PENGEMASAN AUDIO VISUAL SEBAGAI BAHAN INFORMASI DIGITAL DI SOCIAL MEDIA

Narasumber :

  1. Pascalis P.W.
  1. Dwi Rahmanto dan Melisa Angela

16-17 Mei 2017, di Ruang Seminar ISI Surakarta

Kemajuan teknologi komputer, telekomunikasi, dan infrastruktur semakin hari semakin menambah daftar jenis barang-barang fisik yang berhasil mendigitalisasikan dan mentransmisikan dari satu tempat ke tempat yang lain. Keberhasilan proses digitalisasi pada teks, gambar, audio, dan video secara kontinyu diiringi pula dengan keberhasilan para peneliti dalam memperbaiki kualitas dari masing-masing entiti tersebut. Hal ini membawa cakrawala baru pada sisi content services.

Sedangkan, inti dari content services ini adalah bagaimana memasarkan data, informasi, maupun knowledge yang telah dipaketkan sedemikian rupa memiliki value tertentu bagi konsumen. Ada tiga tahapan proses olahan entiti-entiti digital yang dapat menghasilkan output untuk pasarkan, yaitu: Content Creation, Content Packaging, dan Market Making.

Disisi lain, fenomena partisipasi aktif masyarakat dalam menggunakan teknologi untuk mendistribusikan dan menanggapi informasi dengan cepat berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Menimbulkan kerumitan-kerumitan baru yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Dampak penggunaan teknologi digital atau teknologi informasi (online) terhadap budaya atau kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat (offline) dibingkai oleh terma budaya digital.

Budaya digital menjadi topik hangat untuk didiskusikan, mengingat dampaknya yang semakin kuat dan luas dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sebut saja, gejolak panas pro-kontra transportasi online, debat haters vs lovers di media sosial saat pemilu, pilpres atau pilkada, hingga isu internasional skandal dokumen Panama. Lalu, bagaimana peluang dan tantangan budaya digital di Indonesia serta bagaimana trennya di masa depan?

Namun yang pasti di era digital, penyebaran informasi telah beralih dari sistem konvensional distribusi-sirkulasi media masa ke model participatory. Masyarakat tidak lagi hanya berperan sebagai konsumen pasif, tapi sebagai aktor yang ikut berperan aktif dalam membentuk, menyebarkan, bahkan mentransformasi berbagai informasi. Proses ini pun berjalan dengan sangat cepat tanpa kendala batasan geografis. Perubahan ini menjadi salah satu titik pangkal berbagai masalah yang timbul dan menyebabkan keresahan dalam masyarakat akhir-akhir ini.

Budaya digital memungkinkan seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain menggunakan media digital. Budaya digital atau disebut Digital Culture merupakan kebudayaan baru yang dipicu oleh kemajuan teknologi informasi dan dimatangkan oleh munculnya media sosial dalam beragam flatform. Media Sosial merupakan sebuah media online dimana para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi yang meliputi blog, jejaring sosial, forum, maupun dunia virtual. Jejaring sosial merupakan salah satu media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Perpustakaan sebagai lembaga pengelola media ilmu pengetahuan tentunya juga perlu melengkapi diri dengan  media sosial ini.

IMG_3029 IMG_3123 IMG_3141 IMG_2948

Pin on PinterestTweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+