Home / Informasi / PENDIDIKAN PEMAKAI VS LITERASI INFORMASI (Oleh: Mustofa, SIP.)

PENDIDIKAN PEMAKAI VS LITERASI INFORMASI (Oleh: Mustofa, SIP.)

 

A. Latar Belakang Masalah

Ledakan informasi yang begitu besar dalam era informasi sekarang ini memiliki dampak sekaligus yang mempunyai efek hampir bersamaan yaitu dampak positif dan negatif bagi pencari informasi. Dampak positifnya adalah terbukanya berbagai macam informasi sehingga pencari informasi memiliki kesempatan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya informasi yang tersedia. Namun di balik itu juga terdapat dampak negatifnya yaitu karena terlalu banyaknya informasi yang tersedia, pencari informasi rawan terjerembab dalam informasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau bahkan memperoleh informasi yang salah.

Koleksi yang dimiliki perpustakaan merupakan kekayaan (asset) yang harus sebesar-besarnya dimanfaatkan oleh pengguna secara optimal. Dengan perannya yang strategis, perpustakaan perlu didukung oleh kemampuan teknik-teknik yang efesien dan efektif dalam penggunaan sarana (layanan) perpustakaan untuk memenuhi informasi yang dibutuhkan oleh pemakainya, karena kemampuan mencari informasi tidak kalah pentingnya dengan informasi itu sendiri. Untuk mendukung terciptanya layanan yang prima dan usaha mengoptimalkan pemanfaatan koleksi yang dimiliki, maka perpustakaan sebagai tempat pengelolaan dan pendayagunaan khazanah media informasi perlu memberikan layanan pendidikan pemakai perpustakaan dalam rangka mengenalkan koleksi dan fasilitas yang dimiliki perpustakaan.

Pendidikan pemakai merupakan program yang diselenggarakan oleh perpustakaan untuk memberikan bimbingan, petunjuk, maupun pendidikan kepada calon pemustaka atau pemustaka perpustakaan dalam kegiatan mereka untuk memanfaatkan jasa informasi serta sarana perpustakaan. Misalnya Katalog, komputer, mikrofis, film mikro, maupun CD-ROM. Bentuk pendidikan pemakai antara lain dengan ceramah, pelatihan, orientasi, selebaran, diskusi dan lainnya.

Literasi informasi adalah tanggungjawab pustakawan untuk memberikan kepada pengguna perpustakaan, ketrampilan dalam menggunakan sumber-sumber informasi seperti jurnal, indeks, abstrak, bibliografi, direktori dan sebagainya, baik dalam bentuk cetak maupun non cetak (bentuk elektroniknya). Ketrampilan yang membuat pengguna menjadi familier terhadap sumber-sumber informasi dan teknologi yang terdapat didalam perpustakaan. Sehingga di masa mendatang mereka dapat memanfaatkan perpustakaan dengan mudah, cepat dan percaya diri. Pemilihan model bimbingan pemakai yang akan dipakai tergantung pada jumlah peserta, kapasitas ruang atau kelas tempat penyelenggaraan kegiatan bimbingan pemakai dan tujuan dari kegiatan bimbingan pemakai tersebut. Karena ketrampilan menggunakan perpustakaan yang merupakan tujuan akhir dari kegiatan bimbingan pemakai adalah sesuatu hal yang perlu dilaksanakan oleh perpustakaan.

Teknologi informasi merupakan alat atau media yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relefan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasiyang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer dengan komputer lainnya sesuai denga kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Ika Rudianto (2013 : 7)

Kehadiran teknologi informasi (komputer / internet) tidak bisa lagi dihindari. Siap atau tidak siap kita harus menerima kehadirannya. Teknologi informasi bisa diterima oleh perpustakaan karena tuntutan  terhadap jumlah dan mutu layanan perpustakaan, tuntutan terhadap penggunaan koleksi bersama, kebutuhan untuk mengektifkan sumber daya manusia, tuntutan terhadap  efisien waktu, keragaman informasi yang diterima, serta kebutuhan akan ketepatan layanan informasi.  Ika Rudiyanto dalam Abdul Rahman Saleh (1998 : 157-160). Dengan adanya teknologi informasi pelayanan di perpustakaan bisa berkembang, dengan hadirnya internet, e-jurnal, dan e-book para pemustaka dapat memilih informasi yang mereka inginkan. Fenomena ini juga bisa merubah sikap dari para pemustaka sendiri, dari semula mereka yang hanya membaca buku secara langsung, sekarang mereka dapat melihat dan membaca buku atau jurnal melalui komputer. Hal ini juga merubah pemustaka dalam mencari informasi yang mereka inginkan. Kalau dulu sebelum menemukan buku para pemustaka melihat katalog dulu secara manual, tetapi sekarang para pemustaka tinggal mencari lewat OPAC atau melalui search engine di sebuah web.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah yaitu Bagaimana perbedaan Pendidikan Pemakai dan Literasi Informasi?

C. Pembahasan

  1. Pengertian

Semakin berkembangnya metode pendidikan perguruan tinggu, kebutuhan ajan perpustakaan semakin dirasakan. Ttapi dengan semakin cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan, jumlah dan macam koleksi juga semakin bertambah, sehingga pemakai perpustakaan terutama mahasiswa, makin bingung dalam usaha menemukan informasi. Dengan demikian mereka tidak dapat memanfaatkan perpustakaan semaksimal mugkin. Namun dilain pihak, keberadaan suatu perpustakaan sebagai pusat pendidikan dan bahkan tempat pendidikan seumur hidup (Lifelong Learning) sudah tepatri di hati pengguna. Davies dalam Rosa Widyawan (2012), menyatakan “ leraning how to use library is a basic component of… (any) instructional programs”. Jadi dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar bagaimana memanfaatkan perpustakaan menjadi hal yang sangat mendasar dalam kaitanya terhadap kebutuhan informasi.

Dalam Hal inilah perpustakaan diharapkan unutk meningkatkan jasa informasinya secara aktif. Salah satu langkah yang tepat untuk menanggulangi hal tersebut adalah menyelenggarakan suatu program pendidikan pemakai pada perpustakaan. Secara umum istilah pendidikan pemakai dalam konteks ilmu pemakai, pendidikan pengguna atau User Education.

Definisi pemdidikan pemakai pemakai menurut Soedibyo dalam Rosa Widyawan (2012), adalah sebagai berikut : Pendidikan pemakai adalah usaha bimbingan atau penunjang pada pemakai tentang cara pemanfaatan koleksi bahan pustaka yang disediakan secara efektif dan efisien, bimbingan itu dapat berupa bimbingan individu ataupun secara kelompok.

Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dalam Ferry Adityo Putro (2013 “Pendidikan pemakai adalah usaha bimbingan atau petunjuk jeada pemakai tentang cara pemanfaatan koleksi bahan pustaka yang disediakan secara efektif dan efisien.”  Jadi dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan pemakai adalah serangkaian kegiatan kegiatan yang berisi aktivitas belajar mengenai pengenalan dan tata cara memanfaatkan perpustkaan kepada pengguna maupun calon pengguna di perpustakaan.

Lasa HS (2009 : 190) mendefinisikan bahwa literasi informasi disebut juga melek informasi, yakni kesadaran akan kebutuhan informasi seseorang, mengidentifikasi, pengaksesan secara efektif efisien, mengevaluasi, dan menggabungkan informasi secara legal ke dalam pengetahuan dan mengkomunikasikan informasi itu. Dengan kesadaran ini akan mendukung perkembangan proses pembelajaran sepanjang hayat / long life education.

Doyle (1994) dalam Prasetyawan ( 2014 : 161) menyatakan bahwa definisi literasi informasi merupakan kemampuan untuk megakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi dari berbagai sumber. Lain halnya dengan dengan Boekhort (2003) yang mendefinisikan literasi informasi melalui 3 konsep, yaitu : ICT concept : mengacu pada kompetensi dalam menggunakan ICT untuk menemukan dan menyebarluaskan informasi. Informastion resource Concept; kompetensi  menemukan dan menggunakan informasi secara mandiri maupun melalui bantuan perantara. Information Process Concept; kompetensi mengenali kebutuhan informasi, menemukan, mengevaluasi, menggunakan, dan menyebarluaskan informasi untuk memperoleh dan menambah pengetahuan baru (tercakup konsep ICT dan IR). Kemudian muncul lagi definisi dari The Chartered Institute of Library and Information Profesional (CILIP) yang menyatakan bahwa literasi informasi merupakan kemampuan untuk mengenali kapan dan kenapa ia membutuhkan informasi, di mana ia dapat menemukannya, bagaimana ia dapat mengevaluasinya, dan bagaimana mengkomunikasikannya secara etis.

A.Tri Susiati dalam Amstrong dan webber (2008 : 40) menyatakan bahwa : Information literacy is knowing when and why you need information, where to find and how to evaluate, use and communicate it in an ethical manner. Hal ini juga senada dengan definisi yang disampaikan dalam (SNI 7330 – 2009) bahwa literasi informasi adalah :  kemampuan untuk mengenal kebutuhan informasi untuk memahkan masalah, mengembangkan gagasan, mengajukan pertanyaan penting, menggunakan berbagai strategi pengumpulan informasi, menetapkan informasi yang cocok, relevan dan otentik.

  1. Pendekatan Teori Bimbingan Pemustaka

Bimbingan pemustaka mempunyai istilah bibliographic instruction (BI), user education dan library orientation yang sering digunakan secara tumpang tindih, dan seolah-olah tanpa memberikan perbedaan satu sama lain, walaupun secara maknawi berbeda.

 Rosa Widyawan (2012) menyatakan bahwa masing-masing istilah berbeda, dan tidak ada ketumpangtindihan, begitu istilah itu digunakan, program yang digambarkan oleh terminolgi baru sering memasukkan kegiatan yang digunakan dalam istilah lama, dan ini menunjukkan perkembangan dan prakarsa baru. Barangkali ini merupakan evolusi bimbingan di perpustakaan, sekaligus menunjukan perbedaan pendekatan di kalangan perpustakaan ketika melakukan bimbingan pengguna. Untuk itu sebaiknya kita perlu menyimak peristilahan di bawah ini:

  1. a)      Orientasi Perpustakan

Orientasi perpustakaan (Library orientation) terdiri dari kegiatan untuk menyambut dan memperkenalkan pemustaka potensial pada pelayanan, sumber daya, koleksi, tata ruang perpustakaan, dan penyusunan bahan perpustakaan. Orientasi perpustakaan termasuk memperkenalkan pemustaka pada fasilitas fisik gedung perpustakaan seperti meja referensi, staf, dan kebijakan perpustakaan. Diharapkan pemustaka dapat mengembangkan ketrampilan penelusuran dan meningkatkan kenyamanan pemustaka.

Program ini memotivasi pemustaka untuk datang kembali dan menggunakan fasilitas yang ada, serta mengkomunikasikan suasana pelayanan dan keakraban yang didapatkan di perpustakaan pada teman-teman mereka.

Materi yang diajarkan berupa pengenalan terhadap perpustakaan secara umum, biasanya diberikan ketika siswa/mahasiswa baru memasuki suatu lembaga pendidikan bersangkutan, menurut Ferry Adityo Putro (2013) materinya  antara lain:

  • Pengenalan Gedung Perpustakaan.
  • Pengenalan Katalog dan Alat Penelusuran lainnya.
  • Pengenalan beberapa sumber bacaan termasuk bahan-bahan rujukan dasar.

Tujuan yang ingin dicapai:

  • Mengenal fasilitas-fasilitas fisik gedung perpustakaan itu sendiri.
  • Mengenal bagian-bagian layanan dan staf dari tiap bagian secara tepat.
  • Mengenal layanan-layanan khusus seperti penelusuran melalui komputer, layanan peminjaman, dll.
  • Mengenal kebijakan-kebijakan perpustakaan seperti prosedur menjadi anggota, jam-jam  layanan perpustakaan, dll.
  • Mengenal pengorganisasian koleksi dengan tujuan untuk mengurangi kebingungan pemakai dalam mencari bahan-bahan yang dibutuhkan.
  • Termotivasi untuk datang kembali dan menggunakan sumber-sumber yang ada di perpustakaan.
  • Terjalinnya komukasi yang akrab antara pemakai dengan pustakawan.
  1. b)      Bimbingan Perpustakaan

 Rosa Widyawan (2012) menyatakan bahwa bimbingan perpustakaan (Library instruction) merupakan bimbingan penggunaaan perpustakaan dengan menekankan pada prosedur khusus, koleksi , dan kebijakan. Istilah ini menekankan perpustakaan yang didifinisikan oleh parameter fisiknya. Fokus bimbingan perpustakaan adalah penjelasan mendalam terhadap bahan perpustakaan, mengkonsentrasikan pada peralatan dan mekanisme, termasuk teknik penggunaan indeks jurnal, sumber-sumber referensi, penggunaan katalog kartu dan online, serta bibliografi. Contohnya adalah penggunaan readers’ guide abstract, mencari buku dengan subjek melalui katalog perpustakaan, penggunaaan bentuk mikro dan sumber informasi ke internet dan menggunakan referensi khusus.

         Dalam praktik bimbingan perpustakaan di perpustakaan di Perpustakaan Akademis (Fakultas), muncul beberapa kelemahan seperti keterlibatan dan motivasi mahasiswa di kelas seperti yang dilaporkan Lorenzen, M (2002) dalam simpulan penelitiannya. Disamping itu terdapat kurangnya hubungan antar mahasiswa. Memang sampai saat ini agaknya perpustakaan fakultas belum mempunyai kewenangan untuk menilai mahasiswa. Kapoun (2000) melaporkan perjuangan perpustakaan fakultas untuk itu, dan kurangnya dukungan untuk menilai kemajuan ketrampilan mahasiswa dalam menggunakan perpustakaan dan metoda penelusuran.

Materi yang diajarkan merupakan penjelasan lebih dalam lagi mengenai bahan-bahan perpustakaan secara spesifik, menurut Ferry Adityo Putro (2013) materinya antara lain:

  • Teknik penggunaan indeks, katalog, bahan-bahan rujukan, dan alat-alat bibliografi.
  • Penggunaan bahan atau sumber pustaka sesuai dengan subyek atau jurusan.
  • Melaksanakan teknik-teknik penelusuran informasi dalam sebuah tugas penelitian atau pembuatan karya ilmiah lainnya.

Tujuan yang ingin dicapai:

  • Dapat menggunakan pedoman pembaca untuk mencari bahan-bahan artikel.
  • Dapat menemukan buku-buku yang berhubungan dengan subyek khusus melalui katalog.
  • Dapat menggunakan bentuk mikro dan alat-alat baca lainnya secara tepat.
  • Dapat menggunakan alat rujukan khusus seperti Ensiklopedi, Alamanak, Bibliografi dll.
  • Menemukan koleksi visual dan dapat menggunakannya.
  • Mengetahui sumber-sumber yang tersedia di perpustakaan lain dan dapat melakukan permintaan peminjaman.
  • Melakukan suatu penelusuran dalam layanan pengindeksan seperti pada Pusat Informasi Sumber Pendidikan dan dapat menemukan dan menggunakan hasil-hasil  sitasi.
  1. c)      Bimbingan bibliografi

 Rosa Widyawan (2102) menyatakan bahwa istilah bimbingan bibliografi (Bibliographic instruction) dikenal pada pertenaan 1970-an merujuk pada keiatan pendidikan yan dirancang untuk mengajar peserta ajar mencari dan menunakan informasi. Jika dibandingkan denan bimbingan perpustakaan, bimbingan bibliorafis ini jauh melampaui batasan fisik perpustakaan dan lembaga.

   Pendukung bimbingan bibliografis ini menganjurkan bahwa istilah ini lebih bisa mencerminkan kelancaran pengajaran. Pustakawan melangkah pada pemikiran kritis dan pemecahan masalah daripada sekadar pendekatan kelembaaan atau pendekatan berbasis sarana. Khususnya pada dasawarsa 1980-an menunjukkan munculnya penekanan pada pendekatan konsep teori pembelajaran. Pendekatan yang lebih konseptual terhadap bimbingan bibliografi memfokuskan pada prinsip prinsip pengajaran daripada sarana-sarana khusus, misalnya tentang konsep siklus penerbitan ilmiah daripada mekanisme penelusuran pada pankalan data tertentu. Tujuan pengajaran prinsip-prinsip penyusunan dan penelusuran informasi untuk membekali peserta ajar dengan fungsi situasi informasi secara luas. Bimbingan seperti ini menekankan pada penunaan dan penembanan stratei penelusuran, pendekatan sistematis teradap, identitas, memperoleh dan penilaian informasi.

Menurut Ferry Adityo Putro (2013) Materi yang ingin dicapai antar lain:

  • Informasi dan pengorganisasiannya.
  • Tajuk subyek, “Vocabulary Control” dalam penelitian, dan definisi suatu topik karya ilmiah.
  • Macam-macam sumber untuk penelitian.
  • Membuat kerangka teknik dan perencanaan suatu karya ilmiah.
  • Teknik-teknik membuat catatan dalam karya ilmiah.
  • Gaya, catatan kaki, rujukan dan sumber bahan bacaan.
  • Strategi penelitian, kesempurnaan dalam penelitian, dan pemakaian yang tepat layanan koleksi yang diberikan perpustakaan.
  • Membuat/menulis karya ilmiah.
  1. d)     Bimbingan Literasi informasi

 Rosa Widyawan (2012), selanjutnya sejumlah upaya untuk memformulasikan konsep yang lebih baik dan hubungannya pada ketrampilan lain dan membertuk literasi. Namun demikian tujuan pendidikan lainnya, termasuk literasi tradisional, literasi komputer, ketrampilan perpustakaan, dan ketrampilan berfikir kritis, dikaitkan pada LI dan menjadi dasar perkembangan selanjutnya, LI muncul sebagai sejumlah ketrampilan yang jelas dan kunci untuk kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat informasi yang semakin kompleks.

  1. Literasi Informasi untuk Belajar Sepanjang Hayat

Literasi informasi dengan baik dapat memberikan hubungan penting antara masyarakat informasi dan pembelajaran masyarakat. Keterampilan literasi informasi membantu orang untuk belajar dan belajar ulang, untuk melatih berbagai perubahan-perubahan hidup yang begitu cepat untuk merubah dunia dan mengharuskan mereka untuk beradaptasi dan fleksibel dengan kecepatan dan kompetensi dalam cara hampir dibayangkan beberapa tahun yang lalu.

Cropley menyatakan bahwa pendidikan sepanjang hayat meliputi:

“Keyakinan yang seharusnya dimiliki untuk memberantas hambatan dalam pembelajaran, belajar bisa dilakukan diluar sistem pendidikan, pendidikan bisa dilakukan di rumah, di organisasi dan masyarakat, tempat kerja, berbagai media, serta melalui teman-teman yang kita kenal”.

 Kemampuan untuk terus belajar sepanjang hayat seseorang adalah alat survival yang meruapakan kunci dalam dunia perubahan. Ada sejumlah berkembang informasi dan dalam beberapa bidang studi itu tanggal sangat cepat. Hal ini juga kemungkinan bahwa banyak orang dewasa memasuki dunia kerja sekarang akan memiliki setidaknya lima perubahan pendudukan sebelum mereka pensiun dan akan perlu untuk akses dan menguasai bidang pengetahuan baru untuk melakukan dengan baik

Permen menyatakan bahwa :
“.. Literasi informasi tidak hanya respon terhadap tuntutan masyarakat informasi, tapi set penting dari prestasi intelektual yang dapat membantu dalam realisasi dari ‘masyarakat belajar’.

 Literasi informasi adalah seperangkat keterampilan yang memungkinkan orang untuk membuat sebagian besar baik formal dan kesempatan belajar informal. Keterampilan dapat ditularkan melalui sistem pendidikan dan melalui perpustakaan umum dalam peran mereka sebagai agen untuk belajar sepanjang hayat, meskipun sebagian besar program saat ini tampaknya dalam konteks pendidikan tinggi.

 Pada tanggal 10 Januari 1989, The Presidential Commite on Informastion Literacy menerbitkan laporan yang intinya menekankan arti penting literasi informasi dan adanya peluang untuk mengembangkan literasi informasi di sekolah. Komisi ini merekomendasikan terbentuknya Forum nasional Literasi Informasi, sebuah koalisi 90 organisasi nasional dan  internasional. Perkembangan mencolok dalam hal ini adalah meningkatnya perhatian terhadap proses mengajar. Pada tahun 1989, America Library Accociation Presidential Commitee on information Literacy menghimbau agar orang mengembangkan literasi informasi untuk ikut ambil bagian dalam dinamika masyarakat informasi. Dalam laporan tersebut, literasi informasi dirumuskan sebagai kemampuan untuk mengenali apabila informasi itu diperlukan; mempunyai kemampuan untuk mendapatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif, menekankan bahwa literasi informasi itu penting untuk belajar sepanjang hayat, Prasetyawan (2014 : 160).

Selanjutnya Association of College and Research Libraries dalam   Prasetyawan (2014 : 161) memberikan deskripsi karakteristik mengenai orang yang memiliki kemampuan literasi informasi. Orang yang memiliki kemampuan literasi informasi adalah mereka memiliki kemampuan untuk :

  • Menentukan informasi yang dibutuhkan
  • Mengakses kebutuhan informasinya secara efektif dan efisien
  • Mengevaluasi informasi dan sumber-sumber yang di dapatkannya secara kritis
  • Menggabungkan informasi yang dipilihnya menjadi sebuah landasan pengetahuan
  • Menggunakan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu
  • Mengetahui isu-isu ekonomi, hukum, dan sosial seputar penggunaan informasi, serta meggunakannya informasi secara etis dan legal.
  1. Program Literasi Informasi
    Jadi apa keterampilan yang dikembangkan dari program tersebut?
    Marland menyajikan taksonomi keterampilan informasi yang diusulkan untuk sekolah menengah menggunakan model yang sama di mana orang lain telah dikembangkan:
  2. Apa yangharus saya lakukan? (formulasi dan analisiskebutuhan)
    2 Di mana saya bisa pergi? (identifikasi dan penilaian dari kemungkinan sumber)
    3. Bagaimana cara mendapatkan informasi tersebut? (pelacakan dan menemukan sumber daya individu)
    4. Sumber yang harus saya gunakan? (memeriksa, memilih dan menolak sumber daya individu)
  3. Bagaimana sayaakanmenggunakansumber daya? (menginterogasi sumber)
    6. Apa yang harus saya membuat catatan? (merekam dan menyimpan informasi)
    7. Apakah saya mendapat informasi yang saya butuhkan? (interpretasi, analisis, sintesis, evaluasi)
    8. Bagaimana saya harus hadir? (presentasi, komunikasi, bentuk)
    9. Apa yang telah saya capai? (evaluasi)

Peran Pustakawan dalam Literasi Informasi dan tantangan peran yang Perpustakaan telah lama diakui sebagai sumber sinyal yang mendukung pengajaran, pembelajaran, dan penelitian. Mereka adalah kontributor utama untuk ‘repositori pengetahuan’ karakteristik universitas yang menetapkan itu selain dari lembaga lain yang lebih tinggi belajar. Bahkan kali ini di mana “kepemilikan / akses” debat sering ditayangkan, dan para pendukung “just-in-time” debat dengan orang-orang “just-in-kasus” kenyataannya adalah bahwa itu bukan kasus “baik / atau” tapi “baik / dan” dan pustakawan di ini lebih kali kompleks memiliki peran ditingkatkan membantu pengguna untuk menemukan informasi yang relevan dalam format yang paling tepat secara tepat waktu (dan dengan biaya yang dapat diterima bagi pengguna atau lembaga pendanaan atau keduanya). Pengenalan teknologi ke dalam pengajaran, perubahan dalam komunikasi ilmiah pola, berbagai peningkatan media, siswa lebih menuntut yang membutuhkan layanan akan tersedia sebagai, kapan dan di mana mereka ingin mereka, semua mengharuskan pustakawan memastikan, bahkan lebih dari sebelumnya, bahwa mereka yang berfokus pada pengguna, user-friendly, dan dapat membantu pengguna untuk memperoleh keterampilan literasi informasi yang akan memungkinkan mereka untuk menjadi ke tingkat yang lebih besar selfsufficient.

Perpustakaan tentu saja, bukan satu-satunya tempat untuk mengakses informasi meskipun diperkirakan akan tetap menjadi sumber prinsip bagi banyak orang untuk mengakses sumber daya lokal yang dimiliki dan disewakan, dan orang-orang yang diperoleh dari kejauhan dalam menanggapi permintaan individu. Peran pustakawan dalam mengelola informasi dan pengetahuan sumber daya dan terus-menerus memeriksa ulang keseimbangan yang tepat kepemilikan dan akses, dan menengah yang memegang atau akses adalah salah satu tantangan terus, stimulasi dan bahkan menyenangkan.

Tidak dapat dipungkiri lagi, disadari maupun tidak disadari, sekarang pustakawan bukan lagi seabagai pusatnya informasi. Informasi sekarang ada dimana-mana, mudah serta murah mendapatkannya. Akses untuk mendapatkan informasi banyak cara dan macamnya. Agar perpustakaan dapatsecara efektif menyebarluaskan program literasi informasi, perlu adanya kolaborasi dengan institusi sosial perpustakaan itu bernaung, apakah itu sekolah, universitas, daerah, atau perusahaan.

Pustakawan harus memiliki kesadaran bahwa informasi digunakan sebagai rangkaian sebuah proses. Informasi ini sangatlah kontekstual. Informasi tidak dapat menjadi sebuah pengetahuan jika tidak sesuai konteksnya. Informasi harus diperoleh dari orang yang tepat. Penggunaan informasi yang efektif mencakup proses pemikiran kritis dan evaluasi terhadap informasi yang didapatkan. Hal tersebut menjadi landasan konsep berpikir pustakawan untuk memperjuangkan dan meyebarluaskan kemampuan literasi informasi.

5. Hambatan Program Literasi Informasi

  1. Belum ada perubahan sikap baik dari akademisi, administrasi, mahasiswa bahkan pustakawan. Bahkan sebagian pustakawan masih bertanya-tanya apakah benci untuk menyampaikan keterampilan yang mereka miliki agar tinggi, takut bahwa mereka akan dilihat sebagai berlebihan jika mereka jadi. Namun pustakawan, sebagai praktisi par excellence di bidang informasi dan pengetahuan, akan selalu berada di ujung tombak pengelolaan berkembang yang informasi dan bidang pengetahuan, dan dengan demikian akan mempertahankan dan terus meningkatkan posisi kepemimpinan mereka.
  2. Pandangan sinis terhadap pustakawan, bagi para guru, pergeseran sikap, karena Farmer melihatnya, adalah untuk pindah dari menjadi “Penyebar informasi di kelas” menjadi “fasilitator yang memberdayakan siswa untuk menjadi pembelajar mandiri melalui berbasis sumber belajar di luar kelas. Sebuah penghalang besar bagi pustakawan adalah keengganan banyak guru untuk mengakui bahwa pustakawan memiliki peran edukatif yang sah dan bahwa mereka juga dapat dicapai guru. Selain itu, perpustakaan perlu mengembangkan atau akses ruang yang sesuai untuk berkomunikasi keterampilan ini. Tidak ada yang meragukan bahwa ketika kolaboratif kemitraan dapat dibangun dengan program literasi informasi guru lebih mungkin meyakinkan dukungan yang diperlukan bagi mereka untuk menjadi bagian penting dari
  3. Prosesedukatif, programliterasi informasiperludiintegrasikanke dalam kurikulumjika merekamemilikiefek terbaikbukannyadilihatsebagai pilihan tambahan. Namun,diakuibahwa bagi banyakinformasiprogramkeaksaraanakanterus ditawarkandi luarkurikulumformal dansehinggabahkan lebihpentinguntuk memastikankualitas tinggiproduksehingga siswatertarikuntuk itu danmendapatkan keterampilanpenting inidengan carayangmerekatemukanmerangsangdancepatmelihatrelevansiketerampilan ini untukmemastikanbahwa merekamelakukan lebih baik daripadarekan-rekan mahasiswamerekayangtidak mengambilprogram tersebut. Relevansijangkapanjangketerampilan inimengubahsiswa menjadilebih mampu menjadi anggotamasyarakat informasidanmemungkinkanmereka untuk melakukan secara cerdas dalam pembelajaran sepanjang hayat.
  1. Paradigma Baru Sebuah Perpustakaan

Prasetyawan dalam Anday (2006), Guna menunjang suksesnya program literasi informasi perpustakaan maka diperlukan sebuah paradigma yang baru yaitu antara lain :

  1. Sebagai Perpustkaan Umum, harus :

     1) Beralih dari “pustakawan adalah seorang ahli” menjadi “pustakawan adalah pengajar”

2) Beralih dari “bagaimana cara menggunakn perpustakaan” menjadi mengajarkan proses informasi; mengenali informasi, menemukannya, dan mengevaluasi hasilnya.

     3) Beralih dari peran perpustakaan sebagai tempat yang menyediakan layanan spesifik menjadi perpustakaan sebagai tempat yang menfasilitasi lifelong learning.

  1. Sebagai Perpustakaan Perguruan Tinggi, harus :

1) Beralih dari “pustakawan adalah seorang ahli” menjadi “pustakawanadalah pengajar  dan fasilitator”.

2) Beralih dari “pustakawan sebagai pelayan dalam penelitian” menjadi “pustakawan adalah partner universitas dalam menciptakan pemikiran yang kritis dan peneliti yang kompeten”.

3) Kelas literasi informasi yang terintegrasi dengan aktifitas kuliah dan penelitian.

  1. Sebagai Perpustakaan Sekolah, harus :

1) Beralih dari “bagaimana cara menggunakan perpustakaan” menjadi mengajarkan proses informasi; mengenali kebutuhan informasi, menemukannya dan mengevaluasi hasilnya.

2) Beralih dari layanan tersendiri menjadi instruksi terintegrasi dengan guru kelas.

3) Menjadi pengajar untuk meningkatkan kemampuan penggunaan informasi sebagai     pemecah masalah. Baik itu menggunakan bantuan teknologi atau tidak.

Prasetyawan dalam Anday (2006), Jika paradigma baru fungsi perpustakaan sudah dianut, maka penunjang kesuksesan yang tidak kalah pentingnya adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh pustakawan sebagai tonggak penggerak literasi informasi. Kompetensi yang harus dimiliki adalah :

– Profesional ; berkaitan denganpengetahuan pustakawan mengenai sumber informasi, mengakses informasi, teknologi, riset, serta pengetahuan untuk menyediakan perpustakaan dan informasi.

– Personal; menampilkan seperangkat kemampuan, perilaku dan nilai yang memperlihatkan pustakawan bekerja secra efisien, menjadi komunikator yang baik, selalu terpacu untuk belajar dan meningkatkan kemampuannya, mudah beradaptasi dengan perubahan.

    1. Dari Bimbingan Bibliografis ke Literasi Informasi

 

Bimbingan BIbliografis

Literasi informasi

Tanggung Jawab/Kendali

Dikendalikan Pustakawan

Tanggung jawab bersama

Hubungan dengan kurikulum

External/bersinggungan

Integral

Penempatan dalam kurikulum

Pembelajaran tersendiri (Lokakarya, tidak terkait dengan kuliah dengan nilai kridit)

Pervasive
dalam kurikulum (terkait dengan mata kuliah bernilai
kridit, diperlukan kompetensi)

Fokus isi

Sarana, penelusuran antarmuka

Konsep, pemikiran kritis, proses, standar berfikir.

Metoda Pengajaran

Kendali Pustakawan/Pendekatan didaktik

Pustakawan/Dosen?guru berperan sebagai pemandu/fasilitator

Penilaian

Evaluasi terbatas, pengukuran berdasarkan ktrampilan.

Kompetensi, penggunaan standar

Kaitan dengan tempat

Fokus pada perpustakaan tertentu

Fokus pada dunia informasi
yang tidak terbatas

Peran teknologi

Terbatas, penggunaaan dengan cara yang tidak luwes

Peran teknologi berkembang, beragam teknologi, dan teknologi sebagaiporos

  Sumber: http://www.slideshare.net/plaistrlc/the-role-of-libraries-and-librarians-in-information-literacy

D. Kesimpulan

Perpustakaan adalah komponen penting untuk pembelajaran formal mahasiswa dan kebutuhan riset informal, dan bukan sekadar tambahan dalam perjalanan pendidikan seseorang. Perpustkaan merupakan tempat menggali sumber informasi dan menjadi katalis dalam proses belajar mahasiswa. Oleh karena itu, konsep integrasi merupakan unsur penting dalam membuat program pengembangan perpustakaan yang aktif bermitra dengan pihak dosen atau jurusan untuk mengintegrasikan kurikulum.

Untuk mengajari mahasiswa mendapatkan informasi, mengevaluasinya secara kritis dan menggunakan serta mengkomunikasikannya pihak pustakawan harus benar-benar siap untuk bekerja di kelas dengan dosen dalam memngajar mahasiswa menggunakan teknologi untuk mengakses informasi dan memanfaatkan pemikiran kritis dalam memilih informasi. Pustakawan perlu memahami fisi dan misi fakultas, berbagi jargon, definisi, terminologi teknis, kerelaan untuk mempelajari aspek-aspek dari kepiawaian sejawat, dan kemampuan untuk menghargai perbedaan dan tidak mingkirik atau menyamaratakan profesional lain. Barangkali kolaborasi akan berhasil jika masing-masing pihak:

      • Menyamakan tujuan
      • Saling menghargai, bertoleransi dan saling percaya
      • Kompetensi untuk menjalankan tugas masing masing, dan
      • Komunikasi

Kesadaran pustakawan dan akademisi semakin meningkat ketrampilan komunikasi dan riset (Literasi Informasi) semakin meningkat, dan ini menggerakkan mereka untuk berkolaborasi. Banyak perpustakaan perguruan tinggi berusaha untuk mempromosikan kolaborasi dengan mempunyai pustakawan spesialis subjek yang bertugas sebagai liason jurusan. Misalnya, mereka dapat mengontak dosen di fakultas dan mengembangkan hubungan yang diaharapkan akan mengarah pada kesempatan untuk pelatihan LI disiplin mereka. Tujuannya adalah membuat dosen dan pustakawan bersama-sama mengembangkan pembelajaran mahasiswa melalui kursus literai informasi secara teritegrasi. Apakah kolaborasi itu menghasilkan sesi pelatihan tunggal dengan waktu yang tertentu terkait dengan tugas, atau menjadi lebih terlibat dengan pengajaran tim, mereka mencapai tujuan dari LI teritegrasi dengan program akademis.

Pendidikan Pemakai dan Literasi Informasi telah ditransformasikan oleh kemajuan teknologi, perubahan sosial dan perkembangan pendidikan. Meja referensi mendapatkan mobilitas dan ada dimana mana, menjangkau pemustaka di daerah baru, baik secara fisik maupun maya. Pada tingkat operasi, peran profesional dan para profesional telah berubah, dengan praktisi spesialis diharapkan menunjukkan tingkat spesialisasi yang tinggi muncul untuk dunia digital dimana batasan lintas fungsi.

Riset menunjukkan bahwa peran pengajaran di pelayanan referensi diakui secara universal dan tetap mengutamakan tatap muka dan transaksi referensi digital, tetapi sering tidak dinyatkan dalam kebijakan dan rencana formal, terutama yang berkaitan dengan prioritas. Padahal ini memberi kemudahan belajar sepanjang hayat dalam masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

A.Tri Susiati, “Literasi Informasi Berbasis Humanisme di Perpustakaan Perguruan Tinggi”, dalam  Khoirul Maslahah, Nusrotul Hasanah. (ed.) Bunga rampai Layanan Perpustakaan Berbasis Humanisme (Surakarta : Perpustakaan IAIN Surakarta, 2013). hlm. 73-97.

Ika Rudianto. Pemberdayaan Perpustakaan Melalui Teknologi Informasi. dalam JPUA : Jurnal Perpustakaan Airlangga. Vol. 3 no. 1. Januari – Juni 2013., hlm. 6-10

Lasa HS. 2009. Kamus Kepustakawanan Indoesia. Yogyakarta : Pustaka Book Publisher.

Yanuar Yoga Prasetyawan, “Literasi Informasi dan Peran Pustakawan Sebagai Agen Literasi”, Prosiding : Diskursus Literasi Informasi. Semarang : FPPTI Jawa Tengah, 2014. Hlm. 159 – 165.

Webtografi

Ferry Adityo Putro, Pentingnya Pendidikan  Pemakai di Perpustakaan, dalam https://ferry1611.wordpress.com/2013/11/23/pentingnya-pendidikan-pemakai-di-perpustakan/ diunduh pada hari Rabu, tanggal 14 Januari 2015.

 Rosa Widyawan, Pelayanan Referensi, Bimbingan Pemustaka, dan Literasi Informasi (LI), dalam http://digilib.undip.ac.id/index.php/component/content/article/38-lain/artikel/71-pelayanan-referensi-bimbingan-pemustaka-dan-literasi-informasi- diunduh hari senin, 8 Des 2014, pukul 14.52 wib.

 

 

 (upload by R.Lalan Fuandara)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About pustaka

Check Also

Pemanfaatan Situs YouTube Menjadi Repository Budaya Berbasis Digital di Perpustakaan ISI Surakarta, Oleh: Sartini, S.I.Pust

Abstrak : Peranan teknologi informasi dan komunikasi dalam wujud alat digital dan internet telah dimanfaatkan …