PENILAIAN MAHASISWA TERHADAP ASERTIFITAS PUSTAKAWAN di PERPUSTAKAAN JURUSAN KARAWITAN ISI SURAKARTA (Oleh: Mustofa, SIP)

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Tantangan adalah seni kehidupan dan kehidupan sendiri adalah seni. Maka cara menghadapi tantangan juga harus menggunakan seni, seni tersebut tidak lain adalah asertifitas. Dunia kerja adalah dunia yang syarat dengan berbagai tantangan. Setiap individu sebagai orang yang bekerja, mau tidak mau, dan tanpa kecuali harus menghadapi tantangan ini. Sebagai catatan bahwa tantangan ini adalah pintu pertama kesuksesan. Semakin orang berani mendekat dan menghadapi tantangan , maka kesuksesan akan terbuka, sebaliknya jika orang menjauhi tantangan, maka akan semakin jauh pula orang dari keberhasilan. Tantangan adalah seni kehidupan, maka cara menghadapi tantangan juga menggunakan seni dalam bersikap dan bertindak.
Pelayanan perpustakaan berhubungan erat dengan masyarakat pemakainya. Sebaik apapun pelayanan perpustakaan tidak akan mempunyai arti jika tidak ada pemakai yang memanfaatkannya. Sebaliknya, kebutuhan tidak akan terpenuhi jika tidak ada layanan perpustakaan yang handal.
Teknologi informasi turut berdampak terhadap komunikasi pustakawan. Perpustakaan yang sebagian besar layanannya sudah menggunakan teknologi maju, maka peran komunikasi pustakawan dengan pemustaka yang dilayani akan berkurang. Akankah kualitas komunikasi tersebut akan ikut berkurang? tentu jawabannya adalah tidak. Kemajuan teknologi seharusnya menjadi sarana untuk semakin meningkatkan kualitas komunikasi dengan pemustakanya. Salah satu teknik komunikasi yang sangat tepat bagi pustakawan adalah komunikasi asertif, yaitu kemampuan menerapkan strategi berkomunikasi yang tepat sesuai karakter penggunanya. Dengan komunikasi ini akan tercipta hubungan yang harmonis antara epetugas dan pemustaka.
Karakter mahasiswa dalam sebuah perguruan tinggi sangat beragam, yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang beragam pula. Mahasiswa sebagai pengguna perpustakaan di sebuah perpustakaan perguruan tinggi, akan merasakan teknik komunikasi pustakawan, apakah sudah berlaku asertif terhadap mereka atau sebaliknya. Kegiatan perpustakaan yang langsung dirasakan oleh pemakai adalah pelayanan karena pelayanan merupakan ujung tombak perpustakaan. Pada bagian pelayanan inilah berlangsungnya hubungan antara pengguna denga penyedia jasa. Berkaitan dengan pemanfaatan oleh pemakai, Sulistyo – Basuki mengatakan bahwa sikap anggota dan kelompok pemakai terhadapa informasi, pengalaman pemakai, dan lain sebagainya merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku pemakai terhadap pemanfaatan perpustaaan. Hal itulah yang menjadi landasan untuk mengetahui penilaian mahasiswa terhadapa asertifitas pustakawan Jurusan Karawitan di ISI Surakarta.

1.2 Rumusan Masalah: Bagaimana penilaian mahasiswa terhadap asertifitas pustakawan di Perpustakaan Jurusan Karawitan ISI Surakarta?

1.3. Tujuan penelitian: untuk mengetahui penilaian mahasiswa terhadap asertifitas di Perpustakaan Jurusan Karawitan di ISI Surakarta.

1.4 Waktu dan Tempat Penelitian: penelitian ini dilakukan pada tanggal 10 – 24 Nopember 2014 di Perpustakaan Jurusan Karawitan ISI Surakarta.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan tema penelitian berjudul “Pustakawan Asertif (Studi tentang Asertifitas Pustakawan di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sudah berperilaku asertife terhadap pemustaka. Penelitian di atas menggunakan metode penelitian deskriftif. Obyek yang diteliti mempunyai kesamaan, yaitu asertifitas pustakawan. Namun lokasi penelitian berbeda. Hal ini menjadi motivasi motivasi bagi penulis atau mau melakukan penelitian sejenis di Perpustakaan Jurusan Karawitan ISI Surakarta. Penelitian tentang asertifitas pustakawan lainnya belum penulis temukan.

2.2. Landasan Teori
2.2.1 Penilaian
Penilaian sering juga disebut juga assessment, pengertian assessment menurut John M, Echols dalam kamus bahasa Inggris – Indonesia adalah taksiran, penaksiran, penilaian, penilaian keadaan, beban, pembebanan, pemikulan. Sedangkan pengertian menurut Websters New Universal Unabridged Dictionary, assessment is (1) an assesing ; specifially a valuation of property for the purpose of taxation, (2) a method or schedule of assesing, (3) an amound assesed.
2.2.2 Pemakai Perpustakaan Perguruan Tinggi
Pemakai perpustakaan adalah individu yang dapat berdiri sendiri atau kelompok kecil ataupun besar semuanya mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi yang berbeda-beda dari masing-masing pengguna itu (Worman dalam Prasetya, 2002) . Menurut Undang-Undang Perpustakaan No. 43 tahun 2007, pemakai mempunyai istilah yang sama dengan pemustaka, yaitu pengguna perpustakaan, baik perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan.
Pemakai perpustakaan perguruan tinggi antara lain adalah mahasiswa, dosen, peneliti, karyawan, dan peminat lain. Pemakai dalam penilitian ini dibatasi pada mahasiswa semua program studi yang ada di Jurusana Karawitan ISI Surakarta.
2.2.3 Pustakawan
Undang-Undang Perpustakaan No. 43 tahun 2007 menyatakan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Kompetensi berasal dari kata dasar kompeten, yang menurut Depdikbud, kompeten berarti cakap atau mengetahui, berkuasa untuk memutuskan atau menentukan sesuatu. Sedangkan kompetensi adalah kewenangan untuk memutuskan sesuatu.
Menurut Kismiyati, kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, dan karakteristik pribadi yang sangat penting untuk mencapai keberhasilan pada suatu pekerjaan. Seperti yang tercantum dalam rancangan Peraturan Pemeritah RI Tahun 2009, yang terdapat dalam pasal 22 ayat 1, disebutkan bahwa pustakawan harus memiliki kompetensi profesional dan kompentensi personal. Salah satu kompetensi personal yng harus dimiliki pustakawan adalah keterampilan berkomunikasi. Salah satu jenis komunikasi interpersonal, yang merupakan jalinan hubungan interaktif antara dua orang atau lebih, dimana individu mencoba menginterpretasikan makna yang menyangkut diri sendiri, diri orang lain, dan hubungan yang terjadi .
Dalam menjalin komunikasi interpersonal, akan membentuk suatu perilaku komunikasi, yang terbagi menjadi tiga bentuk komunikasi, yaitu: komunikasi yang agresif, pasif, dan asertif. Naibaho, mengatakan bahwa salah satu teknik komunikasi yang sangat efektif bagi pustakawan adalah komunikasi asertif, yaitu kemampuan menerapkan strategi berkomunikasi yang tepat sesuai karakter pengguna.
Asertif berasal dari kata to assert, yang artinya menyatakan dengan tegas atau mempetahankan. Asertufitas merupakan kemampuan untuk secara jujur mengungkapkan pendapat, perasaan, sikap dan hak-hak tanpa kecemasan yang tidak semestinya, dengan cara yang tidak melanggar hak orang lain (barnette, Vivian dalam Krismayani) . Nasir, dkk mengatakan bahwa komunikasi asertif merupakan komunikasi yang terbuka, yang menghargai diri sendiri dan orang lain. Komunikasi asertif tidak menaruh perhatian hanya pada hasil akhir, tetapi juga terdapat hubungan perasaan antar manusia.
Ciri-ciri komunikasi asertif antara lain: terbuka dan jujur terhadap pendapat lain, mendengarkan pendapat orang lain, menyatakan pedapat pribadi tanpa mengorbankan perasaan orang lain, mencari solusi bersama dengan keputusan, menghargai diri sendiri dan orang lain dalam mengatasi konflik, menyatakan perasaan pribadi, jujur, dan hati-hati, dan mempertahankan hak diri. Banyak sekali manfaat yang diperoleh dari aplikasi komunikasi asertif, yaitu: meningkatkan rasa percaya diri dalam mengekspresikan diri, dapat bernegoisasi lebih produktif dengan orang lain, dapat mengubah situasi kerja yang negatif menjadi positif, meingkatkan hubungan antar manusia dan mengurangi kesalahpahaman, meningkatkan pengembangan diri dan kepuasan diri pada pekerjaan sesuai dengan kebutuhan, gaya, dan kemampuan, serta mampu membuat keputusan dan lebih mempunyai peluang mendapatkan apa yang dicari dalam hidup.
Dalam konteks kepustakawan, penulis tidak banyak menemukan literatur spesifik untuk asertifitas pustakawan. Literatur yang penulis gunakan sebagai landasan teori dalam penelitian ini menurut pendapat Caputo, 1984, bahwa ada dua unsur yang berperan dalammenentukan asertifitas pustakawan, yaitu asertifitas verbal dan asertifitas non verbal.
1. Asertif Verbal
Ada tiga hal penting yang menentukan perilaku asertif verbal. Pertama adalah pada pertanyaan saya / I-statemen, yaitu ungkapan kalimat yang disampaikan diawali dengan kata ‘saya” bukan “kamu”, yang mengartikan komunikasi yang menghargai lawan bicara. Unsur kedua yaitu kejujuran atau ketulusan sebagai dasar dari perilaku asertif. Ketiga unsur spontanitas dalam berkomunikasi.
a. I-statemen (pernyataan “saya”)
Pernyataan ‘saya’ sangat penting dalam mengekpresikan perasaan, dalammengawali sebuah kalimat. Pernyataan ini sebagai sifat yang berani mengambil resiko atau tanggungjawab atas apayang dikatakan. Dalam komunikasi asertif, sebaiknya memilih menggunakan kalimat yang faktual (sesuai dengan keadaan yang sebenarnya), bukan berarti justifikasi dan tidak memberikan penilaian yang berlebihlebihan, serta jangan sampai tidak dapat mengungkapkan apa yang dirasakan karena takut atau segan. Penggunaan kata “saya” mengupayakan agar kita fokus pada permasalahan yang dialami, bukan sebaliknya menuduh atau menyalahkan orang lain. Perbedaan penggunaan kata “saya” dibanding dengan kata “anda/kamu” dapat dilihat dalam contoh berikut:
– Saya tidak suka jika Anda baru akan pinjam buku setelah jam perpustakaan tutup
– Kamu selalu pinjam buku setelah jam perpustakaan tutup.
Kedua pernyataan di atas, dengan kata awal ‘kamu” cenderung menimbulkan permusuhan dan rasa bersalah bagi lawan bicara, sedangkan yang diawali dengan “saya” terdengar lebih nyaman sehingga dapat menciptakan suasana bahwa orang bebas mengekspresikan perasaannya, tanpa menyinggung orang lain.
b. Honesty and sincerity (ketulusan dan ketulusan)
Kujujuran merupakan salah satu unsur komunikasi asertif verbal. Pustakawan harus bersikap jujur agar pemustaka dapat mengetahui apa yang dirasakan. Jika ada sesuatu yang membuat pustakawan kurang nyaman, maka dia harus berani mengungkapkannya. Pustakawan juga harus mampun membuat pemustaka yang dilayani merasa nyaman ketika berkomunikasi dengannya. Caranya dengan menunjukkan ketulusan dalam menanggapi, tidak meremehkan atau mengintervensi dalam melayani pemustaka saat mereka butuh bantuan atau hanya sekedar bertanya.
Penggunaan kata “maafkan saya” sebenarnya merupakan ungkapan kata kurang jujur, sebagai ungkapan menyesal namun kurang sungguh-sungguh, seperti contoh berikut ini:
– Maafkan saya, skripsi tidak boleh dipinjam untuk dibawa pulang. Seharusnya Anda menfoto kopi halaman yang Anda btuhkan saja.
Contoh kalimat di atas dapat dirubah dengan menggunakan pernyataan komunikasi asertif sebagai berikut:
– Sesuai dengan aturan, skripsi tidak boleh dipinjam dibawa untuk pulang. Saya sarankan Anda untuk memfoto kopi halaman yang Anda butuhkan. Pernyataan jujur terkadang tidak bisa diterima oleh semua orang, sehingga ketika berkomunikasi secara jujur, maka kita harus mampu menyaring perasaan tersebut, sehingga tidak mengakibatkan kerugian bagi orang lain.
c. Spontanity (spontanitas)
Spontanitas merupakan unsur yang paling sulit, sebab ketika pada situasi yang tidak biasa dan kita menanggapinya secara langsung, maka yang terjadi terkadang adalah sikap non asertif, bahka agresif. Namun sikap spontanitas ini perlu dilatih untuk mewujudkan sikap asertif. Pustakawan harus mampu mengekspresikan perkataan, perintah atau pesan kepada pemustaka secara jelas, tegas, dan langsung. Kejelasan dan ketegasan di sini penuh dengan kelembutan tanpa arogansi, sehingga dalam berkomunikasi terjadi saling keterbukaan dan langsung tanpa perantara. Spontanitas menunjukkan kejujuran seseorang.
2. Asertif Non Verbal
Mengubah perilaku komunikasi non verbal lebih sulit dari mengubah perilaku komunikasi asertif verbal, sebab komunikasi non verbal sering tidak kita sadari. Praktik asertivitas sangat membutuhkan komunikasi non verbal. Caputo, menyebutkan bahwa asertifitas melalui komunikasi non verbal dapat dilihatdari 5 hal sebagai berikut:
a. Ekspresi Wajah
Ekspresi wajah pustakawan dapat terlihat saat berkomunikasi dengan pemustaka yang mencakup ekspresi muka, kontak mata, gerakan alis, atau penggabungan dari berbagai isyarat seperti tersenyum, mengernyitkan kening, menggigit bibir, mengunyah, dll. Masing-masing mempunyai arti tersendiri, yang akan mempengaruhi komunikasi verbal yang disampaikan. Ekspresi wajah yang tenang, murah senyum, kontak mata dengan pemustaka, anggukkan kepala, menunjukkan perilaku asertif non verbal.
b. Gesture/Ekpresi Tangan
Ekspresi ini meliputi gerakan tangan, jabat tangan, dan sentuhan. Menurut Caputo, cara tangan kita bergerak dan memberikan isyarat bisa mendukung atau justru menghambat pesan verbal yang disampaikan. Oleh karena itu perlu diperhatikan gerakan tangan atau sentuhan yang membuat orang lain nyaman dan meningkatkan komunikasi yang asertif.
c. Ekspresi Posisi
Ekspresi posisi meliputi postur dan jarak ketika beromunikasi. Cara kita bergerak dan memberikan isyarat, juga bisa mendukung atau justru menghambat pesan verbal yang disampaikan. Posisi dan jarak ketika berkomunikasi harus diperhatikan untuk mewujudkan komunikasi yang asertif.
d. Ekspresi Suara
Ekspresi suara meliputi nada suara, intonasi, kecepatan berbicara, jeda di antara kata (ritme), volume suara, dan tetap melakukan kontak mata saat jeda dalam berbicara. Ekspresi suara akan mendukung terciptanya komunikasi yang asertif.
e. Ekspresi Penampilan
Ekspresi penampilan berpengaruh terhadap komunikasi asertif, yang dapat dilihat dari pilihan baju yang dikenakan, bagaimana mengatur ruang kerja dan furnitur kantor, lingkungan fisik yang terlihat, dan sarana prasarananya.

Tabel di bawah ini akan menjelaskan tentang bahasa tubuh / komunikasi asertif non verbal (Caputo) .

Tabel 1
Bahasa Tubuh yang Asertif

Tipe Ekspresi

Sub-sub

Yang Harus Dilakukan

Yang Tidak Boleh Dilakukan

1. Ekspresi Wajah

Ekspresi Muka

l Berusaha tenang

l Ekspresi wajah menyenangkan

l Sesekali tersenyum, dan
menggunakan ekspresi wajah yang selaras dengan pesan yang dikirim/diterima

l Bemimik datar, cemberut, dahi berkerut, dan
mengunyah sesuatu

Kontak Mata

l Melakukan kontak mata langsung

l Melihat pada sesuatu (benda, seperti kertas, dsb)
pada saat yang bersamaan

l Mempertahankan kontak mata pada pesan inti yang
dikomunikasikan

l Memalingkan pandangan atau melihat ke bawah

l Berkedip berlebihan

l Menghentikan kontak mata pada saat puncak pesan
yang dikomunikasikan

Gerakan Alis

l Menggerakkannya selaras dengan  pesan verbal yang disampaikan

l Menggerakkannya tidak selaras dengan pesan verbal
yang disampaikan

2. Gesture/ekspresi Tangan

Gerakan tangan

l Gerakan tangan secara alami

l Jari telunjuk menunjukkan sesuatu yang penting
dalam bahan tertulis misalnya buku

l Memainkan tangan (menggosok meja, memainkan pen,
dsb)

l Menutup mulut ketika berbicara

Jabat Tangan

l Berjabat tangan untuk mengucapkan ‘hai”,
“selamat tingggal”,dll.

l Berjabat tangan sesaat dan kuat, mendahulukan
berjabat tangan

l Menolak untuk berjabat tangan

l Menunggu orang lain untuk berjabat tangan
terlebih dahulu

Sentuhan

l Menepuk bahu atau punggung sebagai tanda simpati

l Menyentuh dengan cara yang intim (membelai,
menepuk kepala, dll.)

3. Ekspresi Postur

Postur

l Tetep santai dengan posisi yang nyaman

l Menyilangkan kaki jika diinginkan dengan sopan

l Menjaga anggota badan yang cukup simetris

l Menjaga posisi kepala sejajar dengan orang yang
diajak bicara

l Duduk saat berkomunikasi, kecuali jika ada
permintaan untuk tidak duduk

l Menggeser berat badan dari kiri ke kanan,
membungkuk

l Berdiri pda saat memperhatikan pembicaraan

Jarak

l Berdiri 1,5 – 3 meter dari lawan bicara

l Bersandar ke belakang dengan perlahan kemudian
badan didorong kedepan untuk merespon

l Bersandar kembali ketika mendengarkan

l Berdiri atau duduk lebih dekat dari lawan bicara
(kurang dari 1,5 m)

l Berdiri atau duduku lebih dari 3-6 meter.

l Mendekat terlalu cepat

4. Ekspresi Suara

Aspek non verbal ketika
berbicara

l Memvariasikan aksen

l Berbicara dengan jelas tanpa terburu-buru

l Merespon pertanyaan dalam 1-15 detik

l Berbicara dengan suara yang mudah didengar

l Aksen monoton, datar

l Berbicara terlalu cepat

l Mengulang kata-kata yang sama

l Lambat dalammerespon

l Berbisik atau berteriak

l Berbicara dengan gigi terkatub

Selain kata-kata

l Menggunakan jeda antar kata dengan singkat sambil
melakukan kontak mata

l Banyak menggunakan kata-kata “ehhh”
atau “hemm”

l Berdehem atau batuk yang tidak perlu

5. Ekspresi penampilan
fisik

Penampilan

l Terlihat rapi dan bersih

l Berbangsa dengan tepat dalam lingkungan

l Berbusana tidak pantas atau berlebihan dalam
lingkungan kerja

Pengatyran fisik

l Duduk menghadap orang lin yang diajak bicara

l Duduk tidak menghadap orang yang diajak bicara

2.2.4 Penilaian Mahasiswa Terhadap Asertifitas Pustakawan

Penelitian ini akan menguraikan penilaian mahasiswa terhadap asertifitas Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta. Unsur-unsur pembentuk perilaku asertif pustakawan yang berupa asertifitas verbal dan asertifitas non verbal, dalam penelitian ini digunakan sebagai sub variabel penelitian berdasarkan Caputo, 1984 , sebab teori ini langsung diaplikasikan dalam bidang kepustakawan. Adapun masing-masing elemen dari unsur komunikasi baik asertifitas verbal dan asertivitas non verbal akan diuraikan lebih lanjut sebagai indikator-indikator yang digunakan dalam pertanyaan kuesioner kepada mahasiswa.

III. METODE PENELITIAN
3.1 Subyek dan Obyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan bulan Nopember 2014, dengan subyek penelitian mahasiswa dan obyek penelitian penilaian mahasiswa terhadap asertifitas Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif, yang tidak perlu merumuskan hipotesisnya. Populasi dalam penelitian semua mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Surakarta. Pengambilan sampel adalah sampel random/sampel acak, sehingga sesuai pendapat Arikunto, , kalau populasinya besar, maka sampel bisa diambil antara 10-15 %. Maka sampel diambil 10 % dari jumlah seluruh mahasiswa yang ada, yaitu 10% dari 250 jumlah mahasiwa Jurusan karawitan (dengan teknik pembulatan).

3.2 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini bersifat tunggal, yaitu penilaian mahasiswa terhadap asertifitas Pustakawan Perpustakaan Jurusan Karawitan ISI Surakarta. Dasar yang digunakan sesuai dengan pendapat Caputo, bahwa asertifitas dapat dilihat dari segi verbal dan non verbal. Tiga kunci yang memperlihatkan pernyataan asertifitas verbal yaitu: 1. Pernyataan saya / i-statement, 2. Honesty and sincerity (kejujuran dan ketulusan), 3. Spontanity / spontanitas. Adapaun asertifitas non verbal yang dapat ditunjukkan dengan 5 hal, yaitu: 1. Ekspresi wajah dan kontak mata saat berkomunikasi, 2. Gesture/ekspresi tangan, 3. Ekspresi posisi, 4. Ekspresi suara, dan 5. Ekspresi penampilan fisik. Sub variable-sub variabel tersebut kemudian akan dijabarkan menjadi indikator-indikator, yang nantinya digunakan sebagai pertanyaan dalam kuesioner.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode dan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data antara lain :
1. Penelitian pustaka / library research, suatu metode penyusunan yang dilakukan dengan membaca dan mengumpulkan literatur baik dari buku teks, referensi, jurnal, internet, dan sumber lain yang didukung. Tujuannya adalah untuk memperoleh dan mendalami informasi-informasi yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.
2. Riset lapangan / field research, yang berupa:
a. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data-data yang diperlukan dalam penelitian dari dokumen instansi terkait,contohnya adalah data jumlah mahasiswa, dokumen tata tertib perpustakaan, dan prosedur peminjaman yang berlaku diperpustakaan.
b. Kuesioner yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada sejumlah sampel yang sudah ditentukan. Apabila pengisian sudah selesai dikumpulkan kembali kepada peneliti untuk dianalisis lebih lanjut.
3.4. Metode Analisis
Data yang diperoleh dikumpulkan dan diolah, selanjutnya dianalisis sesuai dengan data yang dibutuhkan dalam menjawab permasalahan penelitian. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Data-data diolah menggunakan teknik tabulasi, dengan menyajikan hasil penelitian dalam daftar tabel. Rumusnya sebagai berikut.

Nilai rata-rata asertifitas pustakawan =    Nilai yang didapat                                                                                                                                                                          Jumlah Responden

Hasilnya dalam skala Likert, yang sesuai dengan pendapat Riduan dan Akdon, bahwa skala likert bisa digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Nilai jawaban skala Likert yang akan diperoleh yaitu :
4. Untuk hasil jawaban yang sangat baik
3. Untuk hasil jawaban yang baik
2. Untuk hasil jawaban yang tidak baik
1. Untuk hasil jawaban sangat tidak baik

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Verbal Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta
4.1 1 Penilaian Mahasiswa terhadap I-Statement/Pernyataan saya

Tabel 1
Penilaian Mahasiswa Terhadap I-Statement/Pernyataan saya

A

Penilaian Mahasiswa Terhadap I-Statement/Pernyataan saya 

Nilai Rerata

1

Perkataan yang
diucapkan pustakawan dapat diterima, tanpa Anda merasa tersakiti

3.36

2

Tidak ada
pernyataan pustakawan yang memojokkan Anda

3.16

3

Setiap
berbicara pustakawan akan memulai dengan kata “Saya” yang menunjukkan
sifat yang berani mengambil resiko atau tanggungjawab atas apa yang dikatakan

3.12

 

Jumlah nilai rata-rata

3.21

 Sumber: Data Primer, diolah Desember 2014

Tabel 1 di atas menjelaskan Penilaian Mahasiswa Terhadap I-Statement/Pernyataan saya, dengan nilai rata-rata “baik”, yaitu 3,03 (skala 1-4).

4.1 2 Penilaian Mahasiswa terhadap Honesty dan Sincerity

Tabel 2
Penilaian Mahasiswa Terhadap Honesty dan Sincerity
(Kejujuran dan Ketulusan)

B

Penilaian Mahasiswa Terhadap  Honesty dan Sincerity (Kejujuran dan Ketulusan) 

Nilai Rerata

1

Pustakawan
mampu mengekspresikan pikiran dan keinginan secara jujur

3.24

2

Sikap jujur
pustakawan dalam menyampaiakan pendapat membuat Anda tetap nyaman tanpa
merasa tersinggung

3.4

3

Anda merasa
nyaman berkomunikasi dengan pustakawan tanpa ada intervensi

3.44

4

Anda merasakan
kemudahan berkomunikasi dengan pustakawan

3.48

 

Jumlah nilai rata-rata

3.39

 Sumber: Data Primer, diolah Desember 2014

Tabel 2 di atas menjelaskan Penilaian Mahasiswa terhadap Honesty dan Sincerity (Kejujuran dan Ketulusan), “baik”, dengan nilai 3.39 (skala 1-4).
4.1 3 Penilaian Mahasiswa Terhadap Spontanity / Spontanitas

Tabel 3
Penilaian Mahasiswa Terhadap Spontanity / Spontanitas

C

Penilaian Mahasiswa Terhadap Spontanity / Spontanitas

Nilai Rerata

1

Pustakawan
berbicara secara langsung sesuai dengan fakta / kenyataan

3.24

2

Perkataan
pustakawan tidak melebih-lebihkan terhadap sesuatu yang disampaikan secara
tegas

3.24

 

 

 

 

Jumlah nilai rata-rata

3.24

 Sumber: Data Primer, diolah Desember 2014

Tabel 3 di atas menjelaskan Penilaian Mahasiswa Terhadap Spontanity / Spontanitas, adalah “baik”, dengan nilai 3.24 (skala 1-4).

4.2 Penilaian Mahasiswa Terhadap Asertifitas Non Verbal Pustakawan

4.2 1 Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Wajah

Tabel 4
Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Wajah

A

Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Wajah 

Nilai Rerata

1

Ekspresi wajah
pustakawan menyenangkan

3.32

2

Pustakawan
selalu tersenyum ketika berkomunikasi dengan Anda

3.16

3

Pustakawan
selalu menggunakan “kontak/tatapan mata” ketika berkomunikasi
dengan Anda

3.08

4

Pustakawan
selalu menggunakan “kontak/tatapan mata” ketika menyampaikan puncak
komunikasi dengan Anda dengan senyuman manis

3.12

5

Pustakawan
mengekpresikan rasa marah dengan mengerutkan wajah dan cemberut

2.36

 

Jumlah nilai rata-rata

3.01

 Sumber: Data Primer, diolah Desember 2014

Tabel 4 di atas menjelaskan Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Wajah, “baik” dengan nilai yaitu 3,01 (skala 1-4).

4.2 2 Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Tangan

Tabel 5
Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Tangan

B

Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Tangan 

Nilai Rerata

1

Ketika
berkomunikasi dengan Anda, tangan pustakawan rileks / santai

3.12

2

Pustakawan
memggunakan gerakan tangan saat memberikan penjelasan kepada Anda

2.88

3

Pustakawan
menggunakan tangan secara baik dan sopan saat memberikan pelayanan kepada
Anda

3.12

 

Jumlah nilai rata-rata

3.04

 Sumber: Data Primer, diolah Desember 2014

Tabel 5 di atas menjelaskan Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Tangan, adalah “baik” dengan nilai yaitu 3,04 (skala 1-4).

4.2 3 Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Posisi / Postur

Tabel 6
Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Posisi / Postur

C

Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Posisi /Postur 

Nilai Rerata

1

Pustakawan
posisinya santai dan nyaman ketika berkomunikasi dengan Anda

3.16

2

Pustakawan
menjaga anggota badan yang cukup simetris ketika berkomunikasi dengan Anda

3.08

3

Pustakawan
menjaga posisi kepala sejajar dengan orang yang diajak biacara

2.92

 

Jumlah nilai rata-rata

3.05

 Sumber: Data Primer, diolah Desember 2014

Tabel 6 di atas menjelaskan Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Posisi / Postur , adalah “baik” dengan nilai yaitu 3,05 (skala 1-4).

4.2 4 Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Suara

Tabel 7
Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Suara

D

Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Suara

Nilai Rerata

1

Pustakawan
berkomunikasi dengan aksen yang vareasi / tidak monoton

2.84

2

Pustakawan
berbicara dengan jelas dan tidak terburu-buru

3.12

3

Pustakawan
merespon pertanyaan dalam 1-5 detik

3.12

4

Pustakawan
berbicara dengan suara yang mudah didengar

3.16

5

Pustakawan
menggunkan jeda antar kata dengan singkat sambil melakukan montak mata

3.04

6

Pustakawan
tidak banyak menggunakan kata “eehhh” atau “hemm”

3.04

7

Pustakawan
sering berdehem atau batuk yang tidak perlu saat berkomunikasi

2.28

 

Jumlah nilai rata-rata

2.94

 Sumber: Data Primer, diolah Desember 2014

Tabel 7 di atas menjelaskan Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Suara, adalah “belum baik” namun sudah mendekati nilai baik, yaitu 2,94 (skala 1-4).

4.2 4 Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Penampilan Fisik

Tabel 8
Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Penampilan Fisik

E

Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Penampilan Fisik 

Nilai Rerata

1

Pustakawan terlihat rapi dan bersih

3.4

2

Pustakawan berbusana dengan tepat dalam lingkungan kerja

3.4

3

Pustakawan duduk/berdiri menghadap orang yang diajak bicara

3

4

Pustakawan menghormati area duduk/berdiri lawan bicara

3.08

 

Jumlah nilai rata-rata

3.33

 Sumber: Data Primer, diolah Desember 2014

Tabel 8 di atas menjelaskan Penilaian Mahasiswa Terhadap Ekspresi Penampilan Fisik adalah “sudah baik”dengan nilai 3.33 (skala 1-4).

4.3 Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Verbal dan Non Verbal Terhadap Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta

4.3 1 Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Verbal Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta

Tabel 9
Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Verbal Pustakawan
Jurusan Karawitan ISI Surakarta

NO

Dimensi 

Nilai Rerata

1

Penilaian Mahasiswa Terhadap I-Statement/Pernyataan Saya

 

3.21

2

Penilaian Mahasiswa Terhadap  Honesty dan Sincerity (Kejujuran dan Ketulusan) 

3.39

3

Penilaian Mahasiswa Terhadap Spontanity / Spontanitas

3.24

 

Jumlah Nilai Rata-Rata

3.28

 Sumber: Data Primer, diolah Desember 2014

Tabel 9 di atas menjelaskan Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Verbal Terhadap Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta menurut dimensi I-Statement/Pernyataan Saya, Honesty dan Sincerity (Kejujuran dan Ketulusan), Spontanity / Spontanitas, adalah “baik” dengan nilai rata-rata yaitu 3.24 (skala 1-4).
4.3 2 Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Non Verbal Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta

Tabel 10
Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Non Verbal Pustakawan
Jurusan Karawitan ISI Surakarta

NO

Dimensi 

Nilai Rerata

A

Dimensi Ekspresi Wajah

3.01

B

Dimensi Ekspresi Tangan

3.04

C

Dimensi Ekspresi Posisi / Postur

3.05

D

Dimensi Ekspresi Suara

2.94

E

Dimensi Penampilan Fisik

3.33

 

Jumlah Nilai Rata-Rata

3.07

 Sumber: Data Primer, diolah Desember 2014

Tabel 10 di atas menjelaskan Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Non Verbal Terhadap Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta, berdasarkan lima dimensi, yaitu 1). Dimensi Ekspresi Wajah, 2). Dimensi Ekspresi Tangan, 3). Dimensi Ekspresi Posisi/postur, 4). Dimensi Ekspresi Suara, 5). Dimensi Penampilan Fisik, adalah “baik”, dengan nilai 3.07 (skala 1-4).

4.3 3 Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta

Tabel 11
Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Pustakawan
Jurusan Karawitan ISI Surakarta

NO

Dimensi Asertifitas 

Nilai Rerata

I

Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Verbal 

3.28

II

Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Non Verbal

3.07

 

Jumlah Nilai Rata-Rata

3.18

 Sumber: Data Primer, diolah Desember 2014

Tabel 11 di atas menjelaskan Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta, adalah “sudah baik”, dengan nilai 3.18 (skala 1-4).

V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
1. Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Verbal Terhadap Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta, adalah “baik” dengan nilai rata-rata yaitu 3.24 (skala 1-4).
2. Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Non Verbal Terhadap Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta, adalah “baik”, dengan nilai 3.07 (skala 1-4).
3. Penilaian Mahasiswa terhadap Asertifitas Pustakawan Jurusan Karawitan ISI Surakarta, adalah “sudah baik”, dengan nilai 3.18 (skala 1-4).

5.2 Saran
1. Bagi perpustakaan dan pustakawan perlu meningkatkan komunikasi verbal dan non verbal untuk meningkatkan asertifitas kepada pemustaka yang dilayaninya, terlebih kepada mahasiswa sebagai pemakai terbesarnya.
2. Pustakawan perlu meningkatkan dan meperhatikan komunikasi Non Verbal terutama dalam hal “Ekspresi Suara”, karena penilaian mahasiswa pada point ini dirasa belum “baik”, dengan nilai rata-rata 2.94 (skala 1-4). Sedangkan penilaian mahasiwa terhadap yang lain “sudah baik”.

DAFTAR PUSTAKA

………….., 1979. Websters New Universal unabridged Dictionary, Second Edition. America: The World Publishing Company.

……………, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Caputo, Janette S, 1998. The Assertive Librarian, Canada: Oryx Press.

Depdikbud, 2002. Kamus Besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Echols, John M., Hasan Shadily. 2000. Kamus Inggris – Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Irkhamiyati. Persepsi Mahasiswa Terhadap Asertifitas Pustakawan Stiekes Aisyah Yogyakarta., dalam Libraria : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Vol. 3, No. 1 tahun 2014., hlm. 43-62.

Kismiyati, Titiek, 2013. Standar Kompetensi Pustakawan, dari elib.unikom.ac.id/download.php?id=6301. Diakses Senin, 15 Desember 2014, 15.05 WIB.

Krismayani, Ika. Pustakawan Asertif (Studi tentang Asertifitas Pustakawan di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga yogyakarta), Thesis. Yogyakarta: UIN Sunan kalijaga Yogyakarta.

Kurnia Utami. Melayani Sepenuh Hati., dalam Layanan Perpustakaan Yang Humanistik: Bunga rampai. Surakarta : IAIN Surakarta, 2013., hlm. 196-201.

Lasa HS. 2009. Kamus Kepustakawan Indonesia, Yogyakarta : Pustaka Book Plubisher.

Naibaho, kalarensi, Pustakawan Asertif: Idaman masyarakat: tinjauan Terhadap Tugas dan kompetensi Pustakawan dalam mencapai kepuasan Pengguna, diakses dari http://staff.blog.ui.ac.id/clara/2011/01/06/pustakawan-asertif-idaman-masyarakat/), senin 15 Desember 2014, 15.35 WIB.

Nasir, Abdul, dkk. 2009. Komunikasi dalam Keperawatan: teori dan Apliksi. Jakarta: Salemba Medika.

Perpustakaan nasional RI, 2009. Undang-Undang republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, cetakan 2. Jakarta: Perpusnas RI.

Prasetya, Herry. 2002. “Sikap Mahasiswa Terhadap Layanan Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia Tahun 2002”. Dalam Skripsi. Fakultas sastra Indonesia jakarta

Riduan dan Akdon, 2006. Rumus dan Data dalam Aplikasi Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.

Sudarsono, Blasius, 2006. Antologi kepustakawanan Indonesia, Jakarta: PP IPI dengan Agung Seto.

Sulistya-Basuki, 1999. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wiji Suwarno. Kepustakawan Berbasis Kompetensi Diri., dalam Libraria : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Vol. 2, No. 1 tahun 2012., hlm. 19-35

(upload by R.Lalan Fuandara)