MODEL LITERASI INFORMASI (Oleh: Emi Tri Mulyani, S.Sos)

 

Abstrak

Perkembangan teknologi terus melaju untuk berevolusi, produk teknologi yang ada pada suatu masa akan dianggap biasa bahkan tertinggal. Perubahan zaman yang sedemikian dinamis dan sangat cepat hanya bisa diikuti perkembangannya dengan penguasaan literasi informasi yang didukung oleh teknologi literasi informasi. Dengan demikian urgensi pembekalan kemampuan literasi informasi dilingkungan  pendidikan utamanya perguruan tinggi menjadi tidak bisa ditunda lagi sebagai bekal kecakapan hidup bagi mahasiswa.

Teknologi informasi dapat berupa software pendukung dalam proses berliterasi mahasiswa, salah satunya yaitu sofware yang penerapan model Mc Kenzie. software ini dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengguna khususnya pelajar atau mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Dengan adanya software ini, mahasiswa dalam penyelesaian tugas mereka dapat dibantu dengan memungkinkan membuat pertanyaan, membantu membuat strategi penyelesaian, membuat pertimbangan menentukan sumber terpercaya, mensistematiskan proses pekerjaan, mengevaluasi tugas yang telah dibuat dan melakukan pelaporan tugas dengan baik.

Selain itu dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie tidak lepas dari peran seorang pustakawan. Adapun peran pustakawan dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie adalah sebagai pendamping dalam pelaksanaan,  pengawas dan koordinator pelaksanaan progam ini.

Dewasa ini berbagai lembaga pendidikan mulai  dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan  pendidikan tinggi ada yang mulai, sedang, dan  telah membangun program literasi informasi. Penguasaan  literasi informasi dipandang sangat penting  dalam proses pembelajaran sehingga menjadi  bagian dari program pendidikan. Dalam lingkup yang lebih luas, bahwa program literasi  informasi sebenarnya adalah program  pemberdayaan masyarakat khususnya dalam bidang informasi.

Literasi informasi berhubungan erat dengan  tugas pokok pelayanan perpustakaan. Dalam perkembangannya, para pustakawan terutama pustakawan pada perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi, umumnya memandang keterampilan yang hendak dikembangkan dalam program literasi informasi adalah berupa keterampilan yang tidak mengundang permasalahan (non-problematis). Artinya, bahwa kemampuan seseorang untuk mencari dan menemukan informasi adalah berupa serangkaian keterampilan yang dipindahkan dari pustakawan kepada pengguna untuk tujuan memudahkan pelayanan dan agar tidak merepotkan pustakawan.

Keberadaan model memungkinkan untuk mengidentifikasi berbagai komponen serta menunjukkan hubungan antar komponen. Juga model dapat digunakan untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan literasi informasi. Dari situ kita dapat memusatkan pada bagian tertentu ataupun keseluruhan model. Model literasi informasi ada berbagai jenis, seperti The Big 6, Empowering 8, Seven Pillars dan lain-lain. Yang akan kami bahas adalah Research Cycle Model dari Mc Kenzie.

  • Literasi Informasi

Literasi informasi sering disebut juga dengan keberaksaraan infromasi atau kemelekan informasi. Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, literasi infromasi sering dikaitkan dengan kemampuan mengakses dan memanfaatkan secara benar informasi yang tersedia.

Pengertian literasi informasi yang sering dikutip adalah pengertian literasi informasi dari American Library Association (ALA) : “Serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk mengenali kapan informasi dibutuhkan dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif”.

Beberapa ahli juga mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian literasi informasi. Doyle (1992) mengemukakan literasi informasi adalah “Kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dari berbagai sumber”. Selanjutnya Boe Khorst juga mengemukakan pengertian literasi informasi yaitu “Kompetensi mengenali kebutuhan informasi, menemukan, mengevaluasi, menggunakan dan menyebarluaskan informasi untuk memperolah dan menambah pengetahuan baru”.

Adapun pengertian literasi informasi menurut Endang Fatmawati(2010:23) yaitu:

“Sebuah pemahaman dari seperangakat atau serangkaian kemampuan/keterampilan yang dimiliki dan memungkinkan untuk mendapatkan jalan keluar/solusi untuk memecah suatu masalah”.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa literasi informasi adalah sebuah usaha untuk mendapatkan “kompetensi” guna memecahkan sebuah masalah. Kompetensi merupakan perpaduan antara pengetahuan, kemampuan, dan tingkahlaku. Kompetensi tersebut diperlukan proses latihan yang terintegrasi dan berkesinambungan. Dengan kemampuannya menjadi konsultan dan pengajar dan didukung oleh pemangku kebujakan, pustakawan mendapatkan pesan aktif sebagai agent literasi informasi.

Keterampilan dalam  literasi ini mencakup kemampuan dalam mengidentivikasikan masalah; mencari dan menemukan informasi; mensintesiskan informasi; menyusun, mengorganisir, dan menciptakan temuan; mengetahui kapan informasi itu dibutuhkan; mengatur; menyortir dan mengkomunikasikan temuan informasi kepada orang lain; mengevaluasi hasil jawaban; menggunakan/memanfaatkan informasi; serta menarik pelajaran dari proses pencarian informasi yang dibutuhkan itu untuk menyeleksi, mengambil keputusan, dan mencari jalan keluar dari suatu masalah.

Perpustakaan dan literasi informasi merupakan dua hal yang saling berhubungan, perpustakaan tanpa bahan pustaka dan pustakawan yang memadai tidak akan membantu proses literasi informasi, perpustakaan harus memfasilitasi pengguna dengan teknologi dan informasi yang mendukung, sehingga membawa dampak positif dan meningkatkan kualitas melek informasi yang dimiliki masyarakat.

Kenapa literasi informasi itu penting?

Kemampuan literasi informasi sangat penting dikarenakan kemajuan teknologi yang semakin berkembang. Ledakan informasi yang menyebabkan masyarakat harus memerlukan keahlian ini. Karena miliaran informasi yang tersedia yang membuat para pencari informasi kebingungan untuk mendapatkan informasi yang relevan oleh karena itu harus memiliki kemampuan mengelola informasi.

            Melalui pengajaran literasi informasi, masyarakat akan di ajarkan pada sebuah metode untuk menelusuri informasi dari berbagai sumber informasi yang terus berkembang. Maka, literasi dapat membantu masyarakat luas untuk menemukan informasi yang dibutuhkan secara cepat, mudah dan relevan tentunya. Masyarakat dapat memilih dan membedakan informasi mana saja yang sekiranya baik digunakan dan tidak. Selain itu, literasi informasi dapat menambah pengetahuan masyarakat akan informasi yang sedang berkembang saat ini.

            Bagaimana urgensi pustakawan dalam literasi informasi?

            Urgensi pustakawan dalam literasi yang pertama adalah menjadi pustakawan yang melek informasi. Karena pada dasarnya implementasi dari melek informasi adalah karakteristik seorang pustakawan, jadi seorang pustakawan harus melek informasi. Paham literasi informasi dan identifikasi kemampuan dari literasi informasi yang belum terasah. Selagi mengasah kemampuan, dapat dicoba untuk memulai program literasi informasi bagi pemustaka. Seperti misalnya :

  1. Melayani layanan rujukan
  2. Menolong pemustaka yang kelihatan bingung
  3. Menjelaskan tentang perpustakaan kepada pemustaka tamu
  4. Diskusi internal atau pribadi dengan rekan
  5. Bincang santai dengan mahasiswa magang yang ada di perpustakaan (bila ada)

Hal-hal seperti tersebut diatas dapat digunakan untuk membagikan tentang literasi informasi. Apabila pustakawan akan memulai suatu program literasi yang serius dalam perpustakaan, berikut beberapa langkah sederhana untuk memulai program tersebut :

  1. Evaluasi profil kebutuhan informasi pemustaka

      Apa masalah yang sedang mereka hadapi? Apa kebutuhan informasi yang sedang mereka cari? Lakukan observasi, kumpulkan data, analisis dan buatlah profil kebutuhan informasi dari pemustaka.

  1. Observasi kesempatan, fasilitas, dan wewenang

      Perhatikan apa saja yang dimiliki perpustakaan, entah dari sarana dan prasarananya, SDM, sumber informasi, alat, kesempatan, relasi, serta wewenang untuk membuat program literasi informasi. Analisis segala kemungkinan yang ada bersumber dari evaluasi profil pemustaka tadi.

  1. Tentukan target : kelompok, kebutuhan informasi dan bentuk program

      Dari sekian banyak jenis kebutuhan informasi pemustaka, tentukan mana yang paling mungkin untuk dilaksanakan. Pilihan model informasi yang paling dipahami sangat berpengaruh terhadap berlangsungnya kegiatan perpustakaan. Dalam menentukan model literasi informasi harus memperhatikan : materi yang diberikan, kemampuan yang dituju dan bentuk penyampaian serta bentuk program.

  1. Merancang : studi banding dan draft proposal program

      Lakukan studi banding melalui website perpustakaan-perpustakaan yang ada di dunia. Konsultasikan dengan orang yang pernah melakukan program tersebut. Buatlah proposal program yang berisi latar belakang, tujuan, target, materi, bentuk program, kebutuhan yang diperlukan, SDM dan hal lainnya yang menjelaskan tentang program.

  1. Laksanakan dan lakukan evaluasi

      Sangat menjadi kebangga tersendiri memiliki kesempatan menjalankan program literasi informasi sehingga dapat merasakan bagaimana mengajar dan memberdayakan orang lain. Berbagilah tentang pengetahuan literasi informasi dengan pemustaka melalui media internet juga. Gunakan situs perpustakaan, gubakan blog pribadi, facebook, twitter dan lain-lain yang dapat dijangkau oleh pemustaka.

  • Model Literasi Infomasi

Research Cycle Model (Mc Kenzie) Siklus penelitian dikembangkan oleh Jamie McKenzie pada tahun 1995. Penekanan diberikan untuk pengembangan awal pertanyaan untuk memperjelas dan membangun langkah-langkah berikutnya dalam proses penelitian Metode penelitian yang menekankan informasi pemecahan masalah dan posisi mahasiswa sebagai produsen informasi (versus konsumen informasi ). Siswa mengulang kembali tahapan dalam siklus penelitian karena mereka memperbaiki proses pengumpulan data. Siklus penelitian terdiri dari tujuh tahap :

  1. Tanya Jawab

        Siswa menjelaskan informasi yang diperlukan dan mengarah ke pertanyaan mengelaborasi.

  1. Perencanaan

        Siswa mengidentifikasi kemungkinan sumber-sumber informasi.

  1. Mengumpulkan

        Siswa mengumpulkan informasi terkait untuk dipertimbangkan.

  1. Sorting & memilah

        Macam mahasiswa dan menyaring dalam mencari informasi yang memberikan kontribusi untuk pemahaman.

  1. Sintesis

        Siswa mengatur dan menata kembali informasi dalam pencarian pola dan/atau gambaran yang lebih jelas.

  1. Mengevaluasi

        Siswa menentukan informasi apa yang mungkin hilang dan mengulangi tahap-tahap awal dari siklus penelitian untuk mencari yang lebih baik , informasi yang lebih jelas.

  1. Pelaporan

               Temuan laporan siswa atau rekomendasi.

        Sebagai lanskap informasi bergeser untuk menawarkan informasi yang jauh lebih dalam cara yang sering befuddling bahwa beberapa telah disebut “asap data” banyak sekolah belajar bahwa pendekatan tradisional untuk penelitian mahasiswa tidak memadai untuk memenuhi tujuan pembelajaran penting yang ditetapkan oleh sebagian besar negara atau pemerintah provinsi . Dengan ratusan komputer dan puluhan ruang kelas yang terhubung ke sumber daya yang luas elektronik informasi, sekolah yang mengakui pentingnya menciptakan kembali cara mereka melibatkan para siswa di kedua pertanyaan dan penelitian.

        Dalam rangka mendukung adopsi berbasis luas dari strategi pertanyaan dan penelitian yang efektif, tim kabupaten yang terdiri dari guru, pustakawan guru dan administrator harus melakukan pencarian untuk model penelitian yang efektif . Tim ini mungkin membandingkan dan kontras fitur dan sifat-sifat dari setengah lusin model untuk menetap pada satu yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi kabupaten . Dalam beberapa kasus, mereka dapat membangun model mereka sendiri, sintesis fitur terbaik dari masing-masing model ulasan .

        Setelah kabupaten mengidentifikasi model yang tampaknya kompatibel dan menarik, semua guru memberikan dukungan pengembangan profesional substansial untuk mempelajari fitur model yang berkaitan dengan tugas pokok mereka sendiri . Pengembangan profesional tersebut harus mencakup peluang besar bagi mahasiswa untuk menggunakan model penelitian untuk mengeksplorasi pertanyaan dewasa penting yang diambil dari kehidupan mereka sendiri atau mata kuliah mereka. Untuk mengembangkan tingkat yang nyaman kompetensi dengan model seperti (pengalaman sebelumnya terbatas diberikan paling guru dengan jenis penelitian) biasanya membutuhkan 12-30 jam waktu pengembangan profesional.

Pilihan Model

Ada beberapa ulasan yang sangat baik saat ini tersedia bagi mereka yang ingin memulai pencarian tersebut. Salah satunya adalah dengan David Loertscher , Taksonomi dari Program Media Perpustakaan Sekolah , 2nd Edition (Hi Willow Penelitian & Publishing , 2000). Tujuan bab ini adalah untuk menyajikan Siklus Penelitian dengan cara yang ramah ringkas dan pengguna. Karena pekerjaan yang baik seperti telah dilakukan oleh orang-orang membandingkan dan mengkontraskan model lain, saya tidak akan menduplikasi usaha mereka di sini, selain untuk menyebutkan kedekatan khusus dengan dua model: INFOZONE dan The Organized Investigator (Circular Model) karena mereka menawarkan banyak penekanan yang sama pada pertanyaan, eksplorasi, sintesis dan bertanya-tanya yang dimaksudkan oleh Research Cycle.

Seperti yang akan ditampilkan dalam jauh lebih detail dalam bab-bab berikutnya, ketika siswa mengeksplorasi pertanyaan yang benar-benar menuntut, mereka jarang tahu apa yang mereka tidak tahu kapan mereka pertama kali merencanakan penyelidikan mereka. Mereka juga cenderung untuk melompat tepat ke pertemuan tanpa hati-hati memetakan banyak pertanyaan mereka harus memeriksa dalam pencarian mereka untuk pengetahuan dan pemahaman.

        Penelitian Siklus berbeda dari beberapa model dalam fokus yang sangat kuat pada pertanyaan penting dan pertanyaan anak di awal proses. Hal ini juga menolak penelitian topikal sebagai sedikit lebih dari pengumpulan informasi tidak layak waktu siswa. Beberapa model lain yang juga mudah dikonversi menjadi belanja perjalanan sederhana. Siswa berangkat dengan keranjang dan menikmati pesta informasi, meraup segala sesuatu yang mereka dapat menemukan tentang negara, provinsi, negara asing, orang terkenal, pertempuran, masalah ilmiah atau barang sudah nyaman tersedia dalam bentuk kemas dalam beberapa ensiklopedia atau buku yang ditujukan untuk subjek. Jenis penelitian sekolah menempatkan siswa dalam peran konsumen informasi dan menuntut sedikit pemikiran, imajinasi atau keterampilan.

        Berikut adalah bentuk diagram research cycle:

        Analisis potensi implementasi Model Literasi Informasi jika diterapkan di Indonesia terkhususnya bagi para mahasiswa :

  1. Kelebihan Implementasi Model Literasi Informasi ( Mc Kenzie) :
  1. Mempermudah mahasiswa dalam menyelesaikan tugas dengan membuat beberapa pertanyaan yang dapat menggeneralisasikan permasalahan.
  2. Mahaiswa dapat berfikir dengan strategi dan cara yang tepat untuk menemukan informasi terkait dan terpercaya untuk membantu mereka dalam mengkonsepkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sebelumnya.
  3. Membantu mahasiswa  dalam menentukan sumber-sumber informasi yang jelas dan terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.
  4. Membantu mahasiswa dalam menyelesaikan tugas mereka dengan cara penyeleasian yang sistematis/terstruktur.
  5. Pada tahap ini mahasiswa sebelum menyerahkan tugasnya pada dosen, akan melakukan proses evaluasi pada hasil pekerjaannya.
  6. Pelaporan, dalam tahap ini perangkat lunak berperan penting untuk mendukung lancarnya presentasi yang dilakukan. Jadi, lebih mudah untuk siswa apabila presentasi dibantu dengan software.
  1. Kekurangan Implementasi Literasi Informasi jika diterapkan di Indonesia :
  2. Belum lengkapnya fasilitas pendukung yang memadahi dalam proses kegiatannya.
  3. Keterbatasan teknologi berupa software pendukung pelaksanaan model literasi informasi dari Mc Kenzie.
  4. Kurangnya tenaga pustakawan pendamping dalam pelaksanaan proses kegiatan pencarian melalui software yang tersedia di perpustakaan.
  5. Kurangnya antusias mahasiswa dalam proses pelaksanaan penelitian model literasi informasi Mc Kenzie.
  6. Keadaan geografis Indonesia kurang mendukung pelaksanaan kegiatan model literasi Mc Kenzie.
  7. Keterbatasan dana untuk pengadaan software Mc Kenzie.

Perkembangan teknologi terus melaju untuk berevolusi, produk teknologi yang ada pada suatu masa akan dianggap biasa bahkan tertinggal. Perubahan zaman yang sedemikian dinamis dan sangat cepat hanya bisa diikuti perkembangannya dengan penguasaan literasi informasi yang didukung oleh teknologi literasi informasi. Dengan demikian urgensi pembekalan kemampuan literasi informasi dilingkungan  pendidikan utamanya perguruan tinggi menjadi tidak bisa ditunda lagi sebagai bekal kecakapan hidup bagi mahasiswa.

Teknologi informasi dapat berupa software pendukung dalam proses berliterasi mahasiswa, salah satunya yaitu sofware yang penerapan model Mc Kenzie. software ini dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengguna khususnya pelajar atau mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Dengan adanya software ini, mahasiswa dalam penyelesaian tugas mereka dapat dibantu dengan memungkinkan membuat pertanyaan, membantu membuat strategi penyelesaian, membuat pertimbangan menentukan sumber terpercaya, mensistematiskan proses pekerjaan, mengevaluasi tugas yang telah dibuat dan melakukan pelaporan tugas dengan baik.

Selain itu dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie tidak lepas dari peran seorang pustakawan. Adapun peran pustakawan dalam pelaksanaan model literasi informasi Mc Kenzie adalah sebagai pendamping dalam pelaksanaan,  pengawas dan koordinator pelaksanaan progam ini.

DAFTAR PUSTAKA

Amsyah, Zulkifli, 1997. Manajemen Sistem Informasi, Jakarta : Gramedia Pustaka

                  Utama

Latuputty, Hanna & Proboyekti, Umi. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Peran Pustakawan dalam Mengembangkan Literasi Informasi pada Era Globalisasi. Yogyakarta: UAJY, 12 Pebruari 2008.

Pendit, Putu Laxman 2008, Perpustakaan Digital Perguruan Tinggi : Tantangan Peningkatan Kualitas Jasa, Dalam http//eprints.undip.ac.id/5367/2/makalah pak putu.pdf.diakses tanggal 02 November 2011 pukul 08.29 WIB

———-, 2008 Perpustakaan Digital dari A sampai Z, Jakarta : Citra Karya Karsa

                   Mandiri

Sudarsono, Blasius et al. (2007; 2009), Literasi informasi (information literacy): pengantar untuk  perpustakaan sekolah. Jakarta: Perpustakaan Nasional.

(upload by R.Lalan Fuandara)