“Nasirun: Maestro Imajinasi di Antara Surrealisme dan Tradisi” resensi buku

Judul: Ojo Ngono: Nasirun
Penulis: Oei Hong Djien, Suwarno Wistrotomo, & Amir Sidharta
Penerbit: Yayasan Kembang Jati.

Cetakan: Cetakan pertama, 2000
Halaman: 206  hlm. : ilus.; 23 cm

Bahasa: Bahasa Indonesia dan Inggris

ISBN: –

Diresensi oleh: Joko Setiyono, S.Sos

           Ojo Ngono, sebuah karya tulis hasil kolaborasi Oei Hong Djien, Suwarno Wisetrotomo, dan Amir Sidharta, adalah eksplorasi mendalam tentang dunia seni rupa Nasirun, maestro seni kontemporer Indonesia yang dikenal akan perpaduan surrealisme, tradisi Jawa, dan spiritualitas dalam karyanya. Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Kembang Jati pada tahun 2000, dengan format bilingual dalam bahasa Indonesia dan Inggris, menjadikannya mudah diakses oleh pembaca global.

Sebanyak 206 halaman yang dipenuhi reproduksi karya Nasirun berkualitas tinggi memanjakan pembaca dengan pengalaman visual yang autentik. Buku ini tidak hanya mendokumentasikan perjalanan artistik Nasirun, tetapi juga membuka diskusi tentang hubungan seni dengan tradisi, modernitas, dan identitas budaya.

Lebih dari itu membaca Ojo Ngono adalah perjalanan imajinasi yang menghanyutkan. Buku ini mengungkapkan dunia visual Nasirun yang luar biasa, dipenuhi oleh bahasa rupa unik, penuh improvisasi, dan kedalaman konsep yang sulit dicari padanannya. Buku ini menjadi representasi dari kekayaan estetika Nasirun, seorang maestro seni kontemporer Indonesia yang karyanya sering disebut sebagai perpaduan antara surrealisme, tradisi, dan spiritualitas.

Para penulis, memiliki keahlian luar biasa dalam menguraikan lapisan-lapisan makna di balik karya-karya Nasirun sesuai perspektifnya masing-masing. Dalam Ojo Ngono,  menunjukkan bagaimana Nasirun memanfaatkan imajinasi untuk membangun dunia fantasi dari hal-hal biasa. Seni rupa Nasirun tidak hanya bernuansa estetika; ia juga kaya akan narasi visual yang memadukan tradisi dan modernitas.

Mengupas Dunia Visual Nasirun Daya tarik utama Ojo Ngono terletak pada kemampuan Nasirun membangun dunia fantasi dari hal-hal yang bagi kebanyakan orang tampak biasa. Seperti yang diungkapkan dalam pengantar buku ini, imajinasi dan kreativitasnya mengubah hal sederhana menjadi sesuatu yang memukau. Dunia visualnya sering kali memuat figur-figur majemuk yang dirangkai dalam adegan surealis, penuh greget, dan mengundang interpretasi mendalam. Dalam satu lukisan, Nasirun bisa menyisipkan berbagai figur yang saling terjalin dengan harmonis, menciptakan pengalaman visual yang padat namun tetap memikat. Kemampuannya mengimprovisasi bentuk figur menunjukkan luasnya perbendaharaan bahasa rupa yang ia miliki. Setiap karya Nasirun adalah narasi unik yang memanfaatkan bentuk-bentuk berbeda, mirip seorang sastrawan yang mampu mengungkapkan ide serupa dengan berbagai gaya bahasa.

Buku ini menjadi dokumentasi dari bahasa rupa tersebut, sekaligus kamus visual bagi para pencinta seni yang ingin memahami kompleksitas karya Nasirun. Pengaruh dan Inspirasi Seperti halnya Pablo Picasso dan Salvador Dali, dua maestro yang sering disebut sebagai inspirasi besar Nasirun, ia juga memiliki kemampuan luar biasa dalam menciptakan figur yang penuh kejutan. Figur-figur Nasirun tidak hanya mengisi ruang visual tetapi juga menciptakan dimensi baru yang memaksa pemirsa untuk memikirkan ulang realitas. Adegan-adegan berkesinambungan dalam karyanya memiliki kemampuan untuk menarik perhatian dan mengundang pemirsa masuk ke dalam narasi yang kompleks dan penuh metafora. Namun, tidak seperti Picasso atau Dali yang sering bermain di ranah modernisme dan eksperimentasi formal, Nasirun tetap setia pada akar tradisi. Melalui karyanya, ia mengangkat nilai-nilai lokal dan spiritualitas Jawa, menjadikannya jembatan antara dunia seni kontemporer global dan kekayaan budaya Nusantara.

Dengan total 206 halaman yang dicetak di atas art paper berkualitas tinggi, Ojo Ngono memanjakan pembaca dengan reproduksi karya-karya Nasirun dalam detail yang memukau. Setiap halaman menyajikan warna dan tekstur karya secara autentik, seolah-olah pembaca sedang berada di depan lukisan aslinya. Namun, buku ini tidak hanya mengandalkan visual. Penjelasan naratif yang menyertai karya-karya Nasirun memberikan konteks filosofis dan kultural yang mendalam, membuat pembaca tidak hanya menikmati, tetapi juga memahami ide-ide besar yang mendasari penciptaannya. Buku ini dibagi ke dalam beberapa bagian, masing-masing menggambarkan fase tertentu dalam perjalanan artistik Nasirun. Mulai dari eksplorasi figur majemuk hingga penggabungan elemen tradisi dan spiritualitas, setiap bab membawa pembaca lebih jauh ke dalam dunia fantasi yang diciptakan oleh Nasirun.

Otentisitas dan Komodifikasi Seni Salah satu tema besar yang dapat ditemukan dalam Ojo Ngono adalah persoalan otentisitas dalam seni. Nasirun, melalui karyanya, berusaha mempertahankan nilai-nilai esensial seni di tengah dunia yang semakin dipengaruhi oleh komersialisasi. Dalam banyak lukisan yang ditampilkan di buku ini, terlihat jelas bagaimana Nasirun menolak pendekatan seni yang hanya berorientasi pada pasar. Sebaliknya, ia menciptakan karya-karya yang jujur dan bermakna, meski terkadang sulit dicerna oleh audiens awam.

Pendekatannya ini mengingatkan kita pada konsep art for art’s sake yang menempatkan seni sebagai entitas mandiri, bukan sekadar produk untuk dijual. Namun, pendekatan ini bukan tanpa tantangan. Dalam konteks seni kontemporer Indonesia yang masih berusaha mendapatkan tempat di panggung dunia, karya Nasirun yang penuh dengan elemen lokal dan spiritual sering kali dianggap terlalu “berat” bagi pasar global. Buku ini, dengan demikian, juga menjadi refleksi atas dinamika tersebut, sekaligus menawarkan solusi dengan memperkenalkan karya Nasirun dalam format yang dapat diakses oleh audiens yang lebih luas.

Meskipun Ojo Ngono adalah karya yang luar biasa, buku ini tidak lepas dari kritik. Salah satu kelemahan yang dapat ditemukan adalah kurangnya penjelasan mendalam tentang teknik yang digunakan Nasirun dalam menciptakan karya-karyanya. Meskipun buku ini kaya akan interpretasi filosofis dan kultural, pembaca yang tertarik pada aspek teknis mungkin merasa sedikit kecewa. Selain itu, bagi audiens internasional, Ojo Ngono mungkin membutuhkan pendampingan berupa terjemahan yang lebih luas. Konteks budaya Jawa yang mendominasi karya-karya Nasirun dapat menjadi penghalang bagi pemahaman audiens global, terutama jika buku ini ditujukan sebagai upaya untuk mempromosikan seni kontemporer Indonesia di panggung internasional. Namun, terlepas dari kelemahan tersebut, Ojo Ngono tetap menjadi kontribusi penting bagi dunia seni rupa Indonesia.

Sebagai buku bilingual, Ojo Ngono menawarkan kelebihan bagi pembaca internasional. Bahasa Inggris digunakan untuk menjembatani pembaca global agar dapat memahami konteks kultural dan filosofis yang mendasari karya-karya Nasirun. Dilengkapi dengan cetakan pada art paper berkualitas tinggi, reproduksi karya dalam buku ini menampilkan detail warna dan tekstur secara otentik, seolah pembaca berada di depan lukisan aslinya. Nasirun adalah seniman yang teguh pada otentisitas. Dalam buku ini, karya-karyanya menunjukkan dedikasinya terhadap nilai-nilai esensial seni di tengah arus komersialisasi. Ia menolak seni yang hanya berorientasi pada pasar, dan sebaliknya, menghasilkan karya-karya yang jujur dan bermakna, meski sering kali menantang pemahaman audiens awam.

Namun, komitmennya pada akar budaya lokal tidak lepas dari tantangan. Dalam konteks seni kontemporer global, karya Nasirun sering dianggap terlalu “berat” bagi pasar internasional. Dengan format bilingual, Ojo Ngono menghadirkan solusi, membuka ruang dialog untuk memperkenalkan karya Nasirun ke audiens global tanpa kehilangan konteks lokalnya.

Ojo Ngono adalah bukti keahlian Para penulis dalam mengurai kompleksitas seni rupa Nasirun. Dengan gaya penulisan yang mendalam namun tetap dapat diakses, Penulis berhasil membawa pembaca memasuki dunia Nasirun yang penuh warna, kompleksitas, dan makna. Buku ini bukan hanya merayakan karya Nasirun tetapi juga menjadi diskursus penting tentang seni, tradisi, dan identitas. Ojo Ngono adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami seni rupa kontemporer Indonesia. Sebagai dokumentasi visual sekaligus refleksi filosofis, buku ini mengukuhkan peran Nasirun sebagai salah satu ikon seni besar. Ia mengangkat diskursus tentang seni, tradisi, dan identitas dalam konteks yang lebih luas. Merayakan Kekayaan Imajinasi Ojo Ngono adalah perayaan atas kekayaan imajinasi dan kreativitas Nasirun, seorang seniman yang tidak pernah berhenti mengeksplorasi batas-batas seni rupa. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk memasuki dunia yang penuh warna, kompleksitas, dan makna. Dengan bahasa rupa yang unik dan mendalam, Nasirun tidak hanya menciptakan karya seni tetapi juga narasi visual yang menginspirasi.

Buku ini, lebih dari sekadar dokumentasi karya, adalah bukti dari dedikasi Nasirun terhadap seni dan upayanya untuk menjaga nilai-nilai tradisi di tengah arus modernitas. Kolaborasi antara Oei Hong Djien, Suwarno Wisetrotomo, dan Amir Sidharta memberikan konteks yang kaya terhadap karya Nasirun, menciptakan jembatan antara tradisi dan modernitas, seni lokal, dan global. Ojo Ngono adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami seni rupa kontemporer Indonesia melalui lensa seorang seniman yang tak hanya mencipta, tetapi juga membangun narasi visual yang menginspirasi. Buku ini bisa dicari dan dibaca oleh para pemustaka Perpustakaan ISI Surakarta, lokasi penyimpanan dengan  nomor panggil: 759.598 OEI o []