja. Ada beberapa aspek nonverbal yang perlu dipertimbangkan misalnya kontak mata, senyuman, ,gerakan tubuh dan cara bersikap pustakawan. Pustakawan harus pandai bersikap, mendengarkan keluhan kebutuhan informasi pemakai, memberikan dan membantu pemustaka dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Sikap santun, cara bertutur yang baik, keramahan, memperlakukan pemustaka dengan baik dan senang hati merupakan bentuk citra yang perlu dilakukan seorang pustakawan.

          Ada beberapa ketrampilan yang harus dimiliki seorang yang berprofesi sebagai pustakawan, antara lain ;

  1. Pustakawan hendaknya berubah menyesuaikan keadaan yang menantang
  2. Pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pemakai. Seorang pustakawan harus ahli dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan.
  3. Seorang pustakawan harus berpikir positip.
  4. Pustakawan tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, akan tetapi harus memiliki nilai tambah, karena informasi terus berkembang
  5. Pustakawan sudah waktunya untuk berpikir kewirausahaan. Bagaimana mengemas informasi agar layak jual.
  6. Ledakan informasi yang pesat membuat pustakawan tidak lagi bekerja hanya antar sesama pustakaan, akan tetapi dituntut untuk bekerjasama dengan bidang profesi lain, dengan tim kerja yang solid dalam mengelola informasi.

Peran teknologi informasi

             Di era modern ini perpustakan harus pandai memoles diri. Jika dulu, penataan, pengelolaan dan penelusuran informasi dilakukan secara manual. Di era digital ini, perpustakaan mulai berbenah diri. Peran teknologi informasi tidak diragukan lagi. Perpustakaan modern menuntut semua system serna ‘computerized’. Sistem pelayanan yang terautomasi, penelusuran melalui OPAC, pengadaan dan pengklasifikasian yang menggunakan komputer dan internet, semakin memudahkan pustakawan dalam mengelola dan melayankan sumber informasi yang dimilikinya. Informasi terasa mudah di genggaman pemustaka.

Lahirnya perpustakaan digital memang disambut baik oleh pustakawan dan pemustaka. Kebanyakan pustakawan terbuka terhadap perubahan teknologi, tetapi juga masih mengingat fungsi tradisional  yaitu membantu mencari informasi, baik secara manual maupun digital. Dengan berbekal handpone atau laptop dari mana saja, pemustaka dapat mengakses sumber-sumber informasi yang dilayankan berbagai perpustakaan. Peran teknologi informasi dalam membangun sebuah citra perpustakaan, tidak disangsikan lagi. Justru di sinilah saatnya perpustakaan membuka diri kepada pemustaka dengan beragam kreasi dan inovasi. Membangun website yang menarik, menyediakan sarana komunikasi terbuka dengan pemustaka baik lewat facebook, twitter atau blog perpustakaan. Pemustaka dapat mengenali lebih jauh informasi apa saja yang ada di dalam sebuah perpustakaan. Kelengkapan koleksi, desain gedung, penataan ruang, kemudahan system pelayanan dan  juga hal yang terpenting adalah keramahan petugas yang berada di dalamnya.           Peran internet begitu ampuh memikat pemustaka. Kemampuan pemustaka dalam memanfaatkan akses online baik melalui website milik perpustakaan atau penyedia akses e-journal menunjukkan tingkat kemampuan mereka yang melek teknologi. Dengan kata lain pemustaka membutuhkan perpustakaan dengan kelengkapan wifinya untuk memenuhi kebutuhan akses informasi. Ada beberapa keunggulan perpustakaan digital antara lain akses yang mudah, murah, pemeliharaan koleksi secara digital, jawaban yang tuntas dan jaringan global.

Perlu strategi promosi perpustakaan

Pemustaka berhak tahu produk apa saja yang dihasilkan pustakawan. Layanan yang bagus dan bermutu, koleksi yang lengkap, keramahan pustakawan dalam memberikan pelayanan dan teknologi informasi yang memadai tidak akan berarti apa-apa jika tidak dikomunikasikan kepada pemustaka. Perpustakaan perlu menjajakan diri melalui promosi dan sosialisasi. Dengan promosi dan komunikasi yang tepat sasaran, citra positif perpustakaan akan semakin terangkat dan dikenal oleh masyarakat luas. Perpustakaan dapat mengadakan beberapa kegiatan terkait promosi. Antara lain dengan mengadakan pameran, user education, menyebarkan pamlet/ brosur dan  promosi melalui internet.

  • Pameran

Pameran tentang produk-produk perpustakaan dapat diadakan agar masyarakat mengetahui dan mengenal lebih detail apa saja yang dimiliki perpustakaan. Perpustakaan dapat menggelar bazar buku di perpustakaan dengan menggandeng penerbit-penerbit lokal yang berkualitas. Dengan pameran tersebut, diharapkan masyarakat lebih mengenal dan memanfaatkan jasa perpustakaan. Citra positif perpustakaan dapat tumbuh dengan kegiatan pameran.

  • User education

 User Education adalah program yang diselenggarakan oleh perpustakaan untuk memberikan bimbingan, petunjuk, maupun pendidikan kepada calon pemustaka atau pemustaka perpustakaan dalam kegiatan mereka untuk memanfaatkan jasa informasi serta sarana perpustakaan. Misalnya katalog, komputer, mikrofis, film mikro, maupun CDROM.

  • Pamlet/brosur

Banyak sekali informasi yang ada di perpustakaan perlu diketahui oleh pemustaka. Brosur bisa lebih banyak memberikan informasi mengenai kegiatan perpustakaan dan fasilitas yang dimilki. Bahkan dengan brosur dapat disebarluaskan informasi yang bersifat teknis, seperti bagaimana menggunakan katalog perpustakaan untuk mendapatkan buku tertentu di dalam koleksi. Agar brosur di perpustakaan efektif, ada beberapa informasi penting dan dapat dimasukkan ke dalam brosur antara lain petunjuk umum tentang perpustakaan, informasi mengenai koleksi perpustakaan, daftar bacaan yang menarik, petunjuk tentang subjek-subjek tertentu dan informasi tentang jenis layanan perpustakaan. Penyebaran brosur yang menarik baik dari desain, pilihan warna dan kalimat yang digunakan akan mengangkat citra positif perpustakaan.

  • Internet

            Perpustakaan dapat memanfaatkan internet untuk menumbuhkan citra di benak pemustaka. Pustakawan dapat menciptakan website tentang perpustakaan sehingga pemustaka dapat mengetahui beragam informasi yang ada di perpustakaan. Dengan demikian pemustaka  merasa diuntungkan karena dengan mengakses informasi darimana saja melalui internet, mereka dapat mengetahui layanan informasi, program kegiatan dan juga dapat menelusur informasi yang mereka butuhkan. Bahkan pustakawan dapat berkreasi dalam mengemas informasi yang ada di perpustakaan dan memasarkannya melalui beragam media sosial misalnya facebook, twitter atau blog yang digunakan staf pustakawan. Bahkan pemustaka dapat dilibatkan secara aktif melalui interaksi media sosial tersebut.

Daftar Pustaka

Kasali Rhenald,2003 Manajemen Public Relations, PT Pustaka Utama Grafiti, Cetakan keempat

Mustofa, Badollahi, 1996. Promosi Jasa Perpustakaan.Jakarta : Universitas Terbuka,Depdikbud

PR Smith,1993. Marketing Communications : an integrated approach.Britain : Kogan Page

Sulistyo-Basuki,1991 : Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

(upload by R.Lalan Fuandara)