Judul: Semar
Penulis: Ardian Kresna
Penerbit: Lontar Mediatama
Tahun: 2021
ISBN: 978-602-5986-65-9
Deskripsi fisik: xii, 325 hlm.; 21 cm
Di resensi oleh: Joko Setiyono, S.Sos
Semar. Adalah tokoh pencerah, sekaligus penyadar para ksatria di muka bumi. Tujuannya supaya para ksatria berwatak adil itu dapat melaksanakan tugas mereka menjaga kebaikan di muka bumi. Buku ini mengajak pembaca untuk merenungi bersama-sama tentang wayang sebagai seni tradisi dan warisan adiluhung yang telah kita miliki sebagai dasar budaya ketimuran. Tokoh semar dalam pewayangan merupakan seorang yang paling sakti diantara tokoh wayang-wayang lainnya. Tak ada tokoh yang dapat mengalahkan, bahkan semua menghormatinya.
Buku “Semar” karya Ardian Kresna menghadirkan sosok Semar sebagai figur sentral dalam dunia pewayangan Jawa, sebuah karakter yang sarat makna dan penuh dengan kebijaksanaan. Melalui buku ini, Kresna menggali kedalaman filosofi dan peran penting Semar dalam menjaga keseimbangan dan keadilan di muka bumi. Buku ini tidak hanya menggambarkan Semar sebagai tokoh wayang yang sakti dan dihormati, tetapi juga sebagai simbol keadilan dan kearifan yang relevan dengan kehidupan modern.
Buku ini dibuka dengan pengantar yang memperkenalkan Semar sebagai tokoh yang kompleks dan multidemensional. Kresna menjelaskan bahwa Semar bukan hanya sekadar karakter dalam cerita wayang, tetapi juga merupakan simbol dari nilai-nilai kearifan yang mendalam. Dalam budaya Jawa, Semar dikenal sebagai sosok yang bijaksana, penuh kasih, dan selalu berpihak pada kebenaran. Kresna mengajak pembaca untuk melihat Semar bukan hanya dari perspektif mitologis, tetapi juga sebagai cerminan dari nilai-nilai moral dan etika yang universal.
Sejarah dan Asal Usul Semar. Kresna membahas asal usul dan sejarah tokoh Semar dalam tradisi pewayangan Jawa. Ia menjelaskan bahwa Semar adalah salah satu dari Panakawan, kelompok tokoh yang sering muncul dalam cerita wayang untuk memberikan nasihat dan panduan kepada para ksatria. Semar digambarkan sebagai sosok yang tidak hanya sakti, tetapi juga memiliki kebijaksanaan yang mendalam dan pengertian tentang kehidupan. Kresna juga menguraikan berbagai versi cerita tentang asal usul Semar, termasuk mitos dan legenda yang mengelilinginya.
Selain itu Kresana menggali lebih dalam tentang Semar sebagai simbol kebijaksanaan peran. Semar sebagai simbol kebijaksanaan dalam tradisi wayang. Kresna menjelaskan bahwa Semar sering kali berfungsi sebagai penasehat yang bijaksana, memberikan nasihat yang penting bagi para ksatria untuk menjaga keseimbangan dan keadilan di dunia. Melalui analisis mendalam, Kresna menunjukkan bagaimana Semar mewakili nilai-nilai seperti keadilan, kebenaran, dan kasih sayang, yang menjadi panduan moral bagi masyarakat.
Pengaruh Budaya dan Kultural Semar. Kresna membahas pengaruh Semar dalam budaya dan kehidupan masyarakat Jawa. Ia menjelaskan bahwa Semar tidak hanya berfungsi sebagai karakter dalam cerita wayang, tetapi juga memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan moral dan etika kepada masyarakat. Melalui cerita dan nasihat yang diberikan oleh Semar, masyarakat diajak untuk merenungkan nilai-nilai kebijaksanaan dan kearifan yang penting untuk menjaga harmoni dalam kehidupan. Kresna juga menyoroti bagaimana Semar telah menjadi bagian integral dari identitas budaya Jawa, dan bagaimana nilai-nilai yang diwakilinya tetap relevan dalam kehidupan modern.
Wayang sebagai Warisan Budaya Adiluhung
Bagi Kresna mengangkat wayang sebagai salah satu warisan budaya yang memiliki nilai-nilai adiluhung adalah pilihannya. Ia menekankan pentingnya melestarikan tradisi wayang sebagai bagian dari identitas budaya yang kaya dan berharga. Wayang, menurut Kresna, bukan hanya sebuah bentuk seni pertunjukan, tetapi juga sarana untuk menyampaikan nilai-nilai moral dan etika kepada masyarakat. Kresna mengajak pembaca untuk merenungkan kembali makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam wayang, dan bagaimana kita dapat mengambil hikmah dari cerita-cerita tersebut untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Kresna juga mengambarkan bagaimana Semar dihormati oleh semua tokoh dalam cerita wayang. Kresna menjelaskan bahwa tidak ada tokoh lain yang mampu mengalahkan Semar, karena kekuatannya tidak terletak pada kekuatan fisik atau magis, tetapi pada kebijaksanaan dan pengertian yang mendalam tentang kehidupan. Semar dihormati karena ia mewakili nilai-nilai kearifan dan keadilan yang penting untuk menjaga keseimbangan dan harmoni dalam masyarakat. Kresna juga menyoroti bagaimana kepatuhan dan penghormatan terhadap Semar mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai kebijaksanaan dan kearifan yang diwakilinya. Kepatuhan dan penghormatan terhadap Semar inilah yang berhasil digambarkan.
Kresna melakukan analisis mendalam tentang makna filosofis dan kultural yang terkandung dalam tokoh Semar. Ia menjelaskan bahwa Semar mewakili dualitas antara kebijaksanaan dan kesederhanaan, serta bagaimana tokoh ini berfungsi sebagai simbol dari nilai-nilai moral dan etika yang universal. Kresna juga menyoroti bagaimana Semar dapat menjadi sumber inspirasi untuk memahami dan mengatasi tantangan moral dan etika dalam kehidupan modern. Melalui analisis ini, Kresna menunjukkan bahwa tokoh Semar memiliki relevansi yang mendalam bagi kehidupan kita saat ini, dan bagaimana kita dapat belajar dari kebijaksanaan yang diwakilinya.
Kresna, menggali nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan melalui cerita-cerita wayang, khususnya melalui tokoh Semar. Kresna menjelaskan bahwa wayang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan etika kepada masyarakat. Ia menyoroti berbagai nilai-nilai yang diajarkan melalui cerita-cerita wayang, seperti keadilan, kebenaran, dan kasih sayang, dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat menjadi panduan bagi kita dalam menjalani kehidupan yang lebih baik.
Semar dan Relevansinya dengan Kehidupan Modern. Kresna membahas bagaimana nilai-nilai yang diwakili oleh Semar tetap relevan dalam kehidupan modern. Ia menjelaskan bahwa meskipun tokoh Semar berasal dari tradisi lama, nilai-nilai kebijaksanaan dan kearifan yang diwakilinya tetap relevan dengan tantangan moral dan etika yang dihadapi dalam kehidupan kita saat ini. Kresna menunjukkan bagaimana kita dapat belajar dari Semar untuk menjalani kehidupan yang lebih adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang, dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat membantu kita untuk menjaga keseimbangan dan harmoni dalam masyarakat. Refleksif. Buku ini ditutup dengan kesimpulan yang merefleksikan pentingnya tokoh Semar dalam menjaga nilai-nilai kebijaksanaan dan kearifan dalam kehidupan kita. Kresna mengajak pembaca untuk merenungkan kembali nilai-nilai yang diajarkan melalui cerita-cerita wayang, dan bagaimana kita dapat mengambil hikmah dari tokoh Semar untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Ia menekankan pentingnya melestarikan tradisi wayang sebagai bagian dari identitas budaya yang kaya dan berharga, dan bagaimana nilai-nilai yang diwakili oleh Semar dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita dalam menghadapi tantangan moral dan etika dalam kehidupan modern.
Keunggulan Buku adalah pada pendekatan yang mendalam dan komprehensif, Buku ini menawarkan pendekatan yang mendalam dan komprehensif terhadap tokoh Semar, tidak hanya sebagai karakter dalam cerita wayang, tetapi juga sebagai simbol kebijaksanaan dan kearifan yang memiliki relevansi yang luas bagi kehidupan kita saat ini. Kresna berhasil menggali berbagai dimensi yang terkandung dalam tokoh Semar, dan menunjukkan bagaimana kita dapat belajar dari kebijaksanaan yang diwakilinya.
Refleksi Terhadap Budaya dan Nilai-nilai Tradisional. Kresna mengajak pembaca untuk merenungkan kembali nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam wayang, dan bagaimana kita dapat mengambil hikmah dari cerita-cerita tersebut untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Buku ini memberikan perspektif yang kaya tentang bagaimana budaya tradisional dapat memberikan panduan etis dan moral yang relevan dalam kehidupan modern.
Penggunaan Bahasa yang mengalir dan memikat. Gaya penulisan Kresna yang lugas dan memikat membuat pembaca dapat dengan mudah terhubung dengan cerita dan refleksi yang disajikan. Salah satu yang membuat buku ini tidak hanya informatif tetapi juga menyenangkan untuk dibaca, dan memungkinkan pembaca untuk memahami dan mengapresiasi nilai-nilai kebijaksanaan yang terkandung dalam tokoh Semar. Relevansi dengan kehidupan modern. Meskipun tokoh Semar berasal dari tradisi lama, nilai-nilai yang diwakilinya tetap relevan dengan tantangan moral dan etika yang dihadapi dalam kehidupan modern, menjadi semacam warisan filosofis dari tokoh wayang Semar bagi kita sepanjang masa.
Buku ini memberikan inspirasi tentang bagaimana kita dapat mengaplikasikan. “Semar” karya Ardian Kresna adalah sebuah buku yang kaya akan wawasan dan refleksi tentang tokoh Semar dan nilai-nilai yang diwakilinya. Melalui pendekatan yang mendalam dan filosofis, Kresna berhasil menggambarkan Semar sebagai simbol kebijaksanaan dan keadilan yang relevan bagi pembaca modern. Buku ini tidak hanya menjadi sumber pengetahuan tentang wayang, tetapi juga sebagai inspirasi untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan gaya penulisan yang menarik dan penuh refleksi, buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang tertarik pada budaya dan nilai-nilai tradisional yang kaya. Buku ini mengajak kita untuk merenungkan kembali warisan budaya kita dan bagaimana kita dapat belajar dari tokoh-tokoh seperti Semar untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan bermakna. Dalam era modern yang penuh dengan tantangan moral dan etika, nilai-nilai kebijaksanaan yang diwakili oleh Semar dapat menjadi panduan yang berharga untuk menjalani kehidupan yang lebih adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang. “Semar” oleh Ardian Kresna adalah sebuah kontribusi yang berharga terhadap upaya pelestarian dan pemahaman warisan budaya yang kaya dan berharga ini. []

