Judul buku: Metodologi Penelitian Penciptaan Karya Practice-Led Research And Practice-Based Research Seni Rupa, Kriya, dan Desain
Penulis: Husen Hendriyana
Penerbit: Andi
Cetakan: Edisi II, 2021
Halaman: xvi, 240 hlm. : ilus.; 23 cm
Bahasa: Bahasa Indonesia
ISBN: 978-623-01-1894-4
Diresensi oleh: Joko Setiyono, S.Sos
Dalam dunia seni, sebuah pertanyaan besar sering mengemuka: apakah proses penciptaan karya seni dapat dianggap sebagai aktivitas ilmiah? Sebagian skeptis berpendapat bahwa seni lebih merupakan praktik intuitif, berakar pada emosi dan spontanitas, sehingga kurang layak ditempatkan dalam kerangka penelitian ilmiah. Namun, pandangan ini menimbulkan paradoks, mengingat keberadaan institusi pendidikan seni, seperti SMK Seni (SMKI, SMSR) dan perguruan tinggi seni, yang berfungsi mengajarkan teori dan praktik seni secara akademis. Dari perdebatan panjang inilah buku Metodologi Penelitian Penciptaan Karya karya Husen Hendriyana hadir untuk menjawab tantangan ini.
Buku ini memperkenalkan dua pendekatan utama dalam penelitian seni, yakni Practice-Led Research (PLR) dan Practice-Based Research (PBR). Keduanya menegaskan bahwa seni tidak hanya berbicara melalui estetika, tetapi juga melalui proses investigasi kreatif yang mampu menghasilkan kontribusi baru terhadap pengetahuan. Hendriyana berhasil menghadirkan pembahasan yang tidak hanya relevan bagi mahasiswa seni, tetapi juga dosen, peneliti, dan praktisi di bidang seni rupa, kriya, dan desain.
Seni dalam Bingkai Akademik
Pada Bab 1, Hendriyana mengantarkan pembaca dengan memaparkan latar belakang pentingnya metode penelitian dalam seni. Ia menggarisbawahi bahwa seni telah lama mengalami dikotomi antara “praktik” dan “teori.” Salah satu pertanyaan mendasar yang ia ajukan adalah: bagaimana seni dapat diakui sebagai bagian dari proses ilmiah jika selama ini lebih banyak dinilai dari sisi estetika saja? Dengan pendekatan yang sistematis, Hendriyana mengupas bagaimana PLR dan PBR dapat menjadi jembatan yang menghubungkan praktik seni dengan dunia akademik.
PLR, menurut Hendriyana, adalah metode penelitian yang menggunakan praktik kreatif sebagai bagian integral dari investigasi. Di sisi lain, PBR lebih menekankan pada karya seni sebagai keluaran akhir dari penelitian. Melalui pendekatan ini, seni tidak lagi sekadar ekspresi, tetapi juga medium eksplorasi yang mengungkap pemahaman baru tentang isu-isu budaya, material, hingga teknologi.
Pokok-Pokok Penelitian Seni
Bab 2 hingga Bab 4 merupakan inti dari buku ini, dengan pembahasan yang kaya tentang seni rupa, kriya, dan desain sebagai bidang penelitian. Pada Bab 2, Hendriyana menguraikan karakteristik seni rupa, kriya, dan desain. Seni rupa dipandang sebagai media visual yang dapat menjadi alat untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan besar. Kriya, di sisi lain, lebih menekankan aspek keterampilan tangan dan keindahan material, sementara desain berfokus pada solusi untuk kebutuhan praktis dengan tetap memperhatikan estetika.
Bab 3 adalah tentang unsur-unsur dasar rancangan penelitian dan teknis penulisannya. Di sini, Hendriyana memberikan panduan praktis bagi mahasiswa untuk memulai penelitian mereka, mulai dari menentukan fokus penelitian hingga menyusun kerangka metodologi. Salah satu poin menarik yang dibahas adalah bagaimana mahasiswa seni dapat mendokumentasikan proses kreatif mereka sebagai data penelitian. Dokumentasi ini meliputi sketsa awal, prototipe, hingga karya akhir, yang semuanya dapat diinterpretasikan untuk mengungkap ide-ide baru dalam seni.
Pada Bab 4, pembahasan berlanjut dengan teori-teori yang mendukung praktik seni rupa, kriya, dan desain. Hendriyana menyajikan rangkuman dari berbagai pendekatan teoretis, mulai dari semiotika hingga material culture, yang relevan untuk mendalami makna di balik karya seni. Sebagai contoh, ia mengangkat bagaimana teori semiotika dapat membantu menganalisis simbol-simbol dalam kriya tradisional, atau bagaimana teori materialitas dapat digunakan untuk memahami hubungan antara bahan dan konsep dalam desain produk.
Dari Seni ke Ilmu Pengetahuan
Salah satu daya tarik utama buku ini adalah keberhasilan Hendriyana dalam menghubungkan seni dengan metode ilmiah tanpa kehilangan esensi kreatifnya. Ia menyebutkan bahwa dalam PLR dan PBR, proses penciptaan seni sama pentingnya dengan hasil akhirnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa seni memiliki dua sisi: sisi estetika yang dirasakan secara intuitif dan sisi ilmiah yang dapat dipahami melalui analisis sistematis.
Hendriyana juga menggarisbawahi pentingnya refleksi kritis dalam penelitian seni. Proses ini melibatkan dialog antara praktisi seni dan pengetahuan yang lebih luas, baik itu dalam konteks budaya, sejarah, maupun teknologi. Dalam buku ini, pembaca diajak untuk melihat bahwa seni bukan hanya soal “menciptakan sesuatu yang indah,” tetapi juga tentang mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam yang mampu memperkaya pemahaman manusia tentang dunia.
Sebagai sebuah buku metodologi, karya Hendriyana ini patut diapresiasi karena berhasil mengisi kekosongan dalam literatur seni Indonesia. Buku ini memberikan panduan yang jelas dan praktis bagi mahasiswa seni yang sering kali kesulitan menyelaraskan praktik kreatif mereka dengan tuntutan akademik. Contoh-contoh penelitian yang disajikan, terutama di bidang kriya dan desain, memberikan inspirasi sekaligus arahan bagi pembaca untuk mengembangkan penelitian mereka sendiri.
Namun, buku ini bisa diperluas jangkauan pembacanya dengan tambahan pembahasan mendalam tentang aplikasi PLR dan PBR dalam konteks seni tradisional Indonesia. Mengingat kekayaan budaya Indonesia, pembahasan ini seharusnya menjadi salah satu fokus utama buku. Selain itu, meskipun Hendriyana telah menyajikan panduan teknis yang cukup rinci, beberapa pembaca mungkin merasa membutuhkan lebih dalam mengenai contoh-contoh nyata dari proses dokumentasi penelitian seni.
Untuk Siapa Buku Ini?
Metodologi Penelitian Penciptaan Karya jelas ditujukan bagi mahasiswa dan dosen di lingkungan seni rupa, kriya, dan desain. Namun, buku ini juga relevan bagi praktisi seni yang ingin memperdalam pemahaman mereka tentang proses kreatif sebagai bentuk penelitian. Dalam dunia seni yang semakin terhubung secara global, kemampuan untuk mendokumentasikan dan menganalisis proses penciptaan karya menjadi semakin penting, tidak hanya untuk keperluan akademik tetapi juga untuk membangun narasi yang lebih kuat tentang seni Indonesia di kancah internasional.
Penutup
Husen Hendriyana, melalui buku ini, berhasil mengangkat seni dari ranah intuitif ke ranah ilmiah, tanpa menghilangkan keindahan dan kompleksitasnya. Dengan memperkenalkan PLR dan PBR, ia membuka jalan bagi mahasiswa seni untuk menjelajahi dunia penelitian yang sering kali dianggap eksklusif bagi disiplin ilmu lain. Buku ini tidak hanya menjadi panduan metodologis, tetapi juga sebuah refleksi mendalam tentang hubungan antara seni, ilmu pengetahuan, dan budaya.
Sebagai sebuah karya, Metodologi Penelitian Penciptaan Karya adalah kontribusi penting bagi literatur seni di Indonesia. Dengan gaya penulisan yang lugas dan penuh wawasan, Hendriyana berhasil membawa pembaca memasuki dunia seni yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat dengan makna dan pengetahuan. Bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana seni dapat menjadi bagian dari proses ilmiah, buku ini adalah bacaan yang wajib. Buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan dengan nomor panggil: 707 HUS m []
