Layanan Sosialisasi Perpustakaan dalam Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru 2017 ISI Surakarta

Kegiatan Layanan Sosialisasi Perpustakaan adalah kegiatan pendidikan pemakai kepada mahasiswa baru ISI Surakarta, kegiatan ini adalah kegiatan rutin setiap tahunnya yang diadakan oleh UPT Perpustakaan ISI Surakarta, sasarannya adalah mahasiswa baru ISI Surakarta.

Acara kegiatan Layanan Sosialisasi Perpustakaan berlangsung dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru ISI Surakarta. Untuk tahun 2017 diadakan pada hari Jum’at, 18 Agustus 2017 dengan peserta semua mahasiswa baru ISI Surakarta 2017. Dengan narasumber Mustofa, SIP dan dimoderatori oleh B. Heni Budiwati

Gambar 1: Narasumber Mustofa, SIP sedang memberikan paparan sosialisasi layanan perpustakaan

Gambar 2: Peserta layanan sosialisasi perpustakaan Mahasiswa baru ISI Surakarta 2017 sangat antusias menyimak paparan dari narasumber

 

@Lalan September 2017

Inovasi Layanan UPT Perpustakaan ISI Surakarta

Telah hadir inovasi layanan di UPT. Perpustakaan Institut Seni Indonesia Surakarta Tahun 2017, yakni penambahan fasilitas layanan bagi para pemustaka berupa wifi corner dan instrumental accompaniment. Ketersediaan fasilitas ini berkat kerjasama antara UPT. Perpustakaan, UPT. Teknologi Informasi dan Komunikasi, serta Sub. Bagian Rumah Tangga dan BMN Institut Seni Indonesia Surakarta. Tujuan inovasi layanan ini untuk memberikan kenyaman bagi para pemustaka.

Wifi corner berada di luar gedung perpustakaan. Tepatnya di sisi timur gedung perpustakaan, dekat area parkir kendaraan roda dua. Pada fasilitas ini tersedia beberapa payung dan kursi yang dilengkapi dengan stop kontak sebagai supply power. Ada 3 (tiga) buah payung dengan jumlah tempat duduk sebanyak 12 (dua belas) kursi. Setiap satu payung dilengkapi dengan empat kursi.

Melalui fasilitas ini, pemustaka dapat berselancar menjelajah informasi melalui ketersediaan jaringan internet/wifi secara gratis. Fasilitas ini disediakan bagi pemustaka yang ingin mengakses informasi melalui jaringan internet dengan nuansa alami.

Sedangkan inovasi layanan lain yang disediakan bagi pemustaka, yakni instrumental accompaniment berupa pemutaran musik-musik instrumental secara lirih yang bisa dinikmati sambil membaca buku di dalam gedung perpustakaan lantai 2 (dua). Alunan musik-musik instrumental tersebut sebagai pengiring, sekaligus pengusir rasa jenuh agar kembali fresh.

Di setiap ruangan yang ada di lantai dua gedung UPT. Perpustakaan telah terpasang speaker yang dapat memperdengarkan alunan musik-musik instrumental secara lembut.

Selamat menikmati.

(@Lalan F September 17)

Seminar Nasional: “EKSISTENSI PERPUSTAKAAN: Masa Silam, Era Kekinian & Masa Depan”

Perpustakaan merupakan fundamen peradaban manusia. Dalam  ceramah Halal Bihalal 1438 H Keluarga Besar Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada Rabu 4 Juli 2017 di Auditorium Perpusnas Jakarta, Syeikh Fikri Thoriq Alkatiri mengungkapkan: perpustakaan adalah benteng terbesar suatu negara. Kehancuran Al-Andalus atau Andalus diawali dari kehancuran Kordoba. Pada awalnya yang dihancurkan adalah perpustakaan terbesar Andalus di Kordoba, kemudian hancur leburlah Andalus.

Terkait pengembangan perpustakaan, ditekankan pentingnya cermat memandang peluang dan penempatan yang tepat tentang posisi perpustakaan. Menurut periodisasi perkembangan perpustakaan dapat disebutkan ke dalam tiga kelompok yaitu: 1) Perpustakaan pada masa silam (Perpustakaan dulu). 2) Perpustakaan sekarang (Perpustakaan Kini). 3) Perpustakaan pada masa yang akan datang (Perpustakaan Hari Esok).

Pada setiap jaman perpustakaan telah banyak memberi jasa kepada para pemakainya sampai sekarang. Salah satunya sebagai sumber informasi dan panduan, rujukan dalam penelitian untuk sampai pada masa sekarang. Proses perkembangan informasi akan semakin cepat, sejalan dengan makin berkembangnya teknologi informasi (TI). Jika masa lalu koleksi perpustakaan diwarnai dengan koleksi dari daun lontar dan tablet tanah liat, sekarang yang paling dominan berupa koleksi tercetak, dan sebagian perpustakaan sudah dalam bentuk mikro, digital, elektronik dan terpasang.

Namun jika kita perhatikan, meskipun teknologi informasi mempunyai beberapa kelebihan, seperti makin cepat, akurat, namun pada sisi yang lain juga mempunyai kelemahan misalnya kita akan sangat tergantung pada teknologi tersebut, biaya yang diperlukan dan perawatan mahal dan lain sebagainya. Dan bagi yang belum terbiasa dengan media tersebut akan mengalami kesulitan. Meskipun teknologi sudah maju, namun media informasi dalam bentuk teks masih akan tetap banyak dimanfaatkan. Sebab, harganya relatif murah, tidak selalu tergantung pada teknologi informasi, dan mudah dipergunakan (dibaca dimana saja).

Manakah eksistensi perpustakaan masa silam yang harus kita pertahankan? Bagaimana seharusnya perpustakaan era kekinian? Adakah tampilan yang dapat menggoda pemustaka untuk selalu memanfaatkan perpustakaan? Persiapan apa bagi penyelenggara perpustakaan dalam menghadapi era masa depan? Inilah yang menjadi tantangan perpustakaan.

DOWNLOAD:

Sistematika Makalah Pendamping Seminar Nasional 2017 ISI Ska

PENGEMASAN AUDIO VISUAL SEBAGAI BAHAN INFORMASI DIGITAL DI SOCIAL MEDIA

Narasumber :

  1. Pascalis P.W.
  1. Dwi Rahmanto dan Melisa Angela

16-17 Mei 2017, di Ruang Seminar ISI Surakarta

Kemajuan teknologi komputer, telekomunikasi, dan infrastruktur semakin hari semakin menambah daftar jenis barang-barang fisik yang berhasil mendigitalisasikan dan mentransmisikan dari satu tempat ke tempat yang lain. Keberhasilan proses digitalisasi pada teks, gambar, audio, dan video secara kontinyu diiringi pula dengan keberhasilan para peneliti dalam memperbaiki kualitas dari masing-masing entiti tersebut. Hal ini membawa cakrawala baru pada sisi content services.

Sedangkan, inti dari content services ini adalah bagaimana memasarkan data, informasi, maupun knowledge yang telah dipaketkan sedemikian rupa memiliki value tertentu bagi konsumen. Ada tiga tahapan proses olahan entiti-entiti digital yang dapat menghasilkan output untuk pasarkan, yaitu: Content Creation, Content Packaging, dan Market Making.

Disisi lain, fenomena partisipasi aktif masyarakat dalam menggunakan teknologi untuk mendistribusikan dan menanggapi informasi dengan cepat berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Menimbulkan kerumitan-kerumitan baru yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Dampak penggunaan teknologi digital atau teknologi informasi (online) terhadap budaya atau kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat (offline) dibingkai oleh terma budaya digital.

Budaya digital menjadi topik hangat untuk didiskusikan, mengingat dampaknya yang semakin kuat dan luas dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sebut saja, gejolak panas pro-kontra transportasi online, debat haters vs lovers di media sosial saat pemilu, pilpres atau pilkada, hingga isu internasional skandal dokumen Panama. Lalu, bagaimana peluang dan tantangan budaya digital di Indonesia serta bagaimana trennya di masa depan?

Namun yang pasti di era digital, penyebaran informasi telah beralih dari sistem konvensional distribusi-sirkulasi media masa ke model participatory. Masyarakat tidak lagi hanya berperan sebagai konsumen pasif, tapi sebagai aktor yang ikut berperan aktif dalam membentuk, menyebarkan, bahkan mentransformasi berbagai informasi. Proses ini pun berjalan dengan sangat cepat tanpa kendala batasan geografis. Perubahan ini menjadi salah satu titik pangkal berbagai masalah yang timbul dan menyebabkan keresahan dalam masyarakat akhir-akhir ini.

Budaya digital memungkinkan seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain menggunakan media digital. Budaya digital atau disebut Digital Culture merupakan kebudayaan baru yang dipicu oleh kemajuan teknologi informasi dan dimatangkan oleh munculnya media sosial dalam beragam flatform. Media Sosial merupakan sebuah media online dimana para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi yang meliputi blog, jejaring sosial, forum, maupun dunia virtual. Jejaring sosial merupakan salah satu media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Perpustakaan sebagai lembaga pengelola media ilmu pengetahuan tentunya juga perlu melengkapi diri dengan  media sosial ini.

IMG_3029 IMG_3123 IMG_3141 IMG_2948

DESAIN TATA RUANG PERPUSTAKAAN GUNA MENARIK MINAT BACA Oleh: Sundari Juni Astutik

ABSTRAK

Ruang di perpustakaan merupakan hal utama, di sinilah pemustaka beraktivitas, berlama-lama membaca atau mencari informasi yang mereka butuhkan. Ruangan yang nyaman akan menarik mahasiswa untuk datang ke perpustakaan. Tata ruang baca Perpustakaan dapat memmpengaruhi atau meningkatkan minat baca Perpustakaan Untuk itu diperlukan penataan atau desain tata ruang yakni tata ruang yang reprresentatif, lay out, perabot, pengkondisian ruang, penghawaan, pencahayaan serta penggunaan warna cat dinding yang mempunyai karakter. Desain tata ruang baca demikian, diharapan dapat meningkatkan baca dalam budaya digital di perpustakaan.Yang selanjutnya dapat menarik minat baca upaya terseut menupakan hal yang Urgen untuk dilakukan. Karena kini tawaran kemudahan akses informasi sudah semakin nyata teleih dengan hadirna budaya digital yang memungkinkan orang membaca di \sebarang tempat. Maka menjadikan Perpustakaan sebagai tempat yang nyaman untuk membaca memiliki tantangan yang menarik untuk dilakukan.

baca selanjutnya klik: pustakawan asertif

upload by: R. Lalan F

Penandatanganan MoA Antara Perpustakaan ISI Surakarta Dengan Perpustakaan Univ. Muhammadiyah Surakarta

Pada hari Rabu, 5 Oktober 2016 pukul 10.00 WIB telah diadakan penandatanganan Memorandum Of Action (MoA) antara Perpustakaan Institut Seni Indonesia Surakarta dengan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penandatangan Memorandum Of Action (MoA) dilakukan oleh masing-masing Kepala Perpustakaan kedua pihak yang bertempat di Ruang Rapat Perpustakaan Institut Seni Indonesia Surakarta dengan disaksikan oleh beberapa staf perpustakaan kedua pihak.

Nyono, S.Sos selaku Kepala UPT. Perpustakaan ISI Surakarta mengatakan, “kerjasama ini menekankan dalam bidang perluasan layanan bagi pemustaka kedua pihak. Dalam nota perjanjian kerjasama akan mulai berlangsung selama tiga tahun sejak penandatanganan dan akan diperbaharui kelanjutannya atas kesepahaman kedua pihak”. (Oleh: R. Lalan F)

isi-surakarta-kerjasama-perpustakaan-isisurakarta-dengan-perpustakaan-univ-muhammadiyah-surakarta-300x217 isi-surakarta-kerjasama-perpustakaan-isisurakarta-dengan-perpustakaan-univ-muhammadiyah-surakarta-3-300x246

Seminar Nasional “Soft Skill & Spiritual Skill Pustakawan Dalam Layanan Prima Perpustakaan”

Pustakawan, sebagai salah satu profesi yang bergelut langsung dengan informasi, mau tak mau kini harus berhadapan dengan hal-hal yang merupakan dampak langsung dari “booming” kemajuan teknologi informasi dan komimg_5210unikasi (TIK). Pemustaka dan masyarakat yang harus dilayani pustakawan saat ini adalah suatu generasi baru yang lahir akibat kemajuan TIK yang disebut “Net Generation” atau “the Native Gadget”.

Percepatan ketersediaan informasi dan kemajuan TIK dapat dianalogikan seperti halnya teori Robert Malthus tentang deret ukur dengan deret hitung, bahwa perkembangan informasi cenderung tumbuh pesat seperti deret ukur, tidak sebanding dengan kemampuan kebanyakan manusia (termasuk pustakawan) dalam mengelola dan memanfaatkan informasi.

Dari sekian banyaknya sumber-sumber informasi, sumber dari internetlah yang kini semakin dicari dan digunakan. Mengaksesnya semakin mudah dan murah. Kemudian muncullah isu-miring tentang “kekalahan” perpustakaan dan pustakawan dibandingkan dengan internet dalam memberikan layanan dan menyajikan informasi. Untuk itu diperlukan berbagai cara peningkatan kompetensi pustakawan.

Kompetensi pustakawan dalam melaksanakan sebuah pekerjaan tidak hanya didukung secara teknis atau hard skill saja, namun dibutuhkan keterampilan lain yang bersifat nonteknis, berupa soft skill & spiritual skill yang mendukung dalam bidang apapun. Soft skill & spiritual skill erat kaitannya dengan kepribadian seseorang yang menjadikan karyawan baik, unggul dan dapat diandalkan dalam bekerja. Selain itu, menciptakan hubungan baik dengan menerapkan soft skill & spiritual skill terhadap pemustaka menjadi hal penting. Pustakawan harus mampu mengidentifikasi kebutuhan, keinginan dan cara pemenuhannya, seperti informasi apa, siapa, kapan, di mana dan bagaimana?

Kemampuan soft skill & spiritual skill menjadi bagian dalam pencapaian tujuan keberhasilan penyelenggaraan layanan prima di perpustakaan. Guna menjawab pertanyaan tersebut kiranya perlu suatu bentuk kegiatan pengkajian dan pembahasan lebih mendalam mengenai soft skill & spiritual skill dalam layanan prima perpustakaan. Oleh karena itu, sangatlah tepat diadakannya kegiatan seminar nasional dengan judul “Soft Skill & Spiritual Skill Pustakawan dalam Layanan Prima Perpustakaan”. Kegiatan ini akan menghadirkan narasumber yang telah berpengalaman dalam mengelola suatu perpustakaan. Direncanakan kegiatan ini akan dihadiri oleh para pustakawan, pengelola perpustakaan,  mahasiswa, dan pemerhati perpustakaan yang berasal dari beberapa wilayah di Indonesia.

Dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengelolaan dan pengembangan layanan perpustakaan seiring dengan kemajuan zaman, serta pengembangan keahlian dan wawasan bagi para peserta. (Oleh: R. Lalan F)

KEUNGGULAN LAYANAN PERPUSTAKAAN JURUSAN PEDALANGAN FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA TAHUN 2014 Oleh: Ika Laksmiwati

ABSTRAK

 Laksmiwati, Ika. Keunggulan  Layanan Perpustakaan di Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia Surakarta Tahun 2014. Karya Ilmiah Tugas Akhir S-1.  Program Studi S-1 Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Terbuka,  Jakarta.

Karya Ilmiah ini dilatarbelakangi oleh kepentingan terpenuhinya sarana pembelajaran  khususnya pengguna layanan bahan pustaka di Perpustakaan Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan  ISI Surakarta. Melalui tulisan ini, penulis bermaksud menggambarkan beberapa jenis keunggulan layanan bagi pengguna perpustakaan di Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta. Masalah yang diangkat dalam penelitian adalah keunggulan layanan Perpustakaan Jurusan Pedalangan di Fakultas Seni Pertunjukan  ISI Surakarta. Dengan submasalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

  • Jenis layanan dan keunggulan apa saja yang terdapat pada layanan di Perpustakaan Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta tahun 2014.
  • Bagaimanakah peran dan manfaat koleksi di perpustakaan ISI Surakarta bagi pengguna sampai tahun 2014.
  • Siapa saja sasaran pengguna layanan perpustakaan di Fakultas Pedalangan ISI Surakarta tahun 2014.

 Karya ilmiah ini ditulis berdasarkan hasil pengamatan  terhadap layanan perpustakaan di Perpustakaan Pedalangan  ISI Surakarta selama tahun 2014.  Metode yang digunakan adalah deskriftif kualitatif. Hasil pengamatan menemukan beberapa hal  berkenaan dengan layanan perpustakaan seni  ini. Diantaranya adalah perpustakaan ini menyediakan layanan audiovisual. Layanan ini memerlukan sarana pendukung untuk menyajian informasi yang dikandungnya. Layanan Audio Visual terdiri dari VHS, VCD,  DVD, VCD, kaset audio. Informasi utama yang dimiliki tentang bidang seni pedalangan atau teater.  Selain itu perpustakaan juga memberikan layanan buku-buku koleksi dan referensi,  referensi naskah pertunjukan kuno,  layanan penelusuran literatur, layanan rujukan cepat,  layanan koleksi  digital, dan sebagainya.

Perpustakaan Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan  ISI Surakarta secara tidak langsung banyak memberi manfaat bagi  masyarakat, khusus  akademisi dan  para pencinta seni pertunjukan khususnya seni wayang dan teater.

Kata Kunci:

Layanan Perpustakaan Seni,  Layanan Audio Visual, Naskah Pertunjukan

baca lebih lanjut silahkan klik Keunggulan Layanan Perpustakaan Jur Pedalangan

upload by: R. Lalan F

Katalog dan Minat Baca Oleh Ika Laksmiwati

Sejarah peradaban manusia di mulai dengan kehidupan yang sangat sederhana. Pada awalnya manusia hanya membutuhkan makanan dan tempat untuk bertahan hidup. Dengan berjalannya waktu kehidupan manusia berkembang semakin maju dan membentuk peradaban yang dapat dikategorikan menjadi  beberapa gelombang.

Gelombang pertama, masyarakat menyampaikan pengetahuannya dari mulut ke mulut dan dicatat di buku dan jurnal ilmiah. Pada gelombang kedua dan ketiga masyarakat menyampaikan pengetahuan melalui media cetak, majalah, koran, dan buku dengan harga murah. Adapun pada gelombang keempat, masyarakat teknologi menyimpan informasi dan pengetahuan dalam suatu pangkalan data (database) yang merupakan gabungan dari berbagai ilmu pengetuhan dan informasi. Dengan jaringan yang dibentuk, informasi dan pengetahuan dapat disebarkan dengan cepat melalui internet (Amir Sambodo, 2004:7). Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat  pesat ini, menjadi penanda kita telah memasuki gelombang keempat.

baca lebih lanjut silahkan klik Katalog dan Minat Baca

upload by: R. Lalan F

Optimalisasi Layanan Koleksi Audio Visual di Perpustakaan ISI Surakarta oleh Sartini

Abstrak

 Perpustakaan ISI Surakarta merupakan perpustakaan seni yang memiliki koleksi Audio Visual sebagai koleksi unggulannya. Pengelolaan koleksi Audio Visual yang baik akan memberikan daya tarik bagi pemakai untuk memanfaatkannya. Selain itu pelayanan yang optimal bagi mahasiswa misalnya dalam hal membantu menemukan koleksi yang dibutuhkan juga akan memberikan nilai tambah bagi perpustakaan itu. Pustakawan yang mengetahui isi dari suatu gendhing akan mempercepat penelusuran koleksi Audio Visual. Teknologi informasi memberikan peluang bagi pustakawan dan Perpustakaan ISI Surakarta untuk lebih meningkatkan  layanannya dalam pengelolaan koleksi audio visual yang ada.

baca lebih lanjut silahkan klik optimalisasi-layanan-AV-revisi

upload by: R. Lalan F