KARYA DAN KEUNIKAN PEMIKIRAN-PEMIKIRAN BLASIUS SUDARSONO (Oleh: M. Ali Nurhasan Islamy, S.Sos)

A. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Informasi di berbagai bidang dan sektor berkembang sangat pesat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena adanya globalisasi di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi. Setiap hari banyak karya dan publikasi yang dihasilkan oleh lembaga penerbit. Karya seseorang atau terbitan dapat kita temui di toko buku atau telah menjadi milik suatu perpustakaan. Kemajuan di bidang teknologi informasi pada saat ini menyebabkan informasi  yang dihasilkan dalam berbagai disiplin ilmu, bahasa, negara sangat cepat terdesiminasi.

Salah satu penyedia informasi adalah perpustakaan. Setiap perpustakaan diselenggarakan dengan maksud dan tujuan tertentu. Menurut Purwono (2013), secara umum perpustakaan merupakan suatu institusi yang  di dalamnya tercakup unsur koleksi (informasi), pengolahan, penyimpanan dan pemakai.[1]

Publikasi yang ditempatkan di perpustakaan diorganisasikan dengan sistem tertentu sesuai dengan kebijakan perpustakaan setempat. Informasi yang terkandung dalam karya-karya tidak hanya dipublikasikan secara tercetak saja namun telah banyak dipublikasikan secara elektronis dan dapat diakses melalui internet. Untuk itu,  penguasaan terhadap pengetahuan sumber-sumber informasi baik dalam bentuk tercetak maupun elektronis perlu dimiliki oleh seorang pustakawan atau petugas informasi.

Berbicara masalah keberadaan informasi, perpustakaan dan pustakawan Indonesia sepertinya tidak akan terlepas dari seorang tokoh perpustakaan yakni Blasius Sudarsono. Menurut Joko Santoso (2006), Blasius Sudarsono adalah pemikir yang telah berkecimpung di dunia kepustakawanan, pada Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional sejak tahun 1973. Pemikiran-pemikirannya sangat berharga, bahkan telah menjadi bagian sejarah kepustakawanan Indonesia. Beliau adalah pribadi yang luar biasa, memiliki obsesi untuk menemukan rumus dasar yang dapat dipakai untuk menerangkan semua fenomena tentang perpustakaan atau yang terkait dengannya. Beliau terus mencari dan merumuskan hakikat atau teori dasar kepustakawanan Indonesia. Menurutnya harus ada perbedaan antara library science yang bermakna universal dengan Indonesian librarianship yang bercirikan Indonesia.[2]

Blasius Sudarsono, atau Pak Dar (panggilan akrabnya), bukanlah sosok asing dalam dunia kepustakawanan Indonesia. Sebagai seorang Pustakawan Utama LIPI yang telah bekerja hampir 40 tahun, beliau adalah sosok sepuh yang diteladani, digugu dan ditiru. Blasius Sudarsono adalah sang pemerhati kepustakawanan, yang tidak pernah mengenal lelah dalam memikirkan kemajuan bidang perpustakaan. Aktif menulis buku, aktif dalam pertemuan-pertemuan ilmiah dan aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi.

Menurut Blasius Sudarsono sendiri, dia selalu ingin menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kepustakawanan, jawabannya sering kali memakai ancangan logika. Pilihan ini sering dinilai kurang ilmiah karena seakan hanya menggunakan common sense. Ancangan kedua adalah bahwa hidup kita berada dalam ruang empat dimens. Dimensi waktu yang tak terbalikkan (irreversible) itu dimensi yang ke empat yang sering terlupakan. Dengan mempertimbangkan dimensi keempat ini kita akan lebih mudah memahami dinamika.[3] Tentu saja dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau selalu menggunakan informasi yang merupakan masukan yang diperoleh dari berbagai sumber, baik berupa pengalaman ataupun penemuan baru.

  1. Alasan Pemilihan Tokoh

Dalam studi tokoh kepustakawanan ini penulis memilih Blasius Sudarsono yang akan dijadikan kajian penelitian, dengan alasan adalah sebagai berikut:

a. Blasius Sudarsono adalah seseorang yang terkemuka atau kenamaan di bidang kepustakawanan, seseorang yang memegang peranan penting dalam bidang atau aspek kehidupan kepustakawanan di Indonesia.

b. Beliau mempunyai kekayaan yang monumental (unik) di bidang perpustakaan dan karya tersebut masih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah bahwa itu merupakan

c. Beliau mempunyai pengaruh pada masyarakat, artinya buah pemikiran dan perilakunya menjadi rujukan dan panutan oleh masyarakat dalam beraktivitas bagi kehidupan kepustakawanan.

d. Ketokohannya diakui secara mutawatir. Artinya sebagian besar masyarakat memberikan apresiasi positif dan mengidolakannya sebagai orang yang pantas menjadi tokoh atau ditokohkan untuk menyelesaikan persoalan. 

  1. Riwayat Tokoh

Blasius Sudarsono lahir di Solo Jawa Tengah, pada tanggal 2 Pebruari 1948 (66 tahun). Sampai usia remaja Blasius tinggal di kota kelahirannya. Tumbuh di lingkungan pendidik karena orangtuanya adalah guru sekolah dasar. Pak Dar kecil gemar mengutak-atik barang elektronika. Bahkan pelajaran ilmu pengetahuan alam untuk anak SMP sudah ia pelajari sewaktu kelas lima SD.

Tadinya Blasius sebenarnya ingin belajar elektro arus lemah. Tapi karena orangtuanya menginginkan ia menjadi arsitek, ia lalu mendaftar di jurusan elektro dan arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB). Hanya diterima di jurusan elektro, ia tidak memanfaatkannya. Orangtuanya kemudian ingin memasukkannya ke sekolah elektronika milik Angkatan Laut. Tapi lantaran tak ingin menjadi tentara, Blasius menampiknya. Ia akhirnya kuliah di jurusan fisika murni UGM, sampai tingkat sarjana muda. “Karena terlalu lama menunggu dibukanya program sarjana penuh, saya memilih bekerja (di Perpustakaan LIPI),” tuturnya. (Hendriyanto: 2012)[4]

a. Pendidikan

      –  Sarjana Muda Fisika (B.Sc.), FIPA – UGM, Yogyakarta, 1973.

  – Master of Library Studies (MLS), University of Hawaii, Honolulu,         USA, 1979.

b. Pengalaman Kerja :

1970 – 1973 Asisten Laboratorium Fisika Dasar UGM.

1973 – 1976 Staf Urusan Servis Teknis PDIN.

1976 – 1977 Kepala Urusan Servis Pembaca PDIN.

1978 – 1979 Menyelesaikan MLS di Unversity of Hawaii,          Honolulu, USA.

1979 – 1980 Kepala Urusan Servis Teknis PDIN.

1980 – 1987 Kepala Pusat Perpustakaan PDIN.

1987 – 1990 Kepala Bidang Sarana Teknis PDII-LIPI.

1990 – 2001 Kepala PDII-LIPI.

2001 – 2005 Pustakawan Madya PDII-LIPI.

2005 – 2013 (Purna Tugas 28 Februari 2013) Pustakawan Utama      PDII-LIPI.

1980 – sekarang, pengajar tidak tetap pada Fakultas Ilmu Budaya                                 Universitas Indonesia.

2002 – sekarang, pengajar tidak tetap pada Fakultas Ilmu            Komunikasi  Universitas Pajajaran.

c.  Kegiatan
      Kemampuan bahasa : Inggris (aktif)
Jawa (aktif)
       Status kepegawaian : PNS
(1 Maret 1974 – 2 Februari 2014)Golongan : IV/c Pembina Utama Muda (Pustakawan Madya)
        Kontak : » blasius.sudarsono [AT] lipi.go.id
» blasius [AT] linuxmail.org
        Situs pribadi :     http://www.facebook.com/blasius.sudarsono(sumber: http://sivitas.lipi.go.id/blas002)

d. Keluarga

     Istri       : Maria Tatiek Hardiyati Sudarsono (almh.)
Anak     : Bhenadetta Pravita Wahyuningtyas
Alamat : Jalan Tengah RT 001 RW 09, Kalurahan Kampung                                 Tengah,   Kecamatan Kramatjati, Jakarta.

 B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan judul penelitian dan latar belakang yang penulis uraikan di atas dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut; bagaimana pemikiran Blasius Sudarsono mengenai literasi informasi?

 C. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif tentang studi tokoh meliputi data pengamatan (observasi), wawancara, dokumentasi dan catatan perjalanan hidup sang tokoh[5].

  1. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik pengumpulan data atau fakta yang cukup efektif untuk mempelajari suatu sistem. Observasi membantu menegaskan atau menolak sera melihat kembali tentang apa yang telah ditemukan lewat wawancara maupun kuesioner[6].

  1. Wawancara

Wawancara dalam istilah lain dikenal dengan interview. Wawancara merupakan suatu metode pengumpulan berita, data, atau fakta di lapangan. Prosesnya bisa dilakukan secara langsung dengan bertatap muka langsung (face to face) dengan narasumber. Namun, bisa juga dilakukan dengan tidak langsung seperti melalui telepon, internet, atau surat (wawancara tertulis)

  1. Dokumentasi

Data dalam suatu penelitian kebanyakan diperoleh dari sumber manusia atau human resources, melalui observasi dan wawancara. Akan tetapi ada pula sumber bukan manusia, non human resources, diantaranya dokumen dan foto.

  1. Catatan- catatan perjalanan hidup sang tokoh/ riwayat

Riwayat hidup adalah catatan singkat tentang gambaran diri seseorang. Selain berisi data pribadi, gambaran diri itu paling tidak harus diisi keterangan tentang pendidikan atau keahlian dan pengalaman. Dengan data itu riwayat hidup akan memberikan gambaran atau kualifikasi seseorang. Dari segi penampilannya riwayat hidup tidak mempunyai bentuk standar. Riwayat hidup ditulis seperti karangan singkat, diawali oleh judul dan ditutup oleh rangkaian tanggal, tanda tangan dan nama. Sebenarnya riwayat hidup termasuk surat keterangan, dalam hal ini keterangan pribadi.[7]

D. PEMBAHASAN

Blasius Sudarsono adalah pustakawan sejati, selalu memperhatikan kehidupan maupun bagaimana kemajuan pustakawan Indonesia. Terwujud dalam salah satu karya beliau yang berjudul “Berkaca Sebelum Ke Luar Rumah: Refleksi Diri Pustakawan”  yang mengulas tentang bagaimana kiprahnya pustakawan dan berkembangnya kepustakawanan Indonesia kembali dipertanyakan. Di dalam buku ini dikemukakan berbagai pemikiran dan sederet persoalan yang berkaitan dengan kehidupan dan pengembangan perpustakaan dan kepustakawanan berikut jalan keluarnya.

Menurut Blasius Sudarsono dalam (Basuki: 1998), biasanya seseorang selalu mematut diri di depan cermin sebelum ke luar rumah, apalagi bagi seorang wanita. Namun bukan maksud penulis ingin mengatakan bahwa profesi pustakawan adalah profesi yang berciri feminim. Berkaca dalam hal ini lebih dimaksudkan sebagai refleksi diri untuk mengetahui dan memahami diri kita pustakawan sendiri. Apa saja yang ada pada diri kita pustakawan? Apakah benar kita merasa rendah diri? Lalu apa yang kita lakukan untuk membangun kepercayaan diri, sehingga kita sejajar dengan profesi lain?[8])

Blasius Sudarsono adalah seorang penulis yang sangat produktif, karya-karyanya sudah banyak sekali. Bahkan banyak juga pemikiran-pemikiran beliau yang belum sempat ia tulis, salah satu contohnya tentang falsafah pustakawan asing dan falsafah pustakwan Indonesia yang mungkin berbeda. Hampir semua tulisannya menyampaikan gagasan-gagasan demi berkembangnya ilmu di bidang perpustakaan. Yang mengherankan adalah tulisan Blasius Sudarsono ini disampaikan dengan beberapa gaya bahasa, yakni bahasa normal dan bahasa yang unik.

  1. Pemikiran-Pemikiran Unik

Karya-karya beliau menggunakan gaya bahasa yang  dapat digolongkan menjadi 2 kelompok atau gaya. Pertama, bahasa yang normal artinya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti orang awam. Membaca satu kali saja kita sudah dapat memahami maksud apa yang disampaikan. Kedua, bahasa yang unik artinya banyak pemikiran-pemikiran beliau yang unik atau nyeleneh (di luar kebiasaan)  dan bahkan bahasanya sulit dipahami oleh orang lain. Pemikirannya berdasarkan filsafat, maklum, memahami konsep berbasis filsafat memang membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.[9]

Untuk dapat memahami tulisan karya Blasius Sudarsono, sebenarnya orang harus mengenalnya cukup lama karena tulisan karyanya seringkali merupakan sebuah pandangan yang sangat dalam dan bahkan seringkali juga beyond imagination, pemikiran yang jauh berbicara tetang sebuah fenomena yang belum terpikirkan atau terbayangkan orang pada umumnya pada saat pemikirannya ditulis. Sifat inilah yang seringkali membuat orang menyebutnya ”nyeleneh (di luar kebiasaan)”, bicara hal yang oleh kebanyakan pustakawan dianggap tidak lazim, ditambah lagi kesukaan penulis pada filsafat membuat bahasan yang dibuatnya selalu memiliki pandangan yang mendalam. Salah satu tokoh yang hampir selalu dikutipnya adalah filsuf Indonesia yaitu Driyarkara, seorang filsuf dan perintis pendidikan filsafat di Indonesia. Sebaiknya kita sama-sama membaca pemikiran filsuf ini untuk dapat lebih memahami jalan pikiran ’tidak lazim’ dari tulisan Blasius Sudarsono.[10]

Ketidak laziman pandangan beliau terlihat pada tulisan pertama tentang Mengapa Kita Berhimpun yang mempertanyakan: ”mengapa setelah 60 tahun perpustakaan tidak berkembang?”, ”Mengapa ilmu perpustakaan tidak berkembang?” Tentu saja pertanyaan ini akan dianggap tidak lazim oleh banyak orang, terutama para pengelola perpustakaan yang mengukur kemajuan perpustakaan dari koleksi dan teknologi yang dimiliki. Padahal yang dimaksud oleh beliau adalah bahwa perpustakaan harus sudah berperan lebih dari sekedar menyediakan jasa peminjaman koleksi dengan bantuan teknologi. Perpustakaan di Indonesia idealnya sudah harus sampai pada peran sebagai pusat himpunan pengetahuan yang ada di masyarakat dan menjadi pusat berhimpunnya anggota komunitas di mana mereka kemudian berdiskusi, bertukar pikiran, memecahkan masalah dan menemukan gagasan baru. Pada saat itu perpustakaan dengan teknologi dan koleksinya, menyediakan semua kebutuhan referensi untuk diskusi tersebut dan merekam hasil diskusinya untuk menjadi pengetahuan baru. (Ini adalah gagasan mutakhir penulis yang hanya sempat diobrolkan, sehingga tidak ada dalam tulisan).

  1. Pemikiran Blasius Sudarsono Mengenai Literasi Informasi

Blasius Sudarsono, dengan dasar kesukaan beliau, yaitu mencoba membuat ‘istilah paling Indonesia’,  mencoba menerjemahkan asal istilah literasi informasi yaitu information literate menjadi ‘keberinformasian’ yang berarti kesadaran akan kebutuhan, kemampuan mencari dan menemukan, dan menggunakan informasi. Tulisan berjudul “Keberinformasian: sebuah Pemahaman Awal” merupakan sebuah pemikiran ‘nyeleneh’ karena tidak membahas fenomena literasi informasi dari segi teknis seperti pada umumnya, akan tetapi dari sisi filsafat hidup (seperti biasanya, Driyarkara menjadi acuan pandangannya) yang menyadarkan semua pembacanya bahwa keberinformasian bukanlah fenomena teknis. Pemikiran rumit ini juga disampaikannya dalam tulisan berjudul “Konsep Keberinformasian di Sekolah”.

Tidak banyak yang bisa mengerti cara Pak Dar memandang dunia perpustakaan dan pustakawan.  Paling tidak gagasan, pemikiran atau kritik terhadap dunia perpustakaan dan pustakawan seperti tulisan yang telah disampaikan Blasius Sudarsosno dalam tulisan sebanyak 27 (dua puluh tujuh) karya yang ditulis sejak Februari 2007 sampai Juli 2009. Sampai sekarang beliau masih terus berkarya demi kemajuan dunia kepustakawanan.

  1. Keterkaitan Dengan Tokoh Lain

Sulistyo Basuki (lahir pada tahun 1941 di Sumbawa Besar) : Guru Besar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia. Guru Besar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Fenomena literasi informasi yang sangat berkembang di awal 2006 dan berlanjut ke tahun berikutnya juga mendapat perhatian dari para pustakawan, terutama keterkaitannya dengan penerapan teknologi informasi Internet. Menurut Carbo (1997) dalam Kemelekan Informasi tulisan Sulistyo Basuki: information literacy dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahakn menjadi  literasi informasi, kemelekan informasi, keberaksaraan informasi. Menggunakan istilah kemelekan informasi dengan dasar literate dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi melek huruf, illiterate menjadi buta huruf. (Basuki, 2013)[11]

Selanjutnya Sulistyo-Basuki menyatakan bahwa literasi informasi mencakup pengetahuan dan kebutuhan informasi seseorang dan kemampuan untuk mengenali, mengetahui lokasi, mengevaluasi, mengorganisasi dan menciptakan dan mengkomunikasikan informasi secara efektif untuk mengatasi isi atu masalah yang dihadapi seseorang.[12]

Yusron Aminullah (Master Trainer Menebar Energi Positif), gerakan literasi informasi kuncinya pada siapa penggeraknya dan sejauh apa gerakan yang dilakukan. Kualitas personal penggerak sangat menentukan mobilitas gerakannya. Maka penggerak literasi yang ideal adalah seorang pembaca yang tekun, seorang penulis yang rajin dan seseorang yang memiliki network yang kuat. Tanpa itu gerakannya hanya artifisial dan dampak positifnya akan semu.[13]

E. KESIMPULAN

Blasius Sudarsono seorang penulis yang hebat, berdedikasi tinggi demi kemajuan dunia kepustakawanan khususnya di Indonesia. Selalu memperhatikan kehidupan pustakawan yang disampaikan dengan karya-karyanya yang sudah ditulis. Bahkan entah berapa banyak pemikiran-pemikiran beliau yang belum ditulis.

Tulisan beliau ada dua gaya bahasa, normal atau mudah dimengerti orang awam. Yang kedua tulisan dengan gaya bahasa yang unik, untuk dapat memahami tulisan karya Blasius Sudarsono, sebenarnya orang harus mengenalnya cukup lama karena tulisan karyanya seringkali merupakan sebuah pandangan yang sangat dalam dan bahkan seringkali juga beyond imagination, pemikiran yang jauh berbicara tetang sebuah fenomena yang belum terpikirkan atau terbayangkan orang pada umumnya pada saat pemikirannya ditulis. Sifat inilah yang seringkali membuat orang menyebutnya ”nyeleneh (di luar kebiasaan)”, bicara hal yang oleh kebanyakan pustakawan dianggap tidak lazim, ditambah lagi kesukaan penulis pada filsafat membuat bahasan yang dibuatnya selalu memiliki pandangan yang mendalam. Beliau sekarang berusia sekitar 66 tahun dan masih tetap terus berkarya untuk memajukan dunia kepustakawanan.

 

***

Karya-karya Blasius Sudarsono

Beliau benar-benar penulis yang produktif, karya-karya beliau yang sudah ditulis antara lain :

  • Sekitar Rancangan Undang-undang Perpustakaan
  • Pustakawan, Cinta dan Teknologi. Jakarta: Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakan dan Informasi Indonesia, 2009
  • Mengapa setelah 60 tahun perpustakaan tidak berkembang?
  • Mengapa ilmu perpustakaan tidak berkembang?
  • Mengapa Harus Beragam?
  • Mengapa Kita Berhimpun?
  • Pokok Pemikiran Tentang Naskah Kuna
  • Pendekatan Dalam Pencarian Dan Pendokumentasian Inovasi Masyarakat
  • Penerapan Teknologi Informasi dan Dokumentasi di Bidang Dokumentasi Hukum
  • Pemberdayaan Perpustakaan Di Lingkungan Mahkamah Agung RI, Pengadilan Tingkat Banding, dan Pengadilan Tingkat Pertama”
  • Strategi Pengembangan Pustakawan Utama dan Madya
  • Strategi Pengembangan JFP
  • Menuju Penyempurnaan Jabatan Fungsional Pustakawan
  • Keberinformasian: sebuah Pemahaman Awal
  • Konsep Keberinformasian di Sekolah
  • Pengembangan Fasilitas dan Layanan untuk Menunjang Perpustakaan sebagai Sumber Belajar”
  • Perpustakaan Dua Titik Nol : Pengantar Pada Konsep Library 2.0
  • Pemikiran Tentang Pustakawan Bukan Pegawai Negeri Sipil
  • Refleksi dan Transformasi Kepustakawanan
  • Pendidikan Profesional Pustakawan dan Kebutuhan Masa Depan Perpustakaan Di Indonesia
  • Sekitar Rancangan Undang-undang Perpustakaan
  • Bangkit Bersama dengan Budaya Baca
  • Hadiah Valentine Day
  • Catatan atas Buku Pengelolaan Perpustakaan
  • Perpustakaan Untuk Rakyat: Dialog Anak dan Bapak. Jakarta: Sagung Seto, 2012
  • Memaknai Dokumentasi: Pidato Kepustakawanan. Jakarta: PDII-LIPI
  • Berkaca Sebelum Ke Luar Rumah: Refleksi Diri Pustakawan
  • Antologi Kepustakaan Indonesia.

 

 

 DAFTAR PUSTAKA

Kalida, Muhsin dan Moh. Mursyid. (2014). Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri. Yogyakarta: CV. Aswaja Pressindo.
Nugraheni, Ramdha. Membangun Perpustakaan Ideal yang Mencerdaskan dan Berperan dalam Literasi Informasi. Bunga Rampai Membangun Perpustakaan Ideal, (Yogyakarta, Smart WR: 2014)
Purwono.(2013). Profesi Pustakawan Menghadapi Tantangan Perubahan. Yogyakarta: Graha Ilmu
Sudarsono, Blasius.(2006).  Antologi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta: Sagong Seto.
Sudarsono, Blasius dan Rahmawati, Ratih. (2012). Perpustakaan untuk rakyat: dialog anak dan bapak. Jakarta: Sagung Seto.
Sudarsono, Blasius. (2013). Memaknai Dokumentasi: Pidato Kepustakawanan. Jakarta: PDII-LIPI
Sulistyo, Basuki dkk.,  Seri Pengembangan Pustakawan 4, Kepustakawanan Indonesia dan Sumbangannya Kepada Masyarakat, UPT Penerbitan Universitas Katolik Soegijapraaota, Semarang, 1998.
http://duniaperpustakaan.com/peluncuran-dan-diskusi-buku-pustakawan-cinta-dan-teknologi/ diakses 1/10/2014
http: /ilhamkans.files.wordpress.com. 5/11/2014
http://sivitas.lipi.go.id/blas002/ diakses 1/10/2014
http://www.mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/218-sekilas-tentang-studi-tokoh-dalam-penelitian-.html Diakses pada tanggal 5/11/2014
Perpustakaan itu jalan sepi, berliku, dan mendaki”, Wawancara dengan Blasius Sudarsono, MLS (Pustakawan Utama di PDII-LIPI) http://hendriyanto1801.wordpress.com/ diakses 4/10/2014
Sulistyo-Basuki.Literasi informasi dan Literasi Digital. http://sulistyobasuki.wordpress.com/?s=literasi&submit diakses pada tanggal 15/11/2014
Sulistyobasuki.wordpress.com/2013/…/literasi-informasi-dan-literasi-digital. Diakses 4/10/2014
www.perpustakaanfim.wordpress.com /diakses 4/10/2014 02;50
[1] Purwono. Profesi Pustakawan Menghadapi Tantangan Perubahan. (Yogyakarta, Graha Ilmu: 2013). Hlm. 2.
[2] Blasius Sudarsono. Antologi Kepustakawanan Indonesia. (Jakarta, Sagong Seto: 2006) hlm. ii.
[3] Ibid, hlm. ix.
[4]Perpustakaan itu Jalan Sepi, Berliku, dan Mendaki”, Wawancara dengan Blasius Sudarsono, MLS (Pustakawan Utama di PDII-LIPI) http://hendriyanto1801.wordpress.com/ diakses 4/10/2014
[5] http://www.mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/218-sekilas-tentang-studi-tokoh-dalam-penelitian-.html Diakses pada tanggal 5/11/2014
[6] http: //ilhamkans.files.wordpress.com. 5/11/2014
[7] http//zidev.net/2007/04/28/teknis-dan-conto-penulisan-riwayat-hidup/ diakses pada tanggal 5/11/2014
[8] Sulistyo-Basuki dkk.,  Seri Pengembangan Pustakawan 4, Kepustakawanan Indonesia dan Sumbangannya Kepada Masyarakat.( Semarang, UPT Penerbitan Universitas Katolik Soegijapraaota: 1998). Hlm. 34.
[9] Agus Rusmana. Peluncuran dan Bedah Buku dengan judul Pustakawan, Cinta dan Teknologi, karya Blasius Sudarsono.  (Jakarta, Perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional : 2010)
[10] ibid
[11] Sulistyo-Basuki. Literasi informasi dan Literasi Digital. http://sulistyobasuki.wordpress.com/?s=literasi&submit diakses pada tanggal 15/11/2014
[12] Ramdha Nugraheni. Membangun Perpustakaan Ideal yang Mencerdaskan dan Berperan dalam Literasi Informasi. Bunga Rampai Membangun Perpustakaan Ideal, (Yogyakarta, Smart WR: 2014) hlm.156.
[13] Muhsin Kalida dan Moh. Mursyid. Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri. (Yogyakarta, CV. Aswaja Pressindo: 2014)

 

(upload by R.Lalan Fuandara)