Judul: Questionnaire Design: How to Plan, Structure and Write Survey Material for Effective Market Research
Penulis: Ian Brace & Kate Bolton
Penerbit: KoganPage
Cetakan: Edisi 4, 2022
Halaman: ix, 327 hlm. : ilus.; 24 cm
Bahasa: Inggris
ISBN: 978-1-3986-0412 4
Peresensi: Joko Setiyono, S.Sos
Dalam dunia yang semakin ditopang oleh data dan opini, kemampuan merancang instrumen survei yang tajam dan akurat telah menjadi kebutuhan mendesak di berbagai bidang; dari pemasaran, kebijakan publik, pendidikan, bahkan sampai seni dan budaya. Buku Questionnaire Design: How to Plan, Structure and Write Survey Material for Effective Market Research karya Ian Brace dan Kate Bolton ini hadir sebagai peta cermat yang membimbing pembaca—baik akademisi, mahasiswa, maupun praktisi—untuk menavigasi tantangan kompleks dalam merancang kuesioner. Dengan gaya penulisan yang jernih dan sistematis, Brace berhasil menyampaikan bahwa merancang pertanyaan bukan hanya pekerjaan teknis, tetapi juga seni komunikasi dan empati terhadap responden.
Memahami kerangka kuesioner sebagai proses berpikir, inilah polanya. Tak heran maka Brace memulai bukunya dengan premis sederhana namun kuat: sebuah kuesioner yang baik dimulai dari pemahaman yang baik tentang apa yang ingin diketahui. Banyak perancang survei terlalu cepat meloncat ke penyusunan pertanyaan tanpa terlebih dahulu merumuskan tujuan riset secara jelas. Dalam bab-bab awal, Brace membongkar proses perencanaan, mulai dari menetapkan tujuan, mengidentifikasi populasi target, hingga memilih metode pengumpulan data yang paling tepat. Ia menekankan pentingnya menyadari perbedaan antara survei eksploratif dan deskriptif, serta bagaimana tujuan-tujuan itu akan berdampak langsung pada struktur kuesioner yang dirancang.
Bagi pembaca dari dunia akademik, pendekatan ini sangat bermanfaat. Dalam penyusunan skripsi atau tesis, misalnya, mahasiswa sering kali merasa cukup dengan menyusun daftar pertanyaan berdasar intuisi. Brace menawarkan pendekatan yang lebih sadar metode, menuntun pembaca untuk selalu kembali pada logika riset: variabel apa yang diukur, bagaimana bentuk pertanyaannya, skala jawaban seperti apa yang digunakan, dan apa konsekuensi dari pilihan-pilihan itu dalam proses analisis nanti.
Kepekaan Bahasa: Seni Mengajukan Pertanyaan
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada kepekaan bahasa. Brace menekankan bahwa pertanyaan yang efektif bukan hanya harus “benar” secara isi, tetapi juga harus “tepat” secara bahasa. Ia memperlihatkan bagaimana sebuah pertanyaan yang ambigu, terlalu panjang, atau menggunakan istilah teknis justru dapat membingungkan responden, menciptakan bias, atau lebih parah: menyebabkan dropout dari survei.
Brace memberikan sejumlah contoh konkret bagaimana pertanyaan bisa menyesatkan atau menggiring opini. Misalnya, pertanyaan seperti “Apakah Anda setuju bahwa pemerintah telah gagal menyediakan layanan kesehatan yang memadai?” mengandung asumsi negatif sejak awal. Dibandingkan itu, pertanyaan netral seperti “Sejauh mana Anda puas terhadap layanan kesehatan pemerintah?” jauh lebih etis dan ilmiah. Pelajaran-pelajaran semacam ini membuat buku ini bukan hanya relevan bagi peneliti pasar, tetapi juga jurnalis, dosen, mahasiswa, bahkan aparat birokrasi yang menyusun survei publik.
Menghindari bias untuk menjaga etika merupakan nasehat yang diberikan. Sehingga buku ini juga memberi porsi besar pada pembahasan tentang bias, baik yang muncul dari redaksi pertanyaan maupun dari struktur kuesioner secara keseluruhan. Brace mengajak pembaca memahami bahwa urutan pertanyaan dapat memengaruhi jawaban responden; pertanyaan awal yang terlalu emosional dapat “mewarnai” respons terhadap pertanyaan selanjutnya. Ia juga membahas soal kelelahan responden, penggunaan skala yang tidak konsisten, dan pentingnya uji coba (pilot test) sebelum kuesioner disebarkan secara luas.
Di sini pula letak keunggulan buku Brace dibanding karya-karya populer lainnya seperti The Survey Research Handbook oleh Pamela Alreck dan Robert Settle, atau Designing Surveys oleh Johnny Blair dkk. Jika buku-buku tersebut lebih menekankan struktur survei dan analisis statistiknya, maka Brace mengisi celah penting dengan menggali bagaimana desain pertanyaan itu sendiri bisa membentuk—bahkan memanipulasi—data. Dalam hal ini, pendekatan Brace terasa lebih humanistik sekaligus etis.
Kemudian tentang fleksibilitas format dan tantangan era digital menjadi perhatian dalam buku ini pula. Maka tak ketinggalan, Brace juga menaruh perhatian pada aspek desain visual dari kuesioner. Ia menunjukkan bagaimana layout memengaruhi kenyamanan dan persepsi responden. Dalam dunia digital, di mana kuesioner banyak dikonsumsi melalui ponsel dan komputer, tantangan baru pun muncul. Panjang teks, scroll yang terlalu panjang, atau tombol pilihan yang terlalu kecil—semuanya dapat menyebabkan kegagalan survei. Brace membahas kiat-kiat menyusun kuesioner yang ramah mobile, memperingatkan agar kita tidak sekadar “mentransplantasi” kuesioner cetak ke layar digital tanpa adaptasi.
Di sinilah buku ini relevan bagi praktisi survei masa kini—baik yang bekerja di lembaga riset pasar, pemerintahan, NGO, maupun kampus. Dunia digital menuntut efisiensi sekaligus estetika. Brace tidak hanya sadar akan hal ini, tapi juga menyajikan panduan konkret untuk mengatasinya.
Meskipun ditulis dengan orientasi riset pasar, buku ini sangat bisa diadaptasi untuk konteks akademik. Antara akademik dan praktik lapangan mendapatkan porsinya yang seimbang. Pembahasan mengenai jenis-jenis pertanyaan (terbuka, tertutup, berskala), teknik skoring, hingga pemrosesan data sangat aplikatif dalam penelitian kuantitatif di ranah sosial, pendidikan, bahkan kebijakan publik. Buku ini bahkan bisa dijadikan referensi wajib dalam mata kuliah Metode Penelitian Sosial, atau modul pelatihan riset terapan bagi mahasiswa maupun dosen.
Keunggulan lainnya adalah struktur buku yang logis dan didukung banyak studi kasus. Brace menghindari bahasa teoritis yang kaku, dan menggantinya dengan narasi yang mudah diikuti, bahkan oleh pemula. Setiap bab ditutup dengan ringkasan poin penting yang memperkuat pemahaman, menjadikannya cocok untuk dibaca sekaligus dijadikan buku ajar.
Namun demikian, buku ini tidak tanpa kekurangan. Karena ditulis dari perspektif riset pasar, beberapa contoh dalam buku ini terasa terlalu komersial untuk pembaca akademik. Selain itu, pembahasan mengenai metode validasi statistik, seperti uji reliabilitas atau validitas konstruk, tidak dibahas secara mendalam. Hal ini bisa menjadi tantangan bagi pembaca yang ingin menggunakan buku ini sebagai satu-satunya rujukan dalam riset ilmiah.
Namun keterbatasan ini justru menjadi kekuatannya. Alih-alih membebani pembaca dengan jargon statistik, Brace lebih memilih menekankan logika berpikir dan struktur komunikasi yang jelas. Buku ini bukan pengganti buku metode riset, melainkan pelengkap yang krusial.
Simpulan dari buku ini adalah: Wajib baca bagi perancang survei, sebab secara keseluruhan, Questionnaire Design karya Ian Brace dan Kate Bolton adalah kontribusi berharga dalam dunia metodologi riset. Ia mengajak kita menyadari bahwa menyusun pertanyaan bukan sekadar teknis, tetapi menyangkut etika, komunikasi, dan empati. Di tengah banjir data dan maraknya survei instan yang beredar hari ini, buku ini mengingatkan bahwa bertanya adalah pekerjaan serius. Pertanyaan yang salah bisa membawa pada kesimpulan yang menyesatkan, sementara pertanyaan yang cermat dapat membuka jalan bagi perubahan nyata. Bagi peneliti, mahasiswa, dosen, bahkan pengambil kebijakan, buku ini adalah panduan sekaligus pengingat bahwa kualitas informasi yang kita terima sangat bergantung pada kualitas pertanyaan yang kita ajukan. Dalam konteks itu, buku Ian Brace bukan hanya relevan bahkan bisa menjadi mendesak. Buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan dengan nomor panggil: 650.07 BRA q.

