PERAN BAURAN PROMOSI DI PERPUSTAKAAN Oleh : Wahyu Karminah S.Sos

Komunikasi dan Bauran Promosi

Komunikasi pada dasarnya dapat terjadi dalam berbagai konteks kehidupan. Komunikasi adalah prasyarat kehidupan manusia. Melalui komunikasi seseorang menyampaikan apa yang ada dalam benak pikirannya dan/atau perasaan hati nuraninya kepada orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung. Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin “communicatus” yang artinya “berbagi” atau “menjadi milik bersama. Dengan demikian, komunikasi berarti suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Pengertian lain, komunikasi adalah “suatu proses pertukaran informasi di antara individu melalui system lambang-lambang,tanda-tanda,atau tingkah laku.” ( Rochajat Harun dan Elvinaro Ardianto,2011:20-21)

Dalam proses pertukaran terjadi proses komunikasi baik langsung dan tidak langsung. Pada tingkat dasar, komunikasi dapat berusaha membujuk konsumen saat ini dan konsumen potensial agar berhasrat masuk ke dalam hubungan pertukaran. Komunikasi pemasaran merupakan usaha untuk menyampaikan pesan kepada public terutama konsumen sasaran mengenai keberadaan produk di pasar (Sutisna,2002:263-267). Sutisna (2002 :267) menyatakan bahwa konsep yang secara umum sering digunakan untuk menyampaikan pesan adalah apa yang disebut sebagai bauran promosi (promotional mix). Disebut bauran promosi karena biasanya pemasar sering menggunakan berbagai jenis promosi secara simultan dan terintegrasi dalam suatu rencana promosi produk. Terdapat 5 jenis promosi yang biasa disebut sebagai bauran promosi yaitu :

  1. iklan (advertising)
  2. penjualan tatap muka (personal selling),
  3. promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat
  4. publisitas (publicity and public relation)
  5. serta pemasaran langsung (direct marketing)

Bauran  Promosi  Perpustakaan

Tujuan promosi perpustakaan adalah memperkenalkan perpustakaan, koleksi, jenis layanan dan manfaat yang dapat diperoleh oleh pengguna perpustakaan. Dengan adanya promosi, diharapkan masyarakat mengetahui pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan sehingga membuat mereka tertarik untuk mengunjungi dan memanfaatkan koleksi serta layanan perpustakaan. Menurut Weinstock tujuan promosi adalah memperkenalkan pusat informasi dan pelayanannya, memperkenalkan kepada masyarakat reputasi pusat informasi dan membujuk calon pemakai yang berpotensi agar menggunakan jasa layanan informasi. Sedangkan menurut Edsall tujuan promosi perpustakaan adalah memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang adanya pelayanan perpustakaan, mendorong minat  masyarakat untuk menggunakan perpustakaan dan mengembangkan pengertian masyarakat agar mendukung kegiatan perpustakaan dan peranannya dalam masyarakat (Badollahi Mustofa,1996:21).

Perpustakaan dapat mengadopsi bauran pemasaran dalam mempromosikan produk dan layanan yang dimilikinya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa bauran promosi mencakup iklan (advertising), penjualan tatap muka (personal selling), promosi penjualan (sales promotion),hubungan masyarakat publisitas (publicity and public relation) serta pemasaran langsung (direct marketing).

Kegiatan perpustakaan dapat dipromosikan dengan mengiklankan di berbagai media.Baik media cetak maupun elektronik. Media cetak misalnya melalui pamlet, poster, majalah dan surat kabar. Adapun media elektronik misalnya radio,televisi dan internet.Perpustakaan dapat memilih dan menentukan media yang dianggap dapat menjangkau khalayak dengan biaya yang relative murah.

Untuk media cetak, salah satu cara yang dianggap paling murah, praktis dan umum dipakai  untuk melakukan promosi di perpustakaan adalah dengan cara membuat atau mencetak dan menyebarkan brosur perpustakaan. Pemanfaatan brosur sebagai sarana promosi di perpustakaan dianggap tidak memerlukan biaya yang besar. Pembuatan cukup mudah dan penerbitan brosur sebagai media promosi biasa dilakukan oleh unit atau lembaga yang kecil maupun yang besar. Media cetak lainnya yang juga cukup efektif untuk melakukan kontak dengan pengguna adalah poster. Media ini paling umum dilakukan. Poster dapat digunakan untuk memperkenalkan layanan baru,untuk mengumumkan adanya kegiatan di perpustakaan dan menonjolkan layanan yang sudah digunakan. Poster yang paling efektif  adalah poster yang dirancang untuk sekilas segera menarik perhatian atau mencuri pandangan orang yang lewat di depan poster tersebut, sekaligus memberi pesan atau informasi secara ringkas.Iklan perpustakaan yang mengunakan media elektronik seperti radio dan televise, relative membutuhkan dana yang lumayan besar. Perpustakaan perlu mempertimbangkan keefektifan dan jangkauan yang dicapai apabila menggunakan media elektronik dalam menyampaikan pesan informasi.

Bauran promosi berikutnya adalah penjualan tatap muka (personal selling). Dalam konteks ini perpustakaan memberikan pelayanan langsung kepada pemakai melalui komunikasi tatap muka (face to face). Di sinilah pentingnya  peran pustakawan sebagai komunikator dalam memasarkan perpustakaan. Pustakawan harus menunjukkan etika berkomunikasi yang baik dengan pengguna. Keramahan dan sikap professional harus dimiliki pustakawan dalam memberikan pelayanan kepada pengguna perpustakaan. Setiap manusia senang diperlakukan special, begitu juga dengan pengguna perpustakaan. Tatapan mata yang ramah,gerak tubuh yang positif, serta kepedulian terhadap kebutuhan pengguna merupakan hal yang perlu diterapkan dalam mewujudkan pelayanan prima (Ane Dwi Septina, 2011:22). Pustakawan harus komunikatif dan menguasai ketrampilan teknik informasi dengan baik,sehingga dapat secara cepat dan tepat menyajikan informasi kepada pengguna perpustakaan.

Pengguna perpustakaan datang ke perpustakaan untuk beragam tujuan. Ada yang mencari literature untuk mendukung kegiatan belajar mereka, meminjam dan mengembalikan buku serta  menelusur informasi. Perpustakaan memberikan pelayanan dalam bentuk konsultasi, memberitahu atau membantu dan melayani konsumen Di sinilah pustakawan bertemu secara langsung dengan pengguna. Mutu pelayanan yang diberikan berpengaruh langsung terhadap kepuasan konsumen dan terhadap pemanfaatan produk atau jasa itu selanjutnya. PR Smith menyatakan bahwa penjualan personal bukan hanya sekedar menjual dan mendapat keuntung dari pelanggan, akan tetapi penjualan personal lebih cenderung membangun sebuah ‘partner’ atau hubungan yang dapat memberi  kepuasan pada pelanggan.Kepuasan pelanggan menjadi tujuan dari aktivitas pemasaran. Perpustakaan harus dapat membangun sebuah ‘partner’ dengan pengguna sehingga pengguna perpustakaan akan merasakan sisi humanis dari pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan dan merasakan kepuasan akan pelayanan yang telah diberikan. Senada hal tersebut, Widodo Muktiyo(2006:11) menyatakan bahwa salesmanship merupakan kegiatan menjual dengan hati dan cinta. Pustakawan,dalam hal ini  sebagai seorang salesmanship harus mampu ‘menjual’ produk-produk dan layanan yang ada di perpustakaan. Kegiatan  pustakawan tidak sekedar bertransaksi dengan pengguna lalu selesai, akan tetapi pustakawan harus dapat melakukan strategi marketing dengan mengedepankan hati dan cinta dalam dalam melayani pengguna perpustakaan. Kegiatan personal selling ini dapat diimplementasikan juga pada kegiatan ceramah mahasiswa baru / user education. Pada saat memberikan ceramah, pustakawan berhadapan ‘face to face’ dengan pemakai. Pada kegiatan ini, Pustakawan dapat bertemu langsung dengan calon pengguna perpustakaan dan memberitahu serta menginformasikan pada mereka produk dan layanan apa saja yang dimiliki oleh perpustakaan. Selain menginformasikan tentang produk dan layanan perpustakaan , pustakawan yang dalam hal ini sebagai “shalesmanship’ harus dapat membujuk mahasiswa baru tersebut agar mau datang dan berkunjung ke perpustakaan dan memanfaatkan koleksi yang ada di perpustakaan.

Pada perusahaan atau usaha bisnis, promosi penjualan terdiri dari alat insentif yang beraneka ragam, kebanyakan untuk jangka pendek,dirancang untuk merangsang pembelian produk tertentu lebih cepat dan/atau lebih kuat oleh konsumen atau pedagang. Alat-alat tadi mencakup promosi konsumen (misalnya sampel, kupon, penawaran uang kembali, pengurangan harga, hadiah barang, premi, kontes, stiker dagang, peragaan), promosi dagang (misalnya jaminan pembelian, hadiah barang, iklan kerjasama, kontes penjualan para penyalur). Pada lembaga nirlaba seperti perpustakaan,promosi penjualan dapat diaplikasikan dalam pemberian insentif kepada pengguna perpustakaan. Contohnya pustakawan dapat memberikan tawaran penelusuran informasi gratis kepada dosen-dosen bidang ilmu tertentu  yang biasanya tidak pernah datang ke perpustakaan. Insentif bisa juga dengan memberikan penghargaan kepada pengguna perpustakaan yang sering berkunjung ke perpustakaan. Bagi pengguna yang terlambat mengembalikan buku, perpustakaan dapat memberi diskon atas denda keterlambatan mereka.

Humas atau PR adalah keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya (Frank Jefkins:1996:8). Perpustakaan harus dapat mengumpulkan, mengolah dan menyampaikan pesan tentang produk dan layanan yang ada di perpustakan kepada pengguna perpustakaan. Pustakawan harus dapat bertindak sebagai humas untuk menawarkan, mengajak atau merangsang masyarakat agar mau berkunjung di perpustakaan dan membaca buku (Nurul Komar,2006 :4).

Dalam rangka menciptakan dan mempertahankan citra perpustakaan, pihak perpustakaan perlu menyajikan berita dan informasi mengenai organisasi perpustakaan sepositif mungkin, mengupayakan pemahaman melalui komunikasi internal dan eksternal serta menjalin relasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan perpustakaan. Fungsi – fungsi PR tersebut dapat diimplementasikan dalam sejumlah program seperti mengadakan seminar perpustakaan, pameran buku, identity media (misalnya logo perpustakaan,gedung dan seragam bagi pustakawan)

Pemasaran langsung adalah pendekatan pemasaran yang bersifat bebas dalam menggunakan saluran distribusi dan/atau komunikasi pemasaran, yang memungkinkan perusahaan memiliki strategi tersendiri dalam berhubungan  dengan konsumen (Agus Hermawan, 2012:183). Perpustakaan dapat melakukan pemasaran langsung kepada pengguna perpustakaan.Ada beberapa media yang digunakan dalam melakukan pemasaran langsung.Dari sekian banyak media yang digunakan, yang paling banyak digunakan untuk media pemasaran langsung adalah melalui surat langsung dan internet. Perpustakaan dapat menggunakan surat langsung ketika pengguna perpustakaan mengalami keterlambatan dalam pengembalian buku.Surat tersebut langsung ditujukan ke alamat rumah pengguna seperti yang telah tercatat pada kartu anggota. Di era digital ini,surat langsung dapat digantikan dengan surat elektronik (e-mail). Perpustakaan dapat menginformasikan produk atau layanan baru melalui email yang diberikan pengguna perpustakaan.Internet juga merupakan media yang paling umum digunakan instansi atau lembaga dalam memasarkan promosinya. Terkait internet, PR Smith menyatakan bahwa bahwa the  internet  is just an international network  computers linked together.Once you’re hooked up and plugged in you can rocket around computers across the world, drop into discussion groups,read bulletin boards,share ideas, photos, videos, articles, news and games .(PR Smith,1993 :535). Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa Internet merupakan jaringan komputer-komputer internasional yang terhubung  secara bersamaan. Sekali kita  terhubung dan terpasang, kita dapat meluncur melalui komputer-komputer melintasi dunia,masuk dalam grup diskusi, membaca papan bulletin, berbagi ide, photo, video-video, artikel, berita dan permainan.

 Perpustakaan semakin tumbuh dan berkembang,apalagi dengan semakin maraknya kemajuan era digital. Dengan adanya internet,komunikasi semakin terhubung dengan mudah. Internet memberi kesempatan kepada perpustakaan dan pustakawan untuk menjawab kebutuhan informasi. Keberadaan internet dapat digunakan sebagai media untuk menginformasikan kepada pengguna tentang produk layanan dan beragam program kegiatan yang diadakan perpustakaan. Perpustakaan dapat memanfaatkan internet untuk lebih akrab dan komunikatif dengan pengguna. Contohnya dengan membuat website tentang profil perpustakaan. Website tersebut dapat di’share’melalui jaringan internet  kepada pengguna perpustakaan melalui media sosial, sehingga pengguna perpustakaan memiliki antusias untuk melihat dan bergabung dengan website yang disediakan perpustakaan.

                                                         DAFTAR PUSTAKA

 

Budiono,Iwan. Internet Membantu Hidu Lebih Mudah . Media Pustaka : edisi 2 April-Juni 2011 p 16-18

Effendy,Onong Uchjana,2003. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : Rosdakarya

  1. Rachmadi , 1992. Public Relations Dalam Teori dan Praktek. Jakarta : Gramedia

Hardiningtyas, Trio,2012.  Peduli Perpustakaan. Surakarta :UNS Press

Harun,Rochajat dan Ardianto,Elvinaro, 2011 Komunikasi Pembangunan Perubahan Sosial:Perspektif Dominan,Kaji Ulang, dan Teori Kritis. Jakarta : Rajawali Pers

Hermawan, Agus. 2012 . Komunikasi Pemasaran. Jakarta : Erlangga

Jefkins,Frank ,1996. Public Relation. Jakarta : Erlangga

Mustofa, Badollahi, 1996.Promosi Jasa Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka,Depdikbud.

Kotler, Philip, 1987, Dasar-dasar Pemasaran, Jilid 2, Edisi Ketiga, Penerbit Intermedia, Jakarta.

Kotler, Philip,1992.Manajemen Pemasaran Jilid II.Surabaya : Erlangga

Kotler, Philip and Amstrong,Gary 1993. Principles of Marketing. New Jersey : Preintice Hall

Lasa Hs, 2003. Manajemen Perpustakaan Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Lupiyoadi,Rambat, 2001. Manajemen pemasaran jasa. Jakarta : Salemba Empat,2001

Muktiyo,Widodo 2006. Membangun Usaha dengan kekuatan image. Yogyakarta : PINUS

PR Smith,1993. Marketing Communications : an integrated approach. Britain : Kogan Page

Purwantono, Fajar.  Membangun Citra Perpustakaan Dengan meningkatkan Kualitas Pelayanan Melalui Pendekatan TQM. Media Pustaka :edisi 1 Januari-Juni 2012.Hal.36-38

Septina,Ane Dwi, Keaktifan Pustakawan Dalam Pemasyarakatan Perpusdokinfo Guna Sulistyo-Basuki, 1991 : Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Meningkatkan Perkembangan dan Citra Positif Perpustakaan. Jurnal Pustakawan Indonesia Volume 11  No.1  Juni2011 hal.20—24

Soeatminah,1987. Pelayanan Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta : Depdikbud

Trimo,Soejono,1992. Pedoman Pelaksanaan Perpustakaan.Bandung : Rosdakarya

 (upload by R.Lalan Fuandara)