Menata Ruang Perpustakaan Guna Menarik Minat Baca (Oleh Sundari Juni Astutik)

Ruang bagi perpustakaan merupakan hal penting setelah koleksi bahan pustaka.Dalam ruang-ruang perpustakaan pemustaka beraktivitas. Mereka bisa berlama-lama membaca atau mencari informasi yang mereka butuhkan. Ruangan yang nyaman akan menarik orang untuk datang ke perpustakaan. Tata ruang perpustakaan diyakini dapat mempengaruhi atau meningkatkan minat baca. Untuk itu perpustakaan memerlukan penataan atau desain tata ruang. Guna menyediakan ruang yang representatif untuk memfasilitasi orang membaca.

Ruang perpustakaan yang memiliki lay out, perabot, pengkondisian ruang, penghawaan, pencahayaan serta penggunaan warna cat dinding berkarakter dan nyaman akan mengoda orang untuk singgah. Desain tata ruang baca demikian itu berpotensi memicu meningkatkan minat baca dalam budaya digital. Upaya tersebut merupakan hal sangat berharga untuk dilakukan.  Mengapa? Karena kini tawaran kemudahan akses informasi sudah semakin nyata. Dengan hadirnya budaya digital yang memungkinkan orang membaca disebarang tempat dan waktu. Maka menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang nyaman untuk membaca memiliki tantangan tersendiri. Tantangan yang menarik untuk dilakukan bila tidak ingin perpustakaan semakin sepi pengunjung.

Kehadiran perpustakaan semestinya tidak hanya sebagai penghias kampus, masjid atau lembaga pemerintah apapun yang memiliki perpustakaan, tetapi adalah faktor penting yang memberi arah kemajuan sumber daya manusia di dalamnya. Tidak ada lembaga pendidikan yang berhasil melahirkan  lulusan yang hebat tanpa membaca informasi yang biasa ada di perpustakaan baik dari bahan pustaka tercetak, bahan pustaka elektronik maupun yang dapat ditelusuri melalui internet.

Dalam melayangkan informasi kepada masyarakat atau pemustaka tentunya membutuhkan suatu tempat atau ruang. Baik ruang untuk menempatkan fasilitas seperti komputer, lemari, rak beserta bahan pustaka maupun ruang sebagai tempat aktifitas pustakawan dan pemustaka. Kebutuhan luas ruang dapat diperkirakan dari analisis orang yang dilayani, perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan, sifat aktifitas yang akan berlangsung dimasing-masing ruang.

Gedung atau ruang perpustakaan adalah bangunan sepenuhnya diperuntukkan bagi seluruh pemustaka sebuah perpustakaan. Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan permanen, terpisah pergerakan manusia sebagai pengguna perpustakaan, daerah konsentrasi manusia, daerah konsentrasi buku/barang dan titik-titik layanan yang diberikan oleh perpustakaan. (Soejono Trimo, 1986).

Sementara menurut Pamudji Subtandar dalam bukunya Desain Interior menyatakan: Ruang, dalam bahasa Inggris adalah space dari istilah klasik spatium. Ruang bagi manusia merupakan kebutuhan dasar, maka desain interior bertujuan membentuk suasana ruang agar menjadi lebih baik, lebih indah dan lebih anggun sehingga memuaskan dan menyenangi para pemakai ruang. (Subtandar, 1999: 63).

Manusia dan Ruang

Manusia pada umumnya dimanapun berada selalu ingin menempati ruang yang baik dengan suasana ramah, sehat, mendambakan kenyamanan, bebas dari bahaya atau terpenuhi rasa aman. Ruang dibutuhkan manusia untuk arena melakukan aktivitasnya sehari-hari dengan nyaman. Demikian halnya ketika orang hendak ke perpustakaan faktor ketersediaan ruang yang nyaman merupakan daya tarik.

Pemustaka sebagai pengguna perpustakaan baik sebagai perorangan atau kelompok adalah pengakses ruang perpustakaan. Pemustaka yang hanya sekedar berkunjung ke perpustakaan sekalipun selalu membutuhkan ruang. Mereka memerlukan ruang sebagai fasilitas layanan perpustakaan entah untuk sekedar singgah, membaca koran, menunggu teman, atau mengakses sinyal wifi.

Manusia dan ruang adalah aspek yang penting untuk dalam penyelenggaraan layanan perpustakaan. Manusia baik sebagai pemustaka dan pengelola perpustakaan adalah makhluk yang bertubuh dan berjiwa. Tubuh manusia memerlukan ruang yang bersih dari segala acaman bagi tubuh, tidak panas dan berdebu misalnya. Singkatnya ruang yang ergonomis. Sedang jiwa manusia memerlukan ruang yang menyenangkan, indah dan estetis.

Karena tubuh manusia tidak bisa terlepas terhadap kebutuhan akan ruang untuk beraktifitas di perpustakaan. Dari sejengkal lantai untuk menjejakkan kaki, study carrel untuk konsentrasi membaca, sampai ruang untuk berdiskusi bersama. Sementara nilai estetika ruang merupakan cerminan jiwa. Penempatan ruang yang sesuai fungsinya akan memberikan kenyamanan bagi pengguna perpustakaan, baik nyaman secara fisik maupun jiwa.

Perpustakaan memerlukan  ruang untuk memfasilitasi para pemustaka dan pustakawannya. Seperti ruang baca yang merupakan tempat segala bentuk aktivitas pemustaka dalam rangka mencari informasi yang dibutuhkan. Ruangan ini seharusnya representatif, minimal memiliki prasyarat manusiawi sebagai pengguna ruang tersebut. Untuk itu ruang perpustakaan perlu ditata dengan baik.

Menata Ruang Perpustakaan

Penataan ruangan perpustakaan sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan semua kegiatan di perpustakaan baik aspek layanan maupun untuk kegiatan penyiapan semua sarana dan prasarana pendukung layanan perpustakaan. Perpustakaan menyediakan bahan pustaka dengan lengkap, fasilitas perpustakaan memadai tanpa penyediaan tata ruang baca yang baik akan membuat orang kurang tertarik berkunjung. Tidak terkecuali dalam budaya digital seperti era sekarang ini sekalipun. Ruang perpustakaan yang nyaman dan aman merupakan daya tarik tersendiri baik bagi pengunjung dan petugasnya.

Untuk itu kiranya tata ruang perpustakaan harus  dirancang sedemikian rupa. Seperti memperhatikan pada lay out, perabot, ruang baca serta sirkulasi ruangnya. Selain itu juga perlu dirancang masalah pengkodisian ruang maupun lingkungan ruang perpustakaan.

Tata letak perabot juga merupakan aspek penting dalam merencanakan sebuah ruangan. Dalam mengolah tata letak sebuah ruangan harus memenuhi kriteria fungsional dan estetiknya. Ruang yang bersih, teratur, nyaman, menyenangkan dan menarik merupakan salah satu faktor yang dapat mengundang orang untuk berkunjung ke perpustakaan.

Upaya menciptakan ruang perpustakaan yang nyaman perlu memperhatikan dua hal. Yaitu desain tata ruang dan pengkodisian ruang. Desain tata ruang diarahkan untuk menghasilkan pembagian fungsi ruangan, sirkulasi ruangan, dan pengelolaan unsur pembentuk ruang.

Perpustakaan perlu menyediakan ruangan-ruangan khusus. Ruang tersebut biasanya memberikan indikasi bagaimana ruang tersebut dimanfaatkan. Jalan masuk ke suatu ruang dapat membentuk pola sirkulasi yang membagi ruang menjadi zona-zona tertentu.

Tata letak perabot merupakan aspek penting dalam merencanakan interior. Pertimbangan hubungan antar ruang dan pengelompokan ruang berdasarkan jenis atau sifat ruang agar terjadi sirkulasi yang efisien dan hasil maksimal dari setiap kegiatan agar tidak saling mengganggu. Perencanaan furniture sebuah ruang perlu memperhatikan jumlah dan pengaturan perabot atas pertimbangan; aktivitas dan fungsi, kenyamanan serta bentuk dan warna. Perabot yang harus diatur yakni rak bahan pustaka, meja dan kursi serta perabot fungsional lainnya.

Sirkulasi ruang mengarah dan membimbing perjalanan dalam ruang. Sirkulasi memberi kesinambungan pada pengunjung (pergerakan pemustaka) terhadap fungsi ruang. Suatu sirkulasi yang terorganisir secara baik antara satu dengan yang lain dihubungkan dengan sistem lalu lintas yang berkesinambungan. Semua ruang dianalisa, disesuaikan dengan perkembangan atau perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan, kegemaran penghuni dan masyarakat yaitu jalan pintas kebiasaan dalam sistem sirkulasi. (Subtandar, 1999: 144).

Unsur Pembentuk Ruang. Ruang interior dalam bangunan dibentuk oleh elemen-elemen yang bersifat arsitektur.  Pembentuk ruang seperti kolom-kolom, lantai, dinding dan atap. Elemen-elemen tersebut memberi bentuk pada bangunan, memisahkannya dari luar dan membentuk pola tatanan ruang  interior. Sebagai tempat aktivitas, elemen-elemen ini dapat dikembangkan, dimodifikasi yang akan memperindah ruang interior sehingga cocok dari segi fungsi, menyenangkan dari segi estetika dan memuaskan dari segi psikologis untuk aktivitas. (Francis D.K Ching,1996: 160)

Lantai adalah bidang ruang interior datar dan mempunyai dasar yang rata. Sebagai dasar yang menyangga aktivitas interior dan perabot. Lantai harus terstruktur sehingga mampu memikul beban dengan aman.  Permukaan lantai harus kuat karena penggunaannya bisa menyebabkan aus. Bahan penutup lantai dapat berupa marmer, kayu/parket, keramik, vynil atau karpet. Lantai karpet sangat cocok pada ruang baca bertempat duduk lesehan, akustiknya bagus, kontur lembut dan pemeliharaannya mudah.

Dinding berfungsi sebagai pembatas ruang, baik visual maupun artistik. Ditinjau dari fungsinya, dinding merupakan bagian yang paling berperan dalam menghadirkan kesan ruang. Pada beberapa sisi dinding menggunakan jendela, sisi lainnya untuk penempatan rak maupun hiasan agar fungsi ruang dapat digunakan secara maksimal. Dinding ini dapat bersifat permanen atau semi permanen. Membentuk karakter ruang yaitu dengan pemilihan bahan, pola maupun warna yang tepat sesuai dengan suasana ruang yang akan dicapai.

Warna dapat digunakan untuk melapisi permukaan elemen ruang baca perpustakaan, seperti dinding, lantai dan perabot yang ada di perpustakaan.Warna dinding ruang baca perpustakaan sebaiknya warna hijau. Hijau memiliki sifat damai dan asri dan sering diidentikan dengan warna alam. Warna yang spesifik juga dapat membentuk bermacam-macam ekspresi dan karakter, seperti lunak, keras, juga kesan berat atau ringan.

Pengkodisian ruang meliputi: Penghawaan, pencahayaan dan akustika (pengendalian bunyi). Penghawaan berkaitan dengan kelembaban dan suhu ruang.  Kelembaban 45-60% dengan suhu 20-240C merupakan kondisi ideal. Untuk mengurangi kelembaban udara dapat menggunakan alat dehumifidier.

Penghawaan ruangan ada dua macam yaitu penghawaan alami dan buatan.

  • Penghawaan alami: Penghawaan ini merupakan sistem penghawaan yang menggunakan udara alam sebagai sumber penghawaan.Sifat dari penghawaan adalah permanen karena udara yang dihasilkan oleh alam tidak habis. Biasanya melalui penghawaan alam dengan cara buka-bukaan, seperti  jendela, pintu atau ventilasi udara yang lainnya. Untuk merancang sistem penghawaan alami diperlukan syarat berupa tersedia udara luar yang bebas dari bau, debu dan polusi; suhu udara luar tidak terlalu tinggi; tidak banyak bangunan yang menghalangi aliran udara horizontal sehingga angin menembus lancar.
  • Penghawaan buatan: Penghawaan ini menggunakan udara buatan. Sifat penghawaan buatan ini hanya sementara, tidak dapat digunakan selamanya. Penghawaan dengan sistem ini adalah penggunaan air conditioning (AC). Ruang baca biasa menggunakan AC yang jenis AC Cassette. Ukuran AC ini berkisar antara 100cm x 100cm atau 120cm x 120cm. Dapat digunakan untuk satu atau beberapa ruangan dengan peletakan di ceiling. Penggunaan AC memungkinkan pengkondisian udara yang nyaman bagi pemustaka dan aman untuk pemeliharaan buku.(Subtandar, 1999: 253)

Pencahayaan. Fungsi pencahayaan adalah memberi penerangan sesuai persyaratan dan jenis aktivitas, menciptakan suasana, memberi daya tarik serta memberi rasa aman (aktivitas lancar). Cahaya berdasarkan sumbernya, yang pertama berasal dari cahaya alami (matahari). Kedua, berasal dari alat bantuan atau lampu.(D.K Ching,1996:294)

Jika pencahayaan di ruang baca perpustakaan menggunakan  cahaya alami, hendaknya sinar disembunyikan dari mata. Sehingga cahaya yang dirasakan adalah hasil pantulan, agar tidak melelahkan mata. Namun untuk mengatasi cahaya yang tidak dapat masuk maka digunakan cahaya buatan, yakni menggunakan pencahayaan lampu TL 40 didukung pencahyaan downlight. Tekniknya menggunakan cove, tipe pencahayaan tidak langsung di mana proyeksi pada dinding yang mengandung cahaya lampu dipantulkan ke arah plafound.

Akustik (pengendalian bunyi). Akustik adalah pengendalian bunyi secara arsitektural berfungsi untuk menciptakan kondisi mendengar yang ideal di ruang tertutup maupun terbuka. (Leslie L Doelle, 1986: 226). Dalam perpustakaan diperlukan lingkungan yang tenang untuk belajar atau membaca, dikarenakan kemungkinan adanya suara bising yang menggangu seperti buku jatuh, menutup pintu, batuk atau berbicara yang berlebihan.

Bising Dalam. Bising dalam berasal dari manusia yang berada di ruangan atau gedung.Dinding pemisah, lantai, pintu dan jendela harus mengadakan perlindungan terhadap bising-bising dalam ruangan. Dalam mengatasi gejala akustik di ruang tertutup disederhanakan sama dengan memperlakukan cahaya. Dikenal dengan akustik geometric. Berdasarkan teori akustik geometric ini, pemantulan bunyi, penyerapan bunyi, difusi bunyi, difraksi bunyi dan dengung dapat diatasi dengan memperhatikan lapisan permukaan dinding, lantai, atap, udara dalam ruangan. Perlu diperhatikan juga isi dalam ruangan seperti tirai, tempat duduk dan karpet. (Subtandar, 1999:253)

Bising Luar. Bising luar berasal dari lalu lintas, transportasi dan berbagai kegiatan di luar ruangan yang dapat menimbulkan suara bising. Untuk mengatasi diperlukan pengendalian dengan mengisolasi suara tersebut dari sumbernya. Mengatur denah bangunan sedemikian rupa. Menjauhkan suara dan yang terakhir dengan menghilangkan jalur rambatan suara melalui struktur bangunan yang bergerak dari sumber ke dalam ruang.

Dengan mendesain tata ruang baca perpustakaan seperti pada  lay out, perabot dan tempat membaca dapat meningkatkan jumlah pengunjung perpustakaan. Dengan memperhatikan kondisioning ruang baik di dalam ruang maupun lingkungan ruang perpustakaan, meliputi penghawaan dan pencahayaan serta akustik ruang dapat meningkatkan jumlah pengunjung di perpustakaan. Diperlukan pula penggunaan warna tertentu untuk membentuk karakter sesuai ruangan yang dibutuhkan di perpustakaan.

Bagi pustakawan, pengambil kebijakan ataupun pemangku kepentingan bidang perpustakaan, mendesain tata ruang baca perpustakaan yang representatif dalam membangun ruang baca perpustakaan akan menjadi alternatif untuk semakin menghidupkan perpustakaan. Agar dapat meningkatkan jumlah pengunjung di perpustakaan. Serta meningkatkan minat baca.

                Tersedianya ruang perpustakaan yang nyaman, aman dan bersahabat merupakan daya tarik untuk menumbuhkan minat baca. Ketertarikan orang  dengan daya pikat ruang atau gedung perpustakaan akan mengiring untuk sekedar singgah. Dari sini orang akan mencoba berinteraksi dengan koleksi bahan pustaka yang ada. Semakin larut diharapkan tumbuh minat untuk membacanya, membuka lembar demi lembar halaman buku.

Selain itu ruang perpustakaan yang baik dan menarik juga amat dibutuhkan atas kodrat manusia itu sendiri. Sebagai makluk yang terikat oleh demensi ruang dan waktu. Fisik manusia membutuhkan kursi atau tikar untuk duduk, memerlukan udara yang segar dan sejuk supaya nyaman, membutuhkan cahaya yang optimal untuk menjaga penglihatan menjaga stamina mata.

Secara sangat sederhanan indikator ruang perpustakaan yang representatif, nyaman dan menyenangkan bisa jadi terlihat dari kegemaran para pengunjung perpustakaan untuk berselfie di ruang tersebut dan kemudian menaruhnya di media sosial mereka. Seperti  facebook, twitter, dan instagram.

            Semakin cepatnya penemuan tehnologi informasi telah memunculkan budaya baru. Budaya digital. Beragam temuan media informasi seperti gadget yang semakin berkualitas dan semakin terjangkau, serta tersedianya jaringan internet membawa budaya digital makin meluas. Akses internet membuat arena bagi budaya digital. Arena yang semakin mudah dimasuki oleh masyarakat. Semua hal tersebut tidaklah akan menyirnakan kebutuhan dan penyedian ruang. Tubuh manusia yang senantiasa memerlukan ruang untuk beraktivitas. Seperti hal beraktivitas dalam budaya digital.

            Maka tidak berlebihan kiranya bahwa menumbuhkan minat baca memerlukan fasilitas ruang perpustakaan yang representatif, terlebih dalam budaya digital seperti saat ini. Dalam ruangan mereka dapat membaca beragam informasi digital, majalah digital, koran digital dsb sambil duduk di kursi atau lesehan di ruang yang nyaman.

DAFTAR  PUSTAKA

Ching, Francis D.K  Illustrasi Desain Interior. Jakarta: Erlangga, 1996

Doelle, Lesslie L. Akustik Lingkungan. Jakarta: Erlanga, 1986.

Moleong, Lexy. J Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012

Pile, Jhon F. Interior Design. New York: hary & Abraham Inc., 1994

Poole, Frazer G. Dasar Perencanaan Gedung Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia. Bandung:  Institut Teknologi  Bandung, 1981

Subtandar, Pamudji. Desain Interior. Jakarta: Djambatan, 1999

Sulistyo, Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan.  Jakarta:  Gramedia Pustaka  Utama, 1993.

Trimo, Soejono. Pengetahuan Dasar Dalam Perencanaan Gedung Perpustakaan. Bandung: Angkasa, 1986

Undang Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007.

Setiawan, Benny. “Pentingnya Pelayanan Prima Terhadap kepuasan  pelanggan”’akses dari http://www.pakbendot.com/2012/05/ pentingnya-pelayanan-prima-terhadap-kepuasan-pelanggan.htlm.

http://www.properti.com/artikel/fengshui-2/7-warna-dinding-dan -artinya/10/4/2014

Upload by: R. Lalan Fuandara

Pin on PinterestTweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+