Resensi buku “Ledhek dari Blora: Misteri, Sejarah, dan Kritik Sosial dalam Satu Novel”

” Ledhek dari Blora: Misteri, Sejarah, dan Kritik Sosial dalam Satu Novel

Judul: Ledhek dari Blora

Penulis: Budi Sardjono
Penerbit: Araska

Tahun: 2018

ISBN: 978-602-51471-0-4

Deskripsi fisik: iii, 252 hlm.; 20 cm

Di Resensi oleh: Joko Setiyono, S.Sos

(Pustakawan Ahli Madya)

 

Budi Sardjono dalam novel “Ledhek dari Blora” menggabungkan misteri, investigasi, dan kritik sosial dengan latar belakang sejarah yang kaya. Novel ini tidak hanya memikat dengan alur ceritanya yang penuh teka-teki, tetapi juga menyajikan refleksi mendalam tentang kehidupan masyarakat Blora. Novel ini juga berhasil menggabungkan berbagai genre novel, menciptakan pengalaman membaca yang kaya dan memuaskan. Bagi mereka yang mencari lebih dari sekadar hiburan, “Ledhek dari Blora” menawarkan refleksi mendalam tentang kehidupan, sejarah, dan budaya. Ini adalah sebuah karya yang layak mendapat tempat dalam rak buku setiap pecinta sastra.

“Ledhek dari Blora” bercerita tentang Sam, seorang ghost writer yang ditugaskan menulis biografi seorang pengusaha Jakarta bernama Don. Dalam tugasnya, Sam harus melacak jejak Sriyati, seorang penari tayub terkenal dari Blora. Pencarian ini membawa Sam ke dalam dunia kelam pencurian kayu jati dan minyak mentah, mengancam nyawanya dan membuka tabir korupsi di sekitarnya. Kisah ini dimulai dengan bangkrutnya majalah tempat Sam bekerja selama sepuluh tahun. Dalam usaha untuk tetap bertahan hidup di kota yang keras, Sam menerima tawaran pekerjaan dari seorang kawannya untuk menjadi ghost writer. Meskipun profesi ini pernah diperdebatkan dan dianggap sebagai pelacuran intelektual oleh sebagian orang, Sam menerimanya karena kebutuhan. Tugas pertamanya adalah menulis biografi seorang pengusaha bernama Don, namun sebelum menulis, ia diminta untuk melacak jejak Sriyati.

Dalam upayanya menemukan Sriyati, Sam harus menghadapi berbagai rintangan dan bahaya. Teka-teki tentang Sriyati dan ancaman yang muncul membuat novel ini sangat menarik. Pembaca diajak merasakan ketegangan dan penasaran seiring dengan perkembangan investigasi Sam. Petualangan Sam dimulai dari ibu kota menuju berbagai daerah yang berhubungan dengan kesenian tayub seperti Purwodadi dan Blora. Dalam proses pencariannya, Sam bertemu dengan Mbah Lurah atau Mbah Dukun, seorang sesepuh dalam kesenian tayub yang memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman tentang kesenian rakyat tersebut.

Budi Sardjono dengan cermat menunjukkan bagaimana korupsi bisa merusak tatanan sosial dan ekonomi. Elemen misteri dan investigasi menjadi inti cerita, namun tidak terlepas dari kritik sosial dan politik yang mendalam. Pencurian kayu jati dan minyak mentah yang diangkat dalam cerita menggambarkan korupsi yang merajalela dan dampaknya terhadap masyarakat Blora. Novel ini juga menyentuh isu-isu sosial dan politik yang relevan dengan kehidupan nyata.

Sardjono menyajikan latar belakang kesenian tayub, tarian tradisional dari Jawa Tengah, yang kaya akan sejarah dan budaya. Melalui karakter Mbah Lurah dan Ratmini, pembaca diperkenalkan pada kehidupan para ledhek dan bagaimana kesenian ini berfungsi dalam masyarakat. Tayub, sebagai tarian rakyat, tumbuh subur di berbagai wilayah di tanah air terutama di pedesaan-pedesaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Blora, Bojonegoro, Nganjuk, Ngawi, Tulungagung hingga Madiun. Tarian ini dikenal dengan gerakannya yang lebih bebas dan liar, tanpa pakem yang ketat, mencerminkan kebebasan dan kegembiraan rakyat jelata.

Namun, kesenian tayub juga tidak lepas dari bayang-bayang masa lalu yang kelam. Dari era Adipati Aryo Penangsang hingga peristiwa G30S, Sardjono menenun sejarah dengan kisah fiksi, memberikan pandangan yang mendalam tentang dampak sejarah terhadap individu dan komunitas. Jepon, sebuah kecamatan di Blora, dikenal sebagai daerah yang melahirkan ledhek tayub sejak dulu kala. Pada masa Adipati Aryo Penangsang, tayub digunakan sebagai hiburan para prajurit ketika lelah di medan perang. Seiring berjalannya waktu, tayub menjadi sarana pengumpulan massa. Tayub kemudian juga mendapat sentuhan aturan untuk tarian ini agar lebih rukun dan teratur.

Perjalanan Sam dari Jakarta ke Blora mempertemukannya dengan berbagai karakter yang memberi wawasan tentang kehidupan dan seni tayub. Ini bukan hanya perjalanan fisik tetapi juga perjalanan batin yang mengubah cara pandang Sam terhadap dunia di sekitarnya. Dalam perjalanannya, Sam menemukan bahwa tarian tayub yang dipenuhi dengan musik serta lagu riang gembira dan gerakan-gerakan yang membuat penontonnya terhibur, ternyata tidak berbanding lurus dengan nasib maupun jalan hidup yang dilalui para penarinya maupun anggota grup kesenian tersebut.

Pasca peristiwa G30S, nasib para penari tayub berubah drastis. Setelah huru-hara besar itu, tidak ada yang berani menanggap tayub, juga tak ada yang berani melanjutkan pekerjaannya sebagai ledhek. Dunia tayub mati, para pengrawit dan ledheknya bubar, sebagian dipenjara, sebagian hanya disuruh apel seminggu tiga kali. Novel ini mau tak mau mengingatkan pada novel trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, sastrawan asal Banyumas Jawa Tengah. Novel yang diterbitkan pada era 1980-an itu juga mengangkat kesenian dan penari tayub, dengan latar belakang peristiwa 1965. Jika Budi Sardjono mengangkat kesenian tayub dari wilayah Jateng bagian timur yakni Blora, Ahmad Tohari mengangkat kesenian dari kawasan Jateng bagian barat yakni Banyumas yang terkenal dengan sebutan ronggeng untuk penarinya, melalui sosok Srintil. Kedua novel ini sepertinya hendak menunjukkan zaman yang berubah cepat dan tidak bisa diduga ini akan menelan tradisi dan budaya masyarakat, termasuk seni tayub. Lagi pula di zaman sekarang, menjadi ledhek atau ronggeng bukan jaminan hidupnya bisa sejahtera. Belum tentu setiap hari ada yang menanggap. Tidak mudah seorang ledhek zaman sekarang populer lalu panen duit. Saweran yang mereka terima pun tidak untuk diri sendiri namun harus dibagi dengan para pengrawit atau penabuh gamelan.

Namun, beruntung masih ada perempuan-perempuan yang lahir di zaman modern yang masih mau masuk ke masa silam dan membawanya ke masa kini, sehingga masih mau menghidupkan kesenian tayub. Memang tidak mudah, karenanya butuh keberanian dan kemauan menghadapi tantangan zaman. Budi Sardjono dalam “Ledhek dari Blora” berhasil menggabungkan berbagai elemen menjadi kisah yang memikat dan menggugah pikiran. Ini adalah karya yang tidak hanya akan menghibur tetapi juga akan memberikan wawasan baru dan mengajak pembaca untuk merenung lebih dalam tentang isu-isu penting yang diangkat dalam cerita.

Dengan keahlian naratif yang kuat dan kemampuan untuk mengangkat isu-isu penting dengan cara yang menarik dan menghibur, Budi Sardjono telah menulis sebuah novel yang tidak hanya bercerita tetapi juga berbicara kepada pembacanya. “Ledhek dari Blora” adalah bukti bahwa sastra dapat menjadi alat yang ampuh untuk mengeksplorasi dan memahami dunia kita dengan cara yang lebih dalam dan bermakna. Dengan gaya penulisan yang mengalir dan mudah dipahami, “Ledhek dari Blora” mengajak pembaca untuk tidak hanya menikmati cerita tetapi juga merenung tentang isu-isu yang diangkat. Novel ini cocok bagi mereka yang mencari bacaan yang menghibur sekaligus memberikan wawasan baru. Novel ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang mencari lebih dari sekadar hiburan. Novel ini menawarkan pandangan yang mendalam tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat Blora, dari seni dan budaya hingga isu-isu sosial dan politik yang mendalam. Melalui kisah pencarian dan investigasi, Budi Sardjono berhasil mengungkapkan lapisan-lapisan cerita yang penuh misteri dan menggetarkan. Budi Sardjono telah berhasil menggabungkan berbagai elemen menjadi kisah yang menggetarkan dan menggugah pikiran. Dengan mengulas lapisan-lapisan cerita yang penuh misteri, sejarah, dan kritik sosial, “Ledhek dari Blora” menjadi bukti kepiawaian pengarang dalam menghadirkan narasi yang menarik dan relevan dengan kondisi sosial saat ini.

Dengan gaya penceritaan yang mengalir dan mudah dipahami, “Ledhek dari Blora” menjadi lebih dari sekadar hiburan. Novel ini mengajak pembaca untuk merenung tentang isu-isu yang diangkat, dari korupsi hingga dampak sejarah terhadap individu dan komunitas. Ini adalah karya yang direkomendasikan bagi mereka yang mencari pengalaman baca yang memikat sekaligus memberikan wawasan baru.[]